Story Of Elsa

Story Of Elsa
Episode 1


__ADS_3

Cuaca yang bersahabat dimalam ini. Semilir angin malam yang cukup


dingin namun menyegarkan. Langit yang dipenuhi oleh bintang-bintang yang


bertaburan. Suara kendaraan yang melaju tak seriuh ketika siang hari karena


waktu mulai merangkak menuju malam.


Elsa Amelia berjalan menuju taman kota. Dia memutuskan untuk tidak


langsung pulang setelah bekerja, karena di rumah dia sedang sendirian. Dia


tinggal bersama ibu dan adiknya. Saat ini ibu dan adiknya sedang pergi


menenggok saudaranya yang sedang sakit. Mereka dipastikan akan menginap karena


jarak yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Bahkan membutuhkan waktu sampai


tiga jam untuk sampai ketempat saudaranya tersebut menggunakan kereta lalu


berganti menggunakan mini bus.


Elsa berhenti sejenak dan duduk dibangku pinggir taman kota yang


sepi sambil menghadap ke jalan raya. Dia mengeluarkan snak untuk menemani


kesendiriannya, yang tadi telah dia beli di supermarket. Ketika Elsa sedang


menikmati semilir angin malam dan memakan beberapa snak, tiba-tiba pandangannya


tertuju kepada sesosok wanita yang mencuri perhatiannya. Wanita itu berjalan


dengan lamban. Wanita yang sedang dia diperhatikan tiba-tiba saja ambruk di


trotoar sebrang jalan. Bergegas Elsa menghampiri wanita tersebut.


“Nyonya ... nyonyah tidak apa-apa ? Dimana yang sakit ? Apa ada


yang bisa saya bantu?” ucap Elsa dengan nada panik sambil berjongkok lalu


menyenderkan bahu wanita tersebut ke tubuhnya.


Dengan wajah yang sedikit lemah dan tanpa suara  wanita setengah baya ini hanya terdiam  memegangi bagian kepalanya menahan sakit yang dia


rasakan. Seketika itu juga wanita setengah baya itu justru tak sadarkan diri.


Sontak keadaan ini membuat Elsa kebinggungan ‘apa yang harus aku


lakukan. Mengapa nyonya ini pingsan’. Diapun meneggok kanan dan kiri mencari


bantuan untuk membawa wanita setengah baya tersebut ke dalam sebuah taksi,


karena Elsa memutuskan untuk mengajak wanita ini ke rumah sakit.


--


Ketika telah sampai di rumah sakit A wanita setengah baya ini


langsung dibawa ke dalam ruang IGD.


“Mohon nona mendaftarkan pasien terlebih dahulu, kami akan segera


menangani pasien ini” perawat menahan Elsa untuk masuk ke dalam ruang IGD.


Elsa duduk bangku yang ada di luar ruangan IGD sambil menunduk


memegang kepalanya menggunakan kedua tangannya. “Bagaimana aku mengurus data


diri wanita tersebut? Namanya saja aku tidak tau, apalagi alamatnya, bagaimana ini


...” ucapnya lirih.


Setelah beberapa saat perawat yang tadi menangani nyonya tersebut


akhirnya keluar dari ruang IGD. Elsa menghampiri “Bagaimana kondisi wanita tadi?”

__ADS_1


tanya Elsa dengan suara yang terdengar sangat panik.


Perawat tersebut hanya berkata “Tenang saja, pasien tersebut masih


pingsan namun sudah kami tangani untuk saat ini. Sudahkah nona mengurus data


diri pasien?” jawab perawat tersebut sambil bertanya kepada Elsa.


Elsa menggelengkan kepalanya dengan mimik muka yang sedih. “Begini,


sebenarnya saya tadi hanya menemukan wanita tersebut di tengah jalan ketika dia


terjatuh. Karena dia pingsan maka saya bawa dia ke rumah sakit ini. Saya juga


tidak mengenal wanita tersebut.”


“Oww begitu, namun jika nyonya tersebut ingin segera kami tangani


lebih lanjut maka kami butuh data diri pasien dan orang yang bertanggung jawab


sebagai wali ketika kami melakukan tindakan selanjutnya kepada pasien tersebut.


Kami mohon kepada nona untuk segera menggurusnya.” Kata perawat tersebut dengan


nada yang halus namun tegas.


“Bolehkah saya menemui pasien tersebut terlebih dahulu, mungkin


saya bisa menemukan data diri yang ada di dalam tas yang dia bawa”


“Silahkan nona” kata perawat tersebut lalu meninggalkan Elsa.


Elsa melangkah mendekati ranjang milik wanita setengah baya


tersebut dengan sangat hati-hati. Elsa duduk dikursi yang ada di sebelah


ranjang. Dilihatlah wanita tersebut sedang tertidur lelap dengan selang infus


yang menempel di tangan kirinya.


dalam hati. Elsa melihat tas berwarna hitam yang terletak dimeja sebelah tempat


nyonya tersebut berbaring.


“Maafkan saya nyonya, saya akan membuka tas yang anda bawa, untuk


mencari identitas nyonya”


Elsa akhirnya mengambil tas tersebut dan ia letakkan di pangkuannya.


Dia lalu membuka tas tersebut dan mencari dompet untuk melihat identitas wanita


tersebut. Dilihatnya dalam dompet tersebut, banyak sekali kartu yang ada. Lebih


dari 10 kartu yang ada didompet tersebut mulai dari kartu atm, kartu kredit, dan


lain-lain. Elsa hanya membutuhkan sebuah kartu, yaitu kartu identitas wanita


ini.


Diulangi beberapa kali ternyata Elsa tidak menemukannya kartu


identitas yang dia butuhkan. Namun Elsa teringgat ada sebuah kartu yang


bertulisakan “Kartu Tanda Penduduk” namun bukanlah bertuliskan kartu identitas


warga Jepang.


Elsa kaget melihat ktp tersebut lalu dibacanya kata “Republik Indonesia”


dengan mulut yang mengangga lalu seketika ia tutup dengan salah satu tangannya.


Elsa terdiam beberapa saat.


Namun seketika Elsa tersadarkan dengan bunyi suara handphone yang

__ADS_1


ada di dalam tas yang sedang dipangku olehnya. Elsa mendengarakan suara nada


dering yang berbunyi. “Ini bukan nada dering milik ponsel ku, tapi suara nada


dering ini sangat dekat. Mungkin... ini bunyi ponsel milik wanita ini” dia


berbicara sendiri.


Dia akhirnya meraba tas yang ada dipangkuannya. Diambilah


handphone yang berbunyi tersebut. Dilihatnya layar handphone tersebut dan


bertulisakan nama yaitu Bima.


“Mungkin ini dari anak wanita ini dan mungkin dia sangat khawatir”


Elsa berpikiran seperti itu karena kondisi saat ini sudah larut jam diponselnya


tersebut menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit dan wanita ini belum


sampai dirumahnya. Dengan cepat Elsa langsung mengangat panggilan tersebut.


“Hallo” Elsa mengawali pembicaraan


“Hallo, dengan siapa ini?” Saut Bima, dengan suara yang


terdengar curiga. Karena dia merasa suara yang berasal berasal dari ponsel


tersebut bukanlah suara yang dia kenal.


“I-iya ini saya Elsa, tadi saya menemukan orang yang memiliki


ponsel ini pingsan didekat taman kota. Jadi saya langsung membawanya ke rumah


sakit A. Sekarang dia sedang ada di ruang IGD ” Elsa langsung menerangkan


keadaan wanita yang sedang sakit tersebut, agar tidak menimbulkan kekhawatiran


bagi pria diseberang sana.


“Oke baiklah, kalau begitu saya minta tolong kepada kamu untuk segera


memindahkan nyonya Maya ke dalam ruang VVIP yang ada dalam rumah sakit A. Pastikan


nyonya ditangani oleh dokter yang terbaik di rumah sakit tersebut. Saya akan


segera datang, mungkin 30 menit saya akan sampai. Saya mohon nona jangan


meninggalkannya” perintah Bima kepada Elsa dengan suara yang khawatir.


‘Jadi namanya nyonya Maya’ ucap Elsa dalam hati.


“Baiklah tuan”


Elsa akhirnya tenang karena dia telah lega, akhirnya wanita yang


sedang berbaring di tempat tidur ini akan segera didampingi oleh keluarganya.  Akhirnya Elsa menutup panggilan dari Bima.


“Tunggu sebentar yaa nyonya, keluarga anda akan segera datang”


bisikan Elsa kepada nyonya Maya yang masih terlelap tidur.


Elsa akhirnya menuju tempat pendaftaran pasien dalam rumah sakit


tersebut. Ketika Elsa sedang mengisi formulir data diri pasien dalan kolom


tertulis kewarganegaraan, kemudian Elsa menuliskan Indonesia.


Dan saat ini Elsa hanya tersenyum lebar. Ada banyak bayangan yang


hadir ketika Elsa menyebut kata ‘Indonesia’. Elsa tiba-tiba melamun


pikirannya terbayang masa lalunya. Kebahagiaan, kenangan, kesedihan, kemalangan,


perpisahan dan yang jelas dalam pikirannya adalah kerinduan.

__ADS_1


“Sudah lama kita berpisah” ucapnya penuh kerinduan.


__ADS_2