SJEATINYA CINTA

SJEATINYA CINTA
JATUH CINTA


__ADS_3

Memang benar kata Pepatah Jawa " Witing Trisno Jalaran Songko Kulino ", Cinta, ia datang secara tiba-tiba, merasuk begitu saja dalam kalbu manusia, tanpa ketuk pintu tanpa permisi.


Keberadaannya mampu memporak porandakan suasana hati pemiliknya, antara bahagia, rindu, sedih, hingga takut akan kehilangannya.


Begitu juga dengan Dina, entah sejak kapan hatinya menjadi gelisah, dan berdetak begitu cepat tiap kali laki-laki dingin itu berada dihadapannya.


Renovasi gedung telah dimulai, Fahmi meminta Dina untuk melihat- lihat lokasi yang akan dibenah, mereka berdua pun sedang sibuk berdiskusi, ditemani Jaka Arsitek yang menyempurnakan hasil rancangan Dina, dari kejauhan Danil dan Latifah memperhatikan mereka.


" Ma, coba lihat tuh mereka berdua, semakin dekat saja. " ujar Danil.


" Iya, Mas Danil benar. Semoga saja bisa berlanjut sampai pelaminan ya Mas."


" Aamiin. " jawab Danil.


Usai berdiskusi dengan Fahmi Dina segera kembali menuju ruang khusus perawat.


" Ehm, ehm, ciye, ciye duuh, yang lagi deketan nih sekarang. " goda Latifah.


" Apa sih, Mbak. Mulai lagi deh. " jawab Dina.


Entah mengapa setiap kali disinggung soal Fahmi, Dina yang awalnya tak menanggapi, lambat laun tiba-tiba ia merasa menjadi senang.


" Kayaknya lagi ada yang jatuh cinta nih. " ujar Latifah.


Seketika jantung Dina berdetak lebih cepat, Dina terdiam ia tak memahami perasaannya bahwa itu adalah Cinta yang mulai tumbuh bersemayam dihatinya, ini adalah untuk yang pertama kalinya baginya menyukai seorang laki-laki.


" Ya Allah, apa yang telah hamba rasakan ini? " Dina berkata dalam hati.


Latifah seakan memahami perasaan Dina, ia pun merangkul sahabatnya itu.


" Udah, nggak usah merasa bersalah, apalagi merasa berdosa. Cinta itu Rahmat, Di. Wajar gadis seusia kamu mulai memiliki rasa suka kepada lawan jenis, yang penting gimana pintar-pintarnya kamu mengelola perasaan itu, biarkan saja, tapi jangan kau ikuti arusnya. " nasihat Latifah.


" Dina mau ke belakang dulu ya? " pamit Dina.


Tanpa menunggu persetujuan Latifah Dina langsung pergi masuk ke kamar mandi yang ada di ujung ruang khusus perawat.


" Allah apa benar ini yang dinamakan Cinta ? " ucap Dina lirih.


" Tidak, tidak, ini tidak bisa dibiarkan, aku nggak boleh punya perasaan seperti ini. Tidak ini bukan cinta, mungkin hanya sekedar rasa kagumku padanya. "


Dina berbantah-bantahan sendiri, gadis itu pun segera melaksanakan wudhu', untuk menenangkan hatinya.


Dina baru ingat, tasnya tertinggal di ruang praktik Fahmi, tempat ia bertugas pagi tadi, Ia segera melangkahkan kakinya menuju ruang tugasnya.


Betapa terkejutnya ia saat melihat ada seorang wanita cantik, memakai baju muslimah berwarna coklat kopi susu, dipadu dengan hijab berwarna senada, Wanita itu sangat cantik nan anggun, sekilas wajah imutnya memiliki kemiripan dengan wajah Fahmi.


" Assalamu'alaikum." sapa wanita tersebut.


"Wa'alaikumsalam. " jawab Dina.


Wanita itu menatap Dina dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan wajah heran.


" Asisten baru ya? " tanya wanita tersebut.


" Iya ." jawab Dina singkat.


Dina belum pernah sekalipun melihat wanita itu.


" Tumben nih, adikku memiliki asisten cantik begini. " Diyah berkata dalam hati.


" Kenalkan,nama saya Lazuardiyah. Panggil saja Diyah, saya kakaknya Fahmi. “


Wanita tersebut memperkenalkan diri.


" Saya, Dina." jawab Dina singkat.

__ADS_1


" Oh iya, Fahmi kemana? " tanya Diyah.


" Dokter Fahmi, sedang memeriksa renovasi gedung. "


" Oh begitu, ya udah, Kamu nggak keberatan kan menemani saya disini, sambil nunggu Fahmi datang. " ujar Diyah ramah.


" Boleh. " jawab Dina.


Mereka berdua pun duduk disofa, Diyah langsung merasa nyaman ngobrol dengan Dina.


Mereka seprerti teman akrab yang lama tak berjumapa, mereka asyik berbincang-bincang, hingga tak menyadari kehadiran Fahmi.


" Ehm, Duh lagi ngerumpiin apa sih? asyik banget kayaknya. " ujar Fahmi.


" Eh, Adik. Udah dari tadi? " tanya Diyah tak menyadari kehadiran Sang Adik.


Fahmi pun duduk disofa dihadapan mereka berdua,


" Nggak juga kok. " sahutnya.


Dina merasa canggung, ia pun segera mohon undur diri dari hadapan Diyah dan Fahmi.


" Baik, kalau begitu Dina permisi dulu ya, Mbak.


" Loh,kok buru-buru? " tanya Diyah.


" Iya, Mbak. maaf, Dina masih ada tugas lain. "


" Ya udah,makasih banyak ya udah ditemenin, seneng banget deh jumpa sama kamu. " ujar Diyah.


Dina menjabat tangan Diyah, tanpa diduga Diyah balas memeluknya.


" Sekali lagi terima kasih y, Cantik. "


" Sama-sama. " jawab Dina.


" Sejak kapan nih, adik Mbak mulai deketin cewek cantik? "


" Mbak jangan salah faham dulu, itu kerjaan si Danil, tolong jangan buru-buru menilai. " ujar Fahmi.


Laki-laki itu pun segera menceritakan awal mula Dina bertugas menjadi asistennya.


“ Oh, jadi ceritanya Danil sahabat kamu itu mau menjodohkan kamu sama dia, begitu?


“ Ya gitu, Mbak. Ceritanya. " gerutu Fahmi.


Diyah tertawa melihat sikap adiknya yang mulai salah tingkah,


" Nanti, aku bilang Abi Ummi ya. " goda Diyah.


" Aduh, Mbak. Jangan, Mbak. Pliiiis jangan ya ? " rengek Fahmi.


Diyah terkekeh melihat Fahmi,


" Kenapa Dik? anaknya cantik banget kan? sopan lagi, tenang aja, Mbak, setuju kok. " goda Diyah.


" Tuh kan, tuh kan, uda ah, Fahmi laper nih. " jawab Fahmi segera membuka rantang makanan yang dibawa oleh kakaknya.


💘💘💘💘💘💘


Malam minggu yang syahdu, seperti biasa Fahmi selalu ramah mengunjungi pasien-pasien yang dirawat inap dirumah sakitnya, ia memberi semangat dan doa agar mereka segera diberi kesembuhan dari segala penyakit yang diderita.


Usai melaksanakan tugas Fahmi pun berkeliling mengontrol situasi di sekitar rumah sakit, dan langkahnya berhenti, didepan kamar rawat inap vvip, blok Melati.


Sayup-sayup terdengar lantunan bacaan ayat-ayat suci Alqur'an dari salah satu kamar, suaranya begitu merdu, bacaannya pun begitu fasih, tajwid serta makhorijul hurufnya sangat tepat.

__ADS_1


Fahmi pun duduk di sofa yang ada didepan kamar tersebut, ia nikmati tiap-tiap ayat yang dibaca, suaranya begitu lembut.


" Masya Allah, indah sekali. " gumamnya.


Laki-laki itu pun penasaran, siapakah pemilik suara indah yang sedang membaca surat Ar-Rohmam tersebut, Fahmi mengintip dari celah-celah pintu yang tak tertutup rapat.


Ia pun terkejut manakala melihat Dina tengah membaca Alqur'an sembari menunggu seorang nenek tua berusia sekitar 62 tahun terbaring lemah disampingnya.


" Indah sekali suaramu, Nak. " puji Nenek Surti.


" Terma kasih banyak, Nek. Nenek istirahat dulu, ya? " ujar Dina.


Gadis itupun membetulkan selimut Nenek Surti, ia pun memeriksa jalannya infus. Nenek Surti adalah salah satu pasien rawat inap yang baru dirawat di RS Asy-Syifa karena serangan jantung, nasibnya sungguh malang, tak seorangpun keluarganya, anak-anaknya yang mau menjaga dan merwatnya dirumah sakit.


Dina pun merasa iba, ia rela tak pulang demi menjaga Nenek tersebut.


" Dina? " gumam Fahmi.


" Siapa yang sakit? " ucap Fahmi lirih.


Pemuda itu pun mengetuk pelan pintu kamar Melati no 02 tersebut, Dina segera menghampirinya.


" Dokter? " tanya Dina terkejut.


" Siapa yang sakit? nenek kamu? " tanya Fahmi.


" Oh, bukan, Dokter. Beliau bukan nenek saya , dua hari yang lalu, beliau masuk ruang UGD dengan diagnosa serangan jantung, namun sayang pihak keluarga tak ada yang mau menemaninya disini. " jelas Dina.


Fahmi sedih mendengar hal itu, tampak dari wajah Dina ia begitu lelah.


" Baiklah, kalau begitu akan saya urus persoalan ini. " ujar Fahmi.


Mendengar perkataan Fahmi Dina hanya menganggukkan kepalanya.


" Ya sudah, kalau begitu saya pergi dulu. Assalamu'alaikum. "


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. " jawab Dina.


Tak sampai lima belas menit Fahmi pergi, tiba-tiba suster Nita datang menghampirinya sembari membawa sebuah nampan makanan.


" Dina. " panggil Nita.


" Mbak Nita, ada apa? "


" Nih, ada titipan. " ujar Nita seraya menyerahkan nampan berisi makanan diatasnya itu kepada Dina .


" Nek Surti sudah makan kok, Mbak. Barusan."


" Bukan buat nenek itu, tapi buat kamu, dari bapak kepala rumah sakit. " jelas Nita.


Dina tercekat, lagi-lagi ia serasa mendapat perhatian lebih dari kepala rumah sakit tersebut.


" Ya sudah, aku tinggal dulu ya, jangan lupa istirahat. " ujar Nita.


" Terima kasih, Mbak." jawab Dina.


Seketika hatinya berbunga-bunga.


" Ah , nggak, aku nggak boleh berfikir aneh-aneh. Pak Fahmi memang selalu perhatian kepada seluruh staf-staf dirumah sakit ini. " tepis Dina.


Gadis itu teringat beberapa waktu yang lalu saat Suster Hani datang terlambat, Fahmi menanyakan perihal keterlambatannya.


Hani menjawab ia tengah sibuk mengurus putrinya yang sednag sakit dirumah sekaligus meminta maaf, seketika Fahmi menyuruhnya untuk kembali pulang, dan memberinya beberapa lembar uang untuk membeli obat anaknya.


Seluruh staf rumah sakit sangat menghormati sekaligus mencintai sosok Fahmi, dibalik sikapnya yang dingin ia memiliki jiwa sosial yang begitu tinggi.

__ADS_1


💘💘💘💘💘💘


__ADS_2