SJEATINYA CINTA

SJEATINYA CINTA
ENGAGEMENT


__ADS_3

Lima belas hari kemudian, Abah Fadli kembali memanggil putranya.


"Bagaimana Nak, kalau misalkan niat baik kita yang semula tertunda, kita lanjutkan sekarang?" tanya Abah Fadli.


Beliau kembali menyinggung perjodohan putranya dengan Dina.


"Fahmi ikut saja kemauan Abi dan Ummi." jawab Fahmi.


"Terus, kapan kira-kira waktu yang tepat?"


"Udah cepetan Bi, nanti diserobot orang lagi, lebih cepat lebih baik, kesalahan yang sama jangan sampai terulang dua kali." saran Ella.


Bu Husnah tersenyum, ia mengusap lembut punggung putra kesayangannya.


"Bagaimana kalau besok pagi kita silaturrahim ke rumah Pak Rusydi, Abi?"


"Bagaimana Fahmi? Apa kamu setuju?"


Fahmi menganggukkan kepalanya, Bu Nyai Husnah tersenyum senang.


πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


Abah Fadli dan Bu Nyai Husnah pun kembali bersilaturrahim ke kediaman Pak Rusydi dan Bu Hanifah, mereka menyambut kedatangan kedua orang tua Fahmi dengan senang.


"Begini Mas Rusydi, mohon maaf sebelumnya. Bolehkah saya bertanya sesuatu?"


"Wonten nopo, Mas?"


"Kira-kira kalau misalkan ada laki-laki yang ingin melamar putri sampean, kira- kira apa diterima? maaf, mengingat hal yang terjadi kemarin-kemarin, saya khawatir sampean belum siap." tanya Abah Fadli hati-hati.


Pak Rusydi tersenyum, ia memandang istrinya yang duduk tepat disampingnya.


"Insya' Allah sampun siap Mas, yang kemarin ya sudah biarlah berlalu, sekarang kami fokus menatap masa depan putri kami."


"Ngapunten Mas, maksud kedatangan kami kemari hari ini selain niat silaturrahim, kami juga ingin mempererat tali persaudaraan kita, kami bermaksud melamar putri Mas, Afkarina untuk putra kami, Fahmi."


Pak Rusydi menutup wajahnya dengan kedua tangannya setelah mendengar niat kedatangan Abah Fadli.


"Alhamdulillah Ya Allah." ucap pak Rusydi bersyukur.


Bu Hanifah pun tampak senang, kedua suami istri itu saling memandang.


"Tapi, apa Nak Fahmi mau Mas, dijodohkan dengan putri kami?" tanya Pak Rusydi ragu.


Abah Fadli tersenyum,


"Justru kami datang kemari atas dasar mewakili hajatnya."


"Alhamdulillah Ya Allah." ucap Pak Rusydi.


"Bagaimana Mas apa lamaran kami diterima?" tanya Abah Fadli.


"Kami selaku kedua orang tua Dina tentu menerima lamaran ini, tapi kami juga mohon maaf sebelumnya, mengingat peristiwa kemarin-kemarin, saya takut putri saya belum siap Mas, jadi izinkanlah kami menanyakan dulu kepada yang bersangkutan , memang untuk hal ini, itu adalah wewenang kami untuk menjawab, tapi kami tidak mau egois lagi Mas, saya harap Mas Fadli sekeluarga mau memahami."


"Iya Mas kami faham, monggo silahkan, kami siap menanti apapun jawabannya, Insya' Allah itu sudah yang terbaik."


"Inggih, inggih Mas, monggo monggo, diminum dulu tehnya." ujar Pak Rusydi.


πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


Kedua orang tua Dina bermusyawarah dengan Vina kakak Dina, terkait lamaran keluarga pak Fadli.


"Ayah yakin mau nerima perjodohan kayak gini lagi? Hati-hati Ayah, jangan sampai salah pilih kayak kemarin, jangan karena yang melamar sahabat Ayah, kita jadi mengorbankan Dina, kasihan dia." ujar Vina.


Vina tampak ragu, ia takut hal yang sama terulang kembali.


"Insya' Allah kali ini tidak Nak, kami juga sudah tahu bagaimana akhlaknya , dia pemuda yang sangat baik, jujur. Ibu memang ingin sekali pemuda itu jadi menantu ibu." jawab Bu Hanifah.


" Nih, ada foto laki-laki yang akan melamar Dina, tapi nanti ditutup rapat lagi ya."


Bu Hanifah menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Vina, Vina segera membuka amplop, seketika matanya terbelalak tak percaya saat melihat laki-laki yang ada pada foto tersebut.


"Ya Allah, jadi ini yah yang ngelamar Adik?" tanya Vina tak percaya.


"Iya, kenapa memangnya?" tanya Pak Rusydi heran.


"Ini kan, laki-laki yang memang diminpikan adik buat jadi pendamping hidupnya." ucap Vina keceplosan.


"Maksud kamu?" tanya Pak Rusydi dan Bu Hanifah bersamaan.


Vina pun menceritakan kejadian siang itu ,


"Tapi Ayah sama ibu jangan bilang apa-apa ya sama Adik?!" pinta Vina.


Pak Rusydi dan Bu Hanifah tertawa bahagia,


"Udah buruan ditutup lagi itu amplopnya, kita kasih kejutan ya." perintah Bu Hanifah.


"Oke , Siap." jawab Pak Rusydi.


Menjelang maghrib Dina pun datang, ia segera menjumpai keluarganya.


"Udah, udah sana buruan mandi. Bau tau!" goda Vina.


Dina pun membaui tubuhnya sendiri,


"Enggak kok, nggak bau." bantah Dina.


"Bau ketek sih kagak Non, bau alkohol sama obat iya, udah buruan gihz sana mandi yang wangi!β€œ ujar Vina.


Dina tertawa riang, "Iya, iya."


Setelah melaksanakan sholat maghrib berjama'ah, Pak Rusydi pun mengajak putrinya bicara.


"Nak, kalau misalkan ada laki-laki lain yang ingin melamarmu, apa kamu mau?" tanya Pak Rusydi hati-hati.


Dina mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Dina ikut apa kata Aya dan Ibu."


Pak Rusydi membelai kepala putrinya yang tertutup hijab.


"Tadi pagi ada sahabat ayah, sahabat sejak masih berada dipesantren hingga sekarang, dia ingin hubungan silaturrahim kami jadi semakin erat, dia ingin meminangmu untuk putranya".


Dina terdiam, ia menyimak kata-kata ayahnya dengan baik.


" Tapi dia juga tidak memaksa, kalau Dina keberatan, Ayah faham, Ayah dan ibu tidak akan memaksa."


"Ibu dan Ayah juga sudah kenal dengan putranya, laki-laki yang akan mempersuntingmu menjadi pendanping hidupnya, dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab." ujar Bu Hanifah.


"Ini amplop, didalam amplop ini ada nama sekaligus foto laki-laki itu." ujar Pak Rusydi menyerahkan amplop coklat tersebut kepada Dina.


Jantung Dina berdebar-debar.

__ADS_1


"Mungkin sebaiknya kamu pikir-pikir dulu, atau istikhoroh dulu. Kami tidak mengharuskanmu untuk menjawabnya sekarang." ujar Pak Rusydi.


Dina tersenyum kecut," Dina boleh ke kamar dulu, Ayah?" tanya Dina.


" Iya silahkan, Nak " jawab Pak Rusydi.


Dina pun segera menuju ke kamarnya, hatinya tiba-tiba dirundung gelisah, perasaan cintanya kepada Fahmi kian hari kian tumbuh bersemi dihatinya, namun disisi lain, ia sadar ia harus patuh dan berbakti kepada kedua orang tuanya, karena sebelumnya Dina telah bertekad memasrahkan urusan perjodohannya kepada kedua orang tuanya.


Tak ada pilihan lain bagi Dina selain mematuhi perintah kedua orang tuanya, meski harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri, namun gadis itu selalu yakin bahwa Cinta kedua orang tuanya itulah yang akan menghantarkannya meraih ridho Allah SWT.


Adzan Isya' telah berkumandang , Dina segera menunaikan sholat Isya' , usai sholat ia pun berdoa.


β€œ Ya Allah, hamba yakin ini semua sudah menjadi kehendak-Mu, hamba hanya mengharap ridho-Mu, jika memang ini adalah salah satu cara untuk mendapat Cinta-Mu, maka apapun akan hamba lakukan, termasuk mematuhi keinginan ayah dan ibu, berilah mereka kesehatan, panjang umur dan barokah."


"Ya Allah, Robbighfirlii waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shoghiro, Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah, waqina β€˜adzaban nar, Aamiin.β€œ


Ditatapnya amplop coklat yang tergeletak di ranjang tidurnya dengan nanar, Dina pun membukanya perlahan.


ia memperlebar matanya saat melihat tulisan yang tertera pada kertas putih, sebuah nama yang ditulis dengan tinta biru, Muhammad Fahmi Azmi Ar Royan.


Mata Dina mulai berkaca-kaca, ia menutup mulutnya tak percaya, segera dibaliknya kertas tersebut, tampak seorang pemuda tampan mengenakan jubah putih, peci putih, dan surban hijau bertengger di bahu kirinya, ia tengah berdiri didepan Ka'bah , seketika air matanya pun berderaian, hatinya berbunga- bunga.


"Ya Allah." ucapnya lirih,


Air matanya jatuh menitik membasahi pipi.


Seketika memorinya berputar, mengingat semua hal yang telah dilaluinya bersama Fahmi, awal perjumpaan di bis, dan berjumpa kembali saat ia bekerja di rumah sakit, pertama kali ia menjadi asistennya, peristiwa ketika rapat dan semuanya muncul begitu saja bak film yang tengah diputar didepan mata.


πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


Keesokan harinya.


Usai sholat Shubuh ,Dina pun meng-iyakan pertanyaan Ayahnya yang belum ia jawab, Dina menerima lamaran tersebut.


Dina bertugas sebagaimana biasa, ia harus tetap profesional tidak mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan, ia pun segera memasuki ruang praktik dokter spesialis yang berhasil mengusik hatinya dengan rasa cinta, gadis itu segera menemui Hani dan menanyakan perihal tasbihnya yang terputus kala itu .


"Oh iya, maaf Mbak Hani. Dina sampai lupa, waktu itu kan tasbih Dina putus disini, ada di mbak Hani kan? mau Dina benerin Mbak. " pinta Dina.


"Oh tasbih yang waktu itu , ada sama dokter Fahmi." jawab Hani tersenyum.


"Hah? ada sama dokter Fahmi? kok bisa?" tanya Dina heran.


"Kenapa? Nggak boleh ya?" tanya Fahmi seketika.


Dina terkejut, ia kembali menjadi gugup, Fahmi tersenyum menatap gadis didepannya.


Usai Sholat Dzuhur Dina duduk-duduk diteras mushollah menikmati indahnya taman didepan mushollah bersama Latifah.


Latifah mencecarnya dengan banyak pertanyaan terkait segala peristiwa yang telah menimpanya.


"Syukurlah Din, kamu nggak jadi sama dia."


"Iya, Mbak." jawab Dina singkat.


β€œAku bener-bener nggak bisa ngebayangin gimana nasib kamu kalau kamu terus bersama lak-laki nggak waras itu, lagian, Ayah kamu kok nggak menyelidiki dulu sih gimana tingkah si Noval itu, langsung main terima aja lamarannya.β€œ ujar Latifah.


β€œYa, Ayah mungkin ngerasa nggak enak mbak sama Haji Thamrin, mereka juga sudah lama akrab, kita juga nggak mengira kalau ternyata Mas Noval kayak gitu.β€œ jawab Dina.


Suasana disekitar mushollah telah sepi, Fahmi menghampiri kedua wanita yang tengah duduk santai.


"Maaf mengganggu." ucap Fahmi.


Dina terkejut melihat laki-laki itu datang menghamipirinya lalu duduk bersila tak jauh dari hadapannya, wajahnya terlihat begitu segar, Fahmi kembali mengenakan kaca matanya.


Latifah sudah mengetahui maksud Fahmi, beberapa waktu yang lalu laki-laki itu datang kerumahnya, menanyakan keakrabannya dengan Dina, banyak hal yang ia tanyakan tentang Dina, dan Fahmi pun menjelaskan maksudnya bahwa ia akan segera melamar Dina.


"Berisik." ujar Fahmi.


"Iya deh aku pergi dulu, kayaknya ada yang mau serius nih." ujar Latifah.


Latifah pun berdiri hendak pergi meninggalkan dua orang yang tengah merangkai masa depan.


"Loh Mbak, mau kemana?" tanya Fahmi.


"Mau pergi dulu, takut jadi nyamuk." jawab Latifah.


"Jangan dong, kalau aku khilaf gimana?" pinta Fahmi.


"Maksudnya?" tanya Latifah heran.


"Iya masak, Aku ditinggalin berdua sama bidadari cantik kayak gini? Aku takut khilaf." canda Fahmi.


"Gaya kamu, Gus. Ini tuh mushollahz masak iya mau aneh-aneh?"


"Jangan lupa Nyonya, setan itu kurang ajar. Dia nggak tahu tempat dan waktu bila menggoda manusia. "


Latifah tertawa, β€œIya ding, bener – bener.β€œ


"Udah disini aja, sekalian jadi saksi." pinta Fahmi.


"Saksi nikah." canda Latifah .


Fahmi tertawa .


"Tapi saya agak menjauh ya, gak enak soalnya ganggu dua orang yang lagi kasmaran." ujar Latifah.


Sementara Dina, ia benar-benar gugup. Gadis itu hanya diam dan menudnduk.


"Hmm, boleh aku bicara sama Dinda?" tanya Fahmi.


Laki-laki itu mulai serius, Dina sempat terkejut saat Fahmi memanggilnya dengan sebutan Dinda.


Gadis itu hanya mengangguk saja, ia tak mampu lagi menahan segala gejolak dihatinya yang tengah dipenuhi rasa bahagia, bahkan seketika ia merasa bunga-bunga tengah berterbangan disekitar mushollah, suasana menjadi hening.


"Dinda pasti sudah tahu, jika kedua orang tua kita hendak menjodohkan kita berdua." ucap Fahmi.


"Kita sebagai anak punya kewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tua kita, tentunya kita tak akan bisa menolak keinginan mereka, dan Aku harap, Dinda mau menjawab dengan jujur. "


"Sebagai laki-laki aku berhak tahu, apakah Dinda benar-benar mau menerima lamaranku ini? β€œ tanya Fahmi dengan mimik wajah serius.


Dina menganggukkan kepalanya,


" Inggih, Gus. " jawab Dina singkat.


"Benarkah Dinda mau menerima lamaranku?" tanya Fahmi sekali lagi .


Dina mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.


"Inggih, Gus. Saya mau."


"Alhamdulillah." ucap Fahmi lega .


"Bolehkah saya bertanya sesuatu Gus? β€œ tanya Dina tetap menunduk tak berani menatap wajah laki-laki yang akan mengkhitbahnya.

__ADS_1


"Tentu boleh , silahkan."


"Kenapa jenengan memilih saya? saya ini hanya gadis biasa yang tak punya kelebihan apa-apa, sedang diluar sana pasti banyak wanita yang lebih segala-galanya dari saya." ujar Dina.


"Karena Allah sudah mentakdirkanmu menjadi pendamping hidupku." jawab Fahmi.


"Boleh nggak aku protes sesuatu?" Fahmi balik bertanya.


Dina terdiam, ia berfikir apa yang akan diprotes oleh laki- laki itu, " Inggih, silahkan."


"Tolongz jangan panggil aku Gus. Aku tidak suka, masih bagus Dinda panggil aku dokter saja." tegur Fahmi .


"Inggih, Dokter." jawab Dina .


"Maaf Dinda, aku masih belum yakin dengan jawaban Dinda, jika Dinda benar-benar menerimaku." ujar Fahmi.


Dina yang sedari awal hanya menunduk, ia pun memberanikan diri menatap wajah Fahmi, lalu laki-laki itu menyerahkan sebuah kotak berwarna merah dihiasi pita berwarna gold .


" Didalam kotak ini ada dua buah tasbih, satu tasbih Dinda yang putus waktu itu, satu lagi tasbih kristal merah yang aku beli dari tanah suci waktu itu , jika yang Dinda ambil adalah tasbih yang pernah putus, berarti lamaranku tidak diterima." ujar Fahmi.


Laki- laki itu pun membuka kotak kecik tersebut lalu menaruhnya disamping Dina, suasana kembali hening, dengan mengucap bismillah Dina pun mengambil tasbih kristal merah , Fahmi tersenyum .


" Ini boleh ya buat saya? " tanya Fahmi sembari mengambil tasbih coklat milik Dina.


Dina mengangguk saja, Fahmi segera mengambil tasbih kaokah coklat


lalu memasukkannya kedalam saku bajunya, lalu kepala rumah sakit Asy-Syifa’ itu melepas kaca mata beningnya, kemudian ia memakai kacamata hitam yang ada disaku bajunya.


"Saudari Latifah, semua urusan saya sudah selesai, mari kembali bertugas." ucap Fahmi.


Sikapnya berubah menjadi dingin kembali.


" Aduh aduh dokter, gayanya, pakai ganti kaca mata hitam segala." goda Latifah.


" Karena mataku sudah buram untuk melihat wanita lain selain istriku nanti." jawab Fahmi puitis.


Laki-laki itu melangkah pergi dengan sikapnya yang dingin kembali.


"Selamat ya,Din, akhirnya kalian berdua benar- benar berjodoh. " ujar Latifah.


β€œTerima kasih Mbak." jawab Dina yang tengah berbahagia, mereka berdua pun berpelukan.


Keluarga besar Fahmi pun kembali berkunjung kerumah Dina, ketiga kakak Fahmi beserta suaminya turut serta, mereka membawa beberapa kue sebagai hantaran untuk calon mempelai putri,


Fahmi nampak elegan mengenakan kemeja batik berwarna biru dipadu dengan sarung hitam serta peci hitam, dan Dina begitu cantik menggunakan gamis berbahan michell korss berwarna salem dipadu dengan hijanya.


"Jadi, kehadiran kami malam ini adalah silaturrahim sekaligus melamar putri Mas Rusydi untuk putra kami Fahmi, kirannya apakah lamaran kami ini diterima?


" tanya Abah Fadli.


"Alhamdulillah atas segala rahmat Allah SWT, pada malam hari ini dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim, kami menerima lamaran jenengan." jawab Pak Rusydi.


"Alhamdulillaah" jawab Abah Fadli senang.


Bu Nyai Husnah merangkul Dina,


" Mulai sekarang kamu adalah putri Ummi, bukan calon menantu bukan pula menantu, jadi nggak usah sungkan-sungkan sama Ummi." ucap Bu Husnah.


Keluarga besar Fahmi dan keluarga besar Dina nampak sangat bahagia malam itu, dan mereka sepakat pertunangan Dina dan Fahmi segera digelar satu minggu kemudian.


"Duhai cantik sekali ya Adik kita." puji Naura.


Nabila menyerahkan sebuah gody bag berwarna pink kepada Dina.


" Iya Dik, ini ada titipan dari adik Fahmi, mohon dipakai pas acara pertunangan


nanti ya?!" ucap Nabila.


" Terima kasih banyak ya, Mbak. "


" Dari asisten dokter sekarang jadi asisten pribadi ya Dik." ucap Diyah .


"Pokoknya mulai sekarang, kamu adalah Adik kita, nggak usah malu-malu nggak usah sungkan-sungkan ya, kalau misal nanti Fahmi nakal sama adik, lapor kita-kita ya, biar kita yang jewer telinganya." ujar Ella.


Mereka pun tertawa bersama, Vina pun benar-benar takjub melihat kakak-kakak Fahmi yang langsung akrab dan terlihat begitu menyayangi adiknya.


Diyah sibuk mengabadikan momen indah adik bungsunya tersebut.


Fahmi tengah sibuk mempersiapkan acara pertunangannya, ditemani kakak-kakaknya ia pun berbelanja segala perlengkapan untuk acara besarnya.


"Kalau untuk yang Fahmi nggak ngerti kayak kosmetik apa segala macem, Fahmi serahin sama kakak- kakak cantik saja ya, tapi kalau baju sama cincinnya biar Fahmi sendiri yang milih." ujar Fahmi.


"Siap Bosku!" jawabk kakak-kakaknya serempak.


Mereka pun sibuk memilih segala keperluan untuk Dina, Fahmi tipe laki-laki yang perfectsionis, ia memiliha pakaian–pakaian yang begitu bagus dan modis namun tetap elegan untuk calon istrinya.


" Eh,masak Dina aja sih yang dibeliin, kita-kita enggak nih ? kan pingin kembaran juga Dik? β€œ rayu Ella.


" Iya nih Dik, udah lama kita nggak coupelan " sambung Diyah.


"Hem, terkadang aku merasa Kakak-kakak tercintaku ini mengajakku shopping, karena ingin menguras kantongku." canda Fahmi.


" Emang iya. " jawab ketiganya kompak sembari tertawa riang.


Fahmi segera menyerahkan kartu ATM-nya kepada Diyah.


"Fahmi mau cari jas dulu ya, Mbak ".


" Iya udah sana, jangan lama-lama tapi ya β€œ jawab Diyah.


β€œ Beresβ€œ sahut Fahmi singkat.


Fahmi menggelengkan kepala sembari tersenyum, ia pun berjalan menuju butik jas, tiba-tiba matanya tertuju pada seorang pria yang tengah bermesraan dengan seorang wanita yang berpakaian seksi, pria itu adalah mantan tunangan Dina.


" Dasar pria gila! " gerutu Fahmi.


Noval mengenali Fahmi, " Hai pahlawan kesiangan ada disini rupanya , bagaimana kabar gadis murahan itu ? β€œ ucap Noval.


Fahmi mengepalkan tangannya, ingin sekali ia meninju laki-laki brengsek tersebut, namun ia memilih untuk pergi tanpa menjawab pertanyaan Noval, ia tak ingin membuat keributan dengan Noval.


πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


Acara pertunangan Fahmi dan Dina berjalan dengan lancar dan sukses, paman Fahmi Haji Ilyas sempat menggoda.


"Mumpung semua keluarga besar berkumpul, bagaimana kalau akad nikahnya langsung sekarang saja." ujar Haji Ilyas.


Semua tamu yang hadir pun tertawa, bahkan banyak yang meng – iyakan, Fahmi menyerahkan kotak perhiasan kecil berbentuk hati, berisi sepasang cincin, Bu Husnah menyematkan cincin dijari manis Dina, Beliau langsung memeluk Dina dengan erat, lisannya tak henti-hentinya merapalkan doa untuk Dina.


Cincin emas bermata berlian berbentuk hati, sedang dibalik cincin tersebut terukir nama Fahmi tersemat di jari manis Dina, menandakan bahawa ia telah resmi menjadi calon istri dokter Fahmi.


Bu Nyai Husnah menyematkan cincin perak yang terukir nama Dina dibaliknya pada jari manis putranya Fahmi, laki-laki itu nampak elegan dan gagah dalam balutan blazer putih.


Sedang Dina tampil begitu anggun dengan gamis bereenda motif bunga-bunga berwarna merah maroon pemberian calon suaminya.

__ADS_1


Dina telah resmi menjadi calon istri dokter Fahmi, ia nampak sangat bahagia.


Kedua keluarga sepakat pernikahan Dina dan Fahmi akan digelar tujuh bulan kemudian.


__ADS_2