Single Mother

Single Mother
TAMAT


__ADS_3

Mencari Daddy  Bag. 100 TAMAT


Oleh Sept


Rate 18 +


Sudah tiga hari berlalu, selama itu pula keluarga Gara menginap di rumah Alung. Mulanya Gara menolak secara halus. Lebih baik keluarga kecilnya menginap di hotel. Tapi, karena permintaan Alung, Elena dan Altar, akhirnya mereka semua menginap di rumah mewah dan besar yang Altar bangga-banggakan.


***


"Ara ... ayo sini!" Altar memanggil saudara perempuannya dengan semangat. Mereka sedang bermain dan berniat berenang di kolam renang yang luas di rumah daddy-nya Altar.


Besok mereka sudah balik, dan mungkin tanpa Altar. Makanya, mereka main sampai puas. Sedangkan Kanina dan Gara, keduanya nampak mengawasi sambil duduk di tepi kolam. Menikmati moment yang mungkin akan mereka rindukan setelah kembali ke Surabaya.


"Silahkan dimakan, Mbak ... Mas," Elena tiba-tiba datang membawa makanan. Sebagai tuan rumah, ia menyambut hangat tamunya itu. Meski kadang Mbak Roh menatap sinis padanya. Entah apa salah dan dosa Elena. Hanya saja ia merasa mbak Roh kurang suka dengannya. Itu semua bisa ia rasa dari tatapan wanita tersebut saat melihatnya. Apa Elena hanya baper? Karena celetukan mbak Roh kapan hari, yang membuatmu sangat tidak nyaman. Tapi, ia mencoba menepis pikiran buruk itu. Karena ia merasa, sejatinya mbak Roh itu orang baik.


"Terima kasih, Len."


Ucapan Kanina membuat Elena bangun dari lamunannya. Kanina mencoba tersenyum pada Elena. Meski sebenarnya ia sedih karena besok akan pergi. Harus terpisah lagi dengan Altar.


"Titip Altar ya, Len," tambah Kanina. Wajahnya menatap Elena dengan mata penuh harap. Ia juga meraih tangan Elena, mengengam tangan itu, seolah memohon untuk meyanyangi Altar dengan sepenuh hati.


"Iya, Mbak. Mbak Kanina tenang saja. Nanti kalau ada apa-apa pasti kami langsung kabari." Elena menepuk punggung tangan Kanina dengan sebelah tangannya. Sebagai sesama wanita, meskipun sangat muda, Elena paham betul perasaan wanita di depannya itu. Mata Kanina yang sendu dan caranya menatap Altar, menyiratkan banyak kesedihan.


"Terima kasih," ucap Kanina bersamaan dengan Gara. Keduanya memang khawatir kalau jauh-jauh dari Altar. Anak yang mereka besarkan sejak kecil.


Sesaat kemudian, Elena ikut duduk bersama mereka. Menyaksikan Altar dan Ara bermain air di dalam kolam. Ketika Elena dan Kanina mengobrol santai, Gara melihat kedua putra dan putrinya. Seperti apa yang ia katakan sebelumnya, Gara tidak pernah membeda-bedakan keduanya.


Mulanya semua terlihat normal, tidak ada masalah. Anak-anak bercanda di dalam kolam. Saling menyirat air dan tertawa ria. Namun, tiba-tiba saja sesuatu mulai tidak beres.


Saat Altar hendak naik dan berjalan ke tepi kolam yang lain, Gara merasakan sesuatu yang aneh. Altar dan Ara berlarian dan berpegang pada tiang lampu yang agak jauh dari kolam. Mungkin merasakan sebuah firasat, Gara bangkit dan mendekati putranya itu.


"Curang!!! Kak Al curang!" protes Ara yang selalu kalah saat bermain dengan kakaknya. Al selalu menang karena memiliki kaki yang panjang, anak itu bisa lari sangat kencang hingga tak terkejar.


"Ara aja yang gak bisa lari ... weks!" Altar meledek adik perempuannya. Membuat Ara langsung menjadi bimolii. Bibir monyong lima senti.


Saat bercanda itulah, Gara langsung berlari. Matanya terbelalak, menatap tiang yang hampir rubuh.


Brukkkk


BYURRR


"Paaaaa!"


Seketika semua langsung berlari menghampiri Gara. Pria itu meringis, merasakan sakit pada punggungnya. Ia menahan tiang besi agar tidak menyakiti putranya.


"Papa!"


Ara menangis melihat papanya menahan sakit. Sedangkan Altar, anak itu masih shock. Altar di dorong Gara cukup keras agar tubuhnya tidak tertimpa benda yang pasti akan menyakiti tubuhnya itu bila menimpa dirinya. Sedangkan puing-puing lampu tercecar sampai masuk ke dalam kolam renang.


Beberapa saat kemudian


Setelah kekacauan yang terjadi, kini suasana sudah kembali aman. Namun, Gara harus merasakan sedikit sakit pada punggungnya. Alung pun sudah pulang, ia memarahi penjaga rumahnya. Hampir saja, anaknya celaka.


***


Kamar tamu.


Malam harinya, Kanina menatap suaminya dengan cemas. Ia mengamati raut wajah yang selalu tersenyum padanya. Kemudian sambil berkata.


"Masih sakit, Mas?" tanya Kanina khawatir.


"Tidak."


"Benarkah?" wanita itu merasa curiga.


"Aduh!" Gara mengadu saat Kanina dengan sengaja mengusap punggungnya.


"Katanya nggak sakit."


"Memang tidak, Nin. Sakitnya tidak seberapa. Lebih sakit bila melihatmu merindukan anak kita."


Kanina jadi mellow, matanya lama-lama terasa perih. Dan Gara menyadari akan hal itu.


"Apa kita jual rumah dan aset-aset di Surabaya? Kita pindah."


Kanina langsung menggeleng keras, "Tidak, tidak usah."

__ADS_1


"Lalu bagaikan kalau tiba-tiba kita rindu?"


"Masih ada HP, kita bisa video call, kan?" Kanina seolah kuat, padahal ia sangat sedih tentunya bila memikirkan hal tersebut.


"Tapi tidak bisa memeluknya."


Perkataan Gara membuat tangis Kanina akhirnya pecah, wanita itu kemudian mendongak dan menatap wajah suaminya lekat-lekat.


"Lalu aku harus bagaimana? Aku mamanya, aku yang mengandung dan melahirkannya. Tapi ... dia malah tidak mau tinggal denganku. Dia tidak mau tinggal dengan mamanya ... Dia mungkin mulai membenciku."


"Jangan menyalahkan dirimu, Altar hanya ingin waktu sebentar untuk tinggal dengan daddy-nya. Mana mungkin anak yang Kita cintai membenci Kita? Dia hanya ingin main sebentar ... tunggulah ... tunggu sampai ia mau pulang dengan sendirinya."


"Sampai kapan, Mas? Aku bahkan kesulitan menelan makan bila ingat dia sudah makan atau belum!" Kanina malah memarahi suaminya.


"Sudah ... sudah! Kamu membangunkan Azil nanti!" Gara mengusap bahu Kanina. Menegangkan istrinya yang sedang dilema tersebut.


"Huhuhuhu .... Bagaimana bisa dia memilih tinggal dengan daddy-nya? Bahkan selama ini yang menyuapinya ... yang menyiapkan baju-banjunya itu aku ... aku yang pertama kali menuntunya hingga ia bisa jalan. Aku yang mengajari ia bicara pertama kali hingga ia bisa memanggil kata papa. Mengapa ... mengapa memilih daddy-nya?" Kanina protes pada keadaan. Namun, ia terkesan marah pada Gara. Ia butuh seseorang untuk melampiaskan rasa kecewanya.


"Dia pasti pulang ... dia pasti akan mencari kita, mencari Ara ... adiknya yang selalu bercanda ria dengannya. Dia pasti juga merindukan omelan mbah roh." Tiba-tiba Gara tersenyum miris.


Kanina masih sesengukan, wanita itu menangis sampai tertidur. Tidur dalam pangkuan Gara, pria paling baik yang pernah ditemui dalam hidup Kanina selama ini.


***


"Sudah tidak ada yang ketinggalan?" tanya Gara sambil menoleh, dilihatnya Kanina yang sangat berat meninggalkan ruangan itu. Mungkin ia ingin menginap lebih lama lagi. Tapi tiket sudah dipesan, lagian kasian ibuk di rumah sendirian.


"Sudah ... sudah siap semuanya."


Kanina berjalan sambil mengusap ekor matanya. Berniat tidak mau menangis, tapi tetep saja matanya basah. Dengan langkah berat, ia akan meninggalkan Altar di rumah itu.


"Maaf bila selama ini merepotkan, titip Altar." Kanina memeluk Elena.


Elena tersenyum penuh arti, kemudian mengusap punggung Kanina dengan hangat.


"Hati-hati di jalan."


Ganti Gara pamit pada Alung, mereka saling berpelukan, dan kenika Alung menepuk punggung Gara. Pria itu meringis, sepertinya Alung sengaja. Keduanya pun saling melempar senyum. Sudah damai, ketegangan sudah mencair di antara keduanya.


"Hati-hati!"


"Di mana Altar?" tanya Kanina.


"Ada di sana," jawab Alung sambil menatap pintu utama.


"Oh ya, sudah." Kanina pikir, Altar mau mengantar sampai Bandara.


***


Sepanjang perjalanan, Kanina terus saja memeluk Altar. Hingga anak itu merasa tidak nyaman.


"Maa! Sesak, Ma!" protesnya.


Tapi Kanina tidak peduli, ia terus saja memeluk Altar. Hingga Ara menatap aneh pada mamanya.


Bandara


Akhirnya mereka sampai, semua pun turun tinggal sopir pribadi Alung yang mengantar mereka semua.


"Mama pulang dulu, kalau kangen bilang ... Mama pasti datang."


Kanina memeluk erat putranya hingga Altar kembali merasa sesak.


"Al nggak bisa napas, Ma!"


Gemas, tapi juga sedih. Kanina lantas mencubit hidung Altar. Kemudian mengusap pipinya lagi.


"Sana ... kembali ke mobil."


Tap tap tap


Tiba-tiba bapak sopir pribadi Alung turun, ia menarik koper besar. Yang pasti bukan milik keluarga Kanina.


"Ini, Bu. Milik tuan muda Al."


Kanina menatap ke bawah, dilihatnya Altar tersenyum cerah ke arahnya. Sebentar, otak Kanina mulai berpikir keras. Apa ini maksudnya?


"Al-Al ikut, Mama-ma?" tanya Kanina terbata dengan bibir bergetar.

__ADS_1


Anak itu malah menjawab dengan sebuah pelukan hangat nan erat. Rupanya semalam, saat Altar mau tidur dengan papanya, tidak sengaja ia mendengar semua pembicaraan orang tuanya itu. Di mana, kehadirannya sangat berarti bagi keduanya. Di mana mama, papa, ternyata sangat sayang pada dirinya sejak kecil hingga sekarang.


"Altar sayang mama ... papa!" bisik Altar sambil terisak.


Gara yang jarang menangis, kali ini ikut terharu. Sambil menggendong Ara. Ia memeluk istri dan anaknya yang sempat hilang dari pelukannya tersebut. Di dalam Bandara, keluarga kecilnya menjadi tontonan orang-orang. Dan ternyata Alung serta Elena mengikuti dari belakang.


Keduanya juga terenyuh, rasanya Alung tidak akan meminta Altar tinggal lagi dengannya. Ia merasa cintanya belum seberapa dibanding cinta Kanina dan Gara pada putranya itu.


"Sayang, ayo pulang. Kita ciptakan Altar yang lain."


Elena menoleh, kemudian mencubit pinggang suaminya. Masih sempat-sempatnya suaminya itu bercanda.


"Masih sempat bercanda kamu, Mas!"


"Serius. Sangat serius malahan!"


"Ish!"


Elena langsung kembali mencubit, tapi dengan gesit Alung menghindar.


"Jangan di sini, kalau mau main kekerasan nanti saja. Apa habis ini langsung ke hotel?" goda Alung dengan jahil.


"Nggak, mungkin beberapa minggu ke depan Mas gak bisa lakuin itu ke Elena."


Alung malah tersenyum cerah, "Aku bisa melakukan apapun yang aku mau."


"Masih rawan, Mas gak boleh aneh-aneh sama Elena."


"Hahaha ... ngomongin apa sih, sayang?"


"Aku hamil," ucap Elena tenang. Ia kemudian mengambil sesuatu dari tas slempang yang ia kenakan.


Alung dibuat shock oleh benda pipih, kecil yang mempunyai efek besar bila ada garis merah dua di dalamnya.


"Tunggu ... beneran? Ini Serius?" Alung tidak percaya.


Elena mengangguk dan tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya ia bisa hamil anak Alung juga. Horee .... sepertinya dendam juga sama mbak Roh. Hehehe


Masih di area Bandara, Alung memeluk Elena, mengecupnyaa berkali-kali. Tidak peduli mereka menjadi pusat perhatian.


"I Love you, Elena!"


***** TAMAT *****


Alhamdulillah, akhirnya selesai juga novel mencari Daddy. Terima kasih semuanya ...


Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan sept. Pasti banyak kekurangan, mohon dimaklumi ya.


Semoga bisa diambil baiknya, dibuang buruknya jauh-jauh.


Sekali lagi terima kasih


Salam hangat dari Sept, sehat selalu semuanya terlopeeee.


Bye bye ....


Sampai jumpa di novel selanjutnya ...


"Suami Satu Malam"



Novel Sept lainnya yang sudah TAMAT








Sayonara .... Lope u pullllll hehheheh

__ADS_1


__ADS_2