Single Mother

Single Mother
Aku Ayahnya


__ADS_3

Mencari Daddy  Bag. 95


Oleh Sept


Rate 18 +


Tiga hari berlalu, kedua keluarga sibuk mencari keberadaan Altar. Anak kecil itu bagai ditelan bumi. Hilang tanpa jejak.


"Nin, makan dulu."


Gara mencoba membujuk istrinya, Azil masih butuh ASI, tapi Kanina sama sekali tidak mau makan. Harus dipaksa, itupun hanya satu dua sendok.


"Nin, kamu nggak kasihan sama Azil, dia masih kecil."


Kanina meringkuk di sudut ranjang. Ia menarik selimut, terisak di dalam sana.


"Nin ...!"


Gara tidak bisa lagi membujuk Kanina, istrinya itu sepertinya benar-benar tidak mau makan hari ini.


Di luar kamar, ada mbak Roh yang sibuk mengendong Azil, bayi itu terus saja menangis. Mungkin lapar, atau ikatan batin dengan sang ibu. Ketika sang ibu gunda gulana, bayi itu pun merasakan hal yang sama.


Oek Oek Oek


Gara benar-benar pusing, harus mencari ke mana lagi putra mereka.

__ADS_1


Sore harinya


"Nin, kalau kamu begini terus, Azil bisa sakit." Gara mengusap bagian belakang tubuh Kanina.


Sudah seharian ini Kanina hanya di dalam kamar. Menangis dan tidak mau bicara atapun makan.


"Kanina! Jangan egois. Kamu juga harus mikirin anak kita yang lain!"


Mungkin Gara sudah hilang kesabaran, hingga ia bicara dengan nada yang sedikit keras. Membuat Kanina langsung menyibak selimut yang semula menutupi tubuhnya.


"Bagaimana Kanina bisa makan, Mas? Sedangkan anak Kanina yang lain tidak tahu kabarnya? Mas nggak serius nyari Altar!" cecar Kanina dengan emosi yang meluap-luap. Baru kali ini wanita yang kalem itu mengeluarkan semua rasa kecewa dan sedihnya pada Gara.


"Apa maksudmu, Nin? Kamu tahu? Aku bahkan dua hari pulang larut malam... Kamu pikir aku ke mana? Astaghfirullahaladzim Kanina! Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Mas sangat sayang pada Altar. Mana pernah Mas beda-bedakan? Mana pernah?"


Kanian menundukkan wajahnya, "Lalu mengapa dia pergi? Lalu mengapa dia tidak nyaman di rumah ini?" ujar Kanina dengan suara serak dan terisak.


Kanina tidak menjawab, ia hanya menangis. Ia bertanya-tanya. Di mana letak yang salah, hingga Altar tidak nyaman tinggal bersama mereka.


Wanita itu kemudian mengusap pipinya. "Aku yang salah! Dia pergi karena aku."


"Jangan terus menyalakan diri sendiri. Mungkin Altar merasa kesepian, kehamilan Azil dan kelahiran Azil, tanpa sengaja membuat waktumu berkurang untuknya."


Kanina pun kembali terisak. Ia ingat, minggu kemarin membentak Altar karena tidak sengaja menjatuhkan mainan saat menunggu Azil di dalam kamar. Ia membentak Altar karena membuat adiknya menangis.


Belum lagi beberapa hari yang lalu, sebelum Altar menghilang. Kanina kembali memarahi Altar karena membuat Ara jatuh dari sepeda dorong. Entah mengapa, akhir-akhir ini ia sering emosi. Dan selalu Altar yang menjadi pelampiasan. Sadar, Kanian menangis sejadi-jadinya. Membuat Gara cemas.

__ADS_1


"Tenanglah, Nin. Polisi sudah mencarinya. Altar pasti segera ketemu."


Kanina masih saja menangis, terisak sampai tubuhnya bergetar. Melihat istrinya yang tidak kuasa menahan kesedihan, Gara pun mencoba menenangkan Kanina. Memeluknya dan menepuk punggungnya dengan lembut.


"Nanti Mas akan ke kantor polisi lagi. Mas akan tanyakan, apa ada perkembangan."


"Tidak usah!"


Mendengar suara Alung, Kanina dan Gara melepas pelukan mereka. Memang tadi pintu sedikit terbuka, jadi Alung langsung saja menerobos masuk.


"Altar!"


Kanina langsung bergegas menghampiri Altar yang tidur dalam pelukan Dady-nya. Namun, Alung langsung mundur.


"Anak hilang, kalian masih mesra-mesraan!" sindir Alung dengan wajah marah. Ia heran, mau mengabari Kanina, eh malah ibu dari putranya itu peluk-pelukan dengan Gara. Spontan ia emosi.


"Biar Altar saya yang urus!" tambahnya tegas.


Bibir Kanina bergetar, ia ingin bicara. Tapi lidahnya keluh. Mengingat Altar yang kabur, dan mengingat bagaimana ia memarahi anak itu, rasanya ia sangat merasa bersalah. Rasa bersalah yang membuncah, membuat dadanyaa sesak.


"Berikan Altar!" Gara meminta baik-baik.


Sedangkan Kanina, ia hanya bisa menangis dan meratapi kesalahan.


"Kurang jelaskah apa yang ku katakan? Mulai sekarang, Altar akan tinggal denganku.

__ADS_1


"Lung, jangan Keterlaluan!" sentak Gara.


"Kamu yang keterlaluan! Aku ayahnya! Ayah kandungnya!" cetus Alung yang tidak mau kalah. Bersambung.


__ADS_2