
Pelajaran olahraga kelas 11-2 akan segera dimulai. Murid-murid sedang bersiap mengganti pakaian mereka.
Anna sudah selesai berganti dengan seragam olahraga. Sementara itu, kawan-kawannya yang lain belum semua selesai, termasuk Doona. Ia masih merapikan seragam set kemejanya untuk dilipat sebelum dimasukkan ke loker. Anna pergi lebih dulu meninggalkan ruang ganti siswi.
Tempat yang dituju Anna adalah lapangan indoor, tempat kelas olahraga nanti. Masih sepuluh menit lagi untuk menuju waktu kumpul. Ia berjalan dengan sangat santai tanpa takut terlambat. Bagaimanapun jarak antara gedung sekolah dengan gedung lapangan indoor tidaklah jauh. Paling-paling hanya butuh waktu setidaknya 3 menit dengan berjalan biasa.
Berjalan dengan langkah lambat membuat Anna hanyut dalam pikirannya. Sesekali ia memperhatikan helaian daun yang jatuh atau keramaian murid yang berlalu-lalang disekitarnya. Ia juga jadi memperhatikan baju olahraga yang dipakainya.
Baju lengan panjang dengan warna dasar abu. Ada kombinasi segitiga berwarna navy di bagian dada. Juga ada garis dengan warna yang sama disepanjang punggung lengan hingga ke ujung. Di bagian dada kiri terdapat logo sekolah beserta nama kelas.
Celana yang dipakainya adalah training abu dengan garis navy selebar 3 cm di sepanjang sisi luar hingga sepertiga bagian kebawah.
Bahan yang digunakan untuk pembuatan seragam ini adalah cotton combed yang merupakan bahan kualitas terbagus untuk pakaian olahraga. Meski diproduksi massal dalam jumlah banyak, jahitannya sangat rapi karena dikerjakan khusus oleh butik ternama. Tentu saja, semua hal dari sekolah ini harus yang terbagus karena Yongsan Internasional High School adalah sekolah ter-elite dikota Seoul.
Tanpa terasa, Anna sudah tiba di gedung lapangan indoor. Beberapa murid sudah tiba lebih dulu darinya. Kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. Anna duduk di kursi pinggir lapangan. Sambil menunggu, dikeluarkannya ponsel dari dalam saku celana.
Murid yang lain mulai ramai berdatangan. Pelajaran dimulai tepat saat waktu berganti pakaian habis. Tanpa menunggu lagi bila ada murid yang belum datang. Itu sudah menjadi konsekuensi bagi yang berani datang terlambat. Tentu saja tak hanya itu, tapi juga pengurangan poin bagi yang terlambat atau tidak hadir.
Hari ini, mereka akan bermain basket. Para murid dibagi menjadi beberapa kelompok. Murid laki-laki dua kelompok, murid perempuan dua kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang.
Pertandingan dimulai dari perempuan. Mereka bertanding dengan sesama perempuan. Anna terlihat tidak serius meski sebenarnya ia sangat suka dengan permainan ini. Untuk menghindari perhatian yang tidak perlu. Meski begitu, regu Anna tetap menang 5-3 dari regu lawan.
Setelah ini permainan antar laki-laki. Masing-masing mereka bertanding dengan sangat serius. Lebih serius dari murid perempuan. Yah, bagaimanapun juga, laki-laki adalah makhluk dengan ego yang tinggi dan sangat menyukai tantangan. Pertandingan selesai saat waktu habis. Mereka beristirahat sejenak setelah bergerak begitu banyak.
Di sekolah ini, semua hal sangat penting. Dari kerapihan, kekayaan, kepintaran, kompetisi, hingga pertandingan saat latihan pun menentukan harga diri dan kemampuan mereka. Itulah sebabnya mereka bermain dengan sangat serius meski Anna tak termasuk diantaranya.
Doona menyerahkan sebotol air mineral pada Anna. Ia membelinya dari mesin minuman yang ada di sudut ruangan. Anna meneguk cairan bening itu perlahan. Membasahi kerongkongannya yang kering.
***
Anna dan Doona pergi ke kantin untuk makan siang seperti biasa. Menu yang disajikan dapur hari ini adalah kesukaan Anna. Seporsi daging sapi barbeque dengan hiasan salad sayur segar. Untuk hidangan manisnya ada pancake cokelat.
Anna makan dengan tenang. Menikmati kelezatan dalam setiap suapan demi suapan yang ia masuk ke mulutnya. Belum lagi selesai ia makan, sekelompok orang merusak ketenangan.
Tiga orang memakai jas dan lencana OSIS datang menghampiri meja Anna. Perempuan berambut merah muda diantara mereka berbicara dengan nada meremehkan.
"Yo. Lihat siapa ini?", cibirnya angkuh.
Anna berusaha tetap menikmati makanannya. Ia bersikap seolah tak menyadari keberadaan mereka.
"Pergi! Kami mau duduk disini!", suruh temannya yang berambut coklat sebahu.
Siswi berambut coklat menggebrak meja kasar. Gelas Anna sedikit berguncang. Jus jeruk di dalamnya tumpah sedikit membuat bercak tetesan di taplak meja makan. Doona hampir melonjak karena kaget.
Anna tetap diam tak menanggapi. Ditahannya Doona yang hendak beranjak dari tempat duduknya. Doona menurut mengurungkan niatnya, kembali duduk dengan perasaan tegang.
__ADS_1
Merasa diacuhkan, siswi berambut merah muda menjambak rambut Anna kasar. Memaksa Anna untuk mendongakkan wajahnya.
"Hei! Kau dengar tidak? Telingamu bermasalah, kah?", hardiknya.
Anna mengangkat sebelah alis matanya berpura-pura tak tahu apa-apa. "Kau berbicara padaku?", tunjuk Anna pada dirinya sendiri. Tak ada sedikitpun rasa ketakutan dalam suaranya.
"Siapa lagi kalau bukan kau?!", tambah temannya yang berambut coklat.
"Ah, maaf. Aku tak tahu. Boleh tolong ulangi perkataanmu? Aku tak begitu mendengar. Kukira orang tak beradab mana yang berbicara", sindir Anna dengan nada bercanda. Meski terdengar seperti candaan, tapi bibirnya menyunggingkan senyum miring mengejek.
"Kau mengataiku, hah?", ucap siswi berambut merah muda. Ia menguatkan tarikan tangannya yang masih menjambak rambut Anna.
"Siapa yang bilang kalau aku berkata tentangmu? Seingatku aku tak menyebut namamu?"
"Kau-" Ucapannya tertahan karena isyarat temannya yang berambut ungu tua. Temannya yang sedari tadi diam ini akhirnya membuka suaranya.
"Jangan buat aku kesal. Cepat pergi dan aku tak akan perhitungan dengan sikapmu barusan."
"Kenapa aku harus pergi? Siapa yang duluan datang kesini, hm?"
Si rambut coklat menjawabnya, "Kalau kami bilang pergi ya pergi!"
"Siapa yang mengijinkanmu berbicara mendahuluiku?", sela rambut ungu dingin. Membuat temannya yang tadi berbicara mundur ketakutan.
"Terimakasih atas pujiannya", sahut Anna.
"Kau begitu bangga dengan keangkuhanmu. Aku penasaran apa kau masih bisa mempertahankannya saat ujian musim panas nanti."
"Terimakasih atas perhatiannya."
"Percaya diri sekali rupanya orang yang tidak pernah sekalipun mendapatkan peringkat 50 besar sekolah", sindir rambut ungu menekankan beberapa kata dalam ucapannya.
"Kalau mau, aku bahkan bisa berada di peringkat yang lebih tinggi darimu", sahut Anna ringan.
"Haha, lucu sekali. Kalau kau memang tidak sedang membual, ayo bertaruh denganku."
"Sebutkan taruhannya."
"Tenang saja, aku masih berbelas kasih padamu. Kalau kau bisa bisa lebih rendah satu peringkat dari Yoona saat ujian musim panas nanti, aku tak akan mengusikmu lagi", tunjuk rambut ungu pada teman di sampingnya yang berambut merah muda.
"Kalau tidak?"
"Aku tak akan berbelas kasih lagi padamu."
"Tunggu sebentar, aku ingin mengubah tantangannya. Siapa diantara kau dan aku yang mencapai peringkat lebih tinggi, maka pihak yang kalah harus mematuhi perintah pihak yang menang tanpa syarat apapun itu."
__ADS_1
"Sepakat."
"Kalian semua yang disini! Jadilah saksi. Apapun perintahnya, harus dituruti!", seru Anna lantang.
"Kau yang memilih. Jangan sampai kau menangis nanti", bisik rambut ungu sambil berlalu.
"Aku terima nasihatmu. Kita tunggu saja siapa yang akan tertawa di akhir", sahut Anna.
Orang-orang di sekitar Anna melirik berbisik-bisik. Beberapa diantara mereka simpati dengan kesulitan yang menimpa Anna. Meski tetap lebih banyak yang menyumpahi kebodohannya.
'Berani sekali dia menantang Areum Choi.'
'Aku agak kasihan padanya.'
'Untuk apa kasihan? Dia yang cari masalah sendiri.'
'Masuk 50 besar sekolah saja belum pernah. Ingin melawan peringkat 5 sekolah?'
Anna tak peduli dengan apa kata orang tentangnya. Ia lebih memilih lanjut menghabiskan makanannya. Salah satu prinsip hidupnya adalah, tak akan ada seorangpun yang dapat memengaruhi suasana hatinya. Untuk apa kesal? Itu hanya akan membawa kotoran ke dalam hati. Kalau tidak terima dengan cemoohan mereka, kenapa tidak tunjukkan saja kalau kita tidak seperti yang mereka katakan?
Anna dan Doona telah selesai makan. Doona mengajak Anna untuk kembali ke kelas bersama. Anna menolak dengan alasan ingin berjalan-jalan sebentar. Mereka berpisah di persimpangan koridor.
Anna terus berjalan hingga tiba di sebuah taman yang sepi. Taman ini cukup indah dan teduh sebenarnya. Anna juga heran kenapa tempat yang sangat nyaman untuk bersantai ini malah tidak ada seorangpun disini.
Anna duduk di kursi taman, menyandarkan punggungnya. Matanya terpejam menikmati semilir angin yang menerpa wajah putihnya.
Sejak tadi, entah kenapa, Anna selalu merasa tidak nyaman. Ada perasaan tegang saat ia dihampiri tiga orang yang tadi. Mungkin ini hanya reaksi tubuhnya. Anna jadi memikirkan seberapa sering tubuh ini dibully.
Kalau bukan karena kemampuan pengendalian dirinya yang bagus, mungkin ia sudah gemetaran sejak tadi.
Anna mengeluarkan ponsel dari dalam saku roknya. Ia memasang timer 5 menit. Berniat merilekskan tubuh dengan istirahat sejenak. Ia membetulkan tubuhnya ke posisi yang nyaman. Anna langsung tertidur.
Seorang pria berambut hijau tua menghampiri Anna yang sedang terpejam. Pakaiannya tak seperti seragam murid, tak juga seperti guru. Dan yang lebih meyakinkan lagi bahwa ia bukan warga sekolah ini adalah tidak adanya pin apapun yang tersemat di dadanya.
Anna yang merasakan kehadiran seseorang menjadi terbangun. Ia kembali duduk. Terdengar suara serak laki-laki menyapa Anna ramah. Ketika ia menengok ke belakangnya, ia terkejut.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terimakasih buat klen semua yang udah baca dan dukung aku.
Bantu like dan komennya. Biar En makin semangat lanjutin ceritanya
See U in the next chapter ^_^
__ADS_1