SJEATINYA CINTA

SJEATINYA CINTA
UJIAN CINTA


__ADS_3

SEJATINYA CINTA


Oleh: Athiyah Karim


#RepostSC1part 11


UJIAN CINTA


Meski telah resmi bertunangan, sikap Fahmi tak berubah ia tetap dingin, seolah tak ada ikatan apapun antara dia dengan Dina,


Dina begitu dekat dengan keluarga besar Fahmi, ia merasa sangat bersyukur mendapat cinta dan kasih sayang yang luar biasa, meski demikian Dina tak dapat mendustai hatinya, ia tetap merasa resah karena Fahmi masih bersikap dingin padanya, kehangatan yang sempat ia rasa seolah semu,


Fahmi tak pernah sekalipun menghubunginya kecuali hanya sesekali itupun berkaitan soal rumah sakit, tak ada sekalipun sikap romantis yang ditunjukkan oleh laki-laki tersebbut, semua terasa sangat biasa, bahkan biasa saja, seakan tak ada hubungan istimewa diantara mereka berdua.


Dina benar-benar lelah menghadapi sikap dingin calon suaminya, ia yang awalnya merasa sedih, lama-lama terbiasa dan balik bersikap dingin pula, tak ada sapaan jika tak disapa terlebih dahulu, ia tak mau dianggap wanita lemah, maka Dina lebih banyak menghabiskan waktu bersama rekan-rekannya apabila jam tugasnya sebagai asisten dokter telah usai.


“Huuuuh, bete banget ya,“ ujar Sandra.


“Bete kenapa San?“ tanya Rahmah.


“Tahu nih, mungkin efek mau dapet kali ya? dari semalam rasanya pingin makan orang, sebel aja bawaannya.“


“Baca sholawat aja, Sayang.Insya’ Allah nanti hati kamu jadi adem “ nasihat Dina.


“Tuh dengerin Bu Nyai taushiyah,“ ledek Rahmah.


“Din bacain sholawat dong, suara kamu kan bagus, aku kangen pingin denger kamu sholawatan kayak dipesantren dulu.“ ujar Latifah.


“Aduuh enggak Mbak Dina malu,“ tolak Dina.


“Ayolah Dina?!“ pinta Latifah.


“Iya Din, sholawatan gih ! ya pelan-pelan saja siapa tahu habis denger suara kamu yang merdu itu hati aku jadi tenang dan happy lagi.“ tukas Sandra.


“Pliiis, Ning Dina!“ sambung Latifah.


Dina pun akhirnya menyerah, gadis itu memang hoby menyenandungkan lagu-lagu sholawat, atau lagu-lagu arabian ketika sedang senggang dirumahnya.


“Hihihihihi, iya deh, tapi Dina malu,“ jawab Dina terkekeh.


“Ayolah ngapain malu, lagian diruangan ini cewek semua nggak ada cowoknya kan?" ujar Latifah lagi.


“Maunya lagu apa?“ tanya Dina.


“Terserah kamu lah pokoknya yang mantab.“


Dina mulai menyenandungkan lagu sholawat favoritnya, suaranya begitu lembut nan merdu, membuat siapapun merasa candu ingin mendengar suaranya, meski dengan volume yang kecil, tapi tetap saja tak mengurangi sedikitpun tingkat kemerduannya.


“Allahumma Sholli ‘ala Muhammad, Ya Robbi Sholli ‘alaihi wasallim.“


“In Qila zurtum bima roja’tum, Ya Akromal kholqi ma naqulu.“


“Kullu roja’na bikulli khoirin, wajtama’al far’u wal ushulu.“


Fahmi yang kebetulan lewat didepan ruang khusus perawat, langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar suara seorang gadis yang begitu merdu menyenandungkan lagu sholawat, laki-laki itu pun mengintip dari samping pintu masuk menuju ruangan tersebut,


Betapa terkejutnya ia manakala melihat siapa pemilik suara merdu tersebut, yang tak lain adalah calon istrinya.


Bagai gunung es yang mencair karena hangatnya sinar mentari, ada getaran aneh yang dirasakan oleh Fahmi dihatinya, Fahmi terkagum-kagum menikmati suara indah calon istrinya yang tengah bersholawat, tak lupa ia segera merekam momen tersebut dengan ponselnya,


Sedang Dina, ia tak menyadari akan kehadiran calon suaminya, karena ia sedang duduk menghadap rekan-rekannya.


“Subhanallah, merdunya.“ puji Fahmi semabri bertepuk tangan.


Dina terkejut, ia meghentikan bacaannya, gadis itu buru-buru menutup mulutnya dengan tangannya, wajahnya merah merona seketika, ia benar-benar merasa malu,


Fahmi mengacungkan dua jempol kepadanya dengan senyuman yang begitu manis, kemudian laki-laki itu pun pergi.


“ Ciyeeeee ..., Ciyeeeeeee, “ goda rekan-rekan Dina.


“Ya Allah, kalian tega banget sih? kok nggak ada yang bilang-bilang sih kalau ada Mas Fahmi ? Dina kan malu,“ protes Dina.


“Ngapain malu say, calon suamimu itu justru harus tahu akan semua kelebihan kamu, lagi juga Gus udah dari tadi ada didepan pintu, dan dia kasih kode ke kita untuk tidak memberi tahumu.“ jawab Latifah disambut tawa oleh yang lainnya.


“Kalian semua, tega.“ rajuk Dina.


💘💘💘💘💘


Pagi yang cerah Dina pun bertugas sebagaimana biasa , hanya saja tiba- tiba Latifah menghubunginya dan memintanya untuk datang lebih pagi, ketika ia sampai diruang praktik tak diduga ia mendapat kejutan dari rekan-rekannya.


"Happy birth day to you, Happy birth day to you ! Happy birth day Dinaaaaa."


Rekan-rekan sejawatnya memberi ucapan selamat bergantian, Dina pun terharu, ia lupa jika hari itu adalah hari ulang tahunnya .


"Selamat ya Dina." ucap Latifah.


"Terima kasih banyak, Mbak." jawab Dina merasa takjub akan kejutan yang diberikan teman-temannya.


Mereka membawa cake black forest dengan hiasan lilin angka 22 , Dina genap berusia 22 tahun sejak hari itu.


"Tiup lilin-lilinya, Tiup ....."


"Ada apa ini? pagi-pagi sudah berisik!" tegur Fahmi dengan nada agak tinggi.


Mereka semua seketika terdiam, Fahmi mendekat, menatap tajam satu persatu rekan-rekan Dina yang ada didepan ruang praktiknya, termasuk Dina.


"Apa-apaan kalian ini? Ini rumah sakit, bukan tempat party!" bentak Fahmi.


"Bukannya bertugas malah nyanyi-nyanyi disini," lanjut Fahmi marah.


"Tapi dok ...., " ucap Latifah.


"Diam!" bentak laki-laki berkaca mata itu.


Dina merasa tidak enak hati kepada rekan-rekannya, ia merasa bersalah, ia juga tak mengira Fahmi akan semarah itu .


Fahmi menatap Dina dengan tatapan tajam,


"Kamu lagi, bukannya masuk ruangan, beres- beres malah happy happy juga." ucap Fahmi.


"Ayo Bubar! Bubar! Bubar!" bentak Fahmi.


Mereka semua pun membubarkan diri, dengan perasaan yang tak menentu, tinggallah Fahmi berdua dengan Dina.


"Kenapa masih diam? Cepat masuk!" ujar Fahmi .


Dina pun segera membuka pintu ruang praktik , hatinya bergemuruh , belum pernah sekalipun Fahmi bersikap demikian kepadanya.


"Ruangan masih gelap begini kok ya sempet-sempetnya, cepat buka tirainya!" perintah Fahmi.


"Baik, Dokter." jawab Dina dengan suara gemetaran.


Dina pun segera membuka tirai jendela dan ia terkejut melihat tulisan warna warni yang terpampang dikaca ruang periksa Fahmi.


" Sanah Hilwah Ya Zaujaty Al mustaqbalia."


(Selamat Ulang Tahun wahai Calon istriku )


Dina merasa terharu, sekaligus kesal pada Fahmi, sementara Fahmi ia tertawa puas karena berhasil mengerjai calon istrinya.


"Hahaha, yeyeye sukses." ujar Fahmi terus tertawa puas.


Mata Dina mulai berkaca–kaca, “Ya Allah, jadi ini .... " ucapnya .


“Iya Dinda, maaf ya kita terpaksa ngerjain Dinda kayak gini,“ jawab Fahmi sembari tertawa riang.


Dina pun memukul calon suaminya itu dengan bantal yang ada disofa,


"Jahat banget sih Mas?!" protesnya.


"Hahaha, iya sorry sorry, Dinda. Kalau nggak gini, kan nggak seru, hahaha,"


"Tapi Dina nggak enak sama teman-teman, tadi Mas marahin mereka semua."


"2-0" ujar Fahmi kembali tertawa


terpingkal-pingkal.


Fahmi pun segera menuju pintu keluar , "Come here!" seru Fahmi.


Mereka semua pun kembali datang, termasuk ketiga kakak Fahmi, Dina menjadi terharu, tak terasa ia pun menitikkan air mata.


"Jadi tadi itu .... "


" Iya sorry ya, kita semua harus akting kayak gitu tadi, ini semua idenya Pak Fahmi dari tiga hari yang lalu." ujar Latifa.


"Yess, berhasil." ujar Fahmi.


Yang lain pun tertawa.


"Selamat ulang tahun ya sayang." ujar Ella sembari memeluk Dina.


Begitu juga Naura dan Diyah.


"Kita doa dulu yuk ?! keburu jam tugas nih." ujar Fahmi.


Fahmi pun memimpin doa, yang lain meng-amini.


"Nah sekarang tiup lilinya dan potong tumpeng juga" ujar Latifah.


Tanpa Dina ketahui, Fahmi memberi hadiah kepada seluruh staff rumah sakit sebagai bentuk rasa syukur dan meminta doa untuk Dina,


Hari itu ia juga menggratiskan seluruh transaksi dan biaya pengobatan kepada seluruh pasien baik rawat inap ataupun yang datang untuk priksa.


Setelah selesai acara kejutan untuk Dina ,mereka semua pun kembali bertugas sebagaimana biasa, Fahmi pun menyerahkan sebuah kado untuk Dina.


Selamat ulang tahun ya Dinda." ucap Fahmi.


"Terima kasih banyak mas atas semuanya."


“Dibuka dong kadonya?!“ pinta Fahmi.


Dina pun segera membuka kado ulang tahun dari calon suaminya itu, ternyata berisi sebuah Stetoskop baru berwarna pink.


“Terima kasih banyak ya,Mas.“ ucap Dina.


“Semoga bermanfaat ya Dinda.“


Hari itu Dina benar-benar bahagia.


💘💘💘💘💘


Hampir setiap hari Dina mendapat kiriman bunga dan coklat di meja tugasnya, tanpa ada nama pengirimnya, gadis itu pun mengira semua hadiah itu dari Fahmi, hatinya pun bahagia.


"Din, ada paketan bunga lagi nih." ujar Yeni.


"Terima kasih." jawab Dina sumringah .


Fahmi pun masuk kedalam ruang praktiknya dengan wajah kesal.


"Enak ya tiap hari dapat kiriman bunga sama coklat, lama-lama ompong tuh gigi." ucap Fahmi ketus.


Dina terkejut mendengar kata-kata Fahmi,


"Maksud Mas Fahmi apa? bukannya ini semua dari Mas?" tanya Dina.


"Aku nggak pernah kasih Dinda bunga" jawab Fahmi penuh kekesalan.

__ADS_1


Dina tertegun, " Ya Allah, jadi selama ini, lalu kalau bukan dari Mas Fahmi semua ini dari siapa?" ucapnya lirih.


Dina segera keluar dari ruang praktik Fahmi, ia mengejar suster Yeni.


"Mbak, tolong jawab dengan jujur sebenarnya ini semua dari siapa?"


" Oh, bunga-bunga itu, dari Fajar Din." jawab Yeni.


Dina terkejut , "Apa? Fajar?"


"Iya, dia udah lama naksir kamu Din." jelas Yeni.


Dina menutup wajahnya , "Ya Allah , jauhkanlah hamba dari segala fitnah."


💘💘💘💘💘


Sikap Fahmi kian berubah, ia menjadi sangat dingin dan tidak ramah sejak ia tahu calon istrinya itu selalu mendapat hadiah dari laki-laki lain, Dina berusaha untuk tetap bersabar menghadapi sikap Fahmi.


Suatu ketika Fahmi menemukan sebuah amplop merah jambu dimeja tugas Dina, ia pun membaca surat yang berisi pengakuan cinta dari Fajar.


Dina pun datang dan menyapanya dengan ramah,


" Assalamu'alaikum. Selamat pagi, dokter."


Fahmi tak menjawab salamnya, ia berbalik dan menatap Dina dengan tatapan tajam, ia pun memberikan surat cinta tersebut kepada Dina.


"Ada laki-laki yang sangat mencintaimu." ujar Fahmi.


Laki- laki itu pun pergi meninggalkan Dina, Dina membaca dengan seksama surat pengakuan cinta tersebut, ia pun duduk lemas di sofa.


"Surat ini tak akan merubah sedikitpun rasa cintaku padamu,Mas." ucap Dina lirih.


💘💘💘💘💘


Fahmi menemui Fajar, ia mengajak Fajar keluar dari rumah sakit dan mengajaknya bicara disuatu tempat .


"Apa yang membuatmu menyukai Suster Dina?“ tanya Fahmi tanpa basa-basi.


Fajar tersenyum, "Dia cantik, Gus." jawab Fajar.


"Lalu?"


"Ya dia pintar, sabar, dan baik sekali orangnya."


"Sejak kapan kamu menyukainya?"


"Ya sudah lama, Gus."


"Lalu niatmu?" tanya Fahmi dengan sangat serius.


"Mboten wonten Gus, namung damel seneng- seneng mawon. "


"Nggak ada niat menikahinya?" tanya Fahmi heran.


"Ah boten Gus, cuma buat pacar saja." ungkap Fajar.


"Kenapa?"


"Saya belum siap Gus, lagipula saya juga masih terlalu muda."


"Apa kamu belum tahu kalau dia sudah punya calon suami?"


"Calon suami yang kereng itu Gus? bukannya sudah putus?" tanya Fajar.


"Calon suaminya ada didepanmu sekarang." jawab Fahmi


Fajar tercekat, ia menelan ludah, seketika rasa takut muncul, keringat dinginnya mulai bercucuran, Fajar pun mencium tangan Fahmi, ia merasa menyesal, dan ia meminta maaf.


"Ya Allah, ngapunten ingkang agung Gus, saya tidak tahu, sekali lagi saya mohon maaf saya tidak bermaksud merusak hubungan jenengan."


"Cintailah wanita karena Allah, bukan karena kecantikannya atau lain-lain, ketika kamu tak mampu menahan nafsumu sebaiknya menikahlah, jika tak mampu berpuasalah."


"Inggih Gus, maaf."


"Jangan permainkan perasaan wanita Fajar, itu tidak baik, ingatkah kau pun lahir dari rahim seorang wanita."


Fahmi pun pergi meninggalkan Fajar sendiri.


💘💘💘💘💘💘


Fahmi menyapa dan memeriksa pasien-pasien rawat inap di rumah sakitnya, tiba-tiba ia melihat seorang pria yang dikenalnya satu tahun silam.


"Mas Luqman?" tanya Fahmi.


"Ini Gus Fahmi ya? Masya Allah apa kabar? “


"Alhamdulillah baik. "


"Wah jenengan sekarang sudah jadi dokter ya?"


"Inggih Mas, Alhamdulillah , oh ya kenapa bisa ada disini, siapa yang sakit Mas?“


Laki-laki bernama Luqman itu menunduk , ia merasa ragu untuk menjawab.


"Abah Yai kah yang gerah?" tanya Fahmi.


"Bukan Gus, Nafisah yang sakit."


Fahmi tersenyum kecut saat mendengar nama wanita yang baru saja disebutkan.


"Sekali lagi saya minta maaf Gus atas sikap dan tindakan adik saya waktu itu."


"Sudah lupakan saja Mas, ya sudah kalau begitu saya pamit dulu, masih ada tugas lain."


Fahmi segera kembali keruang praktiknya , Dina masih berada di sana, Fahmi berkata dalam hati ,


Diliriknya calon istrinya tersebut, dan tatapan matanya tertuju pada cincin pertunangan mereka yang tersemat di jari manis Dina .


"Mas Fahmi," panggil Dina


Fahmi menatapnya


"Dina minta maaf, Dina sama sekali tidak tahu menahu tentang surat dari Fajar, berikut segala perhatiannya, mohon Mas jangan salah faham dulu." pinta Dina.


" It's Ok, nggak apa-apa, Mas ngerti kok, harusnya Mas yang minta maaf sama Dinda atas sikap Mas selama ini."


"Nggak apa-apa Mas, Dina bisa memahami itu."


"Mas cemburu ya?“ goda Dina mencoba mencairkan suasana.


"Cemburu sih enggak, tapi laki-laki mana yang rela calon istrinya digoda laki-laki lain?"jawab Fahmi.


💘💘💘💘💘


Renovasi gedung rawat inap khusus anak-anak telah selesai, Fahmi pun mengadakan khotmil qur'an dan tasyakkuran , Ia mengundang kedua orang tuanya dan juga calon mertuanya pada acara tersebut .


"Wah rancangannya bagus sekali." puji Abah Fadli.


"Abi tahu tidak, siapa yang merancang gedung ini?“


"Siapa Mi?" tanya Abah Fadli.


Fahmi tersenyum , "Putri Abi yang ke empat." jawabnya.


"Masya Allah, benarkah?" tanya Abah Fadli takjub.


"Inggih, Bi." jawab Fahmi singkat.


Fahmi pun menunjukkan seluruh gedung, serta halaman depan pavillium yang semula kosong, kini menjadi indah, ditambah beberapa fasilitas permainan, seperti ayunan dan prosotan.


"Ini semua, ide Dinda Dina Ayah." ucap Fahmi .


Pak Rusydi merasa sangat bangga, ia pun merangkul putrinya ,


"Kamu memang benar-benar luar biasa,Nak."


"Ini semua karena barokah doa Ayah serta dukungan dari Ayah." jawab Dina.


Acara tasyakkuran pun dimulai, Danil meminta Fahmi selaku kepala rumah sakit untuk memotong tumpeng.


"Maaf Dan, aku tidak berhak, ada orang yang lebih berhak, yaitu orang yang merancang bangunan ini." jawab Fahmi .


Ia pun meminta Dina untuk melakukan pemotongan tumpeng sekaligus meresmikan gedung tersebut.


"Monggo Ning Afkarina jenengan yang lebih berhak." ujar Fahmi.


Dina menjadi terharu, awalnya ia menolak, namun Abah Fadli calon mertuanya memintanya untuk segera meresmikan gedung ruang rawat inap, sorak tepuk tangan pun menyambut Dina usai meresmikan gedung tersebut, ditutup dengan doa oleh Abah Fadli.


"Fahmi, Dina, kita ada pemotretan nih sekaligus pembuatan banner gedung ini." ujar Danil.


"Oke, kalian berdua berdiri di depan gedung ya posisi tangan dikatupkan seperti memberi salam."


"Cuma berdua?" tanya Fahmi .


"Ya kan ini hasil kerja sama kalian berdua, namanya buat banner masak iya rame-rame."


" Ya udah deh, berdirinya agak berjauhan juga nggak apa-apa." imbuh Danil.


Ia mengatur posisi agar Fahmi berdiri di tiang samping kanan, sedang Dina di tiang samping kiri.


"Oke siap ya, satu, dua, .... Gus Fahmiii serius dong Gus!" tegur Danil.


Latifah tak kuasa menahan tawa , Dina yang sedari awal serius jadi bertanya- tanya.


"Kenapa? Ada apa? " tanya Dina bingung.


"Nggak apa- apa kok Din, ulang sekali lagi ya?" jawab Latifah sembari terus tertawa.


Dan sesi pemotretan selesai , Latifah pun menujukkan hasil pemotretan awal yang salah take akibat ulah konyol Fahmi, nampak dari foto tersebut, Dina yang tengah serius , sedang Fahmi bersembunyi dibalik tiyang , hanya memunculkan wajahnya sembari melihat ke arah Dina sembari mengerucutkan bibirnya.


Dina pun tak kuasa menahan tawa gelinya melihat tingkah Fahmi yang sulit ditebak.


"Boleh minta filenya nggak?!" pinta Dina.


"Tenang aja boleh banget, lagian siapa juga mau nyimpen foto kayak begini?" jawab Latifah.


Dina tertawa, dari kejauhan seorang wanita tengah memperhatikan kebersamaan Fahmi dengan Dina.


💘💘💘💘💘


Fahmi sedang sibuk membaca salah satu catatan riwayat medik salah satu pasiennya , ia berdiri ditepi dinding kaca .


"Mas Fahmi."


Fahmi yang sedang fokus, segera menoleh ke arah suara yang memanggilnya ," Iya Say.... "


Fahmi terkejut melihat wanita yang kini berdiri dihadapannya yang sempat ia kira Dina, Wanita berusia 25 tahun, denan tinggin 170 cm, wajahnya datang menemui Fahmi dengan wajahnya yang manis, Fahmi segera berbalik membelakanginya .


"Mau apa kamu kemari?"


"Mas aku minta maaf, aku akui aku salah, aku telah menyakitimu " ucap wanita itu, ia mulai terisak menyesali kebodohannya satu tahun silam.


"Aku sudah memaafkanmu sekarang pergilah!" jawab Fahmi ketus.


"Mas aku menyesal, aku ingin kembali padamu."


"Mana kekasihmu itu? bukankah kau lebih bahagia dengannya?"

__ADS_1


"Argi telah pergi, ia mencampakkanku begitu saja."


" Oh jadi, karena itu kamu ingin kembali padaku? Maaf aku bukan barang yang setelah kau buang lalu bisa kau pungut sesuka hatimu!"


"Tidak Mas, aku sadar aku mencintaimu."


"Tapi aku tidak pernah mencintaimu!" tegas Fahmi.


"Pergilah Nafisah, jangan pernah menggangguku lagi."


"Tapi Mas ... "


Fahmi bergegas keluar dari ruang periksa, namun betapa terkejutnya ia saat mendapati Dina telah ada disana dan mendengar semua percakapannya dengan Nafisah.


💔💔💔💔


Dina menatap cincin emas bermata berlian berbentuk hati yang melingkar di jari manisnya, dibalik cincin tersebut terukir nama Fahmi.


Dina tak pernah mengira bahwa laki-laki yang dicintainya dalam diam ternyata kini menjadi calon suaminya.


"Aduhai bahagianya , nggak nyangka ya ternyata kamu yang berjodoh dengan Pak Fahmi, selamat ya Din!" ujar Rahmah .


Dina tersenyum , “Terima kasih.“


"Auto patah hati kita Din." goda Evi .


Dina tertawa, " Hehehehehe ..., kasihaan deh loe!" balas Dina.


Mereka bertiga sedang shift malam, terdengar suara pintu ruang khusus perawat yang sengaja dibuka lebar itu diketuk oleh seseorang.


"Iya ada yang bisa dibantu?" ujar Lia.


"Apa saudara Dina ada disini?"


Lia pun menoleh ke arah Dina , "Din, dia mau ketemu kamu nih,"


Dina pun segera berdiri dari tempat duduknya, dan ia terkejut melihat wanita yang kini berdiri dihadapannya adalah wanita dijumpainya diruang praktik Fahmi tiga hari yang lalu.


"Aku ingin bicara denganmu." ucapnya .


"Baiklah." jawab Dina.


Mereka berdua pun duduk di kursi kayu panjang di taman rumah sakit.


"Kenalkan namaku Nafisah." wanita itu memperkenalkan diri.


" Dina." jawab Dina singkat.


"Aku sudah tahu namamu, benarkah kamu adalah calon istri Gus Fahmi?“


"Iya, benar." jawab Dina.


Nafisah menatap Dina dengan sinis ,


"Aku tidak percaya bagaimana bisa Fahmi akan menikah dengan gadis sepertimu?"


"Maksudmu?“ tanya Dina heran.


"Maaf, maksudku aku hanya ingin tahu bagaimana awalnya dia bisa bertunangan denganmu?"


"Abi dan ummi yang menjodohkan kami." jawab Dina.


"Owh, pantas.“ jawab Nafisah,


suasana kembali hening.


“Aku adalah mantan tunangan Fahmi." ujar Nafisah.


Dina terkejut mendengar pernyataan wanita yang lebih tua tiga tahun dari dirinya.


"Kamu jangan senang dulu menjadi calon istrinya sekarang, aku tak yakin Fahmi menyukaimu apalagi mencintaimu."


"Apa maksudmu berkata demikian?" tanya Dina.


Nafisah tersenyum, "Dina, kita ini sama-sama wanita, tentu kamu faham, bagaimana rasanya menghadapi sikap laki-laki yang misterius seperti Fahmi, kadang baik , kadang jutek, kadang dia bisa bercanda, kadang dingin dan kaku, wanita mana yang tahan jika calon suaminya bersikap seperti itu?"


Dina terhenyak, kata-kata Nafisah memang tidak salah.


"Fahmi tak pernah mencintai wanita manapun, sikapnya itu hanya pura-pura hanya demi membahagiakan kedua orang tuanya, dengan dalil berbakti kepada kedua orang tua, tapi sedikitpun ia tak menghargai perasaan wanita,"


"Aku Nafisah, putri Kyai Abdus Syakur, aku seorang Hafidzoh Qur'an, orang bilang aku nyaris sempurna, banyak sahabat-sahabat Abah yang melamarku untuk dijadikan menantu, tapi abahku lebih memilih menerima lamaran Kyai Fadhil , tapi apa yang aku dapat kala itu calon suamiku sama sekali tak mencintaiku, hingga menjelang pernikahan kami, sikapnya tetap kaku padaku, aku pun tak tahan, aku putuskan pertunanganku dengannya ." jelas Nafisah panjang lebar.


"Lalu apa tujuanmu menceritakan semua tentang masa lalumu itu padaku?" tanya Dina.


Nafisah berdiri, "Aku kasihan padamu, aku tak mau kau bernasib sama sepertiku, fikirkanlah Dina, jika aku yang nyaris sempurna punya segala- galanya namun tetap saja tak dapat menggugah rasa cintanya, apalagi kamu?" ujar Nafisah .


Ia pun pergi meninggalkan Dina yang mulai galau, pikirannya kalut usai mendengar kisah Nafisah.


💔💔💔💔💔💔


Hujan deras mengguyur kota Batu, kata-kata Nafisah malam itu kerap mengganggu Dina, gadis itu pun hanya bisa pasrah.


"Ya Allah jika memang dia yang Engkau takdirkan sebagai pendamping hidup hamba, maka Ridhoilah kami, dekatkanlah kami, hadirkan cinta yang tulus diantara kami, cinta yang semata-mata hanya karena Engkau, jika memang dia bukanlah yang Engkau takdirkan untuk hamba maka jauhkanlah."


Sembari menunggu hujan reda, Dina memutuskan untuk tetap berdiam di mushollah An - Nur, ia memperbanyak membaca sholawat untuk menenangkan hatinya.


Dari balik tirai, ruang khusus jama'ah laki-laki, Fahmi pun baru selesai berjama'ah bersama Danil, ia pun khusyu' berdoa , setelah Fahmi selesai berdoa, Danil pun memulai percakapan, suaranya memecah keheningan di mushollah.


"Wah khusyu' banget sih doanya?" goda Danil.


"Ingat bro, berdoa dikala hujan begini mustajabah tahu." jawab Fahmi.


"Kalau boleh tau doanya apa sih?" selidik Danil.


"Banyak." jawab Fahmi.


"Diantaranya?" selidik Danil.


"Minta nikah bulan depan." canda Fahmi.


"Hahahaha, udah keburu nih ye."


Dari balik tirai, Dina tersenyum mendengar jawaban calon suaminya.


"Aduhai yang lagi jatuh cinta." goda Danil.


"Gimana ya Dan, jujur aku belum cinta sama dia." ungkap Fahmi.


Bagai tersambar petir Dina terkejut akan pengakuan Fahmi, hatinya benar-benar terluka, benar apa yang dikatakan Nafisah, air matanya pun jatuh berderaian .


"Serius sampean Gus?" tanya Danil dengan mimik wajah serius.


"Iya kalau Cinta belum , tapi...... "


"Benarkah apa yang jenengan katakan Gus?"


tanya Dina dari balik tirai.


Fahmi terkejut bukan main, begitu juga dengan Danil, ia tak mengira jika Dina tengah berada di dalam mushollah,


" Dinda?" gumamnya.


Fahmi segera berdiri dan menyibak tirai , dilihatnya calon istrinya, jantungnya berdetak lebih cepat.


"Aduuuh, Gawat nih." ucap Danil lirih.


"Saya tahu Gus jenengan memang tidak pernah menyukai saya." ujar Dina kemudian.


"Dinda tolong dengarkan penjelasanku dulu, ini tidak seperti apa yang Dinda fikirkan."


"Semua sudah jelas Gus, mungkin sebaiknya kita putus saja." ujar Dina.


Fahmi terhenyak, "Dinda, Dinda, jangan seperti itu, tolong dengarkan penjelasanku dulu?!" pinta Fahmi.


Dina melangkahkan kaki dengan cepat keluar dari mushollah , ia pun berlari menembus hujan yang deras.


"Dinda tunggu?!" panggil Fahmi.


Ia pun berlari mengejarnya, Dina terus berlari keluar dari rumah sakit Asy - Syifa, ia tak perduli ada banyak pasang mata yang tengah memperhatikannya, hujan deras membasahi tubuhnya , Fahmi terus mengejarnya, hingga ditepi jalan raya Dina segera menyetop taksi yang kebetulan lewat, Fahmi tak menyerah ia terus mengejar.


"Dinda tungguz Dinda tunggu! " ujar Fahmi seraya menepuk – nepuk kaca mobil.


Laju taksi begitu cepat , langkah kakinya yang tak memakai alas apapun tak mampu lagi mengejar, Fahmi membiarkan tubuhnya basah kuyub diguyur hujan deras.


💔💔💔💔💔


Danil tampak gusar, Latifah pun heran melihatnya.


"Kenapa sih Mas, mondar mandir gitu kayak setrika?" tanya Latifah heran.


"Aduuh gawat Ma, ini bener-bener gawat."


"Gawat kenapa? Apanya yang gawat?"


Danil pun menceritakan peristiwa di mushollah barusan, Latifah pun turut marah.


"Kalian berdua ini kenapa sih jadi laki- laki egois banget nggak mikir perasaan orang, lagian ngapain sih mas pakek acara tanya- tanya perasaan segala? Kalau sudah begini ribet kan jadinya."


"Ya kita kan nggak tahu kalau ternyata ada Dina, Ma."


"Ini semua gara-gara kamu Mas, Awas kalau mereka sampai putus beneran l." ancam Latifah.


Lathifah marah pada Danil suaminya, ia pun melangkah pergi menemui Fahmi, ia mengajak suaminya segera menuju ruang praktik Fahmi, didapatinya laki-laki itu sedang duduk memegang kepalanya dalam keadaan basah kuyub , Latifah memukul lengannya dengan gulungan map.


"Aw! ada apa mbak kok tiba-,tiba datang-datang mukul?"


"Maaf Gus, jenengan ini memang harus dipukul, jenengan ini sadar nggak sih sudah bikin Dina patah hati.“ tegur Latifah.


"Iya aku tahu aku salah, tapi tolong dengarkan penjelasanku dulu!"


"Mau jelasin apalagi? bukankah sudah jelas jenengan bilang nggak cinta sama Dina?" ucap Latifah kesal.


"Bukan nggak cinta, tapi belum cinta."


"Aduuh Gus, itu sama saja."


" Jelas nggak sama, kata-kata belum sama nggak itu beda, lagian meski aku belum cinta, tapi aku udah sayang sama Dina." ungkap Fahmi.


Latifah terdiam, "Jenengan nggak bohong kan?"


"Ngapain aku bohong, aku memang beneran sayang sama Dina, kalau aku nggak sayang aku nggak akan mau nikah sama dia."


"Asal jenengan tahu saja Gus, Dina itu sangat mencintai jenengan."


"Oh ya?" tanya Fahmi terkejut tak menduga.


"Iya makanya jenengan itu kalau memang sayang harusnya ngertiin perasaan dia!"


Fahmi tersenyum senang , "Tapi kenapa dia nggak pernah bilang padaku kalau dia cinta sama aku?"


"Itulah bedanya Dina dengan gadis-gadis lain yang selama ini ngejar-ngejar jenengan kayak orang gila."


💔💔💔💔💔


Sesampainya dirumah Dina segera masuk kedalam kamarnya , ia kunci pintu rapat-rapat, beruntung kedua orang tuanya sedang tidak dirumah, Dina segera masuk kedalam kamar mandi, ia menangis , menumpahkan segala rasa kecewa dan sakit hatinya, karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan dibawah siraman air shower.


💔💔💔💔💔💔

__ADS_1


__ADS_2