Story Anak SMA

Story Anak SMA
Kesedihan Zura


__ADS_3

Lima belas menit Zura belum juga sadarkan diri. Ia sedang terbaring di atas brankar UKS sekolah ditemani Tere dan Hafiz. Setelah mendengar kabar meninggalnya sang ibu. Zura pingsan, lalu dibawa ke UKS sekolah.


"Re,,, kamu udah coba kasih minyak angin di hidungnya belum?,," tanya Hafiz. Hafiz adalah murid terteladan dan juga berprestasi di sekolah.


"Oiya,, Fiz aku lupa...." Tere menepuk jidatnya sendiri.


"Ckk,, udah siniin minyak anginnya." Tere memberikan minyak angin itu pada Hafiz.


Kemudian hafiz menuangkan sedikit di jarinya lalu dia ulurkan di depan hidung Zura.


Tak lama kemudian Zura mulai mengerjapkan mata. Dia menyipitkan pandangannya sambil mengingat apa yang terjadi.


"Alhamdulillah,,, kamu sudah sadar Zura.!?!" Zura menoleh kearah Tere dengan tatapan sendu.


Dia mencoba untuk duduk dibantu oleh Hafiz. Sedetik kemudian bahunya bergetar. Zura menangis tanpa suara. Ia sudah mengingat apa yang terjadi padanya.


"Kamu boleh sepuasnya menangis hari ini, Zura. Tapi setelah itu jangan pernah ada lagi air mata." ujar Hafiz semakin membuat Zura terisak. Maju satu langkah, tangannya tanpa permisi menyingkirkan helai-helai rambut Zura yang menghalangi wajah cantiknya. Lalu mengelus-elus kepala Zura lembut. Sungguh Hafiz benci melihat gadis yang disayanginya terlihat begitu hancur dan menyedihkan.


Sudah sejak lama Hafiz menaruh perasaan terhadap Zura. Namun Hafiz tak berani jujur tentang perasaanya. Asal bisa dekat dengan Zura, selalu ada disampingnya dan melihat Zura tersenyum itu sudah cukup baginya. Meski hanya di anggap sebagai sahabat. Itu lebih baik daripada setelah dia jujur tentang perasaanya pada Zura malah akan membuat persahabatannya hancur.


Namun bila suatu saat Zura memiliki perasaan yang sama terhadapnya, Hafiz akan menerimanya dengan senang hati.


"Re,,," Rere tersenyum tipis menatap Zura. Walau begitu lirih tetapi masih terdengar jelas.


"Kamu kuat Zura. Kita bakal selalu ada untuk kamu, disamping kamu." ujar Tere kemudian memeluk Zura dari samping.


"Antar aku pulang Re..." pinta Zura.


Hafiz memegang pundak Zura memberi kekuatan.


"Sekarang aku sama Rere, juga Bu Indri akan mengantar kamu pulang. Kita siapkan proses pemakaman ibu bareng-bareng." tanpa mengeluarkan suara, Zura menanggapinya dengan anggukan.


...****...


"Kemana dia?!,,," Nando bergumam dalam hati. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari seseorang.

__ADS_1


Dia dan D'kingson baru selesai menunjukkan penampilan diatas panggung. Nando kembali mengedarkan pandangannya mencari sosok Zura. Gadis itu tak kelihatan batang hidungnya lagi setelah pertemuan mereka yang tidak disengaja tadi.


"Kamu kenapa sih beib???,,, kayak lagi nyari seseorang gitu." Nando menoleh kearah Aurel.


"Gapapa.." Jawabnya singkat.


"Ahh,,, ngapain juga gue mikirin tu cewek." Nando bermonolog dalam hati.


"Oke.. penampilan selanjutnya,, persembahan perwakilan dari tuan rumah. Yaitu perwakilan dari sekolah SMA negeri Malang. Kita beri tepuk tangan yang meriah untuk Auzura Kamila,,." Nando menoleh ke panggung. Tempat dimana pembawa acara memanggil nama Zura. Gadis yang dari tadi dia cara keberadaannya.


1 menit..


3 menit..


Namun Zura belum juga menampakan diri. Yang terlihat salah seorang lelaki paruh baya memakai seragam guru membisikkan sesuatu pada sang MC.


"Baik adik-adik,,, kami minta maaf karena Zura berhalangan hadir karena baru saja terkena musibah. Jadi acara kita lanjutkan dengan penampilan berikutnya." Setelah itu Nando tidak fokus lagi mendengar apa yang disampaikan oleh pembawa acara tersebut. Nando sibuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi sama Zura.


"Apa yang terjadi sama dia???!!!" dalam hati Nando bertanya-tanya. Gak tau kenapa, setelah bertemu lagi dengan Zura tadi ada rasa aneh dalam dirinya.


"Emang gadis pembawa sial si Zura. Tapi bagus deh kalau dia udah pergi. Gak penting juga dia ada disini." kata Aurel dalam hati.


"Lebih baik kita cari Bu Rina sama yang lain dulu." Kata Zaki.


"Sekarang??.." Tanya Rama.


"Kamu nanyea? kamu bertanya-tanya.?" Roy menjawabnya dengan menirukan suara yang lagi viral.


"Jangan lupa join live ya. Raaawwrr..." sambungnya lagi membuat hingga kepalanya ditoyor Rama.


"Ancuk,,, lebai lo njirr,," umpat Rama kesal.


"Gak jelas banget." Cibir Aurel. "Yuk beib,,,!!" seperti biasa, Aurel bergelayut manja di lengan Nando. Berjalan lebih dulu meninggalkan teman-teman Nando yang masih di belakang.


...***...

__ADS_1


Huaaaa..


"Ibuuukk.." rengek Zura dengan suara serak. Ia menatap batu nisan yang terukir nama Bu Asih dan mengusapnya.


"Kenapa ibuk tega ninggalin Zura sendirian?? siapa yang akan menemani hari-hari Zura buk??!,," Zura terisak lirih. "Maafin Zura karena gak bisa bawa ibuk berobat ke rumah sakit yang bagus. Maafin Zura buuukk..."


Zura mencium batu nisan tersebut cukup lama. Ia memejamkan membiarkan bulir matanya terus menetes. Menumpahkan segala rasa sedih yang begitu menyesakkan dada.


Para tetangga yang ikut menguburkan jenazah bu Asih langsung pulang begitu pemakaman selesai. Kini tinggal Zura yang masih setia duduk disana, memeluk batu nisan yang bertuliskan nama sang ibu. Rere dan Hafiz berdiri di belakang Zura. Mereka membiarkan Zura menangis menjeritkan luka dihatinya.


"Hiiikkks,, Zura sama siapa??"


Sungguh hati Hafiz ikut sakit mendengar rintihan Zura. Hafiz dan Rere adalah saksi perjuangan Zura. Bagi Hafiz Zura adalah perempuan yang kuat, pintar, dan mandiri. Dia tak pernah mengeluh atau menyusahkan orang lain. Zura pekerja keras. Selalu menomor duakan diri sendiri.


"Ra,,, biarkan ibuk tenang ya. Kamu harus ikhlas. Jangan terus larut dalam kesedihan. Ibuk pasti sedih liat kamu seperti ini." berjongkok sambil merangkul pundak Zura. Hafiz pelan-pelan memberikan pengertian untuk Zura.


"Iya Ra,,, apa yang Hafiz omongin itu benar. Mending sekarang kita pulang ya." kata Tere."Mm,, kayaknya bentar lagi hujan." lanjut Tere.


Zura hanya diam. Tetapi ia menurut saja saat Tere menarik tangannya untuk bangkit dan menuntunnya berjalan meninggalkan makam.


Mereka pulang kerumah dengan berjalan kaki. Kebetulan jarak pemakaman dan rumah Zura tak begitu jauh. Kurang lebih hanya 200 meter.


Begitu sampai rumah Zura di kagetkan dengan kedatangan Om-nya, Gunawan. Om Gunawan adik kandung bu Asih. Beliau adalah ayah dari Aurel. Sebenarnya om Gunawan orang yang baik dan peduli terhadap keluarga kakaknya. Tetapi semenjak menikah dengan orang kota beliau sangat jarang pulang ke Malang. Bahkan seumur Zura beliau hanya berkunjung 3-4 kali. Itupun hanya mampir sebentar bila ada perjalanan bisnis keluar kota. Dan yang pasti tanpa sepengetahuan tante Lidia, istrinya.


Keluarga istri om Gunawan termasuk salah satu orang terpandang di Jakarta. Yang jelas mereka gengsi, mereka malu mengakui Zura dan ibunya sebagai bagian dari keluarga mereka juga.


"Zura,," sapa om Gunawan begitu melihat Zura berdiri diambang pintu.


Om Gunawan bergegas menghampiri Zura. Lalu memeluk Zura dengan penuh kasih sayang. Om Gunawan seakan ikut merasakan kesedihan Zura. Beliau juga merasa kehilangan atas kepergian kakak kandungnya. Sekaligus merasa bersalah sebab tak bisa membantu dan juga mengurus kakaknya saat sedang sakit.


"Maaf,, om baru datang sekarang. Kamu yang sabar ya nak." lagi-lagi Zura hanya diam tanpa ingin memberi jawaban. Zura tau posisi om-nya tanpa harus dijelaskan.


"Kalian temannya Zura?!." mengurai pelukannya lalu mengajak Zura duduk. Om Gunawan bertanya pada Hafiz dan juga Tere yang berdiri di belakang Zura.


"Iya Om" jawab keduanya barengan.

__ADS_1


"Om mau minta tolong sama kalian. Tolong jaga Zura untuk sementara waktu ya. Om titip Zura pada kalian." om Gunawan menghela nafas panjang setelah mengatakan hal tersebut.


"Om ndak perlu khawatir akan itu. Karena kita selalu ada disamping Zura." tegas hafiz. Om Gunawan rada tersentil hatinya mendengar jawaban Hafiz. Semakin merasa malu karena malah menitipkan Zura pad teman-temannya.


__ADS_2