Student Agent

Student Agent
Chapter 7


__ADS_3

Anna duduk bersandar di kursi taman. Di bawah pohon rindang yang melindunginya dari sengatan sinar matahari yang sudah sepenggalah tingginya.


Mungkin karena sudah awal musim panas, rasanya Anna lebih berkeringat dibanding hari-hari sebelumnya. Suhu udara terasa lebih tinggi belakangan ini. Meski matahari sudah sedikit tergelincir ke barat, panasnya masih sangat terasa.


Beruntung banyaknya pohon dan tanaman disekitar membuat udara terasa sedikit lebih sejuk. Itulah sebabnya kenapa ia lebih memilih pergi ke taman yang sepi dibandingkan tetap berkerumun di kantin.


Demi mengusir rasa tidak enak yang dirasakannya sejak kejadian di kantin tadi, Anna memejamkan matanya.


Selama beberapa menit Anna menikmati ketenangan, ditemani suara angin yang sesekali menggesek dedaunan. Hingga sebuah suara bass khas laki-laki memanggil dari arah belakangnya.


"Anna!"


Anna menengok ke arah sumber suara. Terlihat seorang laki-laki seumurannya sedang berjalan menghampiri. Tanpa sadar, bulir bening mulai berjatuhan di sudut matanya. Laki-laki itu sontak mempercepat langkahnya saat melihat orang yang disapanya menangis. Meski raut wajah Anna tetap datar tanpa ekspresi, air matanya tak berhenti mengalir.


"Kenapa? Ada yang mengganggumu di sekolah, hm? Kalau mau, kau bisa menceritakannya padaku", tawar laki-laki itu.


Namun, hal itu tidak ditanggapi Anna. Ia tetap diam dengan air mata yang semakin deras mengalir–meski ekspresi wajahnya kelewat datar.


Dalam hatinya berkecamuk berbagai perasaan. Sedih, marah, haru bercampur aduk membuatnya tak tahu harus bagaimana mengekspresikannya.


Wajah yang telah lama dirindukan, tiba-tiba muncul dihadapannya. Sungguh sesuatu yang menurutnya bahkan sudah tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Bukan karena terlalu besar rasa rindunya. Namun, lebih karena ia tidak mengerti dengan perasaan aneh yang menghinggapi dirinya.


"Menangislah sepuasmu. Aku tak akan bertanya lagi kalau kau tak mau."


Lelaki didepannya kembali membuka suara sembari mengelus punggung tangan Anna hati-hati. Pikirannya melayang menerka apa yang ada dipikiran gadis cantik dihadapannya. Bukan masalah apa yang dihadapi. Lebih tepatnya ia bingung bagaimana bisa seseorang meneteskan air mata dengan wajah seperti itu. Setahunya, jatuhnya air mata selalu dengan kesedihan atau kebahagiaan(?)


Setelah ribuan tetes air mata, Anna mengusap sudut matanya sigap. Lamat-lamat ia perhatikan setiap centi wajah laki-laki yang membuatnya menangis itu.


Sungguh suatu pahatan sempurna ciptaan Tuhan. Pupil mata yang teduh dengan warna yang membuat Anna membayangkan darah pekat yang telah dibiarkan mengental. Indah dan menarik menurutnya. Jangan lupakan kedua alisnya yang tidak terlalu tebal namun juga tidak tipis yang terpisah sebelum sampai pangkal hidung mancung bak menara Eiffel yang menjulang.


Siapapun yang melihat mungkin akan jatuh cinta pada parasnya. Namun, tidak dengan Starla a.k.a Anna. Ia bukan mengagumi ketampanan itu. Melainkan sikap dewasanya yang kala itu kerap mengisi setiap hari berat yang terkadang dilalui Starla.


Bukan sebagai pemberi solusi. Bukan juga dengan kata-kata motifasi. Melainkan hanya duduk didekatnya dan menerima setiap bisikan makian yang terlontar dari mulutnya tanpa menyahut sedikitpun.


"Jack..."


Anna bergumam lirih tanpa mengalihkan pandangannya yang kini menatap rerumputan dibawah kakinya. Meski terlampau bahagia, ia tetap berusaha mengontrol emosinya. Untuk itu ia menunduk, menopang dahinya pada kedua tangan dengan siku bertumpu di atas paha.


Lelaki dihadapannya bangkit untuk ikut duduk di samping Anna. Berbagai pertanyaan baru terus terlintas di otaknya. Diantaranya merupakan bentuk rasa penasarannya terhadap nama yang disebutkan Anna.

__ADS_1


Meski begitu, ia urung bertanya lagi setelah sama sekali tidak mendapat jawaban atas pertanyaan pertamanya. Ia tetap dalam sikap 'Aku siap menerima keluhanmu. Tapi tak akan memaksa bila kau tak mau.'


Setelah berhasil menetralkan kembali pikirannya, Anna kembali angkat bicara.


"Ini kamu, Jack?"


Deg!


Orang yang dimaksud agak terkejut saat mendengar Anna menebak Jack sebagai namanya. Ia tak menampakkan keterkejutannya itu. Meski begitu, Anna sempat menangkap perubahan ekspresinya yang hanya sepersekian detik sebelum kembali netral itu.


"Anna, aku Dae-Ho. Ada apa denganmu?", jawabnya dengan dahi yang sedikit berkerut.


"Ah, maaf. Aku lupa kau belum tahu perihal amnesiaku." Anna menyahut memberitahukannya terkait hasil periksa yang dipaparkan dokter waktu itu. Berimprovisasi agar tidak timbul kecurigaan yang bisa merugikannya dimasa mendatang. Tak lucu bukan, jika seseorang dikabarkan memasuki jiwa tubuh lain yang sangat diluar nalar ini.


Kalaupun benar tebakannya kalau lelaki di sampingnya itu adalah Jack, pasti ada alasan mengapa ia mengelak. Dalam pendidikan mata-mata yang dijalaninya sewaktu menjadi Starla mengajarkannya bahwa jika menaruh rasa ingin tahu berlebihan di tempat yang salah akan menyebabkan hal buruk. Bukankah sayap kupu-kupu terbakar karena penasaran akan api yang bergoyang di ujung lilin kamar?


...¶£••••••••••••••••£¶...


Tak banyak yang terjadi. Hanya saling mendiamkan. Masing-masing larut dalam pikirannya tanpa ada satupun yang berniat memulai pembicaraan. Ini bukan suasana canggung. Lebih tepat disebut sebagai keheningan yang dikehendaki kedua belah pihak.


Begitulah keadaan mereka berdua hingga waktu yang dipasangnya dengan stopwatch habis. Anna pamit pergi saat merasakan saku rok bergetar oleh alarm handphonenya yang berbunyi.


Sepulang sekolah, Dae-Ho mengantar Anna pulang. Entah dorongan apa yang membuat Anna masuk ke mobil begitu saja. Tangannya menutup pintu mobil tanpa rasa keberatan sedikitpun.


"Kau sudah menghubungi supirmu?", tanya Dae-Ho memecah keheningan.


"Tidak", jawab Anna singkat.


"Teleponlah. Nanti supirmu tak dapat menemukanmu", saran Dae-Ho.


"Tak perlu. Biarkan dia menjemput angin", sahut Anna asal.


"Haha." Tawa Dae-Ho lepas mendengar ucapan Anna.


Mobil milik Dae-Ho sudah tiba di mansion. Mobil sport hitam itu memasuki parkiran setelah gerbang dibukakan oleh satpam. Segera saja Dae-Ho memarkirkan mobilnya di tempat terdekat dengan pintu utama mansion.


Anna melepas sabuk pengaman yang menyilang di dadanya. Begitupun Dae-Ho yang bergegas turun lebih dulu. Sembari memakai tas ranselnya, Anna meraih gagang pintu mobil. Namun, belum sempat membukanya, Dae-Ho lebih dulu membukakan pintu itu untuknya.


"Terimakasih", ucap Anna sebagai formalitas.

__ADS_1


Setelah Anna meninggalkan Dae-Ho beberapa langkah, laki-laki itu menutup rapat pintu mobil. Ditekannya tombol merah yang menggantung bersama kunci mobil digenggamannya. Terdengar bunyi 'tin-tin', pertanda mobil sudah terkunci dengan aman.


Dengan sedikit berlari, Dae-Ho menghampiri Anna. Lelaki itu mengekorinya hingga masuk ke dalam mansion.


Beberapa pelayan yang berpapasan dengan mereka menyapa hormat. Saat bertemu Bi Emile—pengasuh Anna—giliran Dae-Ho yang duluan menyapa wanita paruh baya itu.


"Bi", sapa Dae-Ho ramah.


"Eh, Dae-Ho. Tambah ganteng saja kamu ya~", balas Bi Emile tak kalah ramah.


Mereka mengobrol ringan sembari Anna mengambil beberapa camilan yang ada di kulkas. Kebetulan mereka bertemu saat melewati dapur. Bi Emile berbicara pada Dae-Ho layaknya nenek dan cucu. Seolah mereka adalah dua insan yang memang dekat seperti hubungan Anna dan Bi Emile.


"Oh ya Bi. Tante belum pulang ya?", tanya Dae-Ho.


"Iya. Nyonya biasanya pulang larut malam. Nak Dae-Ho ada perlu?" Bi Emile balik bertanya pada Dae-Ho.


"Oh mau kasih undangan ini. Kalau begitu tolong sampaikan pada Tante ya, Bi", titip Dae-Ho. Tangannya merogoh saku hoodienya, mengeluarkan secarik kertas undangan mewah.


Dae-Ho pamit pada Bi Emile setelah menyerahkan undangan itu. Tak lupa ia mengusak lembut rambut Anna yang lewat hendak menuju tangga.


...¶£••••••••••••••••£¶...


Anna melirik jam yang didudukkan di atas nakas dekat kasurnya. Tertulis angka 20.44 yang berganti warna setiap 4 detik. Lampu kamar telah ia padamkan. Sebagai gantinya, cahaya redup menyala dari balik kaca biru transparan berbentuk cetakan muffin terbalik dengan tiang—setinggi 10 cm—elegan khas Eropa kuno.


Anna sedang bergelung di balik selimut broken white tebalnya. Badannya terbaring ke kanan dengan punggung membungkuk membelakangi guling.


"Jack. Kau tahu? Aku merasakan sesak setiap kali melihat wajah yang mirip denganmu."


Anna mulai mengoceh sendiri. Menyuarakan isi hatinya dengan suara amat pelan. Saking pelannya sampai ia seperti hanya menggerakkan bibirnya semata.


"Sudah lima tahun kau pergi tanpa memberitahuku? Bahkan jejakmu tak dapat kutemukan sama sekali."


Rintihannya terpotong dengan helaan napas ringan. Beberapa menit berlalu membuat kamar dirayapi kesunyian sesaat.


"Hanya kau, Jack. Hanya kau orang yang membuatku merasakan perasaan aneh ini. Aku tak melarangmu pergi. Tapi kenapa kau meninggalkan perasaan yang membuatku bingung. Perasaan apakah ini?"


Mulutnya kembali tertutup rapat setelahnya. Tak ada yang berubah pada ekspresi Anna. Hanya tatapannya yang sedikit berubah. Menyiratkan perasaan asing yang tidak dipahaminya.


Anna melirik jam untuk kesekian kalinya. Ternyata hari sudah cukup malam. Anna membenarkan posisi berbaringnya untuk berangkat tidur. Setelah menarik selimut dan mematikan lampu tidur, matanya menutup mengakhiri hari untuk menyambut hari esok.

__ADS_1


Begitu besar dampak pertemuan tak terduga siang tadi. Hingga dalam tidur pun kembali terputar detik demi detik kejadian yang membuatnya linglung sesaat itu.


...TBC....


__ADS_2