
Jarum jam berdenting mengalun sendu di telinga Nafisa. Wanita cantik nanceria itu tertunduk lesu duduk di pinggir ranjang. Menanti setiap detik jarum jam, serasa langit ini akan runtuh. ia tak siap menerima pernikahan ke duanya.
Jika tak mengingat keinginan suaminya, wanita itu lebih memilih ditelan bumi agar tak melihat wajahnya seumur hidup. Dia terlalu banyak meninggalkan jejak luka dihati Nafisa.
Pintu terbuka berlahan, wanita cantik berbulut cerewet berjalan mendekati calon pengantin.
"Gimana Naf, sudah siap?"
Gak usah tegang gitu, kan ini pernikahanmu yang kedua, apa masih segugup itu?"
Ledek si lidya asal, Nafisa hanya mendelik galak, menatap sajabatnya itu.
"Coba kamu diposisiku, pasti kamu juga akan ngerasa apa yang aku rasain lid, ini gak mudah" ucap Naf getir.
"Kamu yang sabar, harusnya kamu bahagia Naf" Nafisa menatap nanar ke arah sahabatnya. Taklama tanpa diminta pintu kamar terbuka, terdengar suara lembut bundannya memanggil.
"Ayok nduk! para tamu undangan dan suamimu sudah nunggu di bawah"
"Iya bu"
Ucapnya lesu, tak sedikitpun bergairah.
Nafisa digiring turun oleh ibu dan sahabatnya.
Nafisa benar-benar kesal dengan Lidya, karna tak mengamini keinginannya, untuk membiarkannya tinggal dikamar barang sejenak saja, untuk menetralkan rasa yang terasa sesak.
"Udah jangan nesu! Gitu-gitu adik iparmu itu ganteng dibawa kemana-mana gak bakal malu-maluin, inget ini juga amanah alnarhum suamimu! klaskan hatimu untuk nerima dia Naf"
Ucap Lidya sok bijak, sembari berbisik ditelinga Nafisa.
"hati-hati malam pertamanya jangan terlalu agresif, suamimumu masih perjaka"
Ucap Lidya asal mangap.
Terang aja Nafisa langsung mendengus kesal dengan melemparkan tatapan tajam kearah wanita cantik berbibir tipis itu, dengan seenak jidatnya ngasi wejangan seperti itu.
"Bisa diam gak, Lid. Kamu bukan bantu aku bibirmu udah kayak cocor bebek di comberan, brisik"
Hampir saja tawa lidya pecah saat melihat ekspresi bloon sahabatnya ini.
Tanpa sadar langkah mereka terhenti saat mendengar suara riuh dari para tamu.
__ADS_1
"Subhanallah. Cantik sekali mantennya"
Sontak Nafisa mengangkat wajahnya.
sembari mengembangkan senyum yang ia paksakan.
"Sini nduk salam dulu sama suamimu"
Ucap ibu mertuanya, Nafisa hanya menjawab dengan anggukan, sembari menatap suami barunya itu.
Dan si Nugra belagak sopan dan terpukau oleh tampilan istrinya, sembari mengangsurkan tangannya ke Nafisa.
Dengan tangan gemetar dan kikuk, Nafisa menyalami suaminya. Bagaimana gak kikuk orang biasanya suami barunya ini yang mencium hormat tangan Nafisa didepan keluarga dan mas Pram. Sekarang posisi mereka sudah berbeda.
Setatusnyalah yang menukar paksa posisinya itu. Dari adik ipar jadi suami. Dari kakak ipar jadi istri. Benar benar membuat keduanya terbelenggu dalam ketidak nyamanan.
Acara sudah berlangsung, semua tamu undangan meninggalkan kediaman mempelai, tinggallah keluarga inti dari Nugrah dan Nafisa yang masih tersisa.
Di kamar pengantin sang ibu dan ibu mertuanya memberikan wejangan untuk putrinya dan mantunya.
"Nduk! sekaran Nugrah bukan lagi adik iparmu, melainkan suami yang harus kamu patuhi setiap perintah dan nasehatnya yang baik. Ingat surgamu ada pada suamimu"
"Ibu tau, kamu sangat mencintai almarhum pram, tapi kamu harus ingat pernikahan ini atas keinginan terakhirnya nduk, buka hatimu untuk Nugrah. Jalani pelan-pelan biduk rumah tanggamu yang baru, inget nduk jangan bandingkan antara Pram dan Nugra. Mereka memang sama-sama keluar dari rahim yang sama. Tapi sifat dan karakternya berbeda Nduk, kamu harus lebih sabar menghadapi Nugra"
Ucap sang ibu mertua memberi titahnya. Air mata Nafisa luluh berderai,mendengar ucapan sang ibu. Dengan sesengukan Nafisa berucap tersengal.
"Naf coba buk, bantu doakan Naf agar bisa membuka hati untuk Nugrah dan jadi istri yang baik"
Ucapnya lirih. Namun sang ibu menyela ucapan Nafisa
"Bukan Nugrah, mas nugrah Naf! kualat manggil suami nama aja, tanpa embel-embel mas"
Sang ibu berucap sembari mengelus lembut rambut Nafisa.
"Iya maaf"
Hanya kata maaf yang ia ucapkan, sembari memeluk kedua orang yang sangat Nafisa hormati itu
"Ya sudah kami pamit dulu, ibu titip Nugrah ya Naf."
__ADS_1
"Iya bu"
Jawabnya lembut, bu Tari dan bu Sinta beranjak meninggalkan kamar pengantin itu. Setelah kepergian orang tua dan mertuanya, kembali hati Nafisa dirundung rasa cangung.
Untuk menghindari Nugrah, Nafisa bergegas kekamar berberes dan membersihkan diri. Tapi ternyata ke kamar adalah langkah yang salah. Saat membuka kamar Nafisa melihat sesuatu yang halal untuk dia lihat, sontak Nafisa membalimkan tubuhnya.
"Masuk aja mbak"
Ucap Nugra dingin.
Mendengar ucapan Nugra, hati Nafisa terasa kebas bagaimana mungkin suaminya memangilnya dengan embel-embel mbak, Nafisa tau Nugra belum bisa menerimanya sebagai istrinya. Apa lagi mereka menikah baru dalam hitungan jam saja.
Dengan rasa aneh Nafisa berlalu begitu saja dari kamarnya. Sementara Nugra dengan wajah tak bersalahnya hanya mencebikkan bibirnya sembari mengangkat bahunya santai. Dengan wajah lelah Nugra membenamkan wajahnya di bantal, sementara nafisa masih asik dengan pikiranya di ruang TV. Setelah lelah Nafisa kembali memasuki kamar mereka
Dengan tangan gemetar Nafisa mengetuk pintu kamarnya,
"Masuk aja mbak gak dikunci"
Sahut nugra malas tak berselera. Nafisa masuk dan mendekat, ia duduk disisi ranjang, dengan penuh kehati-hatian. Dengan lembut Nafisa berkata kepada sang suami.
"Maaf mas, bukan maksudku lancang. kenapa mas memanggilku masih dengan sebutan mbak?"
Ucapnya lembut. Nugra menyerengit tidak senang, sembari menjawab ucapan Nafisa
"Lah terus aku harus panggil kamu apa? memang kamu mbak iparkukan! Jangan berharap banyak dari aku mbak."
Ucap Nugra kembali menjawab dengan nada tak bersahabat.
"Tapi mas, saat ini kan aku sudah bukan mbak ipar mas, melainkan istri mas, bisakah mas panggil Naf dengan sebutan lain"
Pinta Nafisa lembut.
"Emang kamu mau aku panggil apa? heran ya, baru sehari jadi istri kamu udah banyank nuntut. Dengan wajah malas Nugra menjawab istri barunya itu.
"Maaf, Naf gak bermaksud begitu. mas bisa panggil Naf, nama aja"
Dengan wajah merunduk Naf mengucapkan kata itu.Tanpa menjawab Nugra hanya menatap dan menelisik wajah Nafisa sejenak, lalu pria itu kembali memejamkan matanya. Tanpa menghiraukan wanita yang tengah duduk dengan gelisah.
Merasa diabaikan, dengan kesal Nafisa meninggalkan kamar mereka. rasa gondok itu bercokol di hati wanita cantik itu. Nafisa menenangkan diri dengan menikmati coklat hangat, sambil nonton acara TV, kemudian tatapannya kosong jauh menerawang, tiba-tiba rasa rindu dengan sang suami datang mendera. Air matanya menetes tak terbendung. Bibirnya berbisik lirih.
"Mas, kamu sedang apa disana. Naf kangen!"
Bulir air mata itu mengalir deras, sesekali ia seka dengan ibu jarinya. Dari pintu kamar Nugra melihat bulir benig mengalir di pipi Nafisa. Namun bukanya Nugra mendekat, Nugrah malah masuk kamar dan terlelap tanpa perduli dengan tangis Nafisa.
__ADS_1
"Heem, apa perduliku. Dia saja tak pernah peduli dengan hati dan hidupku"
Ucap Nugra sengit, seolah Nafisa wanita penghancur hidupnya.