
" paman bisakah mulai serius, menyerang ku. meskipun sudah kau tingkatkan tapi kalau hanya segini aku akan kecewa " cranel memprovokasi
urat pelipis muncul di kepala orang tua itu dia memakai kekuatan penuhnya seluruh tebasan yang dia lancarkan penuh energi walaupun pedangnya tumpul tenaganya tidak main main.
" hei, bocah pakai seluruh yang kau punya! " orang tua itu berseru
" Baiklah, kalau begitu aku tak akan sungkan lagi " cranel berkata pelan
" berilah aku kekuatan untuk peringanan: mitigation
berilah aku kekuatan untuk nenghancurkan karang : increase " setelah selesai membaca mantra tubuh cranel berasa lebih bertenaga dan tubuhnya berasa lebih ringan
cranel maju ke depan dengan kecepatan penuh dia menebas pedangnya secara vertikal ke arah dad sehingga melempar tubuh lawannya belum puas dengan itu dia menebaskan lagi secara horizontal kearah kepala.
untuk menahan serangan bocah yang ada di depannya dia menggunakan seluruh tenaganya saat menahan itu tampak tanah yang di pijak nya telah retak, tidak ingin hanya bertahan pria tua ini mendorong sud kebelakang dan menyerang dengan ujung pedangnya pertarungan sengit terjadi lagi akibatnya seluruh tubuh mereka tergores dan darah bercecer ke tanah.
" baiklah bocah waktunya kita selesaikan ini " kakek tua itu berkata sambil melompat mundur
" ya, kau benar " cranel memperkuat kuda kudanya.
" sword style : perfect splitter "tebasan penuh tenaga
" kusaga sword style : kaiser sword " sud membalas juga.
sesaat sebelum pedang mereka bertemu mereka berdua baik itu cranel maupun pria tua itu terdorong ke belakang
" siapa yang berani mencari masalah di siang bolong begi.... " perkataan thenzo berhenti saat melihat cranel setelah melihat ke sekeliling dia mendapati silicia, dia terlihat sangat khawatir melihat kedua anaknya berada di tempat kekacauan.
__ADS_1
" ayah...... " silicia berlari saat melihat ayahnya menengahi pertarungan, dia menangis melihat kakaknya bertarung dengan orang tua itu, dan menceritakan apa yang terjadi.
cranel bangun hanya saja pandangannya kabur setelah berberapa saat terlihat ayahnya yang menghampirinya.
" biarkan ayah yang melanjutkan " thenzo mengeluarkan pedangnya yang sama seperti anaknya.
" sebelum kita bertarung bisakah kau sebutkan identitas mu terlebih dahulu " thenzo berkata lantang
" thenzo, apakah itu kau? " pria tua itu tertawa keras
" kau mengenal ku ? " thenzo terlihat kebingungan
" tentu, apakah bisa seorang melupakan orang yang telah menghilangkan tangan kiri ku ini " pria tua itu terkekeh pelan
" kau masih hidup egis ? " thenzo melihat tidak percaya
"....... begitulah " urat kesal berada di pelipis oran tua bernama egis itu dia merasa kesal karna thenzo menganggap dia sudah mati
" ..... " pria tua itu terdiam mendengar perkataan thenzo.
" kenapa ? bukankah kau dulu ingin membalas ku ? " thenzo kebingungan melihat pria tua ini tidak lebih tepatnya egeis vandeher tapi jangan salah kira nama keluarga belakangya adalah nama palsu karna ada sebuah kenyataan pahit di baliknya.
" tidak, semenjak kau memotong tangan ini aku tidak pernah membunuh lagi " egis memperlihatkan pedangnya pada thenzo.
" begitukah...... " thenzo menyarung kan pedangnya.
" apa kau ingin kita beradu pedang lagi ? bukan untuk saling membunuh, tapi hanya untuk kenangan bagaimana ? " egis menatap thenzo
__ADS_1
" hah..... baiklah " thenzo menghela napas.
mendengar itu cranel maju dan memberikan masing masing satu pedang kayu latihannya dan menjadi wasit pertandingan.
thenzo dan egis awalnya beradu sambil mengenang masa lalu, mereka saling memuji kehebatan satu sama lain sampai egis terprovokasi oleh perkataan thenzo
" pedang mu menumpul ya, egis " thenzo memprovokasi
urat kesal muncul di pelipis thenzo dia sangat marah dan kesal karna sudah sangat di remehkan, dia menggunakan tehnik pedang yang efektif dan membuat thenzo terpojok.
thenzo yang melihat suasana tidak bagus dia sedang terpojok dia menyeringai dan mulai mengikuti alur permainan pedang egis. mereka mengadu pedang mereka sampai sampai pedang kayu yang di pakai mencapai batasnya, saat ini pedang kayu yang mereka pakai bentuknya telah berantakan bahkan hampir patah karna melihat kondisi pedang mereka menghentikannya.
" kau betul kemampuan ku menumpul " thenzo meremukkan pedang kayu di tangannya.
" kalau bukan tangan ku hanya tinggal satu, aku telah menang dari mu dari awal " egis mencemooh
"..... " thenzo tak berkata apa apa karna egis benar walaupun dia kesal dengan perkataan egis.
" musuh dulu adalah teman yang sekarang " egis melanjutkan dan wajahnya tersenyum
"huh... baiklah, musuh dulu teman yang sekarang " thenzo dan egis saling peluk
setelah berberapa saat mereka saling menyelesaikan pelukan mereka dan thenzo memulai dengan yang lebih baik
" terimakasih, karna kau tidak membunuh kesatria kota dan juga tidak melukai anakku " thenzo berkata ringan.
" tidak-tidak kalau bagian kesatria kota aku hanya sengaja memancing keributan agar kau keluar, sedangkan anak ini kemampuan pedangnya kalau tidak sama denganku berarti hanya satu tingakat di bawahku " thenzo mengatakan sejujurnya dengan pengalamannya 50 tahun memegang pedang, walaupun thenzo kelihatan tua tetapi badannya masih kekar dan penuh otot di tambah dengan janggut dan rambut berwarna putih agak berantakan.
__ADS_1
" apa maksud mu ? " thenzo terkejut dengan perkataan egis
" ya, anak mu adalah orang yang paling berbakat yang pernah ku temui hanya saja dia memiliki satu kesalahan fatal "