Story Anak SMA

Story Anak SMA
Nomor baru


__ADS_3

Begitu sampai rumah, Zura langsung masuk kedalam rumah dengan berjalan pincang. Zura mengendarai ojek untuk bisa pulang ke rumah. Dia mengabaikan rasa sakit karena lukanya hanya demi ingin segera bertemu sang ibu.


"Assalamualaikum.." Hening suasana rumahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Mungkin ibunya sudah tidur.


Menuju kamar Bu Asih. Zura membuka pintu perlahan. Dilihatnya sang ibu duduk bersandar dikepala ranjang dengan sambil memegang dada seperti menahan sesak.


"Kamu.. sudah.. pulang nak.." Sapa Bu Asih lirih, diiringi senyum diwajahnya. Beliau sebenarnya menahan rasa sakit yang sangat sakit namun tak ingin Zura mengetahuinya dan khawatir terhadapnya.


"Ibu maaf Zura lama" Zura meraih tangan Bu Asih dan menciuminya. Sungguh perasaannya kini begitu tenang melihat senyum diwajah sang ibu.


"Kamu kenapa??.. kenapa jalan kamu pincang begitu? hmm..." Bu Asih menatap dalam wajah putrinya. Beliau tak tega melihat raut wajah Zura yang terlihat sangat lelah. Bu Asih merasa bersalah pada Zura. Juga merasa sedih melihat Zura menjadi tulang punggung keluarga.


Sedangkan diluar sana. Diusia Zura, mereka bisa menikmati masa remajanya. Tapi Zura... masa mudanya dihabiskan untuk bekerja banting tulang dan merawat sang ibu yang sakit-sakitan.


"Zura gapapa buk. Tadi sempat jatuh tapi gapapa kok. Sekarang ibuk minum obatnya dulu ya. Biar cepat sembuh." Zura memberikan obat yang baru saja dibelinya.


"Ya allah,, beri ibuk kesembuhan. Agar bisa menemani Zura sampai tua nanti. Sampai Zura berhasil menjadi orang sukses dan bisa membahagiakan ibuk." Doa Zura dalam hati.


Setelah itu Zura pamit pada ibunya untuk membersihkan diri dan istirahat dikamarnya.


...****...


Dipagi hari suasana kota batu sungguh amat sangatlah dingin. Pukul enam pagi kabut masih menyelimuti. Sebagian dari siswa SMA negeri 45 Jakarta belum ada yang bangun termasuk anak-anak D'kingson.


Semalam mereka begadang main game. Makanya pada bangun kesiangan.


Namun tak berapa lama Zaki mulai mengerjakan mata. Gara-gara ada yang menarik selimutnya dan terjadilah tarik menarik. Karena kesal Zaki duduk dan menatap kesal Randy yang masih bisa tidur nyenyak setelah merebut selimut dengan serakah.


"Eh.. kampret,, serakah bener lo. Selimut siapa yang pakai siapa." Ujarnya setelah memukul pantat Randy.


"Berisik lo,, ganggu orang tidur aja." Randy bergumam tak jelas.


"Monyet lo,, mata lo suwek." Zaki melirik sini Randy meski Randy gak bakal menyadarinya.


Anak-anak D'kingson berada dalam satu kamar. Zaki melihat satu persatu teman-temannya yang masih tertidur. Dia menyunggingkan senyum saat pandangan matanya terhenti pada sosok Axel dan juga Rama yang berada dalam satu ranjang. Kepala Rama berada di bawah kaki Axel dan kaki Rama menindih perut Axel. Sedangkan kedua tangannya memeluk kaki Axel.


Sementara Roy menggulung tubuhnya seperti kepompong dengan selimut tebal. Dia juga tidur di sofa sambil duduk. Sebab sofanya kecil.


Suara dering ponsel entah milik siapa mengalihkan atensi Zaki. Dia ingin mengabaikan suara tersebut namun ponsel itu masih terus berdering.

__ADS_1


Akhirnya Zaki memutuskan untuk melihatnya. Dan ternyata suara itu berasal dari handphone Nando. Disana tertera sebuah nama 'Mamiku tersayang'. Bisa gawat kalau Nando tidak segera dibangunkan.


"Nan,,, Nando,,,, bangun woi." Zaki membangunkan Nando yang tidur di sofa.


"Hmm.." Sahut Nando sepertinya masih malas bangun.


"Hp lo bunyi terus dari tadi. Nyokap telfon." Nando langsung melek. Membuka matanya lebar-lebar dia langsung duduk meraih handphone miliknya.


📞 Ya mih...


📞 Kamu baru bangun? kenapa semalam gak kasih kabar ke Mami begitu sampai di penginapan. Mami kan cemas mikirin kamu.


Nando menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan maminya. Mami Nova memberondong Nando dengan banyak pertanyaan.


📞 Maaf Mih,,, semalam Nando langsung tidur. Nando capek banget


📞 Ya sudah kalau buruan mandi. Terus dandan yang ganteng dan wangi. Biar cewek-cewek pada kesengsem sama jagoan Mami. Awas kalau tidur lagi.


📞 Ayolah Mih,,, Nando bukan anak kecil lagi. Nando udah gede.


📞 Ya ya ya,,,, Mami tau kamu udah gede. Makanya Mamitetap memberi perhatian buat kamu selagi Mami bisa sebelum digantikan istri kamu nantinya. Tapi Mami gak mau ya kalau sampai Aurel yang jadi istri kamu.


📞 Astaga Mami,,, kenapa yang dibahas itu melulu sih?


📞 Pasti sayang. Bye see you honey..


📞 Hmm..


Nando dengan cepat mematikan sambungan teleponnya. Lalu dia melihat beberapa pesan yang masuk dari Mami Nova dan juga Aurel. Tapi ada satu nomor baru yang membuatnya penasaran dan segera membukanya.


✉️ Mas ini nomer saya, Zura. Cewek yang tidak sengaja menabrak mobil mas tadi. Sekali lagi saya minta maaf ya mas 🙏🏻.


Nando tersenyum sangat tipis. Entah apa yang membuatnya melakukan hal itu. Dia tak ingin ada yang melihatnya. Kemudian menyimpan kembali ponselnya di atas meja seperti semula.


"Lo udah mandi Za?." Tanya Nando pada Zaki yang masih betah mengotak atik handphone miliknya.


"Ya kali udah mandi masih acak-acakan gini,,, disini dingin banget. Sama aja kayak puncak Bandung. Pengennya sih selimutan lagi. Gue kebangun gara-gara rebutan selimut sama si kampret, Randy." Jawabnya.


"Emang gak ada akhlak tuh anak. Selimut gue yang bawa, eh dia seenaknya pake." Sambungnya lagi.

__ADS_1


"Bangunin gih semua. Udah jam hampir jam tujuh. Kita harus siap-siap." Kata Nando sebelum menghilang dari balik pintu kamar mandi.


...****...


Semua sudah siap. Semua sudah rapi dan wangi. Semua anggota D'kingson bersiap untuk tampil di SMA negeri Malang.


Tapi sebelum itu, mereka semua melakukan sarapan pagi bersama di salah satu rumah makan di kota tersebut.


Berbeda dengan anggotanya yang duduk bersama dalam meja yang sama. Nando hanya duduk berdua dengan Aurel tanpa ada yang mengganggunya. Malah dua orang pengikut setia Aurel juga duduk terpisah dari mereka. Semua itu tentu saja atas permintaan Aurel.


Aurel tidak ingin kebersamaannya di ganggu orang lain.


"Kamu semalam tidur jam berapa?." Tanya Aurel disela makannya.


"Hampir subuh. Aku gak bisa tidur karena dingin banget terus yang lain pada main game, ngajakin mabar." Jawab Nando tanpa menatap kearah Aurel. Nando lebih asik menikmati sarapannya sambil mengotak-atik handphone.


"Kamu sih gak mau diajak sewa kamar lagi buat kita berdua. Kan suasana sangat mendukung buat saling menghangatkan."


"Jaga bicaramu Aurel." Bentak Nando setengah berbisik. Sambil melirik ke sekitarnya takut ada yang dengar. Meski Aurel berbicara dengan volume rendah.


Kemudian tatapannya beralih ke Aurel. Dengan tatapan tajam. dan tak suka.


"Heran deh sama kamu. Diajakin enak-enak malah gak mau." Aurel ngambek sambil terus menggerutu.


Nando hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam. Agar emosinya reda kembali. Kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri teman-temannya. Dia tak mau mengacaukan moodnya pagi ini. Berdekatan dengan Aurel selalu menguras kesabarannya dan menimbulkan emosi.


"Baiklah anak-anak, setelah ini kita langsung berkumpul di depan ya. Di tempat parkir." Bu Rina memberi aba-aba.


"Iya Bu.."


"Siap Bu.."


Begitulah jawaban dari siswanya.


"Tapi sebelum itu ibu minta kalian mengecek lagi barang-barang yang mesti dibawa. Jangan sampai ada yang tertinggal." Sambungannya lagi.


"Cukup kenangan kita yang tertinggal." Sahut Roy tiba-tiba.


"Huuuu.."

__ADS_1


"Anjoy..."


Sorakan dari teman sekolahnya.


__ADS_2