
Mencintai pekerjaan yang biasa dilakukan akan membuat hari-hari dijalani dengan penuh semangat, seperti biasa setiap pagi, Dina menunggu angkot yang akan mengantarnya menuju rumah sakit Asy-Syifa'.
Tiba- tiba, sebuah motor Ninja kawasaki hijau berhenti tepat dihadapannya, Laki-laki yang mengendarai motor tersebut segera turun dan melepas helm full face-nya.
" Aku boncengin yuk?! " ajak Noval.
" Maaf, Mas. Dina naik angkot saja." tolak Dina.
" Kamu ini kenapa sih, aku ini niat baik selalu saja kamu tolak, laki-laki dan perempuan berboncengan itu biasa, mau bilang Haram lagi kamu? " tanya Noval.
Laki-laki itu mulai marah.
" Pokoknya, kali ini kamu harus nurut Aku. " paksa Noval.
" Maaf, Mas. Dina tidak bisa. " jawab Dina kukuh.
" Nggak usah sok suci kamu, Dina. Aku udah baca di internet, perawat murahan kayak kamu, gayanya aja, nggak taunya dirumah sakit tidur sama pasiennya. "
" Cukup, Mas! " Ucap Dina dengan nada agak tinggi.
Ia benar- benar tersinggung , Noval telah merendahkannya.
" Hahahaha, kenapa kamu marah? Bukankah itu pekerjaanmu? "
Sebuah tamparan teramat keras mendarat dipipi Noval.
Dina benar- benar tak dapat menahan amarahnya lagi, hatinya terasa sakit, ia tak bisa lagi bersabar menghadapi hinaan Noval yang merendahkannya.
Beruntung angkot yang biasa ditumpangi Dina segera muncul, tanpa kata Dina segera masuk kedalam angkot, meninggalkan Noval yang masih berdiri mematung sembari memegang pipinya, beberapa orang yang lewat melihatnya dengan tatapan yang entah apa artinya.
" Awas kamu Dina! " Ancam Noval dengan geram.
Sampainya dirumah sakit Asy- Syifa' , Dina segera melangkahkan kakinya dengan cepat, ia mencari tempat yang dirasa nyaman untuk menumpahkan segala gejolak batinnya, Fahmi yang sempat melihatnya merasa heran.
Dina segera masuk kedalam kamar mandi disamping mushollah An-Nur, cepat- cepat ia nyalakan air kran, dan disana tangisnya pun pecah.
Setengah jam kemudian .....
Dina segera melangkah menuju ruang praktik dokter Fahmi, tangannya masih gemetaran, wajahnya pucat, dan matanya pun sembab, meski demikian ia harus tetap melaksanakan tugas, dengan itu Dina berharap dapat melupakan kejadian buruk yang baru saja menimpanya.
" Maaf ya, telat. " ucap Dina.
Ia menyapa Hani yang tengah sibuk membersihkan sofa ruang tunggu.
" Enggak kok, hari ini gak begitu banyak pasien , malahan ini juga belum ada yang datang. " jawab Hani.
Dina pun duduk dikursi tugasnya, ia masih memegang tasbih, lisannya tak henti-hentinya mengucap Istighfar.
" Assalamu'alaikum, Pagi. " sapa Fahmi.
" Wa'alaikumsalam, Pagi juga dokter. " jawab Hani.
Sementara Dina ia hanya terdiam, ia seperti sedang memikirkan sesuatu, hingga fikirannya pun tidak fokus.
" Dina? Kamu sakit? " tanya Fahmi pelan.
Ditatapnya wajah gadis itu yang nampak pucat, Fahmi menoleh ke arah Hani, Hani pun merasa heran.
" Dina, " Fahmi memanggilnya kembali.
Dina terkejut, hingga tasbih yang dipegangnya terputus, biji-biji tasbih kaoka coklat itu pun berserakan di lantai.
" Astaghfirullah. " ucap Dina lirih.
Fahmi kian merasa heran, ia kembali mengulang pertanyaannya,
" Kamu sakit? "
" E.. tidak, Dokter. Saya baik - baik saja. " jawab Dina.
" Jangan bohong! Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. "
Dina hanya bisa diam.
" Sudah, sebaiknya kamu istirahat saja diruang khusus perawat, atau jika perlu sebaiknya kamu pulang saja. " saran Fahmi.
Dina hanya mengangguk, ia kemudian memunguti biji-biji tasbih yang berhamburan dilantai.
" Sudah, sudah, tidak usah, tasbih kamu biar nanti Hani yang beresin, sebaiknya kamu segera istirahat sekarang. " perintah Fahmi.
" Baik, dokter. "
" Hani, cepat kami bereskan ini semua. " ujar Fahmi.
" Baik, dokter. "
Dina pun segera pergi menuju ruang khusus perawat, ia masih belum ingin pulang, jika ia pulang cepat, tentu ayahnya akan menanyakannya, dan Dina tak terbiasa berbohong kepada kedua orang tuanya.
" Din, Kamu nggak apa-apa? " tanya Latifah.
Dina masih diam membisu, tak mau menjawab pertanyaan sahabatnya, hatinya sedang kalut.
" Mungkin Dina masih belum mau cerita. " gumam Latifa lirih.
Latifah memberinya segelas air putih .
" Minum dulu Din. “
" Terima kasih banyak, Mbak. '” jawab Dina.
" Aku tinggal memeriksa pasien dulu ya. "
" Iya Mbak, silahkan. "
Noval tak mau tinggal diam, emosinya meledak-ledak memuncak sampai ke ubun-ubun, matanya merah, ia mencari - cari Dina dirumah sakit.
" Permisi Suster, saya mau tanya, suster Dina dimana ya? " tanya Noval.
" Oh, suster Dina? “ jawab Yeni.
" Iya benar. "
" Pagi ini, dia tugas diruang praktik dokter Fahmi dilantai tiga. " jelas Yeni.
" Oke, terima kasih. "
Noval segera mempercepat langkahnya menuju lantai tiga, ia bergegas menuju ruang praktik dokter Fahmi.
" Mana Dina? Mana Dina? “ tanya Noval.
Ia bertanya dengan nada suara yang tinggi pada salah satu perawat di lantai tiga.
" Suster Dina, ada diruang khusus perawat " jawabnya.
" Arrrghhhhhh! " pekik Noval.
Ia benar-benar kesal harus naik turun tangga mencari Dina, ia pun menendang keras tempat sampah yang ada disampingnya.
" Dokter, sepertinya ada yang mencari-cari Suster Dina, Dokter. " ujar Hani.
" Memangnya kenapa? Antar saja ke ruang khusus perawat."
" Masalahnya, orang itu sepertinya sedang marah besar, dokter. " jelas Hani.
Fahmi terdiam.
Dina menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" Ya Allah, mengapa jadi seperti ini. " ucapnya Lirih.
" Ayo Pulang! " bentak Noval seketika.
Dina terkejut, ia tak mengira Noval akan nekat mengejarnya sampai rumah sakit, laki-laki itu mendekati Dina.
" Mas. Dina mohon, tolong jangan membuat keributan disini." pinta Dina.
" Diam kamu! berani kurang ajar kamu ya sekarang? Ayo pulang, ayo pulang! "
Noval menarik paksa tangan Dina.
" Mas, lepasin Mas. Dina bisa jalan sendiri. "
Dina berusaha melepaskan cengkraman tangan Noval, namun sayang cengkraman itu semakin kuat, Noval tak memperdulikan Dina yang mulai merintih kesakitan, laki-laki itu terus menarik Dina untuk keluar dari rumah sakit.
" Mas, lepasin Mas! " keluh Dina terus berusaha melepaskan diri.
" Hey, apa-apaan ini? " ujar Latifah.
ia terkejut melihat Dina diperlakukan dengan kasar oleh seorang pria.
" Diam kamu. Tak usah ikut campur! " bentak Noval.
" Minggir! " teriak Noval.
Ia mendorong tubuh Latifah yang berdiri didepan pintu hingga terjatuh.
" Allah. " ucap Latifah.
" Ya Allah, Mbak Ifa. “ ucap Dina mencoba untuk terus berontak, tangannya kian terasa sakit,
Noval menariknya dengan paksa, semua mata tertuju pada mereka berdua, tak ada yang mampu menolong Dina.
" Lepaskan dia! " bentak Fahmi,
Ia menghadang langkah Noval.
" Siapa kamu? Berani-beraninya kamu sok ikut campur! "bantah Noval.
" Tentu saja aku harus ikut campur, kamu sudah membuat keributan disini, jadi aku minta, lepaskan dia sekarang! "
" Oh, mau jadi pahlawan kesiangan kamu ya, Dina ini calon istriku, dan kamu tak ada hak untuk melarangku.
" Tentu saja aku berhak, dia staffku dirumah sakit ini, Security, segera bawa keluar orang gila ini! " perintah Fahmi.
" Baik, Dokter.
Maman dan Yanto security rumah sakit yang sudah berdiri dibelakang Fahmi dengan sigap segera membawa Noval keluar.
" Ayo, keluar bikin ribut aja! “ bentak Maman.
" Awas kamu Dina?! " teriak Noval mengancam.
Fahmi segera pergi, dan Latifah berlari menghampiri Dina, ia pun membawa Dina kembali ke ruang khusus perawat, Dina menangis dalam pelukan Latifah, ia merasa sangat malu .
" Ya Allah, kenapa jadi seperti ini Din? " tanya Latifah turut bersedih.
Latifah memeriksa tangan Dina yang lebam bekas cengkraman Noval.
" Ya Allah, Din. Tanganmu sampai memar begini." ujar Latifah .
Fahmi datang menghampiri mereka berdua, ia sempat melihat luka memar di tangan Dina, menyadari kehadiran Fahmi, Dina buru-buru menyembunyikan tangannya dibawah meja.
" Ada apa ini? Kenapa sampai ada keributan begini? " ucap Fahmi marah.
Dina terdiam, ia tak mampu menjawab apapun.
" Maaf, dokter. Semua ini benar- benar diluar dugaan. " jawab Latifah.
" Kalau ada masalah pribadi selesaikan dirumah, bukan dirumah sakit! " ucap Fahmi dengan nada suara agak meninggi.
" Tolong Dina, Pastikan hal semacam ini tidak terulang lagi! " tegur Fahmi.
Fahmi pun segera beranjak pergi meninggalkan Latifah dan Dina .
" Yang lain kembali bekerja! " perintah Fahmi.
Rekan- rekan Dina sempat berkumpul dan melihat kondisi Dina.
10 menit kemudian Fahmi datang kembali dengan membawa obat Heparin sodium dan obat pereda nyeri.
" Segera obati lukamu, agar tidak semakin parah. " ucap Fahmi sembari meletakkan obat tersebut diatas meja dihadapan Dina.
" Mbak Ifa, sebaiknya kamu antar Dina pulang. pakai mobilku, suruh Anto mengantar kalian. " ujar Fahmi.
Ia menyerahkan kontak mobilnya kepada Latifah, dan laki- laki itu pergi begitu saja, sementara Latifah tercengang melihat keperdulian Fahmi pada Dina yang begitu besar.
🍂🍂🍂🍂
__ADS_1
Semenjak peristiwa tersebut, Dina tak pernah lagi menampakkan diri dirumah sakit Asy-Syifa', teman-temannya dibuat gusar, nomor handphonnya pun tak dapat dihubungi.
" Ini gimana Sandra? " tanya Lia.
" Iya, Dina kemana ya? " tanya Rahmah.
" Nomor handphonenya juga udah gak aktif, WA apalagi. " sambung Shinta.
" Gimana kalau kita samperin kerumahnya aja? Saran Evi.
" Sudah tujuh hari ini, dia nggak ada kabar. " ucap Lia.
Sandra terdiam, ia menjadi pusing, tidak adanya Dina membuat mereka kalang kabut.
Latifah pun merasa sedih, sahabatnya serasa menghilang begitu saja.
Tidak adanya Dina membuat RS. Asy - Syifa' terasa sunyi, gadis itu memang benar-benar luar biasa, sikapnya yang ramah dan tak pelit ilmu membuat semua orang dirumah sakit Asy-Syifa' menyukainya, semua dokter, perawat senior pun turut prihatin dengan peristiwa yang menimpanya.
" Aku benar-benar menyesal udah ngasih tau cowok itu waktu itu. " sesal Yeni.
" Kamu sih Yen, ngapain sih pakek acara kasih tahu segala, kalau udah kayak begini ceritanya gimana coba? " protes Fajar.
Fajar adalah salah seorang perawat pria yang diam-diam menaruh hati pada Dina.
" Kalau saja aku tau waktu itu dia diperlakukan kasar gitu, udah ku tonjok laki-laki kurang ajar itu. " gerutu Fajar.
" Ciyeeee, naksir Dina loe? " tanya Yeni.
Pemuda itu pun nyengir ,
" Iya, dia nggak cuma cantik, cerdas banget, ramah juga, aku suka. " ungkap Fajar.
" Dasar playboy loe! " jawab Yeni.
Beberapa kali Fahmi masuk kedalam ruangannya, kursi itu tetap kosong, hanya Hani sendiri yang bertugas, laki-laki dingin itu pun turut merasa kehilangan, dan kelabakan, pekerjaan Dina yang begitu rapi, kini semuanya menjadi berantakan.
Nenek Surti kembali dirawat dirumah sakit, jantungnya kambuh, ia mencari-cari sosok Dina, ia tak mau perawat lain merawatnya.
" Suster cantik itu kemana? Aku hanya mau sama dia. " ujar Nenek Surti
Tak hanya Nenek Surti, banyak pasien-pasien lain yang ngotot hanya ingin dirawat oleh gadis itu.
Belum lagi Alvin, salah satu pasien anak-anak penderita Autis yang rutin tiap minggu periksa kepada dokter Fahmi, anak berusia 7 tahun itu terus saja mencari dan bertanya tentang Dina.
Awal Alvin dibawa kerumah sakit, anak itu mengamuk dan berteriak-teriak tak jelas, kedua orang tuanya menyerah tak tahu lagi harus berbuat apa, ayahnya hampir saja berlaku kasar karena tak tahu lagi bagaimana harus menenangkan Alvin, Fahmi pun sampai harus turun tangan, Dina kala itu segera memeluk Alvin, dan mencoba menghiburnya, dibacanya beberapa sholawat ditelinga Alvin, tak butuh waktu lama anak itu pun menjadi tenang, sejak saat itu Alvin menjadi begitu dekat dengan Dina.
Ditambah lagi renovasi gedung yang belum selesai, Jaka berkali-kali menanyakan terkait konsep selanjutnya harus dibuat bagaimana, dan hanya Dina yang tahu, karena dia perancangnya.
Fahmi pun menatap nanar ruang praktiknya yang seketika terasa sunyi, dan hampa, tak ada lagi senyuman hangat, tak ada lagi canda-canda tawa bersama pasien-pasien kecilnya yang biasa dibuat oleh Dina,
Suasana yang ceria berubah menjadi tegang, hampir setiap hari, pengunjung-pengunjung yang datang untuk periksa selalu menanyakan dimana keberadaan Dina, dalam waktu sekejap saja, Dina sudah mampu menciptakan ikatan batin dan ikatan persaudaraan yang begitu kuat dihati banyak orang.
" Bagaimana ini Gus? " tanya Danil.
" Hmmmm, entahlah, Dan . " jawab Fahmi.
Ia menekan - nekan kepalanya yang terasa pening, semua beban seakan menumpuk dikepalanya.
" Ya Allah Ya Robb, kenapa semuanya jadi berantakan begini? " ucap Fahmi lirih.
Fahmi berdiri di samping dinding kaca, pandangannya menerawang memamdang kota Batu yang diguyur hujan deras, kedua tangannya bersedekap, hatinya dilanda banyak tanya.
" Mungkin inilah isyaroh kenapa Danil, Ifa, bahkan Abi dan Ummi, ingin aku bersamanya. Dalam sekejap saja, kehadirannya mampu memberi begitu banyak arti."
" Kemana kamu Dina ? " ucapnya lirih.
💘💘💘💘💘💘
SEJATINYA CINTA
Oleh : Athiyah Karim
#RepostSC1part 9
Noval mencoba menghasud kedua orang tua Dina, pulang dari rumah sakit, ia langsung mendatangi kedua orang tua Dina, ia membuat fitnah dengan mengatakan bahwa Dina tega mengusirnya ketika ia hendak menemui Dina, dan menamparnya.
ia juga mengarang cerita dengan mengatakan bahwa ia melihat Dina tengah berduaan dengan seorang laki-laki.
Noval pandai berakting, laki-laki itu menangis tersedu-sedu dihadapan ayah Dina.
Pak Rusydi murka, ia pun menampar Noval, ia marah habis-habisan kepada Noval, Pak Rusydi tahu betul bagaimana putrinya, ia tidak menyangka Noval akan sedemikian kejinya memfitnah putrinya, Pak Rusydi pun membatalkan pertunangan putrinya dengan laki-laki yang tak tahu diri itu, dan segera mengusir Noval dari rumahnya.
Bu Hanifah benar-benar tak dapat menahan kemarahannya ketika Latifa hmengantar Dina pulang, dan melihat kondisi putrinya yang memprihatinkan, ia pun jatuh sakit, seketika darah tingginya pun kambuh.
Beberapa hari kemudian Pak H. Thamrin beserta istrinya menemui Pak Rusydi, ia menangis meminta maaf atas keburukan tingkah putranya, Noval adalah putra semata wayangnya, ia memang sengaja melamar Dina untuk putranya, karena ia tahu Dina adalah wanita yang baik.
Laki-laki berusia 60 tahun itu yakin, Jika Noval menikah dengan Dina maka Noval akan berubah menajdi lebih baik lagi, ibu Noval pun menangis ia memeluk Dina dengan erat, Pak Haji Thamrin memohon kepada ayah Dina agar ia tidak membatalkan perjodohan tersebut, namun Pak Rusydi tetap menolak ia tak mau putrinya kembali disakiti oleh Noval.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
ENGAGEMENT
Engkau baru akan mengerti akan arti kehadiran seseorang manakala ia telah jauh darimu.
Dina kembali bertugas kerumah sakit setelah sembilan hari lamanya ia tidak masuk menjalankan tugasnya sebagai Ners, ia diantar oleh ayahnya menuju rumahn sakit Asy-Syifa’.
Teman-teman Dina pun senang melihat kehadiran Dina, mereka saling berpelukan dengan erat.
"Ya Allah Dina kamu kemana aja sih ? Kita khawatir banget tau. " ujar Sandra.
"Iya, maaf." jawab Dina.
"Kangen banget tau." sambung Lia.
"Sama aku juga kangen banget." jawab Dina.
“Ya Allah Sayang, sebenarnya apa sih yang terjadi?“ tanya Latifah.
“Nggak ada apa-apa kok, Ibu jatuh sakit, jadi Dina fokus merawat Ibu sampai sembuh. “ jawab Dina.
“Astaghfirullah, Ibu sakit apa?“ tanya Latifah lagi.
“Ya hipertensinya kambuh Mbak, tapi Alhamdulillah sekarang udah sembuh."
“ Kamu dicariin dokter Fahmi loh.“ ujar Latifah.
Dina terkejut mendengar perkataan sahabatnya itu.
“Iya beneran, tanya saja sama Hani kalau nggak percaya.“
Seketika hati Dina menjadi gusar, selama ini ia tak masuk dan tak memberi kabar.
Pak Rusydi dan Dina segera menemui Fahmi kepala rumah sakit Asy-Syifa',
Fahmi menyambut kehadiran sahabat ayahnya itu dengan hangat dan santun, ia mencium tangan Pak Rusydi,
Dina nampak takut melihat Fahmi, tatapan mereka sempat bertemu, namun Fahmi segera berpaling, Dina merasa bersalah karena beberapa hari tidak masuk bertugas dan tidak memberi kabar.
"Duh setelah ini aku habis dimarahinya." Dina berkata dalam hati.
" Maaf ya nak Fahmi, jika selama ini putri saya tidak masuk dan tidak memberi kabar, karena ada beberapa hal yang tidak terduga hingga membuat ibunya jatuh sakit selama beberapa hari ini, dan Dina lah yang mengurus serta merawat ibunya " jelas Pak Rusydi.
"Ya Allah, maaf Om, saya benar-benar tidak tahu, bagaimana keadaan beliau sekarang?"
"Alhamdulillah sudah sehat Nak." jawab Pak Rusydi.
" Oh ya bagaimana kabar Abi dan Ummi apa beliau sehat- sehat saja? “
" Alhamdulillah sehat semua Om."
"Ya sudah Om pulang dulu, kasihan ibunya Dina masih belum pulih benar, om titip putri om ya nak, om khawatir laki-laki brengsek itu datang kemari dan mengganggu Dina lagi." ujar Pak Rusydi.
Fahmi memahami maksud Pak Rusydi, "Baik om" jawab Fahmi .
Laki-laki itu pun mengantar ayah Dina hingga sampai di pintu keluar rumah sakit, dan ketika ayah Dina telah pergi, Fahmi pun segera kembali memasuki ruang praktiknya.
"Suster Dina, bisa bicara sebentar?" tanya Fahmi.
Dina menelan ludah, sebentar lagi Fahmi pasti akan meng-introgasinya, ia pun pasrah
Dina mengikuti langkah Fahmi menuju ruang periksa.
"Silahkan duduk dulu" perintah Fahmi.
" Baik, dokter. " jawab Dina.
Jantungnya kembali berdetak cepat, Fahmi menelfon seseorang.
"Assalamua'laikum Hallo Jaka."
"Wa'alaikumsalam iya Gus, ada apa?"
"Nih tersangka yang kamu cari- cari udah ada disini. " ujar Fahmi.
"Tersangka? tersangka apa Gus?"
"Udah nggak usah banyak tanya cepat kesini?!"
"Baik Gus, saya segera kesana sekarang. "
Telfon pun dimatikan, Fahmi menatap gadis yang sedang duduk dihadapannya itu dengan tajam.
"Bagus ya, usai membuat keributan kemudian menghilang tanpa kabar " ucap Fahmi.
Dina menunduk, dugaannya tidak salah.
"Maaf, dokter." jawabnya singkat.
"Saya sangat menghormati ayahmu, Om Rusydi, tapi maaf, saya juga harus tetap memberimu sangsi karena sikapmu yang tidak kooperatif " ujar Fahmi.
Dina pun pasrah, ia memang salah, seharusnya ia melayangkan pemberitahuan mengapa ia tidak masuk beberapa hari kemarin.
"Sekarang juga kamu saya bebas tugaskan, pergilah menuju mushollah, khatamkan Alqur'an disana, dan jangan keluar sebelum saya perintahkan, satu lagi nanti ada Jaka, temui dia." ujar Fahmi.
Dina menghembuskan nafasnya, hatinya pun mulai lega.
"Pergilah sekarang!" perintah Fahmi .
Dina pun beranjak pergi menuju mushollah An – Nur, Hani merasa iba, tapi itulah hukuman yang harus diterima oleh semua staff rumah sakit apabila melakukan pelanggaran atau suatu tindakan yang tak baik dirumah sakit, maka Fahmi akan memberi hukuman mengkhatamkan Alquran, ataupun membaca istighfar 10.000x kepada siapapun yang berani melanggar aturan di RS. Asy-Syifa'.
Menjelang Sholat Isya' Dina baru selesai mengkhatamkan Alqur'an 30 juz, beruntung sebelumnya ia telah menghubungi Ayahnya, jika mungkin malam ini ia pulang terlambat karena ada tambahan tugas.
💘💘💘💘💘
Fahmi tengah menikamti makan malam bersama keluarganya.
"Abi tadi telfon Pak Rusydi ummi, katanya istrinya sedang sakit."
"Ya Allah Bu Hanifah? beliau sakit apa Bi? "
"Katanya sudah satu minggu ini hipertensinya kambuh."
" Besok kita jenguk yuk Bi?" ujar Bu Husnah.
"Iya Ummi, insya' Allah. "
Fahmi mengingat sesuatu, ia nyaris lupa jika hari itu ia memberi Dina hukuman, ia memukul dahinya sendiri.
"Astaghfirullahal'adzim Ya Allah. " ucap Fahmi.
"Ada apa Nak?" tanya Buu Husnah.
Fami buru-buru meneguk air putih.
"Fahmi ke rumah sakit dulu Ummi, Abi, ada yang ketinggalan." ucap Fahmi.
Ia tergesa-gesa mencium tangan kedua orang tuanya.
"Loh, makannya nggak dihabiskan dulu Nak?"
"Udah darurat Ummi." jawab Fahmi sembari bergegas pergi.
Fahmi segera menyalakan mesin mobilnya, dan menancap gas dengan cepat.
"Ngapunten Gusti, duuh kok bisa lupa gini aku." gumamnya lirih.
Fahmi merutuk dirinya sendiri, diliriknya jam di tangan kirinya telah menunjukkan Pukul 20.00 WIB, ia pun menjalankan laju mobilnya dengan cepat,
__ADS_1
Sampai dirumah sakit, laki-laki itu segera berlari menuju mushollah An- Nur, sampai ia tak menggubris staff-staffnya yang mengucap salam padanya, didapatinya Dina masih berada di dalam mushollah, ia tak beranjak sama sekali, Fahmi pun bersikap sebagaimana biasa, ia masuk kedalam mushollah.
"Sudah khatam?" tanya Fahmi.
"Alhamdulillah sudah" jawab Dina singkat.
"Ya sudah ayo pulang?! biar aku yang antar." ucap Fahmi.
Ditatapnya laki-laki yang kini berdiri dihadapannya memakai baju koko putih, sarung batik hitam, dan peci putih itu dengan tatapan tak percaya.
"Loh, kenapa diam? ayo pulang ?!" ajak Fahmi.
ia melihat gadis dihadapannya itu masih bengong.
"Maaf, Dokter. Tidak usah repot-repot, biar saya pulang sendiri."
"Jangan bandel, jam segini sudah nggak ada angkot."
"Biar saya minta jemput Ayah saja, dokter."
"Nggak usah ngerepotin Ayah, e .. maaf maksudku Om Rusydi , ibumu masih belum pulih betul."
"Duh, lidahku kok jadi belepotan gini ngomongnya." rutuk Fahmi dalam hatinya.
"Ayo cepet?! Jangan bantah, ini hukuman buat kamu! "
Fahmi segera keluar dari mushollah, meski ragu Dina pun terpaksa menurutinya.
Fahmi membuka pintu mobil jok belakang, Dina pun masuk kedalam mobil Audi hitam metalik milik Fahmi.
Dalam perjalanan pulang mereka berdua diam, tak ada yang berani membuka percakapan, hanya suara murottal Alqur'an Syaikh Syudaisy yang terdengar dari audio mobil.
"Sudah makan belum?" tanya Fahmi tiba-tiba.
"Sudah, dokter." jawab Dina.
Fahmi menghentikan mobilnya didepan toko bakery.
"Maaf ya, aku masih mau mampir kesini dulu."
"Silahkan." jawab Dina singkat
Fahmi segera turun dari mobil dan memasuki toko roti, tak berapa lama kemudian laki-laki itu pun masuk kedalam mobil sembari membawa dua kotak besar berisi cake blackforest lalu menyerahkannya kepada Dina.
"Nih, bawa!" ujar Fahmi.
Dina nampak ragu, ia hendak menolak, Fahmi seakan bisa membaca isi fikirannya.
"Bukan buat kamu, ini buat Tante yang sedang sakit." ujar Fahmi kemudian.
Dina pun menerimanya.
Setelah sampai dirumah Dina, Fahmi segera menemui Ayah Dina, ia membungkukkan badan dan mencium tangan Ayah Dina berkali-kali.
"Nyuwun agungipun pangapunten, karena saya telah lancang kepada jenengan." ujar Fahmi.
Pak Rusydi merasa heran ,"Ada apa nak Fahmi?"
"Mohon maaf karena saya, putri jenengan pulangnya terlambat, bukan saya tidak menghormati jenengan, tapi saya harus tetap menjalankan tugas, tadi saya memberi hukuman kepada Dina karena kekeliruannya ketika bertugas dirumah sakit, sekali lagi saya mohon maaf." ujar Fahmi penuh sesal.
Pak Rusydi tersenyum , "Oh iya tidak apa- apa memang putri saya salah, mari silahkan masuk dulu Nak."
"Dina, Nak Fahmi dibuatkan minum ya." perintah Pak Rusdy .
Dina hanya mengangguk saja, ia merasa sangat gugup sedari tadi.
"Tamu siapa nak?" tanya Bu Hanifah.
"Dokter Fahmi Ibu." jawab Dina.
"Putranya Bu Nyai?" tanya Bu Hanifah lagi.
Dina mengangguk.
"Kamu ini gimana sih kok nggak bilang-bilang dulu, cepet sana buatin minum!"
Bu Hanifah segera menemui putra sahabatnya.
"Bagaimana kabarnya nak?"
"Alhamdulillah baik Tante, keadaan jenengan bagaimana sekarang?"
"Alhamdulillah sudah mendingan, Nak, ya meski masih agak pusing, Abah dan Ummi bagaimana?"
"Alhamdulillah baik semua."
Mereka bertiga pun asyik bercakap-cakap, sesekali terdengar gelak tawa diantara mereka , Dina segera mengantarkan minuman untuk ayahnya dan dokter Fahmi, mengetahui kehadiran Dina Fahmi pun segera menundukkan kepalanya.
"Mari nak, mari silahkan diminum dulu tehnya."
"Inggih terima kasih."
Pak Rusydi nampak senang dan antusias bercakap-cakap dengan Fahmi, mereka asyik membicarakan tentang bisnis furniture, ternyata Fahmi memiliki bisnis yang sama, dan sepertinya keduanya akan melakukan kerja sama,
Fahmi memohon kepada ayah Dina untuk mau membagi ilmunya, karena ia sedang membuka lowongan pekerjaan untuk para santri senior dan alumni di bidang tersebut, tiga puluh menit kemudian Fahmi pun pamit undur diri.
"Dina, ini nak Fahmi sudah mau pulang," seru Pak Rusydi.
Dina pun segera memenuhi panggilan ayahnya.
"Inggih, Ayah. " jawab Dina.
Fahmi sempat melirik gadis yang kini terlihat lebih segar dan telah berganti pakaian, ia nampak semakin anggun mengenakan gamis berwarna pink dipadu dengan jilbab segi empat dengan warna senada.
"Saya mohon pamit dulu." ujar Fahmi .
Laki-laki itu mengatupkan kedua tangannya sebagai tanda salam, kepada Bu Hanifah.
"Terima kasih banyak ya, salam kepada abi dan ummi."
"Insya' Allah saya sampaikan."
Fahmi kembali mencium tangan ayah Dina.
Mereka bertiga mengantar Fahmi sampai halaman rumah, laki-laki berkulit putih bersih itu segera masuk kedalam mobil, menyalakan mesin lalu menyembunyikan klakson sebagai tanda pamit, mobil itu pun melaju pelan meninggalkan kediaman Dina.
"Putri Ayah sudah berani bawa laki-laki kerumah ya?" goda Pak Rusydi.
Dina menunduk, ia merasa bersalah, "Mohon maaf, Ayah." ucapnya.
"Kalau yang dibawa nak Fahmi , sering-sering juga nggak apa-apa." ujar Pak Ruysdi sembari tersenyum.
Dina terkesiap, seketika wajahnya memerah, Pak Rusydi merangkul bahu putrinya.
"Maafkan Ayah ya Nak, Ayah sudah salah memilih dan menerima seseorang, Ayah hampir saja menjerumuskan kamu kedalam jurang penderitaan.“ ujar Pak Rusydi.
Matanya mulai berkaca-kaca , Dina adalah putri kesayangannya diantara putri-putrinya yang lain, Dina pun memeluk Ayahnya, air matanya kembali berderai.
"Ayah jangan meminta maaf seperti ini, Ayah tidak salah." jawab Dina dalam isak tangisnya.
"Sudah istirahatlah Nak, kamu pasti lelah."
"Baik, Ayah." jawab Dina sembari melepaskan pelukannya.
Tengah Malam, Dina terbangun, perutnya lapar, karena tadi dirumah sakit ia hanya makan sedikit, agar lekas dalam mengkhatamkan Alqur'an, gadis itu pun segera melangkah menuju ke dapur, saat melewati kamar Ayah ibunya , tak sengaja ia mendengar percakapan kedua orang tuanya.
"Kalau saja nak Fahmi yang menjadi menantu kita ya Ayah, dia pemuda yang sangat baik, baiknya itu tulus, sholeh, tampan lagi nggak kayak Noval." ujar Bu Hanifah.
"Iya Bu, Ayah juga berfikir demikian, tapi kita ini siapa bu, dia juga siapa, ah .. sudahlah jangan berharap lebih." jawab Pak Rusydi.
Keesokan harinya Abah Fadli dan Bu Nyai Husnah pun berkunjung ke kediaman Pak Rusydi,
Pak Rusydi pun mengutarakan segala isi hatinya, karena kecerobohannya ia hampir saja menjerumuskan putrinya pada jurang penderitaan, ia benar- benar menyesal, ia tak bisa membayangkan bagaimana nasib putrinya jika jadi menikah dengan Noval, ia tak kan pernah memaafkan dirinya sendiri.
"Sabar Mas, mungkin ini ujian, bersyukurlah karena mereka tidak sampai menikah, Allah segera menunjukkan bagaimana watak asli laki- laki tersebut, dan selalu yakinlah, bahwa wanita yang baik pasti akan mendapatkan laki-laki yang baik pula sebagai pasangan hidupnya, begitupun sebaliknya." nasihat Abah Fadli.
"Iya Mas , jenengan benar." ujar pak Rusydi.
Laki - laki paruh baya itu segera mengusap air mata penyesalannya.
💘💘💘💘
Dina bersiap- siap hendak pulang, jam tugasnya telah usai .
"Dina ada yang nyariin tuh!" ujar Sandra.
"Siapa?" tanya Dina.
"Dina itu kakakmu nunggu didepan." ujar Lia.
Dina nampak senang, sudah lama ia tak berjumpa kakaknya, kakak beradik itu berpelukan melepas kerinduan.
"Dina kangeeeen banget, Mbak."
"Iya sama Dik. "
"Kapan datang?"
"Tadi pagi, barusan Mas Akbar ngajak jalan- jalan, sekalian deh jemput kamu."
"Gimana mbak udah isi belum?" tanya Dina sembari memegang perut kakaknya.
"Udah." jawab Vina singkat.
"Masya Allah? beneran?" tanya Dina .
Ia sudah ingin mempunyai keponakan yang lucu.
"Iya barusan isi nasi, es cream, cilok." jawab Vina sekenanya.
"Seriusan dong Mbak?" rajuk Dina.
"Hehehe iya Dik Alhamdulillah, udah 3 minggu."
"Alhamdulillah Ya Allah." ucap Dina senang.
"Permisi, maaf mengganggu." sebuah suara yang tak asing lagi mengejutkan mereka berdua.
Dina pun langsung diam.
"Maaf, bisa bicara sebentar?" tanya Fahmi.
"Iya bisa dokter. "
Vina berdecak kagum melihat ketampanan pria yang berdiri tak jauh dari hadapannya.
"Sebentar ya, Mbak." ujar Dina.
Dina pun mengikuti langkah Fahmi.
"Begini mbak, besok saya ada acara seminar kesehatan di Surabaya, tadi saya lupa mau bilang, jadi besok dokter Adrian yang menggantikan saya." ucap Fahmi .
" Baik, dokter."
"Oke, terima kasih." Fahmi pun pergi meninggalkan Dina.
Vina berjalan mendekati adiknya ,"Itu siapa dik?"
"Oh, itu Bapak kepala rumah sakit ini mbak."
"Subhanallah, Guantenge, aku kira tadi dia itu kekasihmu dik."
Seketika wajah Dina memerah , "Apa sih Mbak, ya bukanlah." bantah Dina.
"Nggak apa- apa kalau beneran, Mbak setuju kok, ketimbang kamu sama Bopal itu."
"Eh tapi wajah kamu jadi merah gitu ya, hayo ngaku kamu naksir dia ya? tak bilangin Ayah lho!" goda Vina.
"Jangan Mbak?!" rajuk Dina.
Vina menangkap gelagat adiknya yang sedang jatu cinta, ia pun memeluk Dina dari belakang sembari tersenyum.
"Santai saja sayang, Mbak juga pernah muda, mbak doain kalian jodoh ya." ucap Vina.
Tanpa sadar Dina meng-amini doa Vina kakaknya, "Aamiin."
"Tuch kan? ketahuan," goda Vina lagi.
__ADS_1
"Mbak Vinaaaaaa." rajuk Dina manja.
💘💘💘💘💘