Sistem: Level Terkuat

Sistem: Level Terkuat
Ch 5 - Rencana ke Kota


__ADS_3

Di ruang tamu Lylia sudah menunggu. Ken menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Setelah disampingnya Ken kemudian berniat untuk menjelaskan semuanya.


"Aku tak ingin basa basi jadi langsung saja, sebenarnya aku bukan anakmu, maksudku bukan tubuh ini tapi jiwa ku bukanlah miliknya. Dan ini sungguhan." Ucapnya


"Mungkin terdengar aneh bagimu jadi kau pasti terkejut mendengar kebenaran ini." Imbuh Ken.


Lylia yang nampak biasa saja kemudian berkata. "Tidak, itu tidak benar. Sejak awal aku sudah menduga kalau Hans sudah tiada...


...dan saat kita bertemu, aura yang kau pancarkan sangat berbeda, begitu juga dengan tatapan mu. Saat itu aku yakin kau bukanlah anakku si Hansaka." Ucap Lylia.


Berbanding terbalik, yang terkejut justru Ken setelah ia mendengar perkataan Lylia tadi. Dia merasa penyamaran nya yang sekarang menjadi lebih mudah terbongkar.


'Ehh... Ja-jadi kau sudah mengetahui nya toh. Sialan penyamaran ku terbongkar semudah ini." Ucapnya dengan kecewa.


Lylia tertawa kecil dan berkata. "Apa sebelum ini kau pernah menyamar. Dan juga, sebenarnya siapa kau ini? Kenapa bisa masuk ke dalam tubuh anakku."


"Sulit untuk menjelaskan masa laluku tapi garis besarnya sama seperti Hansaka. Dan karena suatu alasan jiwa ku bisa merasuki tubuh anak mu ini." Jelas Ken.


"Setelah mendengar itu aku jadi merasa lebih lega. Aku takut jika jiwa seperti para pria di desa ini yang merasuki tubuh Hans. Mereka bisa saja melakukan hal tak senonoh padaku."


Ken dengan tersenyum berkata. "Melakukan hal itu hanya akan mencoreng nama yang telah ku bangun sebelum berada di tubuh ini. Ngomong-ngomong soal nama, kau bisa memanggilku Ken atau terserah mau mu."


"Aku jadi penasaran dengan masa lalumu." Ucap Lylia.


"Sebaiknya kau tak mengetahui nya. Ngomong-ngomong, setelah ini kau tidak akan mengusir ku bukan?, Setelah tahu aku bukan Hansaka." Tanya Ken.


"Tenang saja, aku tidak akan melakukan itu. Bagaimanapun juga yang kulihat sekarang adalah tubuh putraku. Dan kurasa sifatmu sama sepertinya." Ucap Lylia.


Kenzhi menjadi lega setelah mendengarnya.


"Kalau begitu aku akan langsung masak saja nanti keburu siang."


"Ah ya." Balas Ken.


Lylia kemudian beranjak menuju dapur untuk memasak. Saat situasi telah sepi Kenzhi kemudian melihat statusnya dan berbicara dengan sistem.


"Level 26 sari 999 dan skill ku baru satu, hmm.. dilihat dari manapun aku masih lemah. Hei Sistem, aku harus bagaimana lagi agar bisa lebih kuat dari ini."


[Sistem menyarankan agar Tuan pergi ke kota, karena di sana anda akan mendapatkan banyak quest.]


[Sistem juga menyarankan agar Tuan menyempurnakan potensi bakat ahli pedang dan meng-upgrade skill serta mencari barang-barang tingkat tinggi.]


[Untuk barang atau item sendiri memiliki beberapa tingkatan yaitu;


- Umum


- Langka


- Kuno


- Legenda


- Ilahi


[Anda bisa mendapatkan barang barang tersebut dengan membeli, mencari, atau mengumpulkan pecahan-pecahannya.]


"Maksudmu seperti Gada emas yang kudapatkan tadi."


[Benar Tuan.]


"Tapi masalahnya anak itu belum pernah pergi ke kota manapun. Aku tidak tahu di mana dan ke mana arah kota terdekat. Apakah kau bisa menunjukkan petanya."


[Butuh level sistem 3 untuk melakukannya. Tapi sebagai gantinya anda bisa membeli peta fisik di Toko sistem dengan harga 9.000PS untuk peta yang mencakup seluruh benua.]


"9.000 katamu!! Mana cukup Poin ku yang sekarang ini. Apakah tidak ada Peta yang lebih kecil lagi? Seperti Peta negara atau kota gitu?." Tanya Ken.

__ADS_1


[Ada Tuan. Berikut adalah daftar Peta negara dari setiap wilayah di benua ini. Silahkan dipilih.]


Kenzhi yang mengingat nama wilayah desa ini kemudian mencari di daftar tersebut.


"Baiklah.. kalau tidak salah desa ini masuk ke wilayah negara Anom. Oh ini dia.. harganya hanya 130PS langsung saja beli."


Ken yang telah menemukan Petanya kemudian segera membelinya. Dia mendapatkan 13 ExpS dari hasil membeli peta tersebut.


Kenzhi kemudian mengambil peta di Inventory nya dan langsung membukanya.


Peta itu menunjukkan seluruh wilayah negara Anom yang tergambar seperti pada jaman abad pertengahan. Ada tiga kota disana dan sebagian besar wilayahnya adalah hutan.


Nama 3 kota itu adalah, Avart, barya, dan Dallah sebagai ibu kotanya. Nama Dallah sendiri di ambil dari nama Raja pertama yaitu Hermed Dallah.


Ken mencari lokasi tempatnya sekarang dengan mengandalkan ingatan pemilik tubuh sebelumnya.


Kenzhi yang merasa tak asing dengan salah satu bentuk hutan kemudian menentukan kalau itu adalah hutan yang pertama kali ia jamah di dunia.


"Tidak salah lagi, ini pasti hutannya. Kalau begitu ini desa ku dan kota terdekat berarti.." kenzhi mengurutkan arah menuju kota terdekat.


"Buset!! Jauh bener. Untuk menuju ke Avart aku harus melewati hutan yang sangat luas sekali. Sialan bisa sampai berhari hari kalau mau sampai kesana."


[Tuan, kenapa anda tidak sekalian membunuh monster dan mengumpulkan Poin untuk membeli skill teleportasi atau sejenisnya.]


"Benar juga. Tapi berapa harga skill itu."


[Untuk Teleportasi jarak jauh dihargai 20.000PS, jarak sedang 10.000PS, dan singkat sebanyak 1.000PS.]


Ken menghela nafas lega. "Huuh, untungnya ada yang murah. Kalau begitu besok kita mulai perjalanan ke Avart...


...Untuk sekarang aku ingin berjalan jalan di desa ini dan mungkin akan ku kejutkan pria yang membunuh anak itu, haha." Ucapnya sambil tertawa.


Setelah selesai makan Kenzhi langsung bergegas keluar rumah dan berkeliling desa untuk mencari angin segar.


Sesaat kemudian ia bertemu dengan gadis seusianya yang yang sedang menenteng barang belanjaan. Gadis itu nampak terkejut saat melihat Kenzhi.


"Ehh.. Saka?!. Bagaimana bisa."


Ken yang melihat dengan seksama kemudian mengingat sesuatu tentang gadis itu.


"Kalau tidak salah namanya Ririn, teman masa kecil si Hans. Ini benar benar mengejutkan, anak itu bisa mempunyai teman masa kecil yang cantik sepertinya, sial bikin iri." Batin Ken.


Ririn memiliki paras cantik, dengan rambut hitam pendek dan kulit putih yang halus. Sehari hari dia selalu mengerjakan pekerjaan rumah karena ibunya telah tiada.


Ririn tinggal bersama ayahnya yang bekerja sebagai pemburu hewan atau monster di hutan yang hasil buruannya dijual ke serikat dagang.


"Yaa lama tak bertemu bagaimana kabarmu." Sapa Ken.


Ririn mencoba menenangkan diri dan berkata. "Seperti biasa. Kau sendiri bagaimana, aku dengar banyak rumor yang mengatakan hal mengerikan tentang mu."


"Banyak yang terjadi, tapi seperti yang kau lihat, aku sehat dan bugar saat ini.." Balas Ken.


"Syukurlah, aku sempat khawatir jika kau benar-benar tiada. Rasanya akan sangat sepi jika tak ada dirimu." Ucap Ririn.


Ken mengingat masa lalu dan berkata dalam hati. "Benar juga, dia hanya satu satunya teman yang Hans punya. Begitu pula sebaliknya."


"Ada apa hans." Ucap Ririn yang merasa aneh melihat Ken terdiam.


"Ah tidak apa, bagaimana jika ku bantu membawakan belanjaan itu. Sepertinya terlihat sangat berat bagimu."


"Terimakasih. Tapi aku gak apa apa kok." Ucap Ririn.


"Akan aneh jika seorang lelaki membiarkan wanita membawa barang berat, dan juga sekalian aku ingin berkeliling desa." Jelas Ken.


"Ba-baiklah kalau begitu." Ucap Ririn.

__ADS_1


Kemudian Ken menemani Ririn pulang sembari membantunya membawa barang belanjaan yang banyak itu.


Sesampainya di rumah Ririn, Ken dibuat terkejut setelah mengetahui bahwa ayah Ririn adalah orang yang membunuh Hansaka di hutan tempo hari.


"Kebetulan yang sangat pas." Batin Ken.


Pria itu sedang mengkuliti rusa di samping rumahnya jadi dia tidak mengetahui keberadaan Ken, dan setelah Ririn berpamitan, Kenzhi berniat mendekati pria itu.


"Terima kasih karena telah membawakan belanjaan ini. Kalau begitu aku masuk, sampai jumpa." Ucap Ririn.


"Ya." Jawab Ken singkat.


"Baiklah, waktunya memberi kejutan pada orang itu." Ucap Ken sembari memasang senyum jahil.


Ken mendekat dan berkata. "Lama tak bertemu ya, paman. Bagaimana kabarmu."


Pria itu nampak kesal karena ia tak ingin diganggu dan tanpa melirik dia berkata. "Kep*rat siapa kau, aku sedang sibuk jadi pergilah."


"Paman, cara bicaramu terdengar seperti seorang pembunuh. Oh aku hampir lupa, kau kan memang pembunuh." Sindir Ken.


"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan jadi per—." Perkataan pria itu terhenti setelah ia melihat Ken yang sedang berdiri di belakangnya.


"Ha-hansaka!! Gak mungkin... Ini pasti hanya halusinasi.. kau seharusnya sudah ku—."


"Kenapa kau berhenti berbicara. Dan juga aku tak menyangka ekspresi mu bisa sangat terkejut seperti ini." Kata Ken.


"Siapa kau sebenarnya, aku telah menyaksikan sendiri dia telah tewas." Gertak Pria itu.


"Saat kau membunuh, seharusnya kau incar lehernya dan tebas hingga terputus. Jika hanya perut, korbanmu bisa saja cuma pingsan." Ucap Ken.


"Gak mungkin, aku mela—, melihatnya dengan jelas kau di tusuk berkali-kali. Seharusnya mustahil jika hanya pingsan."


"Sudahlah kau tak perlu ngeles lagi, aku sudah tahu semuanya."


Kenzhi yang mantan seorang pembunuh kemudian dengan cepat mengambil pisau di tangan pria itu dan mendekapnya dari belakang sambil mengarahkan pisau ke lehernya.


"Dengar yah.. Ririn sangat baik kepadanya, jadi untuk saat ini aku biarkan kau. Dan sebagai gantinya, jangan sampai kau mendekati Lylia lagi, paham." Ancam Ken.


"Memangnya siapa kau berani mengancamku, kau hanyalah peracik biasa dan tak punya keahlian apapun, kau juga—." Lagi lagi pria itu menghentikan perkataannya.


Kenzhi melanjutkan. "Yah kau benar, dengan kutukan itu aku bisa menyiksamu hingga saat di neraka kau tidak bisa membedakannya."


"Ti—tidak mungkin."


Nyali pria itu menciut dan setelah Ken melepaskannya, pria itu terduduk lemas di tanah.


Dari dalam rumah Ririn memanggil ayahnya, dan Ken kemudian segera berjalan pergi dari sana.


"Sepertinya aku harus pergi." Kata Ken.


[Tuan, kenapa anda tidak membalaskan saja dendamnya.]


"Akan jadi masalah nantinya, jadi untuk saat ini kubiarkan saja dia." Balas Ken.


[Tapi Tuan, anda sepertinya sudah sangat berlebihan mengancamnya.]


"Mau bagaimana lagi, aku kan mantan pembunuh." Ucap Ken sambil bercanda.


"Jalan jalannya sudah cukup sampai di sini, aku mau rebahan santuy di kamar agar staminaku bisa pulih untuk besok."


Ken berjalan pulang ke rumah dan berniat untuk mengumpulkan staminanya yang telah banyak terpakai saat pagi tadi melawan pasukan Ogre.


Bersambung...


Ya begitulah.. Thx_TG

__ADS_1


__ADS_2