
Hola, guys...
Ketemu lagi dengan En masih di cerita yang sama. Semoga kalian tetap suka dengan SA dan bersedia mengawal sampai ending.
Mohon maaf kalau up-nya lama. Karena En masih sekolah jadi nggak bisa fokus bikin cerita. Apalagi kalau lagi banyak tugas.
Sekali lagi terimakasih banyak buat kalian yang masih setia baca. Lope-lope sekebon buat readers terluv-luv.
Oke, tanpa berlama-lama lagi, selamat menikmati hasil khayalanku.
...βππ‘π‘πͺ βππππππ...
"Tolong bawakan ini ke Miss Ara!", perintah Mister Jae-Hwa pada Anna.
"Baik", terima Anna singkat.
Seperti janjinya waktu itu, Anna sekarang mendadak menjadi asisten guru setiap pelajaran Mister Jae-Hwa di kelasnya. Pelajaran Ekonomi kelas 11-2 dijadwalkan setiap hari Senin di jam pelajaran kedua.
Karena itulah, sebelum pelajaran tadi, Anna bergegas ke kantor pribadi Mister Jae-Hwa sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi.
Setelah kelas usai pun, ia masih menjalankan perannya sebagai asisten dadakan. Doona yang selalu menempel bersamanya telah diminta Anna untuk pergi ke kantin lebih dulu. Barulah kemudian ia ke depan kelas menghadap Mister Jae-Hwa yang sengaja tidak keluar.
Sikap pria itu membuat murid kelas 11-2 takut-takut untuk keluar kelas meski bel istirahat telah berbunyi. Setelah Mister Jae-Hwa buka suara menyuruh semua murid keluar kelas kecuali Anna, barulah mereka cepat-cepat keluar dengan tertib.
"Yang ini juga", tambah Mister Jae-Hwa menyerahkan sebuah buku setebal 3 cm.
"Tangan saya sudah penuh, Mister. Bisakah bawa sendiri sisanya?", tolak Anna sopan dengan sedikit membungkukkan badan mengikuti gaya sopan santun Korea. Terasa sedikit asing bagi jiwa Anna yang aslinya adalah orang British.
Asal kalian tahu, itu sudah buku ke-8 yang diserahkan Mister Jae-Hwa. Dan buku-buku yang sudah ada di tangan Anna tidak ada yang bisa dibilang tipis. Sepertinya gurunya itu sangat menikmati perannya sebagai yang punya asisten.
Untung saja, selain buku tidak ada barang yang lain. Buku saja sudah setumpuk. Kalau sampai menambahnya dengan barang lain, sungguh keterlaluan.
Sebagai asisten, Anna menerima setiap perintah yang diberikan Mister Jae-Hwa. Untung saja ia sudah lebih dulu membuat perjanjian dengan Mister Jae-Hwa sebelumnya. Kalau tidak, sekarang akan ada perdebatan panjang tiada ujung. Seperti saat pembuatan perjanjian sebelum kelas dimulai tadi.
...πποΈπ...
Flashback on.
Anna sudah tiba di bagian kantor pribadi guru lantai 2. Matanya menelisik tulisan di papan yang tergantung di atas pintu setiap ruangan.
"Ruangan pertama bukan. Sebelahnya bukan. Yang ini juga bukan. Ah, akhirnya ketemu!", seru Anna dalam hati saat menemukan ruangan yang dicarinya.
Tok-tok...
Terdengar suara ketukan pintu. Mister Jae-Hwa yang sedang fokus berkutat dengan laptopnya menyahut. Mempersilahkan si pengetuk untuk masuk.
"Masuk", ucap Mister Jae-Hwa yang matanya tetap tertuju ke layar laptop didepannya.
Pintu terbuka perlahan. Menampakkan gadis cantik mengenakan seragam kemeja yang terbalut jas biru elektrik dan rok selutut bermotif kotak-kotak senada. Rambut peraknya tampak diikat rapi menampilkan lehernya yang jenjang. Sangat memesona hingga Mister Jae-Hwa pun tak menyangkal kecantikan muridnya yang satu ini.
"Oh, sudah akan masuk, ya?", gumam Mister Jae-Hwa melihat jam Patek Philippe 5004T yang melingkar di tangannya.
Melihat jam itu, membuat Anna teringat ketika ia mengunjungi sebuah pelelangan untuk bertukar informasi saat masih menjadi Starla. Salah satu barang yang dilelang di acara amal itu adalah Patek Philippe 5004T yang harganya dimulai dari β©4 triliun.
__ADS_1
"Baiklah, bantu Aku bawakan ini ke kelas dahulu", perintah Mister Jae-Hwa memecah keheningan ruangan ber-AC 20Β°C.
"Saya ingin membuat perjanjian terlebih dahulu. Saya tidak mau status tidak jelas yang dapat Anda suruh-suruh sesuka hati", pinta Anna. Tangannya kembali menaruh tumpukan kertasβyang tadi diberikan Mister Jae-Hwaβdi atas meja.
Mister Jae-Hwa tak langsung menjawabnya. Setelah selesai meneguk air mineralnya barulah berbicara. "Baiklah. Kau ada usul?", jawabnya setelah menutup botol.
"Saya hanya menjadi asisten Anda 10 menit sebelum kelas sampai selesai kelas. Dan Anda hanya dapat memerintahkan saya membawakan barang ke kelas saja. Atau ke guru lain juga tak apa. Jangan lupakan juga janji Anda mengenai poin", ungkap Anna.
"Ekhem." Mister Jae-Hwa berdeham pelan sebelum kemudian melanjutkan, "Aku setuju dengan syarat kedua dan ketiga. Tapi, mengenai syarat pertama, perlu perubahan sedikit."
"Sebutkan dulu nominal poin yang saya terima", sela Anna tak ingin rugi.
"10 poin satu pertemuan", jawab Mister Jae-Hwa.
"Baik, silahkan lanjutkan syarat yang tadi hendak Anda ubah", tutur Anna.
"Status asistenku berlaku untukmu satu hari penuh setiap Senin", jelas Mister Jae-Hwa.
"Saya tidak setuju. Tetap pada syarat yang saya sebutkan", tolak Anna tegas. Enak saja ia jadi babu seharian!
"Tambah poin jadi 15?", tawar Mister Jae-Hwa.
"Tidak."
"20?"
"Tidak."
"25?"
"Tidak."
"Upah 15 poin?"
"Oke, dengan tambahan belikan minuman atau makanan untukku di kantin."
"Kalau sama itu tambah jadi 20 poin."
"Deal!"
Akhirnya mereka mencapai kata sepakat. Anna juga meminta perjanjian itu dibuatkan dokumennya. Ia adalah orang yang teliti. Ia tidak mau nanti Mister Jae-Hwa melanggarnya jika hanya perjanjian lisan.
Lama berdebat, tak terasa sudah 5 menit berlalu. Sebentar lagi, kelas dimulai dan mereka harus segera menyudahi 'rapat kecil' itu. Dokumen yang diminta Anna akan dikerjakannya nanti saat pulang sekolah. Mister Jae-Hwa membiarkan muridnya yang tak takut padanya itu untuk menyiapkan permintaannya sendiri. Nanti ia tinggal menerima salinannya setelah di-print.
Flashback off.
...πποΈπ...
Anna kembali ke kantin setelah mengantar Cappucino Latte titipan Mister Jae-Hwa. Ia ikut berbaris untuk mengambil jatah makan siang. Sudah sedikit orang yang tersisa di antrian itu. Tak perlu menunggu lama, ditangannya sudah ada nampan stainless bersekat cukup besar yang isinya adalah menu makan siang para murid hari ini.
"Anna, disini!", seru Doona saat menyadari Anna celingukan mencarinya.
Anna menoleh ke arah meja tempat Doona berada dan mengangguk. Ia menghampiri meja itu dan duduk di kursi kosong berhadapan dengan Doona.
__ADS_1
"Habis darimana saja? Kenapa baru datang? Apakah Mister Jae-Hwa mempersulitmu?", tanya Doona beruntun. Ia sedikit khawatir saat sahabatnya itu tertahan di kelas saat semua murid 'diusir'. Apalagi Anna lama sekali baru datang ke kantin.
Anna yang hendak makan jadi tertahan dari melahap suapan pertamanya. Ia menatap Doona dan sedang berpikir apakah tak apa bila menjelaskan keadaannya.
"Aku ke kamar mandi jadi sedikit lama", jelas Anna berbohong. Ia memutuskan untuk tidak memberitahu kejadian sebenarnya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Lebih baik tidak ada yang tahu, daripada nanti gosip kedekatan Mister Jae-Hwa dengannya kembali marak seperti waktu itu.
Kalian penasaran, kenapa gosip itu bisa dengan cepat selesai? Sebenarnya itu juga salah satu kompensasi yang didapatnya dari Mister Jae-Hwa karena membuatnya terjebak dalam situasi tidak menguntungkan. Masih ingat sebab foto itu didapat?
Anna sendiri juga tidak diberitahu persis, apa yang dilakukan gurunya. Ia hanya bisa menerka-nerka apa yang dilakukan tanpa tahu yang terjadi sebenarnya. Pokoknya tak lama setelah itu ada yang mengunggah foto panas sisi gelap siswi lain yang membuat fokus netizen teralihkan dan gosip itu pun tenggelam dengan sendirinya.
"Anna", panggil Doona tiba-tiba.
Anna hanya menatap Doona, bertanya maksud ucapannya dengan isyarat. Mulutnya masih penuh makanan yang baru satu sendok ia makan.
"Hadiah apa yang paling disukai laki-laki?", tanya Doona.
"Kenapa memangnya?", tanya Anna balik.
"Jawab saja." Doona enggan menjawab pertanyaan Anna. Matanya menyiratkan sesuatu yang sulit dimengerti Anna.
"Tergantung orangnya. Kalau kamu bertanya apa yang kusuka baru aku bisa jawab", jelas Anna.
"Kan aku bukan mau memberi hadiah untukmu", sahut Doona cemberut.
Doona termasuk orang yang blak-blakan. Inilah satu alasan yang membuat Anna tetap berprasangka baik dan memutuskan untuk percaya padanya.
Mereka melanjutkan makan siang mereka. Doona kembali memakan makanan yang tersisa. Begitupun dengan Anna yang juga menghabiskan isi nampannya tanpa bersisa.
Tiga puluh menit berlalu. Seseorang menghampiri mereka atau lebih tepatnya hendak berbicara pada Doona. Melihat kedatangan laki-laki itu, raut wajah Doona mendadak berubah.
"Hai. Maaf mengganggu makan kalian. Aku ingin memberitahumu, rapat sebentar lagi dimulai. Sebaiknya kau cepat ke gedung kesenian, Doona", tutur siswa dengan nametag Gang Dhakwan.
"Ah, baik. Aku akan segera kesana", sahit Doona yang pipinya sedikit timbul semburat merah.
"Oke. Kalau begitu, aku duluan", ujar Dhakwan pergi meninggalkan mereka.
Anna tak ikut berbicara. Ia lebih fokus memperhatikan seseorang dengan gelagat aneh yang keluar dari sudut lorong menuju gudang. Ia sedikit ganjil dengan kemunculan orang itu. Gudang lantai dasar sangat terpojok dan jarang dilewati orang. Mengapa laki-laki itu keluar daripadanya?
Doona yang salah sangka, mengira Anna sedang mengamati Dhakwan. Arah pandangannya memang searah karena gudang kebetulan ada di area sebalik Dhakwan saat berdiri tadi.
"Bagaimana? Tampan bukan? Dia laki-laki yang aku maksud tadi. Ulang tahunnya sebentar lagi. Aku bingung ingin memberi hadiah apa", jelas Doona tanpa diminta.
Doona melanjutkan bertanya, "Menurutmu, hadiah apa yang harus kubeli?"
Anna yang terlarut dalam pikirannya tidak terlalu menanggapi ocehan Doona. Sekarang yang lebih penting baginya adalah apakah orang mencurigakan yang tadi dilihatnya akan membawa masalah untuknya atau tidak?
Mendapati tidak ada jawaban dari lawan bicaranya, Doona menegur Anna.
"Anna?"
"Ah, maaf. Aku tak mendengarnya tadi. Kau ada rapat klub bukan? Cepatlah pergi. Biar aku yang kembalikan nampan punyamu", tawar Anna mengambil nampan milik Doona untuk ditumpuk bersama nampannya.
"Baiklah. Kalau begitu, tolong ya!"
__ADS_1
Setelah kepergian Doona, Anna mengembalikan nampan dengan cepat. Lalu mengejar orang tadi. Ia membuntuti orang itu diam-diam hingga keluar sekolah.
Bersambung...