
Malam semakin larut. Jam dinding rumah sakit menunjukkan pukul sembilan
lebih empat puluh malam. Maya sudah dipindahkan di ruang VVIP. Laki-laki yang
bernama Bima yang Elsa tunggu tak juga kunjung datang.
‘Tidak kesasar kan dia mencari rumah sakit A’ gerutu Elsa sambil
duduk bersandar di sofa ruangan VVIP. Sebelumnya,
Elsa telah mengirim pesan kepada Bima, dimana nyonya Maya dirawat.
Datanglah seorang dokter yang terlihat berusia lima puluh tahun
dan seorang perawat perempuan mendampinginya memasuki ruangan tersebut. Perawat
itu meminta Elsa untuk meninggalkan ruangan ketika dokter tersebut sedang
memeriksa Maya.
Setelah memeriksa nyonya Maya beberapa saat akhirnya dokter dan perawat tersebut keluar dari ruangan lalu
menghampiri Elsa “anda adalah wali dari pasien yang bernama nyonya Maya?”.
“I-iya, bagaimana kondisi nyonya Maya”
“Begini nona sepertinya kami harus memeriksa lebih mendalam
kondisi nyonya Maya. Dari pemeriksaan yang telah tim kami peroleh sepertinya nyonya
Maya menderita penyakit Vertigo. Ini adalah kondisi yang membuat penderita
mengalami pusing, sampai merasa dirinya atau sekelilingnya berputar.” Dokter
menjelaskan secara detail tanpa basa-basi.
“kami akan memeriksa lebih lanjut kondisi nyonya Maya apabila dia
telah sadar. Jadi jika nanti nona Maya sudah sadar segera hubungi kami” imbuh
dokter tersebut.
“baik dok, terimakasih”
Elsa kembali memasuki ruang VVIP yang ditempati nyonya Maya. Dia
lalu menghampiri ranjang yang terdapat sosok nyonya Maya yang sedang tertidur. Elsa
duduk disamping kanannya sambil memandangi wajah nyonya Maya lalu mengenggam
tangannya.
Entah apa yang dipikirkan Elsa saat ini. Mengapa dia memegang
tangan wanita ini. Mungkin Elsa merasa kasihan. Elsa sudah mulai menguap ketika
dia telah merasa bosan menunggu Bima. Tak terasa dia tiba-tiba tertidur
disebelah ranjang nyonya Maya sambil kepalanya bersender di ranjang nyonya Maya.
Bima akhirnya sampai di ruangan Maya. Dia kemudian masuk. Ketika
sampai di dalam. Dilihatlah nyonya Maya yang sedang berbaring, sedangkan
disebelahnya terdapat sesosok wanita yang tertidur sambil memegang tangan
nyonya Maya.
“nyonya telah sadar” Bima mendekati ranjang rumah sakit itu.
Maya hanya memberi isyarat menganggukan kepalanya. Karena masih
merasa pusing dan lemah.
“apakah saya perlu memanggil dokter saat ini nyonya?”
“tidak perlu Bim” dengan nada lirih. “siapa dia Bim?”
”dia adalah wanita yang menemukan anda ketika pingsan di jalan
dekat taman kota, nyonya”
Tubuh Elsa mulai mengeliat karena merasakan posisi tidur yang
tidak nyaman. Dia membuka mata, lalu dilihatnya wanita yang berbaring diranjang
rumah sakit ini ternyata sudah sadar. Selain itu di depanya juga terdapat sosok
laki-laki bertubuh tegap dengan berpakaian santai ‘ini mungkin yang bernama Bima’.
Tangan Elsa masih memegang tangan nyonya Maya “bagaimana kondisi
anda, nyonya. Apakah masih pusing. Saya akan panggilkan dokter dulu yaa nyonya”
Elsa berbicara dengan nada khawatir dan cepat.
Ketika Elsa hendak bangkit dari tempatnya, tiba-tiba nyonya Maya
meraih tangannya dengan erat. Sehingga Elsa mengurungkan niatnya untuk bangkit.
Dipandangnya wajah nyonya Maya dengan
binggung.
“terima kasih telah menolong saya” ituah kata pertama yang Elsa
dengar dari mulut nyonya Maya.
__ADS_1
“iya nyonya”
“siapa namamu? Dan cukup kamu pangil saya tante Maya”
“saya Elsa. Begini nyonya eh... maksud saya tante, tadi dokter
berpesan kepada saya, jika anda sudah sadar maka saya harus segera memanggilnya
agar dapat memeriksa kondisi anda lebih lanjut” Elsa menyampaikan pesan dari
dokter.
“baiklah saya saja yang akan memanggil dokter” sahut Bima
Dokter telah selesai memeriksa kondisi Maya. Pihak keluarganya
juga sudah menemani, akhirnya Elsa memohon pamit untuk pulang. Maya sebenarnya
melarang Elsa untuk pulang karena hari sudah larut malam dan terlalu berbahaya
jika seorang wanita pulang sendirian. Namun Elsa bersikukuh tetap ingin pulang.
Akhirnya nyonya Maya menyuruh Bima untuk mengantarkan Elsa pulang.
Elsa menolak karena tidak ingin merepotkan dan tidak ingin nyonya Maya
sendirian di rumah sakit. Namun nyonya Maya tetap memakasa agar Elsa mau pulang
diantar Bima. Elsa akhirnya menyetujui perminaan Maya.
Elsa mengambil barangnya yang tadi dia bawa. Dia mendekati ranjang
Maya untuk berpamitan. Ketika dia berpamitan, Maya berpesan kepada Elsa “besok
jika ada waktu sempatkanlah menenggok tante sebentar ya nak. Tante merasa
bahagia jika kamu mau berkunjung ke sini” sambil menggenggam tangan Elsa .
“baik tante akan saya usahakan”
---
Cahaya matahari menembus jendela yang berada di kamar Elsa.
Kehangatan sinarnya mulai menghangatkan raganya. Elsa mengeliat, tidak lama
kemudian dia duduk di ranjangnya. Mulutnya membuka lebar karena masih merasa
ngantuk. “ahh...h, sudah siang rupanya”. Elsa mengosok kedua matanya lalu
berlanjut merapikan rambutnya.
Dia kali ini bangun kesiangan. jam dinding telah menunjukan pukul
delapan lebih empat puluh lima menit. Dia tidak biasanya bangun siang, mungkin
memejamkan mata pukul sebelas malam. Jika ibunya mengetahui Elsa bangun
kesiangan pasti dia akan diomeli.
Elsa bekerja di supermarket yang terletak didekat rumahnya. Dia
sebenarnya sedang menunggu pangilan pekerjaan dari beberapa perusahaan. Dari pada
membuang-buang waktu berdiam diri di rumah, maka dia memutuskan bekerja part
time di salah satu supermarket.
Elsa hari ini memperoleh sif siang. Jadi dia masih bisa
bermalas-malasan di kamarnya. Namun kali
ini dia tidak mau lama-lama bermalas-malasan, karena baginya bermalas-malasan
itu bukanlah ciri-ciri orang yang sukses. Dia bangun langsung membersihkan
kamar dan ruangan seisi rumahnya.
---
Keadaan Maya sudah mulai membaik. Dilihat dari mulai mimik muka
yang sudah tidak terlalu pucat dan suara yang terdengan bersemangat.
“nyonya tadi tuan muda menghubungi saya, dan menanyakan mengapa
nyonya tidak bisa dihubungi. Selanjutnya tuan juga menanyakan kapan nyonya akan
pulang.”
“kamu tidak mengatakan bahwa saya dirawat di rumah sakit kan?”
“tidak nyonya, saya hanya mengatakan bahwa anda sedang sibuk
mengurus pengembangan cabang bisnis di sini”
“bagus Bim, saya tidak ingin mereka khawatir di sana jika
mendengar saya sakit”
Maya berharap hari ini gadis yang bernama Elsa akan mengunjunginya.
Namun sampai malam menjelang gadis itu belum menampakkan diri di rungannya.
Terlihat raut kekecewaan yang tersirat dalam mimik muka Maya.
Hari berganti Maya masih berharap Elsa akan datang mengunjunginya.
__ADS_1
Maya sangat menanti kedatangannya. Masih ada ganjalan yang ada dihatinya karena
dia belum membalas budi gadis tersebut. Bima
diminta oleh Maya untuk meninggalkannya agar mengurus perusahaannya yang saat
ini sedang dia tinggalkan.
“selamat siang tante” Elsa tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Maya.
“Elsa, tante kangen banget sama kamu. Akhirnya kamu dateng juga.”
Elsa mendekati ranjang Maya sambil meletakkan parcel buah yang dia
bawa. Tiba-tiba Maya langsung membuka dadanya sambil menulurkan kedua tanganya
seperti minta dipeluk. Akhirnya Elsa memeluk tubuh Maya. Elsa minta maaf
kemarin tidak dapat mengunjungi Maya karena dia ada jadwal kerja.
Akhirnya mereka bertukar cerita, Maya juga sangat bahagia. Dia
bahagia karena ada Elsa yang mau
mendengarkan ceritanya. Maya tak pernah memiliki teman curhat selama ini karena
anak-anaknya sibuk dengan dunianya sendiri.
“tante Elsa boleh tanya”
“boleh dong sayang”
“kemarin ketika Elsa melihat identitas tante untuk keperluan
pendaftaran pasien, Elsa menemukan identitas tante bertuliskan Indonesia. Tante
orang Indonesia?”
“iya sayang tante orang Indonesia, tante di Jepang hanya untuk
keperluan bisnis. Mungkin tidak sampai seminggu tante bakalan balik ke Indonesia.
Kenapa sayang? Mau ikut tante?” tanya Maya basa-basi sambil teertawa.
“sebenarnya Elsa aslinya orang Indonesia juga lho tante”
“yang benar sayang?” Maya terkejut.
“iya tante, kapan-kapan kalau ada waktu, Elsa ceritakan deh
mengapa Elsa bisa terdampar di sini” Elsa berkata sambil tertawa.
Maya kaget dengan pernyataan Elsa. Namun kekagetan itu berubah
menjadi senyuman. Sepertinya Maya memiliki rencana yang terselubung dengan Elsa.
Sinar matahari yang menyinari siang tadi telah berganti menjadi sinar
rembulan yang ditemani gemintang yang menghiasi langit malam. Elsa masih setia
menemani Maya karena Bima belum juga kembali.
Bima memasuki ruangan Maya. Dia mendengar tawa yang memenuhi
ruangan tersebut. ‘nyonya tertawa dengan siapa? Apakah nona Elsa kemari?’.
Benar ternyata ada nona Elsa.
Tak lama kemudian mereka menyadari kehadiran Bima.
“baru dateng kamu Bim, gimana urusan di kantor sudah selesai?”
“sudah nyonya”
“baguslah, kamu istirahat terlebih dahulu sana Bim”
Setelah Bima datang, Elsa langsung meminta untuk pulang agar tidak
terlalu larut malama. Maya sebenarnya berat melepaskan Elsa, namun dia juga
tidak erhak untuk melarang Elsa untuk
pulang. Akhirnya Maya mengijinkan dan meminta nomor phonsel Elsa.
“Bim, Elsa kamu antarkan sana!”
“tidak usah tante, kasihan Bima juga baru saja datang. Biarkan Bima
menemani tante saja. Elsa pulang dulu ya tante. Kalau ada yang bisa Elsa bantu
hubungi Elsa ya tante” Elsa berpamitan sambil memeluk Maya. Elsa akhirnya
meninggalkan ruangan Maya.
“Bim, aku sepertinya suka dengan gadis itu. Dia ternyata orang Indonesia.
Dia sepertinya sangat baik dan penyayang. Bagaimana menurutmu?”
“kelihatannya seperti itu nyonya”
“semoga kali ini aku tidak salah ya Bim”
Bima merasa ada yang aneh
dari kalimat yang nyonya Maya lontrakan. ‘Apa sebenarnya maksud dari kalimat
itu’.
__ADS_1