
Mencari Daddy Bag. 96
Oleh Sept
Rate 18 +
Antara Anggara Kusuma Dinata dengan Altar Alsaba Dinata memang tidak ada ikatan darah, mereka berdua hanya orang asing yang dipertemukan takdir. Menjadi anak dan ayah, bagi Gara, Altar sama seperti anaknya yang lain. Karena selama ini ia merasa tidak pernah membeda-bedakan.
Lalu bagaimana dengan anak kecil seusia Altar? Sudah wajar anak pertama akan selalu iri dengan perhatian kedua orang tuanya pada sang adik yang jauh lebih kecil. Nanti, akan ada masanya. Altar akan mengerti, bahwa mama dan papanya selalu mencintai dirinya dengan tulus. Menyayangi segenap hati mereka.
***
"Biar ... biar Altar ikut Dady-nya." Kanina mengusap pipinya yang masih basah. Air matanya tak berhenti menetes.
"Nin!" Gara nampak keberatan dengan keputusan istrinya tersebut.
"Biarkan, Mas. Biar Altar ikut dengannya."
"Tapi ...!"
__ADS_1
"Akan aku siapkan pakaiannya." Kanina berjalan melewati Gara dan Alung yang menggendong Altar yang sedang tidur.
Sepertinya ia sudah mengambil keputusan, mungkin ia akan menepis egonya sedikit. Demi menuruti keinginan Altar. Ia akan mengijinkan putranya itu tinggal bersama daddy-nya.
KLEK
Gara menyusul Kanina yang masuk kamar Altar. Dilihatnya Kanina mengemasi barang-barang milik putranya. Wanita itu memasukkan barang-barang milik Altar. Satu persatu sambil menyeka pipinya.
"Nin, jangan paksakan dirimu untuk kuat. Aku bisa menahan Altar agar bisa tetap tinggal bersama kita. Kita orang tuanya."
Kanina memejamkan mata, menahan air mata yang terus tumpah. Rasanya sesak sekali. Tapi bagaimana? Kaburnya Altar, membuat Kanina takut. Takut hal seperti ini terulang lagi. Rasanya ia mau mati, hidup tanpa tahu bagaimana kondisi putranya itu. Lebih baik Altar ikut Dady-nya. Setidaknya anak itu baik-baik saja. Itu semua isi kepala Kanina.
"Biar, Mas. Nanti kalau kita kangen, kita bisa ke sana."
Kanina memalingkan wajah, ia kembali diserang rasa sesak karena harus pisah dengan buah hati yang selama ini selalu ada di sisinya. Bagaimana mungkin ia baik-baik saja? Kanina hanya mencoba terlihat kuat. Agar Gara tidak merebut paksa Altar dari Alung.
Kecewa, Gara menghela napas panjang. Tangannya mengepal. Ia kecewa mengapa Kanina melepas putra mereka. Bagi Gara, Altar Alsaba adalah putranya. Putra yang selama bayi ia timang dengan sayang. Bayi kecil yang membuat hidupnya lebih sempurna.
***
__ADS_1
Beberapa saat kemudian
Altar sudah bangun, ia terus saja dalam gendongan sang Daddy. Padahal kakinya sudah sangat panjang, takut tidak boleh ikut, anak itu terus saja memegang erat daddy-nya.
"Altar, peluk Mama bentar, ya?" pinta Kanina mengiba.
"Pamit Mama, sayang," bisik Alung dan itu membuat anak itu mau turun.
"Telpon Mama, ya. Mama sayang Al," ucap Kanina dengan air mata yang berderai.
Dibelainya dengan sayang, kemudian memeluk erat anak pertamanya itu. Lalu, Gara mendekat. Papanya itu juga memeluknya dengan erat. Seolah tidak rela, Altar harus meninggalkan rumah mereka. Setelah itu, mbak Roh dan bu Lastri. Semua merasa keberatan. Namun, Kanian sudah memutuskan. Mereka hanya bisa menerima meski berat.
***
Altar terlihat sangat senang ketika ia dan sang Daddy naik pesawat menuju kota metropolitan. Dan begitu sampai, Elena yang sampai di rumah sehari sebelumnya, menyambut Altar dengan hangat. Apalagi mama Ami. Ia sangat senang, akhirnya Altar bisa tinggal bersama mereka. Bahkan, mama Ami berencana akan menginap lama di rumah putranya.
Saat makan malam
Semua meja penuh dengan menu makanan kesukan Altar. Mama Ami sudah bertanya banyak tentang apa saja kesukaan cucunya pada Kanina. Mulai dari hidangan pembuka sampai penutup.
__ADS_1
Kanina dengan sedih menjelaskan, Altar suka ini, suka itu sembari mengusap pipinya di telpon. Kanina tetaplah seorang ibu. Yang mana tidak bisa menahan beban di hatinya. Terpisah dengan Altar, membuat hati Kanina dirundung pilu yang dalam. Melihat itu, Gara sangat marah. Ia lampiaskan kemarahannya dengan menendang apa saja. Membuat mbak Roh merasa kasian. Kasihan pada Gara dan Kanina yang harus pisah jauh sama Altar. Tapi tidak bisa berkutik karena keadaan. Bersambung.
Kanina dan Gara, keduanya memiliki cara mengekpresikan rindu dengan cara yang berbeda. Tapi, rasa sakit yang sama. Pantas kata Dilannn rindu itu berat. Memang berat dan sakit. Seperti mengengam bara.