SJEATINYA CINTA

SJEATINYA CINTA
PERJODOHAN


__ADS_3

Pernikahan adalah suatu hal yang sangat membahagiakan bagi siapapun, termasuk Vina kakak Dina yang akan menikah dengan pemuda tampan bernama Akbar, segala persiapan acara pernikahan yang akan digelar esok hari telah dipersiapkan.


Dina pun turut sibuk, ia melukiskan riasan cantik menggunakan Henna, rekan-rekan Dina pun tengah berkumpul dirumah Dina.


" Wah bagus sekali hasil karyamu Dik " puji Vina.


" Adik siapa dulu dong " jawab Dina.


" Kamu bakat ya Din bikin riasan kayak gini, kenapa nggk buka salon aja sih ? " ujar Sandra.


" Cuma hoby aja kok San ", sahut Dina.


" Eh Din, denger-denger nih kalau ada seorang gadis yang merias tangan seorang pengantin kayak gini, maka nggak lama lagi dia bakal nyusul nikah juga " ujar Rahmah.


" Masak sih ? " tanya Dina tak percaya.


" Iya beneran " jawab Rahmah meyakinkan.


" Halah, mitos tuh aku nggak percaya kayak begituan " ujar Dina.


" Eh itu beneran loh Din ", Evi menimpali.


" Kayaknya emang iya Dik, kemarin-kemarin Mbak juga sempat ngerias tangan temen Mbak pas nikah kayak gini, eh nggak taunya sekarang beneran nyusul nikah " goda Vina.


" Mbak Vina kok ikutan sih ? " rajuk Dina manja.


Vina tertawa melihat tingkah manja adiknya.


" Udah ah, Dina mau kebawah dulu masih banyak kerjaan lain " ujar Dina sembari melangkah pergi keluar dari kamar pengantin.


Fahmi tengah fokus menyetir mobil Toyoya Innova berwarna silver milik abinya, KH. Muhammad Fadli Ar Royan, ia tengah mengantar keluarganya menghadiri acara pernikahan putri salah satu sahabat karib Abinya.


Abah Fadli abi Fahmi, dan Pak Rusydi ayah Dina adalah sahabat karib sejak masih berada di pesantren dulu,


Bu Husnah ummi Fahmi dan Bu Hanifah ibu Dina, keduanya juga begitu akrab, mereka sering bertemu dalam acara pengajian, hanya saja Dina dan Fahmi sama-sama tidak mengetahui akan hal tersebut.


Sejak lulus Sekolah Dasar, Fahmi melanjutkan pendidikannya di salah satu pesantren di Yogyakarta, hingga ia kuliah mengambil jurusan kedokteran di Universitas Indonesia di Jakarta, sedang Dina, sejak lulus Madrasah Ibtidaiyah, ia dikirim ke pesantren oleh ayahnya untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.


" Putrinya Bu Hanifah itu cantik-cantik loh Bi " kata Bu Nyai Husnah.


" Oh ya ? Ummi tau darimana ? " tanya Abah Fadli.


" Iya mereka kadang sering ikut Ibunya kalau pas acara pengajian " jelas Bu Husnah.


" Jadi kapan nih Mi, abi kirim-kirim undangan ngunduh mantu lagi, masak terima undangan terus " ujar Abah Fadli.


Fahmi mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan,


" Ya kalau sudah tiba waktunya Abi " jawab Fahmi.


Mobil Toyota inova itu pun berhenti ditepi jalan depan pagar kediaman Pak Rusydi, tenda - tenda kain berwarna Gold mulai terpasang sebagai tanda akan diadakannya hajat besar.


" Assalamu'alaikum ! "


" Wa'laikumsalam Masya Allah " sambut Pak Rusydi


Kedua sahabat itu pun saling berpelukan


" Alhamdulillah, monggo monggo silahkan masuk " Pak Rusydi mempersilahkan tamunya itu masuk ke dalam rumah, menuju ruang tengah.


" Ibu, Ibu, ini ada Bu Nyai Husnah datang " ujar Pak Rusydi senang.


Bu Hanifah pun segera menemui Bu Husnah, mereka saling berpelukan.


" Masya Allah Bu Nyai " ujar bu Hanifah.


" Kok hadir sekarang Mas ? acaranya kan masih besok, mana disini masih berantakan" ujar Pak Rusydi.


" Iya maaf, saya nggak bisa hadir pas acara besok , karena ada acara nikahan salah satu santri, ya biasa, tanggal apik itu rebutan " jawab Abah Fadli seraya tersenyum.


Fahmi pun mencium tangan Pak Rusydi dengan santun


" Ini siapa Mas ? " tanya Pak Rusydi.


" Ini putra bungsu saya, Fahmi ", jawab Abah Fadli.


" Masya Allah yang dulu sering jenengan ajak ke kebun itu ya? "


" Iya betul "


" Masya Allah gantengnya sekarang " puji Pak Rusydi sembari menepuk pelan punggung Fahmi.


Bu Hanifah teringat sesuatu saat melihat Fahmi.


" Loh ini kan mas yang bantu saya waktu itu ya? " tanya Bu Hanifah.


Kedua orang tua Fahmi nampak heran


" Ini loh Pak, pemuda yang ibu ceritakan waktu itu, yang bantu ibu di bis pas ngirim Lina dari pesantren ", Bu Hanifah pun menceritakan peristiwa beberapa bulan yang lalu itu kepada kedua orang tua Fahmi.


" Masya Allah, terima kasih banyak ya Nak " ucap Pak Rusydi,


Fahmi hanya menganggukkan kepalanya.


Bu Hanifah segera pergi kedapur untuk membuat minuman sekaligus mengambil makanan untuk suguhan.


" Nak, nanti kamu bawa kue- kue ini kedepan ya? " Ada tamu " perintah Bu Hanifah pada putrinya .


" Baik Ibu " jawab Dina.


Fahmi pun mengedarkan pandangannya disekeliling rumah ,dan ia terkejut ketika melihat sebuah foto berukuran besar yang menampilkan kelaurga besar Pak Rusydi dan Bu Hanifah, tampak dari foto keluarga tersebut, kedua pasanga suami istri yang tengah duduk diapit kedua putrinya, Vina dan Lina, sedang ditengah seorang gadis cantik tengah merangkul kedua orang tuanya.


" Loh ... itu kan ..... " Fahmi berkata dalam hati.


Selang 15 menit kemudian, Dina pun datang dengan membawa makanan dan minuman Fahmi hanya menunduk saja ia tak berani menatap, Dina mencium tangan ibunda Fahmi, gadis itu tampil begitu cantik dan anggun memakai gamis berwarna peach senada dengan hijabnya


" Subchanallah cantiknya, ini siapa ? " tanya Bu Husnah.


" Ini Dina bu nyai, adiknya Vina " jelas Bu Hanifah.


" Loh ini kan Mbak yang jadi asistennya Fahmi itu ya ? " tanya Diyah .


" Loh jadi .... " ujar Abah Fadli.


Kedua keluarga itu pun tertawa bahagia, banyak hal- hal tak terduga yang terjadi diantara mereka.


" Berati kalian berdua sudah saling kenal ya ? " tanya Bu Husnah.


Dina hanya mengangguk saja.


Dina benar- benar bahagia melihat kakaknya. kini ia resmi menjadi istri dari laki-laki bernama M. Akbar Maulana, seorang Huffadz yang tertarik pada Vina, saat tak sengaja mereka berjumpa pada acara pernikahan rekan Vina,.


Dina juga merasa sedih karena sebentar lagi kakaknya tak lagi tinggal bersamanya, Vina akan ikut suaminya ke Surabaya.


" Selamat ya Mbak " ucap Dina.


" Terima kasih dik " jawab Vina.


" Semoga bahagia selalu ya Mbak " ujar Lina.


Lina adalah adik paling bungsu, usianya masih 19 tahun, mereka bertiga pun saling berpelukan, acara pernikahan Vina berjalan dengan lancar dan meriah, hampir semua tamu undangan hadir.


Pagi menjelang, Dina tengah sibuk beres-beres, dan Sang pengantin baru muncul menghampirinya.


" Duuh berantakan banget ya, mbak bantuin ya dik " ujar Vina.


" Eh ngapain mbak, udah sana, temenin Mas Akbar saja, biar Dina beres- beres sendiri sama adik Lina, iya kan Dik ? " ujar Dina


" Iya, udah sana mbak Vina dikamar aja " sahut Lina.


Wajah Vina pun merah seketika, " Kalian berdua ini kenapa sih? Bukannya seneng dibantuin malah ngusir " protes Vina.


" Eh Mbak, Mbak, sebentar deh , itu pipi Mbak Vina kenapa ? " tanya Dina.


" Hah ? Kenapa memangnya ? " tanya Vina.


Vina segera mengambil cermin kecil yang tergeletak dimeja , ia pun segera berkaca.


" Mana Dik ? kayaknya nggak kenapa-kenapa tuh ? "


" Lha itu kayaknya hidung Mas Akbar masih nempel tuh " goda Dina.


" Dinaaaaaa " teriak Vina.


Dina pun segera berlari sebelum kakaknya mulai menghukumnya dengan menggelitik perutnya, Lina si bungsu tertawa sejadi-jadinya.


Usai mengajar para santri di pesantren, Fahmi segera masuk ke dalam rumahnya lantas duduk disamping umminya.


" Baru selesai ngajar ? "


" Inggih Mi "


Abah Fadli pun menghampiri putranya, " Kitab apa itu ? "


" Fathul Mu'in Bi "


" Sudah sampai bab apa ? "


Fahmi nampak ragu untuk menjawab, karena pasti pembahasannya akan menjadi panjang.


" Bab Nikah Bi " jawab Fahmi .


" Terus kapan praktiknya ? "


Fahmi tersenyum, lagi-lagi kedua orang tuanya mendesaknya untuk segera mencari pendamping hidup, " Dereng wonten calonnya Bi "


" Masak sih adik mbak yang ganteng ini belum punya calon ? " tanya Ella.


Nabila yang biasa dipanggil Ella adalah Kakak Fahmi yang kedua, Dia tinggal bersama abi dan umminya, karena suaminya sedang bertugas mengajar di Negri Yaman.


" Ya memang belum ada " jawab Fahmi.


" Bukannya yang naksir kamu banyak tuh ? "


" Iya tapi Fahmi nggak suka "


" Terus ? "


" Untuk soal pendamping hidup, Fahmi serahkan semuanya kepada Abi dan Ummi "


Abah Fadli dan Bu Nyai Husnah saling memandang dan melempar senyum.


" Jadi intinya kamu mau dijodohkan begitu ? " tanya Bu Husnah.


Fahmi mengangguk.


" Kriteria ? " tanya Ella.


" Nggak ada patokan kriteria apa segala macam, Fahmi pasrah sepenuhnya sama Abi Ummi, kalau Abi Ummi cocok ya Fahmi manut, karena Fahmi yakin siapapun gadis yang dipilihkan Abi dan Ummi , Insya' Allah itu yang terbaik untuk Fahmi " jawab Fahmi.


" Sebenarnya Abi sudah menemukan calon istri yang menurut Abi dan Ummi pas buat kamu Nak " ujar Abah Fadli.


Fahmi pun menyimak dengan seksama dawuh Abinya.


" Abi punya konco raket sejak di pesantren dulu sampai sekarang, dia itu putranya Habib Ali Assegaf, kemana-kemana kami selalu bareng, ngaji bareng, belajar bareng, sampai suatu ketika Abi sering guyon-guyon ngajak dia besanan, lha ternyata keturunannya putri semua, nah sekarang abi ingin menjadikan guyonan itu sebagai kenyataan, kamu putra Abi satu-satunya, besar harapan Abi kepadamu, Satu persatu mimpi Abi terwujud, diantaranya membangun rumah sakit, dan sekarang kamu yang menjadi pengelolanya, tentu kamu butuh pasangan hidup yang pas, yang sekufu, yang mengerti sekaligus bisa mendampingi pekerjaanmu " kata Abah Fadli panjang lebar.


" Sejak pertama ketemu di acara pernikahan sebulan yang lalu, kemudian berjumpa lagi di acara pengajian entah mengapa Ummi langsung merasa sangat cocok, tidak hanya wajahnya yang ayu, akhlaqnya juga baik, dia santun dan tawaddhu', benar-benar mar'atus sholihah, meski bukan putra seorang kyai, dia 'allamah, Ummi sudah menanyakan banyak hal tentang gadis itu kepada Bu Nyai Chafsoh tempat gadis itu menimba ilmu, Abi dan Ummi juga sudah istikhoroh, dan Alhamdulillah insya' Allah dia sudah sangat cocok untuk menjadi istrimu Nak " kata Bu Husnah.


Fahmi terdiam.


" Siapa gadis itu Mi ? " ,tanya Ella.

__ADS_1


Abah Fadli tersenyum, " Namanya Afkarina Daniya Fakhiroh, putri


dari Bapak Rusydi " jawab Abah Fadli.


" Masya Allah, Setuju , setuju Bi " ujar Ella .


Fahmi terkejut, ia tak mengira kedua orang tuanya akan menjodohkannya dengan Dina, wanita yang menjadi asistennya dirumah sakit .


" Dina Bi ? " tanya Fahmi tak percaya.


" Iya, kamu juga sudah kenal tho ? "


Fahmi terdiam, hatinya bertanya-tanya, " Ya Allah diakah wanita yang Engkau Ciptakan sebagai pendamping hidup hamba ? Kenapa semua orang ingin menjodohkanku dengannya ? Pertama Danil dan Latifah sekarang Abi dan Ummi , tapi aku tak memiliki perasaan apapun padanya "


" Bagaimana Nak ? Apa kamu keberatan ? " tanya Bu Husna melihat putranya yang tampak bimbang.


" Fahmi istikhoroh dulu abi ummi, dan maaf jika mungkin Fahmi tidak bisa langsung menjawab, karena 2 minggu lagi Fahmi pergi menunaikan ibadah Hajji, jadi mungkin istikhorohnya sekalian pas disana " jawab Fahmi.


" Iya tidak apa- apa, istikhorohlah dulu , itu hakmu, abi dan ummi tidak akan memaksa, karena kamu yang akan menjalani kehidupan bersamanya, kami siap menunggu keputusanmu, " ujar Abah Fadli.


Hampir semalaman Fahmi tak dapat memejamkan mata, fikirannya melayang-layang entah kemana, hatinya gelisah.


" Aku harus cari tahu dulu bagaimana dia sebenarnya "


Fahmi pun meraih handphonenya yang tergeletak di ranjang tidur, segera ia membuka laman media sosial, dicarinya nama Afkarina Daniya F, namun hasilnya nihil, karena Dina memang tak memiliki akun media sosial.


Keesokan harinya, Fahmi pun bertugas seperti biasa, ia pun menyapa kedua asistennya yang telah hadir terlebih dahulu di ruang praktiknya.


" Assalamu'alaikum, Selamat Pagi " sapa Fahmi ramah.


" Wa'alaikumsalam, pagi juga dokter ", jawab Dina dan Hani.


Fahmi pun segera mengisi daftar hadir di meja Hani.


" Diantar suami ya Han ? " tanya Fahmi.


" Hihihi iya dokter sekalian jalan " jawab Hani, Suaminya adalah salah satu anggota TNI.


" Kalau Mbak Dina diantar siapa ? Pacar mungkin ? " , tanya Fahmi sembari meliriknya.


Dina terkejut mendengar pertanyaan Fahmi, tak pernah sekalipun Fahmi bertanya hal demikian padanya selama ini, kenapa sekarang tiba-tiba laki-laki itu bertanya tentang hal demikian.


Hani terkekeh mendengar pertanyaan Fahmi, " Hihihi kalau Dina ini istiqomah naik angkot dokter, kagak ada kamus kata pacaran katanya " jawab Hani .


" Oh begitu ? Masak sih cantik- cantik gini nggak punya pacar ? " tanya Fahmi ragu.


" Ditolak semua dokter sama Dina, kalau datang melamar baru diterima " jawab Hani sekenanya.


Dina benar- benar merasa malu, dia pun mencolek punggung Hani tersenyum puas, Fahmi tersenyum, ia pun segera masuk keruang priksa .


" Aduh mbak Hani kok bilang gitu sih ? " protes Dina.


" Lha kenapa ? Bukannya kenyataannya seperti itu ? "


" Iya tapi Dina kan malu "


Diam-diam dari balik dinding kaca, Fahmi terus memperhatikan Dina, merasa ada yang memperhatikan Dina pun berbalik ke arah dimana ada sepasang mata yang terus mengawasinya, menyadari hal tersebut Fahmi segera membuang muka, ia pura-pura membaca kertas yang ada dihadapannya.


" Aneh kok rasanya seperti ada yang mengawasiku ya dari tadi ? " ucap Dina lirih.


Jam Istirahat, Dina mempercepat langkahnya menuju kantin, Latifah telah menunggunya disana.


" Maaf telat lama ya nunggunya ? "


" Sampai karatan tau " jawab Latifah sengaja menggoda Dina.


" Maaf ya sekali lagi maaf , baru selesai tugas"


" Iya nggak apa- apa" jawab Latifah


" Bentar ya Dina pesen makan dulu "


Dina pun berjalan menghampiri Bu Marni pemikik kantin.


" Aduh mbak Cantik mau pesen apa ? " tanya Bu Marni.


" Nasi soto aja sudah, minumnya Es Teh Manis " ujar Dina.


" Oke disiapin dulu ya suster cantik "


Tak lama kemudian Dina kembali menghampiri Latifah sembari membawa menu makan siang yang telah ia pesan,


" Kamu tahu nggak Din, nggak lama lagi pak Fahmi bakal berangkat naik Hajji ? " Kata Latifah membuka percakapan.


" Oh ya, wah seneng banget pastinya ya ? "


" Seneng apa senep Din ? "


" Maksudnya ? "


" Ya nanti kan kamu bakal ditinggalin lama, auto kangen dong " sindir Latifah.


" Hmmm... Lagi, lagi dan lagi itu lagi yang dibahas "


" Halah, udah ngaku aja, kamu suka sama dia, jelas dari cara kamu menatapnya, saat kamu berbicara dengannya, saat kamu sebut namanya, bahasa tubuhmu pun mengatakan kamu suka dia "


Dina terdiam.


" Lagian, kenapa sih kamu nggak nyoba ungkapin perasaan kamu ke dia, daripada dipendam gitu "


" Hah ? Apa ? Nggak nggak nggak, apa sih kok makin jadi ngelantur kemana-mana sih?


" Hello Dina, ini udah nggak zaman cewek nunggu cowok nyatain perasaan, cewek duluan ngungkapin udah banyak "


" Terus Dina nyatain rasa suka duluan gitu ke pak Fahmi nggak akan pernah


" Kalau dia direbut orang ? "


" Ya gimana caranya biar Fahmi tahu kalau kamu suka sama dia tapi kamu nggak mau bilang ? "


" Ya biarin, mending dia nggak usah tahu, lagian kalau misalkan Dina nyatain perasaan Dina, iya kalau pak Fahmi suka, kalau nggak suka, malu-maluin, mau ditaruh dimana muka ini ? "


" Taruh aja di laci meja " jawab Latifah.


" Nggak lucu tau ! " jawab Dina bersungut-sungut.


Latifah tertawa, ia hanya memancing keteguhan hati Dina.


" Hebat kamu ya, jarang lho ada wanita yang teguh pendiriannya kayak kamu, apalagi di zaman kayak sekarang " puji Latifah.


" Itu mah bukan cinta tapi hawa nafsu " ujar Dina.


" Yup ! Kamu benar "


Fahmi berangkat menunaikan ibadah hajji ke tanah suci, tugasnya dirumah sakit digantikan oleh dr. Adrian.


Dihadapan Ka'bah air mata Fahmi berderaian, ia panjatkan segala isi hatinya kepada Allah, ia pun tak henti-hentinya memanjatkan doa :


" Allahumma inna nas'aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka, wa ma yuqorribni ila hubbika "


Fahmi pun melaksanakan istikhoroh disela-sela waktunya terkait perjodohannya dengan Dina.


15 hari kemudian.....


Keluarga besar Dina menerima kehadiran H. Tamrin sekeluarga yang datang untuk memper erat jalinan silaturrahim sekaligus melamar Dina untuk dinikahkan dengan putranya Noval.


" Terima kasih banyak kepada bapak Rusydi sekeluarga karena telah menerima kehadiran kami sekaligus lamaran putra kami " ujar H. Tamrin


H. Thamrin adalah seorang pengusaha kaya, ia juga telah banyak membantu bisnis ayah Dina hingga menjadi sukses seperti sekarang dibidang pertanian dan meubeler.


Dina hanya bisa pasrah saat kedua orang tuanya menerima lamaran tersebut, Noval terus saja memperhatikan Dina yang kini duduk tak jauh dari hadapannya.


" Cantik juga nih cewek " gumam Noval lirih.


Dina hanya menunduk saja ia tak berani menatap pria berkumia tipis yang duduk dihadapannya.


" Untuk acara pertunangan nanti sekaligus dengan acara pernikahan saja pak Rusydi biar nggak repot bolak balik " ujar Pak H. Tamrin.


" Saya sih gimana enaknya saja Bang Haji "


" Untuk pembahasan pernikahan bagaimana kalau kita bicara ditempat yang lebih nyaman, biar mereka berdua ini bisa saling kenal dulu"


" Oh iya baik, mari kita bicara didalam saja " jawab Pak Rusydi


Mereka ber empat pun berpindah menuju ruang tengah, sementara Dina dan Noval tinggal berdua saja diruang tamu depan.


" Cantik juga ya kamu " puji Noval.


Mata jalangnya terus saja mengawasi Dina, ia lantas berdiri dan mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Dina, namun Dina segera mengatupkan kedua tangannya sebagai tanda salam.


" Kenapa ? Kamu nggak mau cium tangan calon suamimu ? " tanya Noval


Laki- laki 30 tahun itu mulai tersinggung dengan sikap Dina


" Maaf mas, kita hanya calon, belum sah sebagai suami istri, tentunya belum boleh " jawab Dina


" Halaaah alasan kamu saja itu, adat kebiasaaan orang kalau sudah tunangan itu, ya calon istri cium tangan calon suami, apa bedanya ? Toh sebentar lagi kita akan menikah juga kan ? "


" Maaf mas, tapi agama tidak memperbolehkan ".


Noval pun duduk dengan kesal, " Oh ya kalau boleh tahu apa pekerjaanmu ? "


" Saya bertugas sebagai perawat dirumah sakit "


" Apa? Perawat kamu bilang ? pekerjaan apa itu ? kerjaan hina kayak gitu"


Dina terkejut mendengar kata-kata Noval, " Hina? maksud mas apa? "


" Iya kerjaan ngerawat orang penyakitan kan ? "


" Astaghfirullah " ucap Dina lirih.


" Heran aku sama Bapakmu, anak cantik begini kok dibiarin kerja nggak jelas kayak gitu " Gadis itu mencoba menahan segala rasa kesalnya


" Bagaimana Nak ? Sudah saling cocok kan ? " , tanya Haji Tamrin tiba-tiba.


" Wah dik Dina ini gadis yang sangat santun Pa " jawab Noval


Pak Rusydi tersenyum senang, Noval pura-pura bersikap sebaik mungkin dihadapan ayah Dina, Dina jengah melihat semua itu.


Dua puluh hari kemudian Fahmi pun tiba, Abi dan Ummi menjemputnya di Bandara Juanda Surabaya, Fahmi memeluk erat Abi dan Umminya secara bergantian, berikut ketiga kakak perempuannya, rasa rindu kepada keluarga memenuhi dadanya.


" Alhamdulillah kamu datang dengan selamat Nak " ucap Bu Husnah.


" Iya ummi Fahmi kaaaaangen banget sama ummi " jawab Fahmi.


" Kangen ummi atau ...."


" Hush ! , Sudah sudah sebaiknya kita pulang kasihan Fahmi pasti sudah lelah " tegur Bu Husnah.


Malam harinya, Fahmi bercengkrama dengan keluarga,


" Oh ya bagaimna Nak? apa kamu sudah istikhiroh? " tanya Abah Fadli .


" Sudah Abi " jawab Fahmi.


" Ketika di Masjidil Haram Fahmi sudah melaksanakan sholat istikhoroh sekaligus istikhoroh Alqur'an , di Madinah Fahmi istikhoroh kembali "


" Bagaimana hasilnya ? "


" Alhamdulillah semua bagus Bi, ketika istikhoroh bil Qur'an, Ayat pertama Fahmi mendapat jawaban Surat An-Nisa' ayat 34 : Ar Rijalu Qowwamuna 'alan Nisa', yang berarti dia adalah wanita yang tunnduk dan tho'at kepada suami, Ayat kedua dan ketiga sama, Fahmi mendapat surat Al Fajr ayat 29 - 30 : Fadkhuly Fi ' ibadi wadkhuli Jannati, artinya dia wanita sholichah yang insya'Allah akan membawa ke surga ", jawab Fahmi panjang lebar.

__ADS_1


" Masya Allah begitu bagusnya hasil istikhorohmu Nak " kata AbahFadli.


" Tapi sayang kita sudah terlambat, Dina sudah dilamar orang " ujar Bu Husnah penuh sesal.


Fahmi nampak terkejut.


" Coba kalau waktu itu kamu lamar duluan sebelum berangkat Hajji " kata Bu Husnah lagi.


Fahmi segera merangkul umminya,


" Ngapunten Ummi, mungkin memang belum berjodoh " ujar Fahmi coba menenangkan hati Umminya.


" Jujur Ummi itu udah cocooook sekali nak sama Dina, entah kenapa hati ini langsung sreg nggak ada keraguan sedikitpun, padahal Ummi juga sudah sering ditawari calon menantu untuk dijodohkan denganmu, tapi nggak ada yang sreg dihati " ungkap Bu Husnah.


Fahmi membelai lembut lengan ibunya lalu menyandarkan kepalanya di bahu ibunya,


" Sabar Ummi, kalau memang jodoh tak akan kemana " hibur Fahmi.


Latifah menghampiri Dina usai sholat Ashar di mushollah.


" Din besok kamu shift pagi nggak ? " tanya Latifah.


" Enggak Mbak Dina shift malam besok "


" Kamu tahu kan dokter Fahmi udah datang dari tanah suci , kita besok ada rombongan mau kerumahnya, kamu mau ikutan nggak ? ", tanya Latifah.


" Hmmm. Dina izin Ayah ibu dulu ya mbak, nanti malam baru Dina kabari jadi ikut apa enggak "


" Ok , ciye ciye lagi kangen kayaknya " goda Latifah.


Dina tersenyum kecut mendengar ucapan Latifah


" Eh sorry Din, aku lupa kalau kamu udah mau jadi nyonya Noval " ucap Latifah kemudian.


Semenjak bertunangan dengan Noval Dina tak lagi riang, ia lebih banyak diam dan pemurung, Noval laki-laki arogan, dan tempramental, Noval mengharuskan Dina untuk selalu mengabarkan segala aktifitasnya kepadanya, jika tidak maka segala makian dan umpatan keluar dari mulutnya, tak jarang Noval juga mengeluarkan kata-kata tak senonoh padanya, Dina tak bisa berbuat apa-apa, dihadapan ayah dan ibunya, Noval akan bersikap manis santun, penuh perhatian, aktingnya benar-benar rapi, sehingga orang akan menilainya sebagai laki-laki yang sangat baik


Ahad pagi yang cerah, Latifah menjenput Dina untuk bersama-sama mengunjungi Fahmi yang baru saja datang dari menunaikan ibadah Hajji.


" Ayah ibu, Dina pamit berangkat dulu ya ? "


" Iya Nak, titip salam ya sama keluarga nak Fahmi, insya'Allah nanti malam Ayah dan ibu kesana " jawab bu Hanifah.


Dina pun segera mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian, lalu ia segera masuk kedalam mobil dokter Danil, bersama Latifah dan juga Hani, mobil itu pun segera melaju menuju kediaman Fahmi,


Empat puluh lima menit kemudian, mobil memasuki gang jalan pesantren , Terdapat gapura bertuliskan " Marhaban Bihudurikum Ponpes. Nurul ' Ilmy , mobil pun melaju perlahan melewati gedung-gedung pesantren putra serta gedung madrasah, terlihat santri putra lalu lalang membawa beberapa kitab klasik.


" Kita kemana dulu ini Mbak ? " tanya Dina.


" Ya ini kerumah Pak Fahmi " jawab Latifah.


" Ya Allah jadi.... kok mbak nggak pernah bilang-bilang kalau .... "


Belum selesai Dina bertanya, Danil buru-buru menjawabnya.


" Itulah Fahmi, dia itu memang benar-benar low profile, dia melarang keras kita semua memanggil dengan sebutan Gus apalagi dirumah sakit, Fahmi tak ingin orang lain tahu siapa dia sebenarnya bagaimana latar belakangnya " jelas Danil.


" Kamu ingat kan Din, waktu dipesantren dulu ada kata-kata "Laisal Fata Man Yaqulu Hadza Abi , Lakinnal Fata Man Yaqulu Ha Ana Dza " ( tidaklah dikatakan seorang pemuda orang yang mengatakan inilah ayah saya, tapi pemuda adalah yang mengatakan inilah saya" ujar Latifah.


" Iya Mbak, Dina ingat ", seketika rasa kagumnya kepada Fahmi kian bertambah.


Mobil berhenti dipelataran depan masjid, terdalat tiga rumah berjajar di sebelah timur masjid, dibelakang rumah terdapat tembok besar berdiri dengan kokoh sebagai pembatas gedung pesantren putri.


Danil pun mengajak ketiga perempuan itu berjalan menuju rumah yang ada dideretan paling akhir, disitulah Fahmi beserta keluarga besarnya tinggal.


" Assalamu'alaikum "


" Wa'alaikumsalam warohmah wal barokah, oh nak Danil mari mari silahkan masuk " ujar Abah Fadli.


Danil pun segera mencium tangan ayah Fahmi dengan membungkukkan badan, Abah Fadli mempersilahkan Danil dan kawan-kawannya masuk keruang tengah, ia pun segera memanggil istrinya.


" Ummi ini ada tamu " panggil Abah Fadli.


" Iya abi sebentar " jawab Bu Husnah dari ruang belakang.


Ruang tengah adalah ruang khusus keluarga, ruangan yang cukup luas, terdapat foto- foto keluarga menggantung di dinding, yang tak kalah menarik adalah foto-foto wisuda putra putri bapak KH. Fadli dan Bu Nyai Husnah, terpasang berjajar berurutan, mulai dari Naura kakak Fahmi yang pertama, Sarjana Theologi Islam, yang kedua Nabila / Ella Sarjana Pendidikan Bahasa Arab, yang ketiga Lazuwardiyah / Diyah Sarjana Hukum dan yang terakhir adalah Fahmi sarjana kedokteran spesialis anak, Abah Fadli memberi kebebasan kepada putra putrinya untuk meraih cita-cita mereka selama bermanfaat bagi masyarakat.


Bu Husnah ditemani Ella segera menemui Latifah .


" Loh ini nak Dina kan ? " tanya Bu Husnah, ia terlihat begitu senang saat Dina mencium tangannya.


" Inggih " jawab Dina santun.


" Masya Allah apa kabar Nak ? " tanya Bu Husnah seraya merangkulnya erat.


" Alhamdulillah baik"


" Ini loh Bi, Dina putrinya Pak Rusydi " ujar Bu Husnah.


Abah Fadli pun tersenyum senang,


" Bagaimana kabar Ayah ibumu Nak ? tanya Abah Fadli kemudian.


" Alhamdulillah baik, beliau berdua juga titip salam, insya' Allah nanti malam mau kesini ".


" Alaina waalaihis salam iya iya kami tunggu ", jawab Abah Fadli.


" Ya sudah kalau begitu saya tinggal dulu ya karena masih ada keperluan " ujar Abah Fadli.


" Monggo Yai " jawab Danil.


Tak berapa lama kemudian tampak Fahmi tengah berjalan menyusuri anak- anak tangga yang melingkar dari lantai dua, ia terlihat semakin tampan dan menawan, memakai jubah putih, peci putih yang dikenakan menutup sebagian rambut kepalanya yang habis dicukur rapi, serta membiarkan sebagjan rambut kepala bagian depan terlihat, ia sibuk membenarkan lengan bajunya.


Santriputri yang berjalan membawa minuman dan makanan untuk suguhan para tamu mendadak menghentikan langkahnya saat melihat Fahmi, ia berdiri tercengang dan begitu terpukau melihat ketampanan putra gurunya, menyadari hal tersebut Fahmi menghampirinya.


" Mbak tamunya sudah haus " ujar Fahmi.


Sadar akan kekeliruannya, santri putri itu pun segera menunduk, Latifah, dan Hani tak dapat menahan tawanya melihat peristiwa tersebut, sedang Dina ia hanya tersenyum saja


" Assalamu'alaikum " sapa Fahmi kemudian.


" Wa'alaikumsalam " jawab Danil .


Ia pun berdiri dan memeluk Fahmi dengan erat, aroma wangi parfum khas saudi menguar kuat dari tubuh Fahmi


" Apa kabar bro ? " tanya Danil.


" Alhamdulillah sehat, gimana keadaan dirumah sakit ? " Fahmi balik bertanya.


" Alhamdulillah lancar semuanya , wah datang dari tanah suci tambah cakep aja nih" ucap Danil.


Fahmi terkekeh, " Hehehe bisa aja kamu "


" Oh iya ,oleh-olehnya mana Gus Fahmi ? "


" Oleh-oleh ? Oh tenang udah disiapkan " jawab Fahmi.


" Bukan itu maksudku, ku kira kamu akan bawa cewek cantik dari Tanah suci "


" Hahahaha ada saja kamu Dan " sahut Fahmi seraya tertawa.


" Gimana kabarnya Mbak Ifa ? " tanya Fahmi.


" Alhamdulillah baik Gus "


" Hani apa kabar ? Keluarga sehat semua kan ? " tanya Fahmi pada Hani


" Alhamdulillah sehat semua dokter " jawab Hani antusias


Fahmi pun melirik Dina yang sedari awal hanya menunduk saja


" Mbak Dina apa kabar ? " tanya Fahmi


Seketika jantung Dina berdegup kencang, sudah lama ia tak merasakan detakan jantung yang begitu cepat tiap kali berjumpa dengan Fahmi.


" Alhamdulillah baik " jawab Dina singkat.


" Dengar- dengar sudah punya calon suami ya ? " tanya Fahmi.


Dina terkejut bagaimana Fahmi bisa tahu akan hal itu, pertanyaan Fahmi terasa getir bagi Dina.


" Selamat ya " ucap Fahmi kemudian


Susana Hening, Danil pun mencairkan suasana, " Eh doa dulu dong Bang Hajji " pinta Danil.


" Oh iya iya " jawab Fahmi


Fahmi pun mulai berdoa dengan khusyu', yang lain pun meng-amini


" Fahmi tamunya diajak makan dulu dong, jangan diajak ngobrol terus " ujar Bu Husnah tiba-tiba.


" Inggih ummi , Ayo ayo dhahar dulu " ajak Fahmi.


Ia pun mengajak tamunya menuju ruang makan yang ada dibelakang.


Bu Husnah mendekati Dina, " Ayo makan dulu, ini Ummi sendiri lho yang masak "


Beliau nampak begitu perhatian dan sayang kepada Dina, melihat hal tersebut Latifah dan Hani nampak heran


Usai berkunjung ke kediaman Fahmi, Dina pun segera balik kerumah.


" Assalamu'alaikum ! " Dina mengucap salam.


" Wa'alaikumsalaam, eh sayang sudah pulang, kebetulan nih, tuh ditungguin Noval didalam " jawab Bu Hanifah.


Ternyata Noval telah menunggu kehadirannya, Dina mendengus kesal, baru saja hatinya merasa damai sebentar, kini ia harus berjumpa kembali dengan orang yang membuat hatinya jenuh.


" Hai darimana Cantik ? " tanya Noval.


" Dari rumah temen " jawab Dina singkat, ia malas berbasa-basi dengan calon suaminya tersebut.


" Kenapa nggak bilang-bilang dulu padaku ? main pergi gitu aja nggak izin dulu " ujar Noval.


" Maaf mas, kita bukan suami istri, jadi kamu nggak berhak membatasiku kemanapun aku mau pergi " jawab Dina ketus.


" Tapi aku calon suamimu, jangan lupa itu, tentu aku berhak tahu kemanapun kamu mau pergi , aku heran ayahmu bilang kamu berpendidikan, tapi kamu sudah berani membantah calon suamimu sendiri " ucap Noval.


Dina memilih diam, malas hendak berdebat, beruntung tak lama kemudian Pak Rusydi datang.


" Eh Noval, sudah daritadi Nak ? " tanya Pak Rusydi.


" Belum lama kok Yah " jawab Noval dengan gaya santunnya yang pura-pura.


" Oh iya Sayang , Ini aku bawakan hadiah untukmu, ku harap kamu mau memakainya nanti jika kita sudah menikah " ujar Noval.


Laki-laki itu meletakkan gody bag ke atas meja tamu, Dina nampak ragu untuk menerimanya.


" Ambillah Nak, kasihan Nak Noval sampai repot-repot begini " ujar Pak Rusydi.


Dengan sangat terpaksa Dina mengambil gody bag berwarna merah maroon itu.


" Ayah Dina mau ke kamar dulu " ucap Dina.


Gadis itupun segera beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari Sang ayah, sesampainya dikamar, Dina segera mengunci pintu rapat-rapat.


" Ya Allah, benarkah laki-laki itiu adalah pendamping hidup hamba ? Hamba tak kuasa melihat segala tingkah buruknya Ya Allah, tapi hamba juga tidak bisa menolak perjodohan ini, karena Dina takut mengecewakan ayah, H, Thamrin sudah banyak membantu ayah " ucap Dina penuh sesal.


Dipandangnya gody bag merah maroon itu dengan kesal, Dina pun mengeluarkan isi tas tersebut yang ternyata berisi pakaian-pakaian seksi.


" Astaghfirullah " ucap Dina lirih.


Dina sama sekali tak pernah membayangkan akan memakai pakaian-pakaian yang mengumbar auratnya tersebut, ia segera memasukkan kembali pakaian-pakaian tersebut kedalam tas, kemudian matanya tertuju pada gody bag putih pemberian Bu Nyai Husnah padanya beberapa menit yang lalu, Dina pun segera membukanya, ternyata terdapat Gamis cantik berwarna putih beserta hijabnya, seulas senyum kembali mengembang dibibirnya yang merah merekah.

__ADS_1


Hati Dina gamang, disatu sisi ia harus tunduk pada kedua orang tuanya dengan menjalin ikatan pertunangan dengan laki-laki arogan yang selalu memandangnya rendah, sedang disisi lain, hatinya telah tertambat menyukai laki-laki dingin namun sangat menghormati kaum hawa.


__ADS_2