Student Agent

Student Agent
Chapter 8


__ADS_3

^^^π•³π–†π–•π–•π–ž π•½π–Šπ–†π–‰π–Žπ–“π–Œ...^^^


Anna berjalan di parkiran sekolah. Pagi ini, seperti biasa, Anna berangkat dengan diantar kakaknya. Langkahnya santai menuju gedung besar berlantai tiga yang menjadi pusat kegiatan belajar mengajar di Yongsan Internasional High School.


Di sekitarnya berlalu lalang murid yang baru datang. Satu dua guru juga terlihat diantara sekian banyak orang itu. Banyak murid yang telah sampai lebih dulu memilih bersantai, meramaikan kafetaria atau taman sekolah.


Terdengar derap langkah sepatu yang semakin mendekat. Anna tak menoleh meski merasa sang pemilik kaki hendak menuju ke arahnya.


"ARIANNA SEO!"


Sesaat kemudian muncullah Doona. Ia mengalungkan tangannya tiba-tiba di pundak Anna. Padahal ia belum benar-benar berhenti dari posisi berlarinya. Kalau bukan karena refleks Anna yang bagus, mungkin mereka sudah terjatuh bersama.


"Aku malas banget aslinya masuk hari ini. Kemarin aku live streaming sampai malam banget. Kalau bukan karena poin ingin bolos saja rasanya aku!", keluh Doona panjang lebar.


Anna hanya mendengarkan tanpa menanggapinya sama sekali. Dalam hati kecilnya ia sedikit tidak percaya dengan yang dikatakan Doona. Padahal pagi ini temannya itu hadir dengan energik. Bahkan masih bisa mengejutkan Anna dengan begitu bersemangat. Darimananya ia terlihat lelah?


"Mana siang nanti ada rapat besar klub lagi. Sepertinya hari ini akan sangat melelahkan." Doona masih belum berhenti mengoceh seolah hari ini adalah hari yang berat baginya.


Anna berjalan setengah terseret oleh Doona karena kaitan tangannya dipundak Anna. Saat hendak menaiki tangga barulah Doona melepas tangannya. Mereka berjalan beriringan menaiki anak tangga demi anak tangga, menyusuri koridor hingga tiba di ruang loker kelas 11 di lantai 2.


Mereka melepas sepatu untuk kemudian ganti mengenakan sandal. Anna membuka pintu loker hendak mengambil sandal yang tersimpan di dalamnya. Namun, ia terkejut dengan sambutan tumpukan sampah bekas kemasan yang keluar.


Doona sangat geram dan memaki orang yang berbuat hal itu begitu ia mengetahuinya, "Siapa yang melakukan ini?! Tak punya otak sepertinya dia!"


"Ku kira mereka sudah berhenti melakukan hal kotor seperti ini! Rupanya masih begitu bodoh dan tidak tahu dimana tempat membuang sampah!!", lanjut Doona masih dengan umpatannya.


Anna memungut secarik kertas yang terlipat rapi diantara sampah-sampah. Ia membuka lipatannya perlahan. Di dalamnya tertulis kalimat yang cukup mencengangkan.


...π‘»π’‚π’Œ π’”π’†π’π’‚π’Žπ’‚π’π’šπ’‚ π’”π’†π’”π’†π’π’“π’‚π’π’ˆ 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒅𝒂 π’…π’Š 𝒂𝒕𝒂𝒔!...


Anna memiringkan kepalanya. Ia menatap kertas itu dengan pandangan meremehkan. Ia lalu bertanya pada Doona yang sedang membantunya membereskan sampah-sampah di lokernya.


"Doona, kau tahu ini perbuatan siapa?", tanya Anna menyelidik.


"Sudah pasti ini ulah Ayeong dan teman-temannya. Siapa lagi kalau bukan mereka?!", sungut Doona yang kesal karena paginya dirusak oleh orang yang berbuat jahat pada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Hoh! Rupanya tikus kecil tak tahu diri!", gumam Anna amat pelan.


Anna memasukkan kertas itu ke dalam saku roknya. Tak ambil pusing dengan kata-kata yang tertera di dalamnya. Ia memilih untuk melanjutkan kegiatan melepas sepatunya dan dengan cepat sudah berganti dengan sandal.


Doona yang juga sudah selesai berganti alas kaki merogoh saku jas seragamnya, mengeluarkan ponselnya. Dilihatnya angka 7.54β€”yang menunjukkan jamβ€”di layar benda persegi panjang itu.


"Ayo kita bergegas! Lima menit lagi bel berbunyi", ajak Doona menggaet tangan Anna dengan paksa. Membuat Anna lagi-lagi diseret olehnya.


Bel berbunyi tak lama setelah mereka sampai di kelas. Wali kelas masuk mengabsen murid di kelas 11-2 kemudian dilanjutkan dengan pelajaran kimia. Kebetulan, wali kelas mereka adalah guru kimia.


~β€”Μ₯ΜŠβ€”Μ₯ΜŠβ€”Μ₯ΜŠβ€”Μ₯ΜŠΓ¦β€”Μ₯ΜŠβ€”Μ₯ΜŠβ€”Μ₯ΜŠβ€”Μ₯̊~


Kring...


Pelajaran pertama pagi hari ini telah usai. Sudah waktunya bagi para murid untuk istirahat pagi. Tiba-tiba, Anna merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya. Keringat dingin mengucur deras membasahi pelipisnya. Sebagai ganti dari usahanya menahan rasa sakit yang teramat sangat.


Doona yang menyadarinya terlihat khawatir. Ia menanyakan kondisi Anna.


"Ada apa denganmu? Kau sedang tidak enak badan?", tanya Doona saat melihat wajah sahabatnya itu agak pucat. Ia sedikit panik. Padahal setahunya tadi pagi masih baik-baik saja.


"Apanya yang tidak apa-apa?! Mukamu pucat begitu. Lebih baik ku antar dulu ke UKS", saran Doona.


"Tak perlu", tolak Anna dengan wajah yang tetap tanpa ekspresi meski dalam kondisi seperti itu.


"Tapi-" Doona masih berusaha membujuk Anna namun ucapannya terpotong.


"Doona, biarkan aku sendiri", sela Anna tegas.


Melihat sahabatnya begitu kukuh menolak ajakannya, akhirnya dengan berat hati, Doona pergi ke kantin sendiri meninggalkan Anna dengan seorang siswi yang juga tidak keluar kelas.


Setelah kepergian Doona, rasa sakit di kepalanya kian menjadi. Hingga rasanya sudah seperti ingin pecah saja. Anna mengeratkan cengkeraman tangannya yang menggenggam ujung rok seragamnya.


Dalam keadaan seperti itu, terlintaslah, dalam otaknya, kepingan-kepingan kejadian yang terasa asing bagi Anna. Sepertinya itu adalah memori pemilik asli tubuhnya. Ini sudah kali kedua Anna mendapatkan ingatan si pemilik raga asli. Yang pertama adalah saat pertama kali ia masuk ke tubuh ini. Tapi, yang kedua ini lebih parah gejala permulaannya.


Beberapa menit berlalu. Rasa sakit kepalanya berangsur-angsur berkurang hingga sudah tak terasa lagi. Keadaan Anna kembali seperti sedia kala lagi.

__ADS_1


Dari memori yang diterimanya, tahulah Anna bahwa tubuh ini punya ikatan pertunangan dengan Han Do-Gookβ€”yang juga bersekolah di tempat yang sama dengannya.


Ia teringat akan kejadian saat ia pertama kali masuk ke tubuhnya sekarang. Do-Gook, sebuah nama yang dijadikan alasan perundungan yang dilakukan Ayeong bersama kawan-kawannya.


Sedikit konyol bukan? Apa yang salah dengan pemilik asli jika memang ia dekat dengan laki-laki ituβ€”dengan statusnya sebagai tunangan? Justru bukankah Ayeong yang bukan siapa-siapa yang seharusnya tahu diri?


Yah, tapi wajar saja sih. Biar bagaimanapun, hubungan ini belum disebarluaskan ke publik. Hanya orang-orang terdekat saja yang mengetahui status pertunangan mereka mengingat pertunangan ini terjalin saat mereka masih kecil.


Yang memutuskan itu adalah kedua orang tua mereka. Ibu merekalah yang mengusulkan hal itu. Dan masih diingat sampai sekarang meski tidak ada perjanjian tertulis.


Anna tidak memikirkannya lebih lanjut. Ia berniat menyusul Doona di kantin. Ia melangkah keluar untuk turun ke lantai satu. Di tengah jalan, empat orang siswi tiba-tiba menghalangi jalannya. Anna berhenti untuk menunggu apa yang akan dilakukan mereka. Namun, mereka tetap melangkah meski sudah berada tepat di depan Anna. Tentu saja seorang di antara mereka tertabrak Anna dan terjatuh.


Bruk!


Anna menatap siswi berambut hitam panjang yang terduduk dihadapannya. Wajahnya tak begitu terlihat karena sedikit menunduk. Terasa familiar, pikir Anna. Ah, iya. Setelah lebih diperhatikan, rupanya ia adalah Kim Ayeong.


"Menyingkir lah!" Anna mendorong pelan bahu seorang siswiβ€”yang berdiri di samping Ayeongβ€”yang menghalangi jalannya.


Meski melihat Ayeong terjatuh, Anna berjalan melewatinya begitu saja tanpa ada niatan sedikitpun untuk membantunya berdiri. Dia yang terjatuh, maka bangunlah sendiri. Kecuali ia tidak bisa berdiri sendiri, barulah tindakan Anna salah. Lagipula siapa yang menabrak siapa?


Namun, kalimat yang terucap dari mulut Ayeong sukses membuat Anna dan orang disekitarnya tercengang.


"Ah, maafkan aku! Tolong jangan pecat ayahku!", mohon Ayeong dengan suara bergetar. Wajahnya sudah basah oleh air mata yang entah sejak kapan mengalir deras.


"What?! Kenapa lagi bocah satu ini?", batin Anna heran.


Anna semakin merasa aneh dengan reaksi dari para murid yang menyaksikan itu. Mereka tampak kasihan dan prihatin dengan Ayeong. Dan banyak pasang mata yang menatap Anna seolah ia adalah orang paling jahat dan arogan yang menggunakan kekuasaan untuk menekan seseorang yang lebih lemah darinya.


Bukankah setahunya Ayeong lah yang gemar menyiksa Anna asli? Kenapa pandangan orang-orang berbanding terbalik dengan kenyataan yang terjadi hanya karena hal ini?


Berbagai spekulasi muncul di benak Anna. Ia jadi sedikit memikirkan alasan atas reaksi yang muncul. Tapi untung saja ia segera menepis kekhawatiran dengan mengingat prinsipnya untuk tidak terlalu memikirkan pandangan orang-orang terhadapnya. Selama ia tidak melakukan sesuatu yang buruk, kenapa harus takut?


Anna kembali berjalan menuju kantin. Ia harus segera menyusul Doona untuk mencegahnya lebih khawatir. Ia tak tahu kalau ternyata kejadian itu akan memberikan dampak burukβ€”yang lumayan besarβ€”padanya dikemudian hari.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2