
Suasana di SMA negeri Malang begitu ramai. Meski dengan panggung yang sederhana namun tidak semua tampak antusias mengikuti acara tersebut. Baik dari siswanya sendiri maupun sekolah lain.
Rombongan SMA negeri 45 Jakarta sudah berkumpul di lapangan. Menunggu penampilan temannya, band kebanggaan sekolah yaitu D'kingson.
Sementara anggota D'kingson dan juga bintang tamu dari sekolah lain terlebih dulu mengecek semua sound sistem sebelum tampil. Namun tidak di sangka mereka akan manggung bareng bersama geng Avengers. Anggota band dari salah satu sekolah di Jakarta juga yang pernah terlibat perseteruan dengan D'kingson karena perempuan.
Singkat cerita masa lalu. Dulu vokalis band Avengers yang bernama Leonard Abraham atau Leon menyukai seorang gadis yang bernama Asyifa. Ya,, dia adalah mantan kekasih Nando yang sudah meninggal dunia.
Leon sudah lama menyimpan perasaannya terhadap Asyifa. Bahkan sebelum Asyifa mengenal Nando. Sebab waktu SMP Leon dan Asyifa satu sekolah. Dia begitu marah dan kecewa saat Asyifa lebih memilih Nando dan hanya menganggapnya sebagai sahabat.
Namun lambat laun Leon bisa menerima keputusan Asyifa. Dia berlapang dada menerima hubungan Asyifa dan Nando. Leon sangat marah mendengar kabar meninggalnya Asyifa. Dia bahkan menghajar Nando habis-habisan karena menilai Nando sebagai kekasih Asyifa tidak bisa menjaga dan melindunginya dengan baik.
Bahkan saat kejadian dan dihari terakhirnya Asyifa, Nando tidak ada disampingnya. Nando sedang keluar kota mengisi suatu acara. Perseteruan itu terus berlanjut hingga sekarang.
"Setelah sekian lama tak bertemu, akhirnya tuhan mempertemukan kita lagi. Gue kira lo udah mampus." Kata Leon tersenyum menyeringai. Keduanya di pertemukan di depan toilet.
Nando tak ingin menanggapi ucapan Leon. Dia ingin menghindar bukan karena takut. Tapi karena Nando tak ingin membuat keributan di sini.
Nando berniat berjalan melewati Leon namun baru beberapa langkah, dia berhenti lagi mendengar ucapan Leon.
"Kapan kita bisa duet di atas ring? Gue ingin menghancurkan tampang lo yang sok kegantengan itu dengan tangan gue sendiri." Geram Leon menatap Nando penuh kebencian.
Selain menguasai teknik vokal, Nando juga menguasai ilmu bela diri. Tapi lebih memilih mengikuti latihan tinju disela kesibukannya daripada beladiri lainnya.
Dan kebetulan Leon juga mengikuti latihan tersebut. Itu semua Leon lakukan demi menyaingi Nando. Leon tidak ingin lagi Nando lebih unggul dalam segala hal untuk mengalahkannya lagi.
"Akhirnya lo mengakui juga kalau gue lebih ganteng dari lo." Balas Nando dengan senyum mengejek.
"Iya,,,tapi lo goblok. Tidak becus menjaga dan melindungi perempuan terbaik di dunia ini." Leon berucap tegas dan menekan setiap kata yang diucapkan.
Berjalan cepat, Nando segera meraih kerah baju Leon. Leon selalu menguji kesabarannya setiap kali bertemu. Nando masih bisa menerima apapun yang dilontarkan Leon kepadanya kecuali yang satu ini. Leon selalu mengklaimnya sebagai pecundang, seolah-olah Nando penyebab meninggalnya Asyifa.
"Jaga ucapan lo. Atau gue yang akan merobeknya." Kata Nando.
"Gue akan lebih dulu menghabisi Lo sebelum lo melakukan itu ke gue." Balas Leon.
__ADS_1
"Kalau begitu mari kita buktikan."
Kedua kepalan tangan Leon dan Nando sudah mengambang di udara. Adu jotos bisa saja terjadi. Namun terhenti karena teguran seseorang.
"Siapa itu,,,,??? Kalian mau berantem ya?!" Teriak seseorang yang berdiri di ujung lorong maupun. Mengalihkan atensi keduanya. Baik Leon maupun marsall segera menurunkan tangan masing-masing. Lalu menghadap seseorang yang berani menegurnya.
Gadis dengan seragam putih abu-abu dengan jalan agak pincang itu mendekati keduanya.
"Kalian pasti mau berantem kan tadi.?!,, maaf kalau mau berantem jangan disini" Ucapnya lagi dengan hati-hati. Takut kalau seandainya salah satu dari mereka ada yang tersinggung dengan perkataannya barusan. Gadis itu kaget ternyata mengenal salah satu dari mereka tapi tidak mengetahui namanya.
"Loh mas kan yang..." Dia menggantung ucapannya takut salah orang. Jelas-jelas semalam cowok yang mobilnya Zura tabrak itu bilang kalau dia buka orang sini. Jadi mana mungkin.
"Zura" Sebut Nando dalam hati. Nando melirik Leon yang hanya diam terpaku menatap Zura. Sepertinya Leon juga terpesona oleh kecantikan dan kepolosan wajah Zura yang mirip seseorang dimasa lalunya.
"Ehmm.." Suara deheman Nando menyadarkan Leon.
"Lo sekolah disini?." Tanya Nando, Zura menjawabnya dengan anggukan.
"Kenalin namaku Leon. Aku murid dari SMA 48 Jakarta." Leon mengulurkan tangannya kedepan disertai senyuman manisnya. Mungkin jika gadis lain yang melihatnya bisa dipastikan langsung jatuh cinta. Tapi tidak bagi Zura. Yang ada Nando malah semakin kesal melihatnya.
"Zura.." Dan disaat Zura akan menjabat tangan tangan Leon, tiba-tiba Nando menarik tangan Zura. Kemudian mengajaknya pergi dari sana.
"Selamat datang kembali Asyifa. Kali ini gue gak akan membiarkan dia jatuh kepelukan si pecundang itu." Lalu Leon bergegas pergi dari sana.
...****...
"Mas,,, kaki saya masih sakit." Seketika Nando langsung menghentikan langkah. Berbalik badan menghadap Zura, hingga saat ini posisi keduanya saling berhadapan.
Entah kenapa dia tidak suka melihat Leon ingin mendekati Zura. Hingga tanpa sadar Nando langsung menarik tangan Zura dengan kasar untuk menjauhi Leon. Bahkan tangannya kini masih mencekal tangan Zura dengan kuat. Dan Nando belum menyadari hal itu.
"Lo,,,!? sorry." Nando buru-buru melepas tangan Zura. Pergelangan tangan Zura sampai membekas kemerahan.
"Shiiitt,,, !!., apa gue menyakitinya?." Batin Nando.
"Gimana luka Lo?,,." Tanya Nando kembali basa-basi. Karena merasa bersalah telah menyakiti Zura.
__ADS_1
"Ohh,, sudah gapapa kok mas. Mas kok bisa ada disini?." Zura membalikkan pertanyaan. Sedangkan Nando nampak kesal dan tidak suka saat Zura memanggilnya mas.
"Sebelum gue jawab pertanyaan lo. Gue minta satu hal sama lo, jangan panggil gue dengan sebutan mas. Nama gue Nando. Paham." Dengan cepat Zura mengangguk paham.
"Gue dari sekolah SMA negeri 45 Jakarta." Jelasnya kemudian.
"Beib,,, ternyata kamu disini. Aku nyari kamu loh dari tadi." Keduanya menoleh kearah Aurel. Entah sejak kapan dia ada disana. Zura langsung menundukkan kepala kemudian.
"Kamu tadi bukannya pamit ke toilet sebentar. Kok bisa ngobrol berdua disini sama dia. Udah gitu lama lagi" Aurel melirik sinis kearah Zura.
"Aku ke toilet, terus gak sengaja ketemu dia disini. Ini mau balik." Dusta Nando.
"Yaudah yuk,, kamu udah di tungguin sama yang lain." Aurel membekap lengan Nando dengan manja dan menariknya begitu saja tanpa menegur Zura.
...****...
Acara sudah dimulai dari sejam yang lalu. Sejauh ini acara masih berjalan dengan lancar. Zura juga menonton meski dari kejauhan. Namun dia tak dapat menikmatinya. Karena sedari tadi perasaan Zura tidak enak.
Zura kepikiran ibunya di rumah. Tadinya Zura mau izin untuk tidak masuk sekolah hari ini. Apalagi kakinya juga masih sakit. Namun ibunya memaksa Zura untuk tetap sekolah. Bu Asih pura-pura menahan sakit agar terlihat sudah sehat didepan Zura. Beliau tau bahwa hari ini Zura akan tampil menyanyi di sekolahnya.
Sebelum berangkat sekolah, Zura menyuapi sarapan ibunya sampai habis dan minum obat setelahnya. Padahal biasanya sang ibu hanya makan sedikit. Lalu menitipkan sang ibu sama tetangga sebelah yang selalu membantu keluarga Zura.
Zura tersadar setelah salah satu temannya menepuk pundak Zura.
"Zura,,, kamu sakit?. Dari tadi aku perhatikan hari ini kamu tidak bersemangat. Tumben.." Ujar sahabat Zura yang bernama Teresia.
"Aku baik-baik saja. Cuma kepikiran ibuk, dari tadi perasaanku ndak enak." Jawab Zura.
"Kamu yang sabar ya, ibuk pasti ba..,,
"Zura..." Tere tidak jadi melanjutkan ucapannya karena kedatangan Bu Indri, wali kelasnya. Bu Indri seperti akan menyampaikan sesuatu yang buruk. Mimik wajah Bu Indri terlihat sendu.
"Zura,,, ibu harap kamu jadi anak yang kuat dan tegar." Kata-kata Bu Indri yang ambigu membuat Zura bingung dan bertanya-tanya dalam hati. Tiba-tiba saja Bu Indri menyeka air matanya. Hal itu semakin membuat Zura dan Tere bingung.
"Maaf maksud Bu Indri apa ya? kenapa ibu menangis??." Tanya Zura dibuat penasaran.
__ADS_1
"Begini Zura,, ibu mau menyampaikan berita duka. Kalau... ibu kamu baru saja meninggal."
Jediiiieerrrr.....