
Mencari Daddy Bag. 97
Oleh Sept
Rate 18 +
POV Kanina
Hari di mana aku kehilangan separuh hatiku. Aku pikir rasanya tidak akan sesakit ini, aku rasa aku akan baik-baik saja. Bila kami rindu, kami bisa ke sana segera. Tapi, ya Tuhan. Baru beberapa hari, tapi dadaa ini sudah terasa amat sesak. Beban rindu ini terlalu berat untuk ku tanggung sendiri.
Tidak ada yang terluka, tapi begitu sakit terasa. Hatiku, ya ... Sangat perih seperti tersayat benda tajam. Mengores luka, meninggalkan bekas yang menggangah. Ya, ada lubang besar dalam hatiku. Lubang yang semula tidak ada, kini muncul setelah Altar diambil dari tanganku.
Bukan, bukan diambil. Aku menyerahkan jiwaku itu pada yang lain. Pada pria yang pernah merusak segala mimpi dan asaku. Aku tidak membenci pria itu, karena dia adalah ayah putraku.
Saat lukaku belum sembuh, laki-laki bak malaikat tanpa sayap itu pun kembali memaksaku makan. Makan ... makan ... makan terus. Apa dia pikir dengan makan, lukaku sembuh? Suamiku, maafkan aku. Aku butuh waktu untuk berdamai dengan pilihanku. Aku butuh waktu sendiri, waktu di mana aku meratapi semua duka-dukaku.
__ADS_1
"Sayang ... ayo. Makan, sedikit saja," bujuk pria bermata teduh itu. Ia menatapku dengan rasa iba. Mungkin ia kasihan, padahal aku yakin. Dia sama sedihnya sepertiku.
"Nggak, aku nggak lapar," ku tepis sendok yang sudah diarahkan padaku. Sumpah, perutku terasa mual. Aku benar-benar malas mengunyah atau makan.
"Aku pesankan tiket, ya? Kita ke sana besok!" bujuk Mas Gara. Ia pria paling baik, aku tahu ia tidak mau melihatku larut dalam kesedihan.
"Nggak, Mas." Bibirku menolak, tapi hatiku penuh harap. Rasanya ingin aku langsung ke tempat di mana anankku berada. Dia ananku, mengapa kami harus pisah? Ya Tuhan, bodohnyaa aku. Apa aku terlalu egois, jika hanya ingin anakku tetap tinggal dan tidak pernah terpisah?
Kulihat Mas Gara meraih ponselnya, pria itu sepertinya memencet layar smartphone miliknya.
"Mas!"
Mas Gara menatapku, kemudian tangannya yang hangat mengusap mata dan pipiku. Pria itu kemudian kembali berbicara.
"Makan ya, besok kita ketemu Altar."
__ADS_1
Aku pun langsung membuka mulut, Mas Gara menyuapiku dengan sabar. Aku pun makan sambil menahan tangis.
***
Langit yang cerah, hari ini kami serumah pergi ke Bandara. Ternyata ibuk tidak mau ikut, ibuk yang sudah tua memilih tetap di rumah. Akhirnya, hanya Mas Gara, aku, Ara, Azil dan mbak Roh yang bersiap untuk menemui Altar. Ya, Altra Alsaba, putraku yang paling aku rindu.
Sepanjang perjalanan, aku sangat antusias. Rasanya sudah tidak sabar. Apalagi saat sudah turun dari pesawat. Rasanya ingin cepet-cepet sampai. Namun, sayang sekali. Ibu kota ternyata sangat parah. Macet di mana-mana. Apalgi Azil masih bayi, putraku itu terus saja menangis.
Beruntung mbak Roh selalu ada bersama kami. Mbak Roh adalah orang paling berjasa dalam hidupku. Dia seperti malaikat kedua setelah Mas Gara. Selalu berdiri di garda terdepan saat aku mengalani kesulitan. Dialah mbak Rohma, mbak paling baik yang aku punya. Sayang, setelah ditinggalkan suaminya. Ia terlihat jerah sampai trauma untuk kembali membangun rumah tangga.
Dan setelah melewati kemacetan parah, akhirnya kami sampai di sebuah rumah. Cukup besar, tidak seperti rumah suamiku. Tapi, meskipun begitu. Rumah kamilah yang paling nyaman. Baiti jannati ...
"Ayo sayang, kita sudah sampai," ucap suamiku sambil membuka pintu mobil untukku. Aku pun turun, kemudian menatap bangunan megah yang berdiri sangat kokoh tersebut. Rumah yang cukup besar, dan terlihat mencolok dari pada rumah di sekitarnya.
"Mamaaaaa!"
__ADS_1
Begitu aku turun, suara itu membuat hatiku bergetar hebat. Bersambung.