Story Anak SMA

Story Anak SMA
Auzura Kamila


__ADS_3

"Assalamualaikum.. " Zura mengucap salam.


Auzura Kamila gadis yang usianya belum genap tujuh belas tahun itu baru saja pulang bekerja disalah satu kafe di kota Malang. Dia biasa di sapa dengan panggilan Zura. Zura bekerja paruh waktu, usai sekolah hingga jam 9 malam. Semua dia lakukan untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Sebab sang ibu sudah tidak bekerja karena sakit-sakitan.


Zura adalah gadis sederhana yang hidup bersama ibunya. Bu Asih namanya. Ayahnya sudah meninggal semenjak Zura kecil. Tinggal di rumah sederhana peninggalan Ayahnya. Zura gadis sederhana yang cantik dan lugu menjadi kembang desa.


Dia merupakan siswa SMA negeri Malang yang berprestasi. Karena prestasi yang selalu diraihnya, Zura mendapatkan beasiswa. Hingga dia bisa sekolah sampai lulus tanpa biaya sedikitpun.


"Buk... ibuk..." Panggil Zura namun tidak ada jawaban sama sekali dari ibunya.


Perasaan Zura mendadak tidak enak. Dia berjalan cepat menuju kamar ibunya.


"Astaghfirullahaldzim... ibuk,,.." Seru Zura kaget. Melihat ibunya sudah tergeletak di lantai.


Jantung Zura seakan berhenti berdetak melihat ibunya tak sadarkan diri. Rasa capek yang tadi menempel ditubuhnya hilang seketika, diganti dengan rasa cemas dan takut. Air matanya sudah tak bisa di bendung lagi.


"Buk... bangun buk... ini Zura sudah pulang. Zura mohon ibuk bangun." Ujarnya disela tangisnya.


Dengan sekuat tenaga Zura mencoba memindahkan Bu Asih ke tempat tidur. Kemudian Zura mengoleskan minyak angin ke beberapa bagian tubuh dan juga hidung Bu Asih. Dia duduk di sisi ranjang sambil mengusap punggung tangan sang ibu.


"Zu.. ra.. " Panggilnya lirih. Zura bersyukur ibunya telah sadar. Saking senangnya Zura mencium tangan Bu Asih berkali-kali.


"Ibuk... apanya yang sakit buk? bilang sama Zura. Atau kita ke rumah sakit ya sekarang." Bu Asih menjawab dengan gelengan kepala.


"Ibuk baik-baik saja nduk. Tadi ibuk cuma pusing." Dusta Bu Asih yang tak mau membuat Zura semakin khawatir.


"Biar Zura ambilkan obat dulu ya. Ibuk pasti lupa belum minum obat." Sebelum mendapatkan jawaban dari ibunya. Zura sudah beranjak pergi.


"Ya allah ternyata obatnya habis." Ucapnya lirih. Zura kembali menghampiri ibunya.


"Ibuk maaf ya obatnya habis. Ibuk tunggu sebentar ya, Zura mau ke apotik dulu beli obat." Namun Bu Asih malah menggelengkan kepalanya.


"Besok saja nduk. Di luar hujan, ibuk gak mau kamu sakit. Ibuk sudah gak apa-apa."


"Ibuk harus minum obat sekarang. Zura akan baik-baik saja. Ibuk tunggu sebentar ya." Zura beranjak pergi setelah mencium punggung tangan ibunya.

__ADS_1


...****...


Ditengah guyuran hujan Zura mengendarai motor maticnya menelusuri dinginnya malam juga jalanan yang licin. Masih dengan rok sepan warna hitam dan kemeja putih yang sedikit kotor dan basah karena kehujanan tadi sepulang kerja. Meski sudah menggunakan jas hujan namun tetap saja sebagian bajunya basah sebab jas hujan Zura sudah bolong di beberapa bagian.


Akibat terburu-buru khawatir apotinya tutup. Zura jadi menerobos jalur saat dia menyebrang di perempatan. Zura kaget dari arah lawan tiba-tiba ada mobil yang tidak terlalu kencang tapi Zura tidak sempat menekan rem. Setelahnya Zura sudah tergeletak di pinggir jalan bersama motornya.


Dia menangis. Bukan karena sakit karena jatuh dari motor. Tapi karena memikirkan keadaan ibunya. Zura takut ibunya pingsan lagi terlalu lama menunggu obat yang akan di beli Zura.


Tangis Zura berhenti setelah melihat beberapa warga sekitar menghampirinya. Juga penumpang mobil yang Zura tabrak berjalan kearahnya.


"Eh mbak gimana sih bawa motornya sampai nabrak mobil pacar saya. Lo harus ganti rugi ya.." Omel Aurel sambil melotot tajam. Zura kaget karena ternyata cewek yang marah-marah itu adalah Aurel sepupunya. Namun Zura hanya diam seolah tak mengenalnya. Apalagi mata Aurel suda melotot ingin keluar dari tengkoraknya, dia pasti gak mau mengakui Zura sebagai sepupunya.


"Maaf mbak, mas,, saya buru-buru mau cari obat buat ibu saya. Keburu apoteknya tutup." Gadis itu mendongak menatap bergantian tujuh orang dihadapannya.


"Cantik nyet."


"Bening."


"Mulus."


"Masih polos lagi."


"Ehmm.." Nando menyadarkan teman-temannya yang malah terpesona dengan kecantikan gadis itu dan saling berbisik. Gadis itu memang terlihat sangat cantik meski tanpa riasan make up. Banyak yang bilang wajahnya mirip artis Natasha Wilona.


"Alah pasti itu alasan lo aja kan?. Biar lo gak dimintai ganti rugi karena mobil pacar gue jadi rusak. Lo malah ngarang cerita biar kita kasihan sama lo terus ujung-ujungnya malah lo minta kita yang ganti rugi. Lagian mana mampu lo bayar biaya kerusakan mobil pacar gue." Tuduh Aurel. Gadis itu menggeleng cepat. Dia tak membalas ucapan Aurel. Malah terus menatap nanar Aurel.


"Tega sekali kamu Rel menuduhku seperti itu. Padahal kita adalah saudara." Dalam hati Zura.


"Bisa gak sih lo punya rasa kemanusiaan sedikit saja sama orang." Geram Axel.


"Kamu gapapa kan? ada yang luka nggak?." Zura menjawabnya dengan gelengan kepala pertanyaan Rama. Lalu Rama membantu Zura berdiri. Zura menahan sakit meski terdapat luka di siku dan lututnya.


"Lebih baik telepon polisi terdekat aja biar diurus sama polisi." Lagi-lagi Zura itu menggelengkan kepalanya mendengar saran warga.


Sementara Nando pemilik mobil terus menatap gadis yang menabrak mobilnya itu. Ungkapan kekesalan yang sudah dia rangkai saat masih berada di mobil tadi bahkan umpatan yang siap dia luncurkan menguar begitu saja. Mau minta ganti rugi tapi dia juga tak tega.

__ADS_1


Gadis itu terdapat luka lecet di bagian siku dan lututnya. Miris sekali Nando membayangkan rasa sakitnya.


"Maaf mas,,, saya janji akan mengganti semua biaya ganti ruginya. Tapi tolong jangan sekarang, saya harus segera pulang. Ibu saya sedang sakit dan dirumah sendirian." Kata gadis itu.


"Gimana caranya lo mau tanggung jawab?. Gue gak kenal sama lo, dan gue juga bukan orang sini." Nando membalasnya.


Sebenarnya uang bukan menjadi masalah bagi Nando. Namun dia ingin melihat bagaimana cewek dihadapannya ini bertanggung jawab atas apa yang terjadi.


"Ini,,, mas bisa pegang kartu pelajar saya buat jaminan karena saya belum memiliki KTP." Gadis itu merogoh dompetnya yang kotor karena terjatuh digenangan air. Dan memberikan kartu pelajar miliknya.


"Dan kalau boleh saya minta nomer yang bisa dihubungi." Lanjut Zura.


"Buat apa? lo mau chat an sama pacar gue dan berharap bisa merebut dia dari gue? sadar diri dong." Balas Aurel dengan sengit.


"Rel,, pliiss.. jangan neting mulu Napa sih." Tegur Nando membuat Aurel merajuk tak terima. Nando pun menerima kartu pelajar milik Zura.


"Auzura Kamila" Batin Nando.


"Sini biar gue aja yang tanggung jawab. Kan gue tadi yang nyetir." Axel ingin merebut kartu pelajar tersebut namun Nando lebih cepat mengantonginya.


"Ini bukan masalah seberapa besar ganti ruginya nyet. Gue ingin liat gimana cara dia bertanggung jawab." Ucap Nando. Dia kembali menatap gadis itu.


"Lo boleh pergi dan ini kartu nama gue. Kalau lo udah siap buat ganti rugi. Hubungi gue." Nando memberikan kartu namanya pada Zura.


"Kamu bisa pulang sendiri? atau mau kita anterin sekalian?." Tawar Axel.


"Gak usah, terimakasih. Saya masih bisa kok pulang sendiri." Tolak Zura. Walaupun jalannya masih tertatih-tatih tapi Zura ingin cepat sampai rumah. Dia sangat khawatir dengan keadaan ibunya.


"Tapi kan motor kamu rusak parah. Kamu juga sulit buat jalan." Sahut Zaki.


"Di depan ada bengkel kok. Nanti motornya biar saya tinggal di bengkel dan saya bisa naik ojek." Jawab Zura.


"Kalian kenapa sih pada sok pahlawan? heran deh." Kata Aurel sewot.


"Udah kelar kan beib urusannya. Mending kita lanjutkan perjalanan kita." Ajak Aurel kemudian.

__ADS_1


Nando menganggukkan kepalanya lalu beranjak pergi dengan Aurel yang merangkul tangannya, meninggalkan Zura.


"Kita pamit dulu ya. Semoga kita bisa bertemu lagi." Ucap Axel yang diikuti teman-temannya. Zura hanya mengangguk. Setelah itu Axel dan yang lainnya berjalan menyusul Nando.


__ADS_2