
“Vin mau gak mama kenalin sama teman mama? Masih muda kok Vin,
cukup cantik, baik, sopan, penyayang dan perhatian. Mama aja suka lihatnya”
‘Kalau mama suka mending buat mama aja’Alvin berbisik dalam
hatinya dengan kesal.
Percakapan Maya dengan Alvin akhirnya berakhir. Setelah meletakan
hpnya Maya merasa bahagian karena karena berhasil membuat Alvin kesal. Maya
berencana ingin mengerjai anaknya yang satu ini. Dia ingin berpura-pura marah
dengan Alvin. “ha ha ha lucu banget sih si bontot itu. Mama bakalan lihat seberapa
cinta kamu sama mama dan usaha kamu buat meluluhkan hati mama. Sepertinya ini
akan seru. Aku harus jual mahal nanti”.
Maya memiliki 2 anak laki-laki. Anak pertamanya adalah Arman. Arman
Syahputra merupakan anak dari kakak kandung Maya, namun karena kedua orang
tuanya telah meninggal sejak Arman berusia tiga belas tahun, maka Arman dirawat
oleh Maya. Arman merupakan orang yang tampan serta berperawakan gagah dan
tinggi. Penampilannya sungguh membuat orang yang memandangnya pasti akan terpersona.
Saat ini dia telah berusia tiga puluh tiga tahun. Dia telah menikah dengan seorang
dokter yang bernama Nadia Hermawan yang berselisih umur lima tahun lebih muda
dari Arman. Mereka telah memiliki anak yang bernama Anandhita Syahputri. Saat
ini Arman bekerja sebagai wakil ceo dari Maya.
Anak ke dua Maya adalah bernama Alvino Darmansyah. Usianya terpaut
lima tahun lebih muda dibandingkan dengan Arman. Dia meruapakan anak kandung
satu-satunya yang dimiliki Maya. Alvin memiliki wajah tampan, sorot mata yang
tajam, badan yang atletis serta pintar dalam memasak. Setiap wanita pasti
menganggap dia adalah sosok yang sempurna namun dia dikenal juga sebagai sosok
yang dingin dan kaku. Dia merupakan chef di restoran yang ada dalam hotel GP.
Dia memiliki kekasih yang bernama Devana yang merupakan seorang dokter. Saat
ini Devana Putri Sandiga sedang melanjutkan studinya di Jerman. Usianya saat
ini adalah dua puluh enam tahun.
---
Alvin masih kesal dengan ulah mamanya yang masih saja
menjodohkannya. Alvin jelas sudah menceritakan keadaan yang sesungguhnya bahwa
dia sangat mencintai Devana. Bahkan Alvin bisa dikatakan menjadi buncinya Devana.
“Tuhan bagaimana ini, masak hanya berdebat seperti tadi membuat
mama marah sih” ucap Alvin sambil menjambak rambutnya dengan kedua tangannya.
Alvin ini sebenarnya adalah anak mami. Dia tidak bisa dan tidak
akan bisa jauh dari mamanya. Jika di luar dia bisa dikatakan sebagai lelaki
yang berwibawa, ganteng namun dikenal dingin. Namun jika dia sudah masuk
kandang dan bertemu pawangnya maka sikap kekanak-kanakannya akan muncul, dan
itu hanya akan muncul ketika dia bersama Maya.
Karena Alvin merasa gelisah dan binggung dengan kemarahan mamanya,
akhirnya dia memutuskan mengunjungi kakaknya yang sedang bekerja. Mungkin nanti kakak bakal ngasih solusi yang
dapat menyelesaikan masalahnya.
---
Alvin mengendarai mobil sportnya dengan terburu-buru. Sesampainya
__ADS_1
di hotel dia memarkirkan mobilnya di parkiran khusus. Kakak Alvin yang bernama Arman
Ardiyansyah merupakan wakil CEO dari hotel GR. Sedangkan Maya adalah CEO dari
hotel ini.
Alvin juga bekerja di hotel ini sebagai seorang exective chef.
Bagi orang lain pekerjaan Alvin sungguh tidak berkelas. Tapi Alvin sungguh
tidak mau mengambil pusing dengan omongan orang, karena Alvin hanya mau bekerja
dibagian yang dia inginkan dan sukai.
Alvin sejak duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama sudah bercita-cita
menjadi seorang chef. Keinginannya bermula ketika mamanya sering mengeluh sakit
di lambunganya. Setelah diperiksakan ternyata mama menderita penyait maag,
penyakit ini disebabkan oleh berbagai macam, namun yang masih Alvin ingat
adalah karena mamanya sering telat makan.
Alvin kemudian berjanji jika sudah besar nanti dia akan menjadi
seorang chef. Kelak dia akan membuat masakan yang sangat enak untuk mamanya. Sehingga
mamanya akan suka dengan masakannya dan akan membuat mamanya tidak berhenti
makan agar penyakit mamanya segera sembuh.
Mimpinya ini pun akhirnya diwujudkan Alvin dengan kuliah dibidang
yang berhubungan dengan masalah memasak. Selain itu ketika kuliah dia juga
mengambil kelas kursus dalam memasak atau bisa dikatakan dia les memasak.
Bahkan empat tahun yang lalu dia sempat pergi keluar negeri untuk memperdalam
ilmunya tentang masakan barat selama satu tahun.
Namun ketika sudah besar ini ternyata Alvin baru sadar, sebenarnya
alasan kuat yang membuat mamanya memiliki penyakit maag adalah karena mamanya
berhenti untuk mengingatakan mamanya untuk
makan secara teratur dengan makanan yang bergizi.
Setelah memarkirkan mobilnya dia menuju lift dan memencet tombol
lantai tiga tempat kakaknya bekerja. Lift terbuka tepat di lantai tersebut, Alvin
langsung menuju ke ruang Arman. Alvin adalah orang yang memiliki sopan santun,
walaupun Arman dan ibunya orang penting di hotel ini, tapi dia tidak nyelonong
seenaknya. Dia menghampiri sekertais Arman yang bernama Sita.
“kak Arman ada?”
“ada pak, apakah anda ingin bertemu beliau?”
Alvin hanya menganguk. Kemudian sekertaris itu langsung
menghubungi bosnya.
“pak silahkan masuk”
Alvin lansung masuk ke dalam ruangan kakaknya. Tanpa dipersilahkan
duduk dia langsung duduk di sofa yang ada di rungan tersebut. Arman mendekatinya
dan duduk di sebrang tempat duduk adiknya.
“sibuk ya kak”
“tidak, ada apa tumben kesini kamu? Kamu sudah jadi menghubungi
mama? Kapan mama akan pulang?”
“tau ah kak” jawab Alvin dengan nada malas
“kamu kenapa sih Vin, kayaknya lagi ada yang gak beres ya?”
Akhirnya kevin menceritakan kejadiannya tadi ketika menghubungi
__ADS_1
mamanya. Setelah Alvin selesai bercerita ucapan yang pertama kali yang keluar
dari mulut Arman adalah “rasain kamu mama marah, makanya cepet nikah sana”
ledekan Arman membuat Alvin menjadi semakin kesal.
“kakak itu gak ngasih solusi malah bikin hati aku jadi tambah
kacau aja deh” Kevin menjawab dengan nada yang sedikit lebih keras dari
biasanya.
“eits gitu aja marah sih kamu Vin, kakak kan hanya bercanda”
“kasih solusi dong kak yang bisa buat mama gak nyuruh-nyuruh aku
lagi buat cepat nikah” pinta Alvin dengan memelas
“Yakin mau solusi?” Goda Arman kepada Alvin
“ya iyalah kak, capek aku kak dipaksa nikah mulu sama mama”
“kalau solusi biar mama gak nyuruh-nyuruh kamu buat cepet nikah
ya.... Kamu emang harus nikah deh” Arman menjawab dengan tertawa karena melihat
Alvin yang mimik mukanya tambah emosi.
Alvin melemparkan bantal sofa kepada kakaknya “sialan itu mah sama
aja kak, gue emang mau nikah kak, tapi gue maunya sama Devana. Sedangkan Devana
sekarang lagi fokus sama studinya. Selesainya juga masih dua tahun lagi” Alvin
menjelaskan kepada kakaknya, padahal Arman juga tahu alasan itu.
“keburu tua kamu Vin kalau nunggu Devana nyelesain studinya”
“terus gue harus gimana dong kak” Alvin butuh solusi yang
cemerlang.
“gini aja deh Vin, ajak nikah aja sekarang Devana, tapi kamu
bebasin dia buat tetep boleh nglanjutin studi walaupun udah nikah. Ini sih
menurut gue solusi yang paling ampuh buat bikin mama gak merengek buat minta
kamu nikah dan kamu juga bahagia karena nikah dengan gadis yang kamu inginkan” jawaban
Arman kali ini sangat bijaksana dan membuat Alvin memiliki secera harapan untuk
membuat mamanya senang.
“Boleh juga ide kakak. Oke deh kak ntar gue nunggu waktu yang
tepat buat bicara masalah ini sama Devana”
“kalau dia gak mau gimana Vin?” Arman langsung menyambar kalimat Alvin
“pasti maulah, dia kan cinta sama gue kak. Apalagi saran yang
kakak beri itu sepertinya tidak akan mengganggu studi kedokterannya juga kan”
“taruhan sama kakak. Kalau gue lihat model-model kayak Devana itu
dia bakalan gak mau buat diajakin nikah sama elo deh sekarang. Kalau gue salah,
gue mau deh nglakuin apa aja buat elo” ucap Arman seraya menantang Alvin
“ogah gue gak mau taruhan, kata pak ustad taruhan itu dosa tau” jawan
Alvin sok bijak.
“takut kalah kan elo Vin”
“enak aja, Devana itu cinta sama gue kak, dia bakalan nglakuin apa
aja demi kebahagiaan gue yaa”
“pede banget lu Vin”
“ya harus pede dong secara gue ganteng, tajir jago masak siapa
juga yang bisa nolak persona gue” ucap Alvin sambil membusungkan dadanya.
“najis lu Vin” jawab Arman sambil melempar bantal sofa
__ADS_1
yang tadi dilempar Alvin kepadanya.