
SEJATINYA CINTA
Oleh : Athiyah Karim
#RepostSC1part3
Asisten Dokter
Satu bulan kemudain, Danil menemui Dina yang barusaja selesai memeriksa salah seorang pasien rawat inap.
" Sudah selesai? " tanya Danil.
" Sudah, Dokter. " jawab Dina.
" Bisa ikut saya sebentar? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan. " kata Danil.
" Baik, Dokter. " Dina pun mengikuti langkah Danil menuju ruang praktiknya.
" Mari silahkan duduk. "
" Terima kasih, Dokter. "
" Langsung saja ya, jadi begini tentunya kamu sudah tahu kalau asisten dokter Fahmi, Siska akan pindah ke Surabaya "
" Iya, Dokter. saya sudah tahu. "
" Oleh karena itu, saya minta kamu gantikan Siska menjadi asisten dokter Fahmi. "
Mendengar perkataan Danil, Dina mengernyitkan dahinya, ia jadi bingung sekaligus merasa tak percaya.
" Saya, Dokter? apa tidak salah? " tanya Dina.
" Tentu saja tidak, saya sudah melihat kinerja kamu selama ini, kamu itu punya banyak kelebihan, dan saya percaya kamu pasti bisa. " terang Danil.
Dina terdiam, gadis tersebut nampak ragu.
" Mulai besok pagi kamu bertugas diruang praktik dokter Fahmi yang ada dilantai tiga, semua sudah dipersiapkan disana, ada Suster Hani yang akan membantumu disana, tentunya kamu harus datang lebih awal." jelas Danil.
" Baik, Dokter. "
" Bagus, kalau begitu Selamat bertugas ya. " ucap Danil.
" Terima kasih, Dokter. " jawab Dina.
Dina pun meninggalkan ruang praktik Danil, ia segera kembali keruang khusus perawat.
" Selamat ya Din, mulai besok kamu jadi asisten dokter Fahmi. " ucap Latifah senang.
" Hah? apa? Dina jadi asisten dokter Fahmi? " tanya Sandra.
" Waaah asyik banget tuh, Din. Aku juga mau dong. " komentar Rahmah.
" Selamat ya, Din. " ucap Evi.
" Terima kasih. " jawab Dina.
" Aduhai Dina, enak dong bisa deketan sama dokter tampan. " kata Rahmah lagi.
" Hush! apaan sih? " protes Dina.
Latifah senyum-senyum sendiri melihat Dina, ia berkata dalam hati.
" Yess ! Semoga rencanaku sama Mas Danil, berhasil. "
🩺🩺🩺🩺🩺🩺🩺
Rabu pagi yang cerah, Dina mengawali hari menjadi Asisten dokter Fahmi, sesuai perintah ia berangkat lebih awal dari biasanya, pukul 06. 20 WIB, Dina telah sampai dirumah sakit Asy-Syifa'.
Dina menaiki anak-anak tangga menyusuri koridor rumah sakit menuju lantai tiga, hingga ia pun sampai pada salah satu ruangan berukuran 28 meter, terpampang plakat nama,
dr. Fahmi Azmi , Sp.A.
Dina membuka pintu yang didominasi kaca bening, yang tertutup tirai putih, ia pun segera masuk kedalam ruang praktik dokter Fahmi.
Sebuah ruangan yang luas, disebelah kiri terdapat meja dan kursi untuk asisten dokter, disebelah kanan, deretan sofa berwarna hijau sebagai tempat duduk antrian pengunjung yang akan periksa, disamping sofa terdapat aquarium cukup besar, dan menjadikan ikan badut sebagai penghuninya atau yang biasa dikenal dengan sebutan ikan Nemo.
Di depan sofa terdapat deretan rak buku berisi buku-buku cerita anak-anak serta majalah, dan sebuah televisi 24 inch dibiarkan menggantung di dinding samping kanan sofa.
Masuk keruang pemeriksaan disanalah Fahmi bertugas, Dina pun segera membuka tirai putih yang menutupi dinding kaca, tampak pemandangan kota Batu terlihat begitu jelas memanjakan mata, sinar mentari pun masuk menerangi ruangan tersebut.
Tepat pukul 07.30 WIB, Fahmi datang, ia pun segera memasuki ruang praktiknya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Dina berada diruang praktiknya.
" Assalamu'alaikum, Selamat Pagi. " sapa Fahmi.
" Wa'alaikumsalam, Pagi, dokter. " sambut Dina.
" Loh, Hani mana? " tanya Fahmi.
" Belum datang, Dokter. " jawab Dina.
" Jadi, kamu yang gantiin Siska? " tanya Fahmi lagi.
" Iya, Dokter. "
Dina merasa aneh dengan pertanyaan Fahmi, bukankah seharusnya dokter Fahmi sudah tahu jika ia yang akan menggantikan posisi Siska sebagai asistennya.
Fahmi memperhatikan Dina dari ujung kepala hingga ujung kaki.
" Oke, maaf kalau boleh tahu siapa namamu? " tanya Fahmi.
" Dina, Dokter ." jawab Dina mulai gugup.
" Ok. Selamat bertugas, suster." ucap Fahmi.
Tanpa banyak kata lagi, Fahmi segera pergi meninggalkan Dina sendiri, ia segera melangkahkan kaki menuju ruang praktik Danil di lantai dua.
" Ini pasti kerjaan Danil nih. " gerutu Fahmi kesal.
Fahmi pun segera menemui Danil diruang praktiknya.
"Assalamu'alaikum. "
"Wa'alaikum salam, Pagi, Bro ! "
Fahmi langsung menghempaskan tubuhnya di kursi tepat dihadapan Danil.
" Kamu apa-apaan sih Dan? Kenapa anak baru itu kamu suruh gantiin Siska? " protes Fahmi.
" Oh, jadi kamu datang kesini cuma buat protes masalah kayak gini? “ ujar Danil.
" Maksud kamu? "
" Dokter Fahmi yang terhormat, masak iya sih dari dulu kamu milih asisten yang emak-emak melulu, sekali-kali direfresh dong. " canda Danil.
" Aku kan sudah bilang sama kamu, suster Erna yang aku pinta buat gantiin Siska , dia udah senior juga disini, pengalamannya banyak. kenapa malah Dina? anak baru itu? “ protes Fahmi .
" Kenapa? Ada masalah? Dina juga gadis yang smart, aku sudah lihat bagaimana kinerja anak itu, rekan-rekan perawat banyak yang menyanjungnya, memuji pekerjaannya, dia terkenal dengan keuletan, kesabaran, serta ketulusannya dalam bekerja, bahkan banyak pasien-pasien lebih-lebih anak-anak yang suka jika Dina sudah memeriksa dan merawat mereka, jadi aku rasa sudah pas, sudah cocok buat gantiin Siska ", jelas Danil.
" Lagi pula kamu gak bosan apa-apa ditemani ibu-ibu terus kerja, sekali-kali ganti gadislah . "
" Dan, ini kerjaan serius, bukan main-main , jangan- jangan kamu mau coba-coba jodohin aku sama dia, iya kan ? " tebak Fahmi.
Danil tertawa , " Lha, itu udah tau. "
" Harus berapa kali aku bilang sama kamu, jangan coba-coba jodoh-jodohin aku sama siapapun, karena aku hanya akan menikah dengan gadis pilihan Abi dan Ummi. " jelas Fahmi mendengus kesal.
Usai menemui Danil, Fahmi kembali memasuki ruang praktiknya, ia perhatikan gadis yang sedang sibuk mencatat sesuatu pada buku dihadapannya.
" Suster Hani belum datang? "
" Belum, Dokter."
" Tumben nih jam segini Hani belum datang " gumam Fahmi.
" Oh ya, bisa dicek ada berapa orang yang akan periksa hari ini? "
Dina pun segera melihat list pendaftar yang akan chek up pada hari itu .
" Kurang lebih sekitar 62 orang, Dokter" jawab Dina.
Tak lama kemudian Hani pun datang.
" Assalamu'alaikum. "
"Wa'alaikumsalam" jawab Fahmi dan Dina bersamaan.
" Kenapa telat Han? " tanya Fahmi.
" Maaf dokter, tadi saya masih repot ngurusin anak-anak, ayahnya lagi ke luar kota " jawab Hani.
" Ya udah, sana gih kamu bantuin Dina " perintah Fahmi.
" Baik, Dokter. "
" Asyiiik aku punya teman baru. " ucap Hani senang.
" Udah dari tadi datengnya? duuh , sorry ya, aku telat masih ribet sama anak-anak tadi. ” sesal Hani.
" Iya Mbak. gak apa-apa. " jawab Dina.
Dina agak nervous menghadapi hari pertama bertugas sebagai asisten dokter Fahmi.
" Santai, gak usah nerveous, dokter Fahmi gak galak kok, tapi jangan kaget ya, dia itu juteknya masya Allah Astaghfirullah dah, ampun dingin dan kaku banget orangnya " bisik Hani.
" Iya ,Mbak. " jawab Dina singkat.
🩺🩺🩺🩺🩺🩺🩺
Waktu terus berjalan begitu cepat, tak terasa tiga bulan sudah Dina bertugas sebagai asisten dr. Fahmi, ia pun sudah sangat terbiasa menghadapi cueknya sikap Fahmi, gaya bicara yang to the point dan tanpa melihat lawan bicaranya kecuali pada saat-saat darurat saja, jika pun mereka sempat bertatapan, maka cepat-cepat Fahmi akan membuang muka, memalingkan pandangannya.
Meski demikian, Dina mendapat banyak pengalaman dan ilmu dari dokter Fahmi, kesabaran, kelatenan dalam menghadapi anak-anak, bagaimana mereka bisa merasa nyaman, dan tak takut sedikitpun, bahkan ketika mereka harus bertemu dengan jarum suntik sekalipun, Fahmi selalu menemukan cara agar anak-anak tersebut tak terasa jika sedang disuntik.
Sikap Fahmi begitu ramah dan penuh cinta kepada anak-anak kecil, namun angkuh dan dingin kepada kaum hawa, Sikap dinginnya tak membuat kaum wanita membencinya, justru semakin banyak yang terpikat olehnya, tak jarang, ibu-ibu muda turut bersikap aneh, mereka membawa anaknya, bahkan adiknya yang ternyata baik-baik saja tak ada masalah kesehatan sedikitpun hanya demi berjumpa dengan dokter pujaan.
🩺🩺🩺🩺🩺🩺
Suatu siang, usai merampungkan tugas, Dina dan Latifah menghabiskan waktu makan siang bersama di kantin rumah sakit.
" Gimana? gimana? dah PDKT belum? " tanya Latifah.
Dina tak mengerti maksud pertanyaan Latifah.
" PDKT ? maksudnya? "
" Aiiih Dina, polos banget sih kamu, itu pendekatan sama dokter Fahmi ".
“ Duuh, apa sih, Mbak. kok jadi ngelantur kemana-mana ? "
" Ya siapa tahu gitu. "
" Jangan menghayal terlalu jauh deh , dia siapa, aku siapa, ntar yang ada bagaikan pungguk merindukan bulan ", tegas Dina.
" Loh, Din, di dunia ini nggak ada yang mustahil kok, apalagi kalau Allah sudah mentakdirkan. "
" Ogah ah, yang naksir pak Fahmi banyak. "
Latifah tertawa , " Hihihihi, kenapa? takut patah hati kamu ya? "
" Nah itu tahu jawabannya, lagian pak Fahmi juga udah punya pasangan kok. " jelas Dina.
" Hah? apa? udah punya pasangan? yang bener kamu? " Latifah terkejut tak percaya.
" Iya, kapan hari kekasihnya datang, dan mereka terlihat akrab banget, deket banget, ceweknya juga nggak kalah cantik. " jelas Dina.
" Sebentar-sebentar, Mas Danil kok nggak ada cerita ya kalau Fahmi udah punya kekasih, ah kamu salah lihat kali. "
" Iya, beneran. "
Latifah mencoba mengingat - ingat seseorang yang dekat dengan Fahmi.
" Ciri-ciri orangnya kayak gimana sih? “
__ADS_1
" Bentar ya Dina minum, dulu hausnya.
" jawab Dina
kemudian menyeruput es Teh manis disampingnya.
" Hmmm, orangnya tinggi, cantik, putih, dan ya berhijab "
" Fahmi manggil dia apa? ".
" Hmmmmm. Seinget Dina sih pak Fahmi manggil dia dengan sebutan Halwa."
" Ya ampun Dina, itu tuh pasti Mbak Nabila, kakaknya Fahmi, Fahmi memang manggil kakaknya dengan sebutan itu " jelas Latifah.
“ Oh Hihihi sorry, Dina kan nggak tahu. " jawab Dina sambil nyengir.
" Fahmi itu anak bungsu, kakak-kakaknya ada tiga perempuan semua, dan Fahmi memang deket banget sama kakak-kakaknya, emang sih banyak orang ketipu, kata orang jawa sih .“ Kecelik “, karena mengira mereka itu sepasang kekasih, padahal kakak adik. " jelas Latifah.
Dina hanya manggut - manggut mendengar cerita Latifah.
" Jangan-jangan, kamu cemburu ya? " goda Latifah.
`" Mulai lagi deh. " protes Dina.
" Tapi beneran deh Din, entah mengapa hatiku tuh mengatakan bahkan serasa ada keyakinan kalau sebenarnya kalian berdua itu Jodoh. " Jelas Latifah.
Tiba - tiba sebuah suara bariton mengejutkan mereka berdua .
" Siapa yang Jodoh? " tanya Fahmi.
Reflek Dina menaruh jari telunjuknya ke ujung bibirnya, meminta Latifah untuk tak lagi bicara aneh-aneh , langkah Fahmi kian mendekat, dua orang wanita itu pun terkejut mendengarnya, Fahmi berdiri tepat dihadapan Latifah dan Dina.
" Aduhai, Pucuk dicinta Ulam pun tiba. " jawab Latifah.
Dina menunduk, seketika jantungnya berdebar-debar,
" Aduuh, Mbak Ifa. " keluh Dina dalam hati.
Fahmi tak menggubris kata-kata Latifah.
" Tumben nih nimbrung sini, ada apa? " tanya Latifah heran.
" Begini Nyonya Danil, besok pagi kita ada rapat, ada rencana renovasi gedung rawat inap khusus anak-anak. Mbak ikutan ya, jam sembilan. " jelas Fahmi.
" Oh gitu, oke , siap. tapi masak aku aja nih yang diajak, gadis depan aku ini nggak diajak rapat juga, dia kan asisten kamu? " tanya Latifah kemudian.
" Ya Allah, Mbak Ifa. " Dina berkata dalam hati.
" Ya dia ikut juga, pokoknya nggak boleh telat. " jawab Fahmi.
Laki-laki itu pun pergi, ia mulai mengerti kemana arah pembicaraan Latifah.
" Yess ! " Sambut Latifah senang.
" Aduuuh, Mbaaak. Ngapain sih, pakek ngajak-ngajakin Dina juga ? " protes Dina.
" Kamu gimana sih non, kamu kan asistennya juga. " jawab Latifah .
" Ya tapi...... "
Latifah terkekeh melihat tingkah Dina,
" Hihihihi, kalian berdua ini lucu ya. "
🩺🩺🩺🩺🩺🩺
Keesokan harinya rapat pun digelar, Danil memimpin rapat .
" Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh "
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh ." jawab seluruh anggota rapat.
" Alhamdulillah atas segala rahmat Allah, dipagi yang cerah ini kita dapat berjumpa kembali diruangan ini dalam keadaan sehat wal afiyat, Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Baik, langsung saja. Pagi hari ini kita akan mengadakan musyawarah terkait rencana renovasi gedung rawat inap anak, untuk itu kami persilahkan kepada yang terhormat bapak kepala rumah sakit Asy-syifa' untuk menyampaikan idenya terkait rencana tersebut. Kepada dokter Fahmi, waktu dan tempat kami persilahkan. "
" Terima kasih, dokter Danil. " ucap Fahmi.
Ia pun berdiri dari tempat duduknya , ia melangkah mendekati layar proyektor, yang akan menggambarkan hasil rancangannya bersama rekannya .
" Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. "
" Baik, berikut ini saya akan menampilkan rancangan, atau contoh konsep pembangunan sekaligus renovasi gedung rawat inap anak yang dirancang oleh teman saya, Jaka. dia adalah salah seorang arsitektur ternama dari Bandung."
Fahmi pun mulai memperlihatkan gambaran gedung tersebut sekaligus menjelaskannya secara rinci, mengadopsi dari salah satu rancangan ruang rawat inap anak dari Singapura, difasilitasi alat-alat canggih, interior serta exteriornya nampak megah.
Semua anggota rapat berdecak kagum melihat gambaran tersebut.
" Wah, ini hebat. sepertinya belum ada rancangan seperti ini di negara kita. "puji dokter Irwan.
" Betul, saya juga setuju dengan pendapat anda. " kata Danil.
Mereka terpukau melihat rancangan Fahmi dengan rekannya itu, namun, tidak dengan Dina, ia mengangkat tangannya.
" Maaf, Dokter.bolehkah saya memberi pendapat. "ujar Dina.
Semua anggota rapat terkejut atas tindakan Dina, tak terkecuali Fahmi.
" Iya, Suster. Silahkan. " jawab Fahmi merasa heran.
" Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, menurut saya rancangan tersebut memang sangat bagus, tapi saya rasa kurang cocok dengan jiwa anak-anak." ungkap Dina.
" Bisa dijelaskan kurang cocoknya dimana? " tanya Fahmi.
" Baik, Dokter. begini, bukan saya mengatakan rancangan tersebut tidak bagus, hanya saja melihat konsep bangunan yang mewah dan memfasilitasi dengan alat-alat canggih menggunakan mesin robotic seperti itu, tentunya tidak sedikit biaya yang akan dikeluarkan, sementara masih banyak perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan pada segmen yang lain. Belum lagi rencana renovasi itu dilakukan di lantai tiga rumah sakit ini, memang bagus jika ruang rawat inap berdekatan dengan ruang praktik dokter, tentu akan membuat pekerjaan dokter menjadi lebih mudah, tetapi mengingat anak-anak dengan segala aktifitasnya yang energik, senang berlari-larian, tentu hal ini juga kurang efektif, apalagi ruang dilantai tiga juga tidak terlalu luas, mengapa kita tidak merenovasi gedung Pavilium yang berada di lantai satu dekat taman rumah sakit sebagai gedung rawat inap anak. "
" Lokasi disana sangat luas, tentu tidak akan membatasi ruang gerak anak. Sementara, ruang untuk penyakit dalam yang selama ini diposisikan diruang pavilium kita pindahkan ke lantai tiga. " jelas Dina.
Seketika dokter irwan bertepuk tangan,
" Wah, hebat sekali kamu ya, ide kamu sangat brillian. " puji dokter Irwan.
" Lantas, apa Mbak Dina punya konsep rancangan lain yang lebih cocok? " tanya Fahmi.
Dina terdiam, ia sama sekali tak memiliki konsep, ia menggelengkan kepalanya.
" Lalu? " tanya Fahmi heran.
Dina berfikir keras, ia tak hanya berani mengkritik tapi juga memberi solusi atas tindakannya itu.
" Hmm, begini Dokter. jika saya diberi kesempatan, izinkan saya untuk membuat konsepnya terlebih dahulu. "
Fahmi tercenung ia tak menyangka gadis yang belum lama bertugas dirumah sakitnya berani memberinya tantangan.
" Baik, kalau begitu, saya izinkan mbak Dina untuk membuat rancangannya, yang menurut mbak jauh lebih cocok. " ujar Fahmi.
Semua anggota rapat tersenyum senang.
" Dan saya beri waktu anda 1x24 Jam, untuk menyelesaikannya. " imbuh Fahmi.
Sontak, semua anggota rapat terkejut mendengar perkataan Fahmi, tak terkecuali Dina.
"Apa? 1x24 jam? kamu nggak lagi bercanda dokter Fahmi? " protes Danil.
" Tentu tidak, 1x 24 jam dimulai dari sekarang, dan untuk saudari Dina. Hari ini anda dibebas tugaskan, agar bisa lebih fokus menyelesaikan tugas khusus ini. " ujar Fahmi.
" Bagaimana bisa anda memberi waktu sesingkat ini dokter? membuat suatu rancangan itu butuh waktu. Itu tugas yang sangat berat. " kata dokter Irwan.
" Tentu tidak. " jawab Fahmi enteng.
Dina tercekat, bagaimana mungkin dokter Fahmi memberinya waktu sesingkat itu.
" Kita tidak punya banyak waktu, awal bulan depan renovasi gedung rawat inap anak akan segera dilaksanakan, jika saudari Dina berhasil menyelesaikan tugasnya tepat waktu, maka kita akan mengikuti rancangannya, tapi jika tidak, maka sesuai kesepakatan awal, renovasi gedung akan mengikuti konsep rancangan saya. Bagaimana saudari Din, anda sanggup? " tanya Fahmi menatap gadis itu dengan tajam.
Dina terdiam, ia tak berani menatap Fahmi, Dina menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
" Baik, Dokter. Saya sanggup. " jawab Dina.
" Ok, Good. kita lanjutkan rapat ini besok pukul sepuluh, Silahkan kembali bertugas. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh. " pungkas Fahmi.
Laki-laki itu segera melangkah keluar dari ruang rapat, Danil pun segera menyusul langkahnya.
" Gus Fahmi. kamu apa-apaan sih? masak ngasih tugas berat dalam waktu sesingkat itu? Harusnya kamu kasih waktu lebih panjang, tega banget sih kamu?! " protes Danil.
Laki- laki yang memaki kemeja biru itu pun menghentikan langkahnya.
" Hello, suadara Danil. Tadi aku lihat Dina baik-baik saja, kenapa jadi kamu yang sewot? " tanya Fahmi.
" Ya bukannya begitu Fahmi, kamu itu .... "
Belum selesai Danil bicara, Fahmi segera memotong pembicaraannya.
" Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau Dina itu gadis pintar, cerdas, ulet, dan sebagainya. Nah sekarang adalah waktu yang tepat untuk membuktikan semua perkataan anda, Dokter Danil. " tantang Fahmi.
" Tapi ini terlalu Gus. "
" Oke, kita lihat besok ya? "
" Oke, kalau misalkan besok dia berhasil. lantas, penghargaan apa yang akan kamu berikan padanya? " tanya Danil.
Fahmi mengernyitkan dahi.
" Penghargaan? penghargaan apalagi? bukankah merenovasi gedung sesuai dengan rancangan dia itu sudah merupakan suatu penghargaan besar? "
" Cuma itu? "
" Maksud kamu? " tanya Fahmi.
Danil mendekat lalu berbisik,
" Kalau Dina berhasil membuktikan kehebatannya, sampean nikahi dia Gus." bisik Danil.
Fahmi mendengkus kesal.
Dilain tempat Latifah tak henti-hentinya membujuk Dina agar mengurungkan niatnya menerima tantangan Fahmi, atau meminta tambahan waktu kepada Fahmi.
" Din, please deh. ini nih bukan main-main, bagaimana mungkin dalam waktu secepat itu kamu akan menyelesaikan tugas seberat ini? atau paling tidak kamu minta tambahan waktu gih sama Fahmi. "ujar Latifah panjang lebar.
Dina menutup wajahnya dengan kedua tangannya, mendadak kepalanya menjadi pening.
" Ya Allah, bantu hamba. " gumam Dina lirih.
" Ya mau bagaimana lagi, Mbak. Dina udah terlanjut meng-iyakan, ya mungkin ini resiko yang harus Dina tanggung. " jawab Dina.
" Lagian kamu ngapain sih, pakek acara ngritik-ngritik segala, ribet kan jadinya? "
" Ya udah Dina kerjain dulu deh mbak, waktu Dina juga nggak banyak. "
" Duuuh Dinaaa, kamu ini ada-ada saja, bikin repot diri sendiri tahu! " keluh Latifah.
Gadis 21 tahun itu segera beranjak meninggalkan ruang rapat, ia bergegas melangkahkan kaki menuju ruang pavillium, tangan kanannya membawa gulungan kertas kosong A4.
Dina mengitari area gedung pavillium, otaknya berpikir keras mencari gambaran tentang rancangan yang akan ia buat, otaknya buntu.
" Hmmm, Sholat dulu aja lah. " ucap Dina.
Ia segera mempercepat langkah menuju mushollah An- Nur, dinginnya air wudhu' seketika membuat hati dan fikirannya yang sempat kalut menjadi tenang, Dina segera menunaikan sholat Dhuha, ia berdoa memohon petunjuk kepada Allah.
Usai melaksanakan sholat Dhuha, Dina mulai menggambar sesuatu pada kertas A4, ia mengamati dengan seksama bangunan gedung pavillium, dari teras mushollah, sedang dari kejauhan, seseorang tengah memperhatikannya.
Menjelang sore hari Dina masih belum beranjak dari tempat duduknya, ide-idenya terus bermunculan, tangannya terus bekerja, tak lupa Dina mengabari Ayah ibunya, bahwa ia pulang terlambat hari itu, karena tugasnya belum rampung.
Jam telah menunjukkan pukul 16.50 WIB, Dina masih sibuk menyelesaikan tugasnya, ia duduk dikursi kayu panjang di taman rumah sakit, depan ruang pavillium, ia mulai merasa lelah, tubuhnya gerah, tangannya mulai pegal, namun Dina tak mau menyerah ia dikejar Deadline.
" Alhamdulillah, tinggal sedikit lagi. Nanti malam tinggal finishing saja. " ucap Dina lirih.
Tiba- tiba, suara yang tak asing lagi ditelinganya datang menyapanya.
" Belum pulang? " tanya Fahmi.
__ADS_1
Laki-laki itu berdiri disamping kursi kayu, kedua tangannya berada dibelakang punggungnya, terlihat ia membawa sesuatu.
" Belum, Dokter. " jawab Dina sambil tetap menunduk tak berani menatap lawan bicaranya.
" Siapa suruh nantangin aku? " ujar Fahmi.
Dina terdiam,
" Maaf, Dokter. saya sama sekali tidak bermaksud demikian. "
Wajah Fahmi tampak segar, sinar mentari yang hendak tenggelam menyinari wajahnya, laki-laki itu tersenyum, ada sesal dihatinya karena telah bersikap kejam pada gadis tersebut.
" Kerja boleh, tapi jangan lupa jaga kesehatan. " ujar Fahmi.
Ia meletakkan bungkusan plastik berisi 1 botol air mineral, satu kotak nasi, dan 1 botol kecil Vitamin C.
" Saya tinggal dulu, Assalamu'alaikum." ucap Fahmi.
Ia kemudian melangkah pergi meninggalkan Dina , tanpa menengok ke arah Dina.
" Wa'alaikumsalam. " jawab Dina yang tercenganng setelah mendapat perhatian dari laki- laki dingin itu.
🩺🩺🩺🩺🩺🩺🩺
Keesokan harinya, rapat kembali digelar, Dina benar-benar gugup, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
" Robby yassir wa la tu'assir. " ucap Dina lirih.
" Bagaimana, Mbak. Sudah siap? " tanya Danil memastikan.
" Sudah, Dokter. " jawab Dina singkat.
" Baik, silahkan dimulai presentasinya. " ujar Danil mempersilahkan.
" Semangat ya, Din ! " kata Latifah yang duduk disamping Dina.
" Terima kasih banyak, Mbak. " jawab Dina.
Gadis berdarah arab itu pun berdiri .
" Bismillahirrohmanirrohim. " ucap Dina lirih.
Gadis itu pun mulai membuka gulungan kertas berisi gambar sketsa rancangannya.
Dina mulai menjelaskan secara detail dan rinci hasil rancangannya, sebuah sketsa gambar penuh warna, bangunan rawat inap yang dicat warna-warni diberi hiasan tokoh – tokoh cartoon, dan di taman depan ruang pavillium dilengkapi fasilitas permainan seperti perosotan dan ayunan, beberapa pertanyaan dijawabnya dengan lugas.
Tepuk tangan yang meriah menyambut Dina ketika semua presentasinya selesai dijabarkan.
" Masya Allah, saya benar-benar takjub. Saya tidak menyangka kamu benar-benar jenius. " puji dokter Irwan.
" Entahlah, saya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Ide kamu benar-benar menakjubkan. " ujar Danil.
Semetara Fahmi ia hanya terdiam, tak berkomentar sepatah katapun.
" Lantas, bagaimana menurut pendapat anda dokter? " tanya Danil tersenyum menang.
Fahmi membetulkan posisi kaca matanya.
Lalu ia berdiri dan mengamati dengan seksama kertas - kertas A4 yang terhampar dihadapannya, sesekali ia tampak mencoret - coret serta menuliskan sesuatu pada kertas tersebut.
" Saya rasa, tidak seharusnya kamu berada disini. " ucap Fahmi.
Semua orang terkejut mendengarnya, begitu juga dengan Danil, ia mengernyitkan dahinya.
" Maksudnya, bagaimana ? " tanya Danil.
" Iya, Mbak Dina ini. Mustinya jadi arsitek bukan perawat. " jawab Fahmi memuji.
Latifah menyenggol lengan Dina , sembari berdehem.
"Ehm, ehm. "
Dina tersenyum.
" Sayangnya, ini rumah sakit. Bukan taman kanak-kanak. "komentar Fahmi berikutnya.
Semua orang kembali terdiam, tampak Fahmi menggulung kertas - kertas itu.
" Maaf, ya Mbak. dengan sangat terpaksa sekali saya sampaikan. Saya tidak bisa ...... " ujar Fahmi sembari menggelengkan kepalanya.
Semua orang tampak kecewa dengan keputusan Fahmi, terlebih Dina, semua perjuangan dan pengorbanannya seakan sia-sia, tak dihargai sama sekali, bahkan semalam ia hanya tidur selama tiga puluh menit saja demi merampungkan tugasnya, tubuhnya terasa lemas seketika.
Kemarin Fahmi seakan melambungkannya dengan sedikit perhatian, namun sekarang laki-laki itu seakan melemparnya begitu saja kedalam jurang terdalam, Semangatnya yang sempat berapi-api padam seketika, namun ia pun hanya bisa pasrah, tak bisa apa-apa, begitu juga dengan yang lain, semua keputusan berada ditangan Fahmi.
" Baik, sesuai kesepakatan awal. Maka kita akan merenovasi gedung rawat inap anak-anak di gedung Pavillium, dan ruang rawat inap untuk pasien penyakit dalam akan dipindahkan di lantai tiga, dan rancangan ini masih harus disempurnakan karena masih ada kekurangan disana sini. Harap dokter Budi untuk segera menyelesaikan proposalnya, nanti dokter Irwan mohon untuk menyiapkan anggarannya. " jelas Fahmi.
Mereka semua kembali dibuat terkejut sekaligus bingung dengan penjelasan Fahmi barusan.
" Sebentar, sebentar, ini maksudnya bagaimana dokter? " tanya Danil.
Fahmi mengamil nafas dalam - dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
" Saudari Afkarina Daniya Fakhiroh, Maaf. saya tidak bisa menolak rancangan anda. Selamat, kita akan merenovasi ruang rawat inap anak sesuai dengan intruksi anda. " ucap Fahmi sembari tersenyum.
" Alhamdulillaaah. " jawab yang lain.
Seketika wajah Dina menjadi merah bagai tomat, ia tak mengira pekerjaannya akan berbuah manis.
Gemuruh tepuk tangan pun membahana memenuhi ruang meeting, satu persatu anggota rapat yang berjumlah delapan orang termasuk Dina, memberi selamat kepadanya.
" Masya Allah, selamat ya, Din. Kamu memang benar-benar hebat. " ujar Latifah,
Ia pun memeluk Dina dengan sangat erat.
" Baik, sekali lagi kami ucapkan selamat kepada mbak Dina. tentunya kita berharap semoga rencana kita ini mendapat ridho dari Allah SWT, serta diberi kemudahan dan kelancaran. Aamiin. " ujar Danil mengakhiri.
🩺🩺🩺🩺🩺🩺🩺
Danil menepuk- nepuk punggung Fahmi.
" Sumpah, kamu tuh bener-bener ya. Seneng bikin orang senam jantung ", ujar Danil seraya tertawa.
" Kalau nggak gitu, nggak seru dong. Aku juga ingin tahu sekuat apa mental dia. "
" Gila! aku lihat tadi itu dia udah lemas banget. Udah kayak mau nangis gitu, kejam banget sampean Gus! “
Fahmi tertawa puas ,
" Hahaha, aduh ngapunten, Ya Allah. " ucapnya disela tertawanya.
" Jadi, gimana Gus? Dia sudah membuktikan kehebatannya bukan? "
" Ya, kamu benar. Dia memang gadis yang luar biasa. jujur, aku kagum. "
" Terus, rencana kapan nih mau dinikahi? "
" Allah Kariiim, kumat maneh koncoku iki. " keluh Fahmi .
Danil tertawa menang .
" Dan , aku kan nggak bilang apa-apa kemarin, dan harus sampai berapa kali lagi aku bilang sama kamu, Apa perlu aku jewer telinga kamu? Biar kamu ngerti. " keluh Fahmi.
" Gus, apa salah saya jika saya ingin melihat sampean bahagia, Gus? " tanya Danil serius.
" Jika yang menyuruh aku menikahinya adalah Abi dan Ummi maka aku pasti tak akan membantah apalagi menolak perintahnya. Aku hargai niat baikmu kawan, bukan aku tak mau menghargai usahamu. Maafkan aku. jika aku menurutimu lalu Abi dan Ummi nggak kerso, aku musti gimana? tolong fahami aku, Dan. " jawab Fahmi.
" Iya, ngapunten, Gus. " ujar Danil.
Fahmi merangkul bahu sahabatnya,
" Wes, kamu doakan saja sahabatmu ini agar mendapatkan yang terbaik. "
" Nggih, Gus." jawab Danil singkat,
Rencananya menjodohkan sahabatnya dengan Dina belum berhasil.
🩺🩺🩺🩺🩺🩺🩺
Tepat pukul 11.00 siang, rampung sudah tugas Fahmi memeriksa pasien yang datang.
" Apa, masih ada lagi? " tanya Fahmi.
" Sudah tidak ada, Dok. Pasien barusan adalah pasien terakhir. " jawab Dina.
Hari itu Suster Hani tidak masuk, dia izin putranya sakit, Fahmi menghampiri Dina sembari menyerahkan map hijau.
" Ini, proposal yang tempo hari. Tolong, kamu tanda tangani. Saya mau pergi. " ujar Fahmi.
" Baik, Dokter. "
Fahmi pun segera membuka pintu kaca, ia pun melangkahkan kaki menuju keluar, Dina pun segera membuka lembar - lembar proposal kemudian membubuhkan tanda tangannya.
Tak sampai 5 menit Fahmi keluar, tiba-tiba ia kembali, dan langsung duduk dikursi samping Dina, Dina terkejut, belum sempat ia bertanya.
Fahmi memberi isyarat agar Dina diam, laki-laki itu menaruh jari telunjuknya diujung bibirnya sendiri, Dina merasa gugup, ia tak pernah duduk dekat dengan laki-laki manapun sebelumnya selain ayahnya.
Tak berapa lama kemudian, pintu kaca terbuka, seorang gadis cantik masuk ke dalam ruang praktik Fahmi, gadis itu bernama Rini, ia adalah teman kuliah Fahmi di jurusan yang sama, sejak duduk dibangku kuliah Rini telah jatuh hati pada Fahmi.
Gadis yang memiliki rambut panjang sebahu itu tak pernah menyerah, ia terus mengejar-ngejar Fahmi, hingga Fahmi merasa risih.
Dina terhenyak saat melihat penampilan Rini, ia tak berhijab, rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja, wajah ovalnya tampak begitu cantik, bersih, ia memakai kemeja lengan pendek berwarna merah dipadu dengan celana jeans putih.
" Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikum salam. " jawab Fahmi.
" Hai, Sayang. Apa kabar? "
" Ngapain kamu kesini, Rin? " tanya Fahmi ketus .
" Duuh, kamu itu bikin gemes ya, dari dulu nggak berubah juteknya. Nih, aku bawain makan siang buat kamu. "
Gadis itu pun meletakkan rantang makanan di meja kerja Dina.
" Asisten baru ya? " tanya Rini saat melihat Dina.
Belum sempat Dina menjawab Fahmi buru-buru menjawab pertanyaan Rini.
" Bukan, dia calon istriku. " sahut Fahmi.
Bukan saja Rini yang terkejut, lebih-lebih Dina, ia benar-benar tak siap untuk bersandiwara, tiba-tiba Dina merasa gugup, jantungnya berdetak hebat.
" Ya Allah, Pak Fahmi. Kok nggak bilang-bilang sih, kalau mau main sandiwara ? " protes Dina dalam hati.
Rini terdiam, tampak kekecewaan yang teramat dalam dari tatapan matanya.
" Kamu, nggak lagi bercanda kan? " tanya Rini tak percaya.
" Siapa yang bercanda Rin, aku serius. Ini Dina tunanganku. " jawab Fahmi santai.
Fahmi memberi kode kepada Dina dengan mengangkat satu alisnya,
" Benarkan, sayang? " ujar Fahmi .
Dina tergagap,
"Iya, Iya benar. " jawabnya.
" Kalau kamu nggak percaya, tanya saja sama Danil. " terang Fahmi dingin.
Rini benar- benar tak lagi mampu memendam gejolak hatinya, ia pun langsung pergi berkata apa-apa lagi, hatinya benar-benar hancur, laki-laki yang telah lama dicintainya ternyata telah memilih orang lain .
Setelah Rini pergi, Fahmi segera berdiri menjauh dari Dina.
" Alhamdulillah, Ya Allah. Semoga saja wanita itu nggak menghantuiku lagi. " ucap Fahmi seraya menutup kedua wajahnya.
" Sorry ya, aku nggak bilang-bilang dulu kalau harus ada sandiwara. Karena tadi juga mendadak, sekali lagi, maaf. Ku harap kamu mau mengerti. " ujar Fahmi tanpa menatap Dina.
Dina terdiam mematung, ia bingung, seketika perasaannya menjadi gelisah, antara merasa bersalah pada Rini, sedih, terkejut, bercampur menjadi satu.
Fahmi pun kembali pergi, tanpa merasakan beban apapun, sementara kedua orang gadis yang baru saja menerima permainan sandiwaranya, sama-sama tak menentu suasana hatinya.
__ADS_1
🩺🩺🩺🩺🩺🩺🩺🩺