
"Anna, katakan! Kau tidak benar-benar melakukannya kan? Aku percaya kau tak mungkin melakukan tindakan nekat seperti itu!", seru Doona panik.
"Kamu percaya?"
Doona menghela napas lega mendengar jawaban Anna, "Syukurlah kau tidak melakukannya."
"Kapan aku bilang tidak melakukannya?" Perkataan Anna selanjutnya membuat ekspresi Doona berubah.
"Hei! Oh, ayolah! Ini bukan bercandaan. Tak masalah kalau kau melakukannya di luar sekolah. Tapi, kalau di sekolah, benar-benar pelanggaran berat!!", seru Doona menggebrak meja pelan.
Anna tetap masih dengan santainya bertanya, seolah yang dibahas bukanlah dirinya, "Memangnya apa hukumannya? Potong poin besar-besaran?"
"Ada dua kemungkinan. Langsung dikeluarkan atau potong poin hingga 200. Tapi, kalau melihat sisa kredit poin mu, sama saja akhirnya akan dikeluarkan!"
"Tapi, memangnya sekolah akan menghukum atas dasar berita gosip yang kebenarannya saja patut dipertanyakan?"
Pertanyaan Anna membuat Doona tersadar bahwa apa yang ia khawatirkan belum tentu terjadi. "Awas saja kalau sekolah benar-benar berniat mencari masalah denganmu!"
Doona kembali duduk tenang. Mereka pun kembali menyelesaikan tugas. Lebih tepatnya, Anna yang paling fokus. Baru sebentar, Doona sudah menatap Anna dengan tatapan mencurigakan.
"Tapi, sebenarnya kau ada hubungan apa dengan Mister Jae-Hwa?", tanya Doona jail.
Anna terkejut mendengar pertanyaan klise yang dilontarkan Doona, "Apa maksudmu?!"
"Ayolah... Tak usah menyembunyikannya dariku. Bagaimana kau bisa ada di situasi seperti ini?", goda Doona menunjuk foto utama berita.
Anna baru tahu kalau orang yang ada bersamanya di foto berita adalah Mister Jae-Hwa. Kalau begitu, ia sudah dapat menebak bagaimana si pembuat berita mendapatkan foto itu.
"Kenapa kau yakin kalau laki-laki ini adalah Mister Jae-Hwa?"
"Tak ada guru yang punya inisial J selain dia", jawab Doona masih dengan nada yang membuat Anna kesal.
"Kau pikirkan saja. Mister Jae-Hwa loh! Guru yang terkenal killer seantero sekolah!", sanggah Anna.
"Kalau Mister Jae-Hwa sih emang nggak mungkin, sih. Jangan-jangan kamu cinta tak terbalas? Biar bagaimanapun, Mister Jae-Hwa punya banyak penggemar perempuan di sekolah. Kalau bukan karena killer, aku mungkin sudah jadi bagian diantara penggemarnya", celoteh Doona tiada habisnya.
"Doona, kamu jangan berharap apapun. Aku bahkan sangat membencinya", sahut Anna masih bersabar. Berharap Doona mau mengehentikan ocehannya.
Tapi, Doona masih terus berbicara. Menggoda dengan gaya kalimat yang membuat Anna benar-benar diuji kesabarannya.
"Oh, Mister! Aku benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu", ucap Doona untuk kesekian kalinya ber-akting menjadi diri Anna.
Emosi Anna semakin memuncak, "Kawan, berhenti bicara atau ku pukul", tegur Anna ramah. Tangannya mengepal mengeluarkan aura menyeramkan namun tak dipedulikan oleh Doona.
Doona terus melanjutkan dramanya, "Aku tahu tidak mudah bagi Mister untuk jatuh cinta. Aku tak peduli. Asalkan engkau menerima itu sudah cukup."
Tak! Anna sungguhan memukul kepala Doona. Praktis membuat tiga tumpuk benjolan di puncak kepalanya. Doona meringis menahan sakit. Sudah begitupun ia masih sempat-sempatnya meledek Anna.
"Aduh... Galak banget, sih. Kasihan nanti kalau punya suami. Bisa-bisa jadi suami takut istri", gerundel Doona yang sampai ke telinga Anna.
Anna mengepalkan tinjunya lagi, "Oh, sepertinya pukulan yang tadi belum memuaskan mu", ucap Anna tersenyum lembut dengan aura menakutkan.
Doona segera mengganti topik untuk mengalihkan perhatian menghindari amukan Anna. "Ehem, kamu sudah persiapan ujian musim panas nanti?"
"Berapa lama lagi waktu yang tersisa?"
"Eum... Sekitar 2 bulan, mungkin?"
__ADS_1
Anna menyentil dahi Doona pelan. "Masih lama, pinter. Sudahlah, cepat selesaikan tugas dulu."
Mereka kembali menyelesaikan tugas yang sebentar lagi selesai. Anna pamit pulang saat jam menunjukkan pukul 7.30 malam. Ibu Doona menahannya untuk makan malam bersama sebelum pulang. Anna menerima ajakan itu.
Anna memang sangat dekat dengan ibu Doona sebagai teman baik Doona. Ia juga bukan pertama kalinya pergi ke rumah Doona. Setiap pergi bermain pasti akan sangat lama seperti sekarang. Tak jarang hingga makan malam bersama di rumah Doona. Anna sudah dianggap seperti bagian dari keluarga mereka.
Makan malam yang disiapkan tidak mewah. Tapi, terkandung kasih sayang seorang ibu di dalamnya. Meski begitu, cita rasanya tak kalah sedap. Sebagai pemilik kafé, ibu Doona memang pandai memasak. Mereka makan dalam suasana harmonis.
Setelah selesai, Anna pulang dengan mobil. Sopirnya yang menjemput nya usai ditelepon. Anna tak banyak bicara sepanjang perjalanan pulang. Ia fokus menikmati malam yang sunyi ditemani temaram lampu jalan raya. Klakson mobil pun tidak terdengar di jalanan yang lengang.
***
Esok lusa, pagi hari di sekolah
Di lapangan, taman, hingga kantin sudah sangat sepi. Sebagai gantinya, kelas-kelas sudah terisi dan guru pun sudah memulai pelajarannya. Sebagian kelas terdengar ramai karena guru yang humoris. Sebagian yang lain tampak sepi karena murid yang fokus atau karena guru yang galak.
Anna tidak berada di kelas saat ini. Ia bersama seorang guru, sedang berada di ruang Dekan dalam suasana tegang.
"Saya sungguh tidak melakukannya", sanggah Anna saat dirinya mendapat tuduhan.
"Lalu apa maksud dari foto ini?", tanya Kepala Dekan, Mister Kim.
"Saya baru tahu, ternyata pihak sekolah mempercayai berita gosip murahan. Bagaimana kinerja Anda selama ini sebagai Kepala Dekan?", sindir Anna tak terima dirinya dituduh hanya karena berita di forum sekolah.
Pagi ini, Anna sedang disidang atas kesalahan terduga melakukan hal tidak pantas dengan guru di sekolah. Alasannya? Hanya karena sebuah foto berita di forum sekolah. Beritanya ramai dua hari yang lalu hingga sekarang. Anna mengira beritanya hanya akan jadi angin lalu saja. Akan mereda seiring berjalannya waktu. Tak disangka itu justru membawanya ke dalam masalah.
"Lagipula, memang atas dasar apa Mister bilang itu adalah saya?", lanjut Anna mempertanyakan tuduhan itu.
"Rambutmu itu unik, Nona Seo. Hanya kamu yang punya rambut perak di sekolah ini", jawab Mister Kim bersikukuh.
"Baiklah. Anggap saja itu memang saya. Kalau memang Anda sangat yakin, bagaimana kalau kita lihat CCTV untuk bukti akuratnya?", tawar Anna percaya diri. Karena, ia memang tidak pernah melakukannya.
"Mister, meski sepertinya ada yang tidak beres dengan CCTV-nya, tetap tidak ada rekaman yang menunjukkan bahwa saja bersalah", jelas Anna.
"Memang tidak ada. Tapi, kenapa bisa ada rekaman yang hilang? Apa semua ini adalah ulah mu demi menghindari hukuman?", sahut Mister Kim curiga.
"Saya tidak mungkin akan melakukan hal itu. Tanya saja pada mereka yang berjaga!", sanggah Anna membela diri.
Mister Kim bertanya pada karyawan penjaga CCTV, "Katakan!! Apa ada orang yang menyuruh kalian?"
Awalnya, mereka mengelak. Berkata tidak pernah menghapus apapun dan itu hanyalah kesalahan sistem biasa. Tapi, setelah berkali-kali didesak serta diancam potong gaji, jawaban yang keluar dari mulut mereka membuat Anna sangat terkejut.
"Kami mengaku, kami mengaku. Nona Seo berjanji memberi kami uang asalkan kami menghapus rekaman CCTV-nya. Kami sudah mengaku salah. Jadi, tolong jangan libatkan kami", aku mereka.
Mata Anna membulat sepenuhnya mendengar pengakuan itu. Sejak kapan ia memberi mereka uang? Bertemu saja tidak pernah. Bagaimana bisa menyuap mereka?
Anna mencurigai ada seseorang yang bermain dibelakang ini semua. Mungkin tujuannya untuk mengeluarkan dirinya dari sekolah. Atau mungkin juga hanya untuk mempermalukannya. Yang pasti setidaknya dia adalah orang yang berkuasa. Hingga bisa menyuap karyawan penjaga CCTV.
"Saya yang ada bersamanya waktu itu." Mister Jae-Hwa muncul tiba-tiba.
"Mister Jae-Hwa, Anda bukanlah orang yang akan melakukan hal yang akan merusak reputasi sendiri. Anda tidak perlu memaksakan diri untuk menolongnya", sambut Mister Kim sedikit terkejut dengan kedatangan Mister Jae-Hwa.
"Anda sendiri juga tahu hal itu. Maka sudah pasti Nona Seo tidak melakukan pelanggaran. Karena saya yang bersamanya", jawab Mister Jae-Hwa.
"Atau, Anda meragukan saya? Menganggap keluarga Kang suka berbohong?", lanjut Mister Jae-Hwa dengan sorot mata mengintimidasi.
Mendengar nama keluarga Kang disebut, Mister Kim ciut. Ia menyudahi perkara itu dan menyatakan Anna tak bersalah. "Baiklah. Karena Anda sudah bilang begitu. Arianna Seo, kamu boleh kembali ke kelas."
__ADS_1
"Poin saya tidak akan berkurang kan?", tanya Anna pada Mister Kim sebelum pergi.
"Karena kamu dicurigai menyuap mereka, saya akan menulis surat peringatan untuk orang tuamu."
"Meski tidak ada bukti?"
"Saksinya jelas disini. Yah, kecuali tidak ditemukan bukti fisik, maka kamu dinyatakan tidak bersalah."
Anna keluar dengan perasaan lega bercampur kesal. Lega karena tak jadi dihukum, kesal karena masih dianggap bersalah. Ia langsung pergi hendak kembali ke kelas. Tak mempedulikan Mister Jae-Hwa yang tadi membantunya menyelesaikan masalah. Semua karena dia, jadi untuk apa berterimakasih? Begitu pikir Anna.
Lain dengan Mister Jae-Hwa yang tampak sedikit kesal. Sudah dibantu, tapi tetap tak peduli meski hanya sekedar mengucap terimakasih.
"Aku tak tahu ternyata kau orang tak tahu balas budi seperti ini?", sindir Mister Jae-Hwa.
Anna tak menanggapi dan berlalu begitu saja melewati laki-laki itu. Dalam hati ia merutuk orang tak tahu malu yang sudah berada di belakangnya. 'Memangnya gara-gara siapa aku jadi begini?!'
Dengan hati kesal ia teringat kejadian yang membuatnya berada di kondisi barusan. Meski wajahnya tetap tanpa ekspresi, auranya membuat orang di sekitarnya mungkin jadi merinding.
Flashback on.
Anna sedang dalam perjalanan menuju kantin. Ia sehabis dari kamar kecil. Tidak biasanya koridor sekolah begitu sepi tanpa seorang murid pun yang lewat. Mungkin karena ada Mister Jae-Hwa yang juga sedang lewat? Entahlah. Kalau memang benar begitu, sebegitu takutnya kah mereka dengan Mister Jae-Hwa?
Mister Jae-Hwa berbicara pelan saat berpapasan dengan Anna. "Kalau kamu tetap mau poin, datang temui aku setiap sebelum pelajaran dimulai. Akan ada bonus poin untuk setiap kali kedatanganmu."
Anna tak menghiraukan. Ia menganggap omongan itu bukan ditujukan untuk dirinya. Mister Jae-Hwa menahan tangan Anna memaksanya membalikkan badan. "Tentu saja jika kau tak mau, poinmu akan dikurangi", ancamnya.
Mister Jae-Hwa menyodorkan layar handphonenya yang siap mengirim pesan pengurangan poin ke Miss Sarea.
'Benar-benar deh!! Orang semacam dia mudah sekali menghapus atau menambah poin sesuka hati!', keluh Anna dalam hati.
Namun, Anna tetap tidak mau menuruti perkataannya. Ia berfikir itu hanya ancaman saja agar ia patuh. Sebetulnya bukan sesuatu yang merugikan kalau sekiranya ia menerima tawaran itu. Yang buruk justru adalah tatapan mata para fans wanita Mister Jae-Hwa yang akan menatapnya tajam. Ia tak mau kehilangan kehidupan santai hanya karena pemburuan mereka.
Meski terkenal galak, tak sedikit murid perempuan yang terpesona dengan ketampanannya. Apalagi ditambah dengan latar belakang keluarga yang kuat. Membuatnya punya banyak pembenci dikalangan murid, dan penggemar yang juga tak kalah banyak disaat bersamaan.
"Mister, tolong jangan desak saya menggunakan kekerasan", tepis Anna.
"Baiklah kalau itu pilihanmu." Mister Jae-Hwa menekan tombol kirim di handphonenya.
Sepertinya rumor yang mengatakan kalau guru bagian poin termasuk penggemar berat Mister Jae-Hwa adalah benar.
Anna baru berjalan beberapa langkah saat saku roknya bergetar. Muncul notifikasi pengurangan poin di layar ponselnya. Tak main-main, angkanya sungguh besar. Tiga puluh poin. Kalau dihitung, berarti poinnya sekarang tinggal 70.
Anna reflek berbalik. Ia tak rela poinnya yang begitu berharga hilang sia-sia. Ia bisa dijatuhkan seterpuruk mungkin atau bahkan ditendang pergi oleh musuh sebelum sempat membalas.
"Cepat kembalikan poin saya." Anna mencengkeram kerah Mister Jae-Hwa.
"Setujui dulu tawaran tadi", syarat Mister Jae-Hwa.
"Kembalikan! Selagi saya masih bicara baik-baik!"
Mister Jae-Hwa mengancam untuk menekan tombol kirim lagi. Entah sejak kapan ia sudah mengetik pengajuan pengurangan poin.
Anna hanya bisa menyerah demi poinnya yang sangat berharga. Apalagi kemarin ia baru tahu kalau setiap murid, mulai tahun ketiga, ada peraturan yang menyatakan hanya bisa membeli sesuatu di sekolah dengan kredit poin. Termasuk makan siang, makanan ringan, dan peralatan di koperasi.
"OKE-OKE!! Aku akan datang ke kantormu setiap sebelum pelajaranmu di kelas mulai!", pasrah Anna setengah berseru.
Anna mendorong kasar Mister Jae-Hwa. "Aku sudah mengikuti perintahmu. Cepat kembalikan poinku!!"
__ADS_1
Flashback off.