Student Agent

Student Agent
Chapter 10


__ADS_3

Halo para readers my tercintahh 💕


Gimana kabar kalian hari ini? Yang masih sekolah gimana? Udah mulai banyak tugas nggak di semester dua ini? Semangat terus ya buat kalian!


^^^𝕳𝖆𝖕𝖕𝖞 𝕽𝖊𝖆𝖉𝖎𝖓𝖌^^^


"Arghh... Sial! Sudah mau masuk saja!", teriak Anna dalam hati saat menengok jam di ponselnya.


"Ah, sudahlah bolos saja! Lagipula aku akan dapat poin lagi!"


Setelah memutuskan untuk membuntuti orang mencurigakan yang dilihatnya, sampailah Anna di halte busway dekat sekolah. Sesaat yang lalu, orang yang dibuntutinya naik busway. Entah kemana tujuan orang itu. Pokoknya cukup ikuti saja.


"Pak, tolong ikuti bus di depan", pinta Anna pada sopir taksi sambil menunjukkan nominal ₩500.000 di layar ponselnya. Tangannya yang satu menunjuk satu-satunya busway yang berjalan di depan mereka.


Anna memberhentikan taksi yang lewat segera. Karena, tak membawa uang tunai, Anna berniat membayarnya dengan e-credit miliknya. Meski sebenarnya Anna tak terlalu suka menggunakan kartu kredit karena mudah dilacak.


Sedikit informasi. Taksi di Korsel memang menerima pembayaran dengan kartu kredit. Tidak hanya itu, di Korea Selatan lebih marak pembayaran dengan kartu kredit dibandingkan dengan tunai. Bahkan prosentasenya lebih tinggi dibandingkan Amerika—negara asal kartu kredit itu sendiri.


Back to the topic. Sopir taksi yang tadi diberhentikan Anna, segera melaju setelah penumpangnya naik dan memasang sabuk pengaman. Melihat bus yang dikejarnya sudah jauh, Anna meminta sopir untuk menaikkan kecepatan mobilnya.


"Pak, bisa lebih cepat lagi tidak?", tanya Anna menuntut.


"Ini sudah paling tinggi, nona kecil. Kalau lebih cepat lagi, bisa kecelakaan", jelas sopir taksi menolak permintaan Anna.


Bagaimana tidak? Ini sudah kedua kalinya pelanggannya itu meminta untuk menambah kecepatan. Ia tak mau cepat mati meninggalkan anak istrinya.


"Tenang saja. Nona tidak perlu khawatir kehilangan jejak. Saya hafal rute bus itu", tambah sopir berusaha mencari alasan agar tidak lagi diminta untuk 'mencari mati'.


"Bukan bus itu yang saya kejar, Pak. Tapi, orang yang naik ke bus itu! Kalau tertinggal, saya jadi tidak tahu kapan orang itu turun", urai Anna panjang lebar.


"Memangnya aku tidak tahu itu?! Sopir mana yang rute bus saja tidak hafal?!", gerutu Anna dalam hati.


Akhirnya, mobil yang Anna naiki bisa menyusul bus. Sekarang taksi itu sudah mengikuti tak jauh di belakang bus.


Sampai di halte Bongseon-ro, orang yang dikejar Anna turun. Begitupun dengan Anna yang segera berbaur ke kerumunan begitu keluar dari mobil. Matanya tak lepas mengikuti setiap pergerakan orang itu.


Orang itu mempunyai tingkat kewaspadaan yang rendah. Hal itu memudahkan Anna membuntutinya tanpa harus khawatir ketahuan.


Anna menulusur masuk ke dalam sebuah gang besar, mengekori kemanapun orang itu berjalan. Tak jauh dari mulut gang, orang itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana bercat hijau. Setelah pandangannya memeriksa ke sekitar, barulah ia masuk ke dalam gerbang rumah itu.


Anna memanjat salah satu rooftop gedung kosong yang cukup dekat dari rumah itu. Dari atas gedung nampak jelas rumah hijau yang tadi dimasuki orang itu. Anna terus mengamati ke arah yang sama hingga jam menunjukkan pukul 14.43.


Cukup lama sudah ia menunggu namun orang itu tak kunjung keluar dari rumahnya. Ia pun turun dari atas gedung setelah memotret rumah itu dan menandai lokasinya. Untuk berjaga-jaga kalau-kalau ia lupa jalan ke sini—meski daya ingatnya tak perlu dipertanyakan lagi.


Karena, ia tak bisa mendapatkan informasi yang cukup memadai sekarang, ia berniat meretas CCTV kota terdekat untuk memantau jika suatu saat ada hal mencurigakan lainnya yang dilakukan orang itu.

__ADS_1


Selain itu, ia juga menelepon salah satu bodyguardnya untuk membantunya memantau orang itu kemanapun dia pergi.


...═════╡°˖✧✿✧˖°╞═════...


Hari bergulir dengan cepat. Sudah 2 hari berlalu sejak kejadian ia membuntuti orang. Hasil pengamatannya selama ini juga tidak membuahkan hasil yang memuaskan menurutnya. Begitupun bodyguardnya yang melaporkan tidak ada kelakuan mencurigakan apapun yang dilakukan orang itu.


Tapi, bukan berarti ia tidak memperoleh informasi sama sekali. Ia tahu kalau orang itu juga adalah siswa yang bersekolah di tempat yang sama dengannya.


Namanya Gan Hyundai. Siswa kelas 10-4. Ia bukanlah orang dengan kedudukan penting. Ia hanyalah siswa beasiswa yang masuk ke YIHS dengan bermodal kepintarannya. Sponsornya tak lain adalah keluarga Choi. Konglomerat kelas menengah yang memiliki perusahaan kosmetik cukup besar. Putri bungsu keluarga itu bernama Yoona Choi. Orang yang menantang Anna untuk berkompetisi—dalam peringkat ujian musim panas mendatang—tempo hari.


Anna jadi curiga Yoona sedang membuat makar untuknya. Tapi, jika itu karena kompetisi, sedikit tidak mungkin. Melihat karakter Yoona berdasarkan pertemuannya waktu itu, Yoona adalah orang sombong yang tak akan memandang orang lain setara dengannya apalagi lebih tinggi.


Sangat tidak mungkin orang dengan kepercayaan diri selangit itu tiba-tiba jadi pesimis dan takut dirinya kalah. Apalagi lawannya adalah orang yang belum pernah masuk dalam papan peringkat 50 besar sekolah.


Fakta itu membuatnya memikirkan kemungkinan lain. Yang pada ujungnya, ia memilih untuk positive thinking. Mungkin yang menjadi target bukan dirinya. Atau mungkin Hyundai hanya takut ketahuan kalau ia bolos (?).


...📝📝📝...


Matahari sudah berada di atas kepala. Para murid YIHS sedang menikmati makan siang mereka. Begitupun Anna dan Doona yang menyantap masakan unik yang ada di depan mereka.


"Menu baru. Lumayan lah rasanya, meski agak aneh di lidahku. Rasanya unik", komentar Doona akan sepotong daging berbumbu yang telah masuk ke mulutnya.


"Eum."


Seperti biasa, Anna cenderung tidak terlalu responsif jika tidak ditanya. Untung Doona sudah mulai terbiasa dengan karakter baru kawannya itu. Semenjak hari dimana Anna mengaku amnesia, sifatnya berubah menjadi lebih tertutup dan cenderung dingin.


"Lendang", sahut Anna membantu Doona mengingat.


Doona akhirnya dapat mengingat tulisan persis yang tercetak di papan menu. Tapi, ia tak setuju dengan nama yang disebutkan Anna, "Ah, iya. Aku ingat! Bukan lendang tapi leundang", koreksi Doona.


"Sama saja", balas Anna karena merasa benar.


"Beda. Yang tertulis itu pakai huruf eu bukan e", kekeh Doona tak mau kalah. Jarinya mengawang-awang di udara, membuat garis-garis berbentuk ㅔdan ㅡ berturut-turut.


"Sama saja. Lagipula nama aslinya adalah rendang", tukas Anna. Ia menggunakan aksen Indonesia untuk mengucapkan kata terakhir agar lebih tepat.


Doona memiringkan kepalanya saat mendengar pengucapan yang asing telinganya, "Aku baru mendengarnya. Kukira ini hanya nama unik saja", tuturnya.


"Tentu. Ini adalah masakan khas luar negeri", sahut Anna memaklumi.


"That's normal. 'Cause rendang not yet popular in here", ucap Anna dalam hatinya.


"Kau pernah makan ini sebelumnya?", tanya Doona melihat temannya itu seperti sudah akrab dengan masakan di depan mereka.


"Pernah", jawab Anna. Ia tak berbohong. Karena memang ia sering makan masakan khas Minang yang satu ini setiap kali bertugas di Indonesia—saat masih menjadi Starla.

__ADS_1


"Memangnya dimana ada restoran yang menjual makanan ini?", tanya Doona penasaran.


"Ayahku selalu ikut berpartisipasi dalam International Food Expo. Kebetulan, aku melihat proposal salah satu stand di IFE mendatang yang akan disponsori perusahaan Ayahku", jelas Anna panjang lebar.


Meski ia belum pernah makan rendang saat berada di tubuh Anna, tapi ia tetap berusaha untuk tidak berbohong. Karena itulah ia menggunakan permainan kata untuk menjelaskan secara tidak pasti. Memang benar, Ayahnya mensponsori stand yang menjual rendang. Tapi, ia juga tidak bilang kalau ia makan rendang karena itu.


"Oh." Doona membulatkan mulutnya. Kepalanya terangguk-angguk seperti anak itik yang manis.


...═════╡°˖✧✿✧˖°╞═════...


Langit sore terbentang membentuk atap tanpa tiang. Tampilannya sungguh memanjakan mata yang memandang. Tak bosan-bosannya Anna terus menatap ke arah mentari yang hendak menjauh untuk memberi kehangatan di tempat yang lain.


Jendela kamar yang dibiarkan terbuka, mempersilahkan angin untuk bebas keluar masuk sesuka hati. Membuat rambut Anna bergoyang diterpa benda tak kasat mata itu.


Anna sangat menikmati syahdunya alam yang indah tak tertandingi bahkan oleh karya maestro seni sekalipun. Langit jingga itu seolah menuntut kepada para penghuninya untuk selalu ingat bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan mereka di tempat dengan view menawan yang merilekskan pikiran.


Puas menikmati pemandangan sore sebelum matahari terbenam, Anna menutup jendelanya karena hari kian malam. Ia selalu menutup jendela saat malam hari. Lantaran angin malam tidak terlalu baik untuk kesehatan.


Anna berjalan menuju kasurnya dan menghempaskan badannya kasar. Diraihnya ponsel yang tergeletak di dekat lampu tidur. Setelah membuka ponsel, ia melihat berita trending yang sukses membuat Anna penasaran.


Sebuah artikel dengan judul "Anak Konglomerat ini ternyata seorang perundung!".


Baru saja hendak membuka artikel itu, Anna mendapat ketukan di pintu kamarnya. Pelakunya tak lain adalah Bi Emile.


"Nona, ayah Anda memanggil. Tuan bilang untuk segera turun sekarang juga", tutur Bi Emile.


Dari nadanya sepertinya ini benar-benar panggilan mendesak. Anna mengurungkan niatnya untuk membaca artikel dan segera keluar dari kamarnya. Berita bisa dilihat nanti. Yang lebih membuatnya penasaran adalah apa yang membuat Ayahnya itu menyuruhnya untuk turun padahal makan malam saja belum siap.


Sampai dibawah, Anna berpapasan dengan ibunya yang sepertinya hendak memanggil Anna lagi. Ia menuntun anak putrinya untuk segera ke ruang makan.


"Ayo, Ayah sudah menunggumu di ruang makan!", ajak ibunya.


Begitu memasuki ruang makan, Anna menyadari atmosfer ruangan yang terasa lebih berat dari biasanya. Berbanding terbalik dengan ibunya yang sejak tadi tetap penuh kasih sayang seperti biasa.


Anna duduk di kursi dengan tenang tanpa merasa tertekan sedikitpun meski aura suram terpancar dari pria yang masih mengenakan setelan kerjanya tengah duduk di meja makan. Pandangan matanya menatap Anna penuh arti. Sorot mata pria itu seolah sedang meminta penjelasan sekaligus kecewa pada Anna.


"Anna, apa yang kau lakukan di sekolah belakangan ini?"


...TBC....


Kira-kira apa yang mau diomongin ayahnya Anna ya? Kok, serius banget begitu.


Tulis tebakan kalian di kolom komentar ya...!


Stay Tuned dan dukung En selalu dengan memberi like, comment, dan bintangnya. Kalau mau juga boleh banget kasih tips hadiah buat En 😉

__ADS_1


Dukungan kalian menjadi dorongan bagiku untuk terus berkarya 💕💕


See U in The Next Chapter!!


__ADS_2