
Cuaca yang bersahabat dimalam ini. Semilir angin malam yang cukup
dingin namun menyegarkan. Langit yang dipenuhi oleh bintang-bintang yang
bertaburan. Suara kendaraan yang melaju tak seriuh ketika siang hari karena
waktu mulai merangkak menuju malam.
Elsa Amelia berjalan menuju taman kota. Dia memutuskan untuk tidak
langsung pulang setelah bekerja, karena di rumah dia sedang sendirian. Dia
tinggal bersama ibu dan adiknya. Saat ini ibu dan adiknya sedang pergi
menenggok saudaranya yang sedang sakit. Mereka dipastikan akan menginap karena
jarak yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Bahkan membutuhkan waktu sampai
tiga jam untuk sampai ketempat saudaranya tersebut menggunakan kereta lalu
berganti menggunakan mini bus.
Elsa berhenti sejenak dan duduk dibangku pinggir taman kota yang
sepi sambil menghadap ke jalan raya. Dia mengeluarkan snak untuk menemani
kesendiriannya, yang tadi telah dia beli di supermarket. Ketika Elsa sedang
menikmati semilir angin malam dan memakan beberapa snak, tiba-tiba pandangannya
tertuju kepada sesosok wanita yang mencuri perhatiannya. Wanita itu berjalan
dengan lamban. Wanita yang sedang dia diperhatikan tiba-tiba saja ambruk di
trotoar sebrang jalan. Bergegas Elsa menghampiri wanita tersebut.
“Nyonya ... nyonyah tidak apa-apa ? Dimana yang sakit ? Apa ada
yang bisa saya bantu?” ucap Elsa dengan nada panik sambil berjongkok lalu
menyenderkan bahu wanita tersebut ke tubuhnya.
Dengan wajah yang sedikit lemah dan tanpa suara wanita setengah baya ini hanya terdiam memegangi bagian kepalanya menahan sakit yang dia
rasakan. Seketika itu juga wanita setengah baya itu justru tak sadarkan diri.
Sontak keadaan ini membuat Elsa kebinggungan ‘apa yang harus aku
lakukan. Mengapa nyonya ini pingsan’. Diapun meneggok kanan dan kiri mencari
bantuan untuk membawa wanita setengah baya tersebut ke dalam sebuah taksi,
karena Elsa memutuskan untuk mengajak wanita ini ke rumah sakit.
--
Ketika telah sampai di rumah sakit A wanita setengah baya ini
langsung dibawa ke dalam ruang IGD.
“Mohon nona mendaftarkan pasien terlebih dahulu, kami akan segera
menangani pasien ini” perawat menahan Elsa untuk masuk ke dalam ruang IGD.
Elsa duduk bangku yang ada di luar ruangan IGD sambil menunduk
memegang kepalanya menggunakan kedua tangannya. “Bagaimana aku mengurus data
diri wanita tersebut? Namanya saja aku tidak tau, apalagi alamatnya, bagaimana ini
...” ucapnya lirih.
Setelah beberapa saat perawat yang tadi menangani nyonya tersebut
akhirnya keluar dari ruang IGD. Elsa menghampiri “Bagaimana kondisi wanita tadi?”
__ADS_1
tanya Elsa dengan suara yang terdengar sangat panik.
Perawat tersebut hanya berkata “Tenang saja, pasien tersebut masih
pingsan namun sudah kami tangani untuk saat ini. Sudahkah nona mengurus data
diri pasien?” jawab perawat tersebut sambil bertanya kepada Elsa.
Elsa menggelengkan kepalanya dengan mimik muka yang sedih. “Begini,
sebenarnya saya tadi hanya menemukan wanita tersebut di tengah jalan ketika dia
terjatuh. Karena dia pingsan maka saya bawa dia ke rumah sakit ini. Saya juga
tidak mengenal wanita tersebut.”
“Oww begitu, namun jika nyonya tersebut ingin segera kami tangani
lebih lanjut maka kami butuh data diri pasien dan orang yang bertanggung jawab
sebagai wali ketika kami melakukan tindakan selanjutnya kepada pasien tersebut.
Kami mohon kepada nona untuk segera menggurusnya.” Kata perawat tersebut dengan
nada yang halus namun tegas.
“Bolehkah saya menemui pasien tersebut terlebih dahulu, mungkin
saya bisa menemukan data diri yang ada di dalam tas yang dia bawa”
“Silahkan nona” kata perawat tersebut lalu meninggalkan Elsa.
Elsa melangkah mendekati ranjang milik wanita setengah baya
tersebut dengan sangat hati-hati. Elsa duduk dikursi yang ada di sebelah
ranjang. Dilihatlah wanita tersebut sedang tertidur lelap dengan selang infus
yang menempel di tangan kirinya.
dalam hati. Elsa melihat tas berwarna hitam yang terletak dimeja sebelah tempat
nyonya tersebut berbaring.
“Maafkan saya nyonya, saya akan membuka tas yang anda bawa, untuk
mencari identitas nyonya”
Elsa akhirnya mengambil tas tersebut dan ia letakkan di pangkuannya.
Dia lalu membuka tas tersebut dan mencari dompet untuk melihat identitas wanita
tersebut. Dilihatnya dalam dompet tersebut, banyak sekali kartu yang ada. Lebih
dari 10 kartu yang ada didompet tersebut mulai dari kartu atm, kartu kredit, dan
lain-lain. Elsa hanya membutuhkan sebuah kartu, yaitu kartu identitas wanita
ini.
Diulangi beberapa kali ternyata Elsa tidak menemukannya kartu
identitas yang dia butuhkan. Namun Elsa teringgat ada sebuah kartu yang
bertulisakan “Kartu Tanda Penduduk” namun bukanlah bertuliskan kartu identitas
warga Jepang.
Elsa kaget melihat ktp tersebut lalu dibacanya kata “Republik Indonesia”
dengan mulut yang mengangga lalu seketika ia tutup dengan salah satu tangannya.
Elsa terdiam beberapa saat.
Namun seketika Elsa tersadarkan dengan bunyi suara handphone yang
__ADS_1
ada di dalam tas yang sedang dipangku olehnya. Elsa mendengarakan suara nada
dering yang berbunyi. “Ini bukan nada dering milik ponsel ku, tapi suara nada
dering ini sangat dekat. Mungkin... ini bunyi ponsel milik wanita ini” dia
berbicara sendiri.
Dia akhirnya meraba tas yang ada dipangkuannya. Diambilah
handphone yang berbunyi tersebut. Dilihatnya layar handphone tersebut dan
bertulisakan nama yaitu Bima.
“Mungkin ini dari anak wanita ini dan mungkin dia sangat khawatir”
Elsa berpikiran seperti itu karena kondisi saat ini sudah larut jam diponselnya
tersebut menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit dan wanita ini belum
sampai dirumahnya. Dengan cepat Elsa langsung mengangat panggilan tersebut.
“Hallo” Elsa mengawali pembicaraan
“Hallo, dengan siapa ini?” Saut Bima, dengan suara yang
terdengar curiga. Karena dia merasa suara yang berasal berasal dari ponsel
tersebut bukanlah suara yang dia kenal.
“I-iya ini saya Elsa, tadi saya menemukan orang yang memiliki
ponsel ini pingsan didekat taman kota. Jadi saya langsung membawanya ke rumah
sakit A. Sekarang dia sedang ada di ruang IGD ” Elsa langsung menerangkan
keadaan wanita yang sedang sakit tersebut, agar tidak menimbulkan kekhawatiran
bagi pria diseberang sana.
“Oke baiklah, kalau begitu saya minta tolong kepada kamu untuk segera
memindahkan nyonya Maya ke dalam ruang VVIP yang ada dalam rumah sakit A. Pastikan
nyonya ditangani oleh dokter yang terbaik di rumah sakit tersebut. Saya akan
segera datang, mungkin 30 menit saya akan sampai. Saya mohon nona jangan
meninggalkannya” perintah Bima kepada Elsa dengan suara yang khawatir.
‘Jadi namanya nyonya Maya’ ucap Elsa dalam hati.
“Baiklah tuan”
Elsa akhirnya tenang karena dia telah lega, akhirnya wanita yang
sedang berbaring di tempat tidur ini akan segera didampingi oleh keluarganya. Akhirnya Elsa menutup panggilan dari Bima.
“Tunggu sebentar yaa nyonya, keluarga anda akan segera datang”
bisikan Elsa kepada nyonya Maya yang masih terlelap tidur.
Elsa akhirnya menuju tempat pendaftaran pasien dalam rumah sakit
tersebut. Ketika Elsa sedang mengisi formulir data diri pasien dalan kolom
tertulis kewarganegaraan, kemudian Elsa menuliskan Indonesia.
Dan saat ini Elsa hanya tersenyum lebar. Ada banyak bayangan yang
hadir ketika Elsa menyebut kata ‘Indonesia’. Elsa tiba-tiba melamun
pikirannya terbayang masa lalunya. Kebahagiaan, kenangan, kesedihan, kemalangan,
perpisahan dan yang jelas dalam pikirannya adalah kerinduan.
__ADS_1
“Sudah lama kita berpisah” ucapnya penuh kerinduan.