Single Mother

Single Mother
Jealously


__ADS_3

Mencari Daddy  Bag. 98


Oleh Sept


Rate 18 +


Rasa rindu yang mengharu seketika pecah, melebur bersama tangis Kanina saat memeluk tubuh Altar.


"Mama kangen Altar, gak?" tanya anak itu saat pelukan mereka lepas. Tangan Altar menyeka pipi mamanya.


Kanina mengangguk, kemudian meraih tubuh Altar kembali. Memeluknya, mendekapnya dengan hangat. Padahal belum lama berpisah, tapi rasa rindu yang ditinggalkan begitu berat.


"Paaaa!"


Setelah memeluk mamanya, ganti Altar menyambut papanya dengan antusias.


"Papa! Ayo ke sini. Lihat kamar Al! Araaaa ayo ikut kakak. Kamar kakak gede banget!" Altar menarik tangan papanya dan juga tangan Ara, adik perempuannya.


Dengan senang Altar menunjukkan kamar barunya yang katanya sangat besar dan dipenuhi mainan mahal yang dibelikan sang Daddy.

__ADS_1


Gara diam saja, meski bibirnya tersenyum palsu. Ia kira Altar akan minta pulang saat mereka bertemu. Ternyata anak itu terlihat sangat senang saat tinggal di rumah daddy-nya. Ia tunjukkan semua barang-barang mewah nan mahal yang dibelikan Alung. Dan Gara hanya bisa tersenyum tipis saat Altar menunjukkan semua itu padanya.


"Ara! Kamu mau yang mana? Kakak punya banyak. Ara ambil saja, biar kakak nanti minta belikan daddy lagi!" seru Altar dengan sombongnya.


Rupanya Alung benar-benar memanjakan anak itu. Hingga baru beberapa hari saja tinggal di sana, satu kamar sudah lebih dari satu etalase yang isinya mainan dan robot yang harganya perbiji bisa puluhan juta. Benar-benar kelewat memanjakan anak.


"Ara mau ini, Kak," ucap Ara memeluk boneka kecil yang buluk di atas ranjang.


"Jangan! Yang lain aja ... Ara!" Altar langsung merebut paksa. Meski paling murah diantara mainan Altar di kamar itu, boneka kecil itu pemberian papa Gara saat ia kecil. Itu adalah boneka yang menemani Altar tidur.


Melihat sikap Altar, Gara sedikit tersentuh. Ia lalu mengusap kepala anak laki-lakinya itu.


"Ini boleh?" tanya Ara kemudian.


"Jangan itu!" Altar kembali merebut dengan spontan.


"Kak Altar pelit!" celoteh gadis kecil bermata bulat nan jernih itu. Bibirnya mengerucut, saat mengambil barang ini itu tapi tidak boleh sama kakaknya.


"Jangan ini, Ara! Ini punya Kak Al dari mama. Ini saja ya? Ini bagus." Altar membujuk sang adik. Memberikan benda lain, yang lebih mahal dari pada yang diminta Ara. Dari tadi Ara mengincar benda-benda yang ia bawa dari rumah di Surabaya. Bukannya benda mahal pembelian daddy-nya.

__ADS_1


Altar ... Altar, Ara itu poto kopian mama dan papanya. Terlahir sederhana, tidak memandang segala sesuatu dari segi materi. Sederhana, polos dan apa adanya.


"Nggak mau!"


"Ini bagus! Kata Daddy hanya ada beberapa di dunia ini."


"Nggak mau!"


"Ara ... nanti papa beliin boneka yang sama." Gara mencoba membujuk putrinya yang merajuk.


"Beneran, Pa? Nanti beliin yang kaya punya kakak, ya?"


Gara mengangguk dan mengusap rambut Ara dengan lembut. Hal itu kembali membuat Altar cemburu.


"Al ... mau ke mana?" teriak Gara saat anak laki-lakinya itu pergi begitu saja. Gara sampai tidak paham, mengapa putranya itu nampak gusar. padahal tadi mereka baik-baik saja.


"Al!" Gara pun mengejar Altar.


Di ruang tamu, Gara melihat putranya sudah duduk di samping Alung. Anak itu nampak mengelayut manja pada daddy-nya. Dan Gara pun tidak berkutik. Sepertinya Altar masih belum mau pulang. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2