SUAMI SATU RAHIM

SUAMI SATU RAHIM
BAB 4


__ADS_3


Luka menganga,menoreh setiap kata yang terucap, pahit dan getir cukup ia simpan di relung hati. Impian yang indah menjalani bahtera rumah tangga pupus ditelan getirnya kehidupan.


Dengan segenap tekat Nafisa tak akan pernah berharap dengan keadaan, jatuh cinta yang membuat angannya melambung tinggi, sehingga Nafisa lupa akan kenyataan penolakan Nugrah terhadapnya.


"Mbak. Maafin Nugrah, atas apa yang aku ucapkan, aku gak bermaksud menyakiti mbak Nafisa"


Terang Nugra penuh penyesalan. Tapi sayang hati Nafisa sudah terkunci untuk melunak. Hatinya terlanjut sakit. Nafisa bertekat untuk tidak mudah terpesona oleh cintanya terhadap Nugra.


"Gak papa. Mungkin memang akunya saja yang berharap lebih dari pernikahan ini"


Ucap Nafisa dengan wajah datarnya.


"Tapi mbak aku!"


"Sudah lah mas, sekarang aku paham, perkataanmu tempo hari benar sampaikapanpun, aku bukan siap-siapa buat mas, aku cuma mantan kakak ipar, bahkan aku bekas masmu. yang datang dalam hidup mas, menghancurkan segalanya. Yang mungkin hal ini tak pernah masuk kedalam rencana hidummu. Aku minta maaf, telah meluluh lantahkan kehidupanmu. Jadi mulai sekarang lebih baik kita jalani peran kita masing-masing. Seperti yang kamu inginkan"


Setelah mengucapkan semua kekecewaanya Nafisa berlalu. Dengan kasar Nugra menarik napasnya dan menengelamkan wajahnya dikedua telapak tangan besarnya itu. Nugra benar-benar salah berucap tempo hari, ia terlalu menuruti nafsu seten. Sehingga lagi dan lagi ia dengan sengaja menyakiti hati wanita ayu itu.


Dipagi hari Nafisa menyambut harinya dengan sandiwara bahagia, yang ia ciptakan, ia tak ingin tampak kasihan di mata pria penoreh luka itu.


"Sarapan Nug. Mbak sudah siapkan sarapanmu di meja! mbak mau kepasar, jika berangkat kerja jangan lupa kunci pintunya."


Ucapan Nafisa sesantai mungkin. Namun justru ucapan wanita itu mengagetkan Nugra,


"Nug..? mbak... ?Apa itu... ? Nafisa memanggilku Nug, dan membahasakan dirinya mbak? "


batinya berkata sehingga tangannya yang sedang mengenakan dasi terhenti seketika, dengan wajah bersalah Nugra  menatap Nafisa lekat-lekat.


"Biar aku antar!"


Ucap Nugra singkat


"Gak usah, mbak udah dijemput lidya! Mbak pergi dulu ya!"


Dengan langkah lembutnya Nafisa berlalu meninggalkan Nugra, yang terbengong.


Setelah kepergian Nafisa Nugra meremas rambutnya dengan kasar.


"Ya Allah. Kenapa jadi serumit ini."


Ucap Nugra frustasi. Dengan rasa yang tak karuan Nugra melajukan mobilnya menuju kantor.


Sementara di tempat lain, Nafisa tengah menangis dipelukan lidya. Wanita itu meluapkan seluruh laranya pada wanita yang selalu mengerti dirinya itu.


"Menangislah Naf, agar beban hatimu berkurang"


Ucap Lidya lembut, sembari mengelus punggung sahabatnya.

__ADS_1


"Kamu tsulid rasanya bagsimana? mendamba cinta yang tak pernah berbalas itu teramat sakit! aku yang sejak dulu terlalu mencintainya, aku pikir dengan ditakdirkan menikah dengannya, aku akan mendapatkan cinta mas Nugra dengan mudah, nyatanya semua ambisiku ini menghancurkan kekuatanku sendiri, aku salah ternyata dia bensr-benar tak mencintaiku!"


Ucap Nafisa tersendat, tangisnya pecah dalam pelukan sahabatnya.


"Percaya sama takdir Allah Naf, semua ini pasti sudah Allah tulis keindahan untuk mu, kamu hanya perlu bersabar, aku yakin diakhir cerita pernikahanmu dengan mas Nugra akan tercipta kisah yang indah, tetaplah menjadi istri yang baik untuknya, ingat ridhanya suami itu ridhanya Allah"


Dengan kelembutan Lidya memberi kekuatan sembari memeluk hangat sahabatnya


"Aku nyerah Lid, aku gak kuat jika harus deperti ini terus menerus, aku kalah dengan takdirku,"


ucapnya sendu


"Udah dong jangan nangis terus, gak boleh mikir kayak gitu Naf, kita gak tau takdir kita seperti apa kedepannya."


Ucap Lidya mengingatkan. Sembari menghapus air mata di pipi Nafisa.


Setelah sampai di market terdekat, mereka dengan asyik memilih bahan masak untuk keperluan mereka masing-masing. Akhirnya mereka selesai belanja, Nafisa memutuskan untuk menenangkan diri sejenak di rumah Lidya, Nafisa tertidurlelap. Melihat sahabatnya tidur pulas, Lidya tak sanggup membangunkannya.


Disebrang sana didalam kantor Nugra sibuk dengan curhatannya kepada Reno.


"Menurutku ya Nug, kamunya aja yang sok jual mahal, cinta udah didepan mata kamu siasiain, dulu aja waktu Nafisa nikah sama mas pram, kamu kelimpungan kayak orang gila, sampai menghindar lupa pulang."


Ucapan Reno memukul telak Nugra


"Entah lah aku pusing"


Mengetahui itu, Nugra semakin hawatir, bayangan Nafisa meninggalkannya membuat hatinya semaki ketar-ketir. Nugra terus mondar mandir di kamarnya.


Jarum jam berputar berribu kali namun Nafisa belum juga pulang. Ditengah keresahannya tampak seluit wajah Nafisa, dari balik jendela mobil, dengan langkah gontai Nafisa menaiki tangga teras rumahnya.


Pria itu tanpa diminta membukakan pintu untuk sang istri. Tanpa diasadari mulut Nugra membentak wanita ayu yang baru masuk rumah, Nugra membuntuti Nafisa di belakangnya sembari berucap.


"Kamu itu ya mbak, apa sih maunya? pergi dari pagi gak ngabari. Kamu pikir kamu itu siapa, mau coba pengen diperhatiin? sok-sok kabur, mau jadi istri manja,?!"


Ucsp Nugra sambil tertawa sumbang.


Nafisa hanya menatap sejenak kemudian berucap lembut.


"Gak gitu Nug, tadi mbak ketiduran dirumah Lidya! ya udah mbak ke kamar dulu."


Ucapnya sembari berlalu, kemudian berhenti


"Oh ya. Kamu udah makan Nug?"


Tanya Nafisa lembut. Nugra kembali menatap wanita ayu itu.


"Aku gak lapar"


Jawab Nugra datar.

__ADS_1


"Oh yaudah kalau gitu mbak duluan, ngantuk soalnya"


Ucapan Nafisa dibuat sesantai mungkin agar Nugra tidak tau jika Nafisa menahan tangisnya, dalam hati. Sampai di kamarnya Nafisa kembali menumpahkan kesakitannya.


"Aku tau aku bukan siapa-siapamu mas, tak perlu kamu perjelas seperti itu statusku di hatimu,"


Ucap Nafisa kesewa. Karna lelah menangis Nafisa akhirnya tertidur, dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya


Sementara Nugra merutuki mulutnya yang gak bisa direm karna sangking hawatirnya. Akhirnya Nugra kembali melukai hati Nafisa tanpa bermaksud begitu.


"Ya ampun ini mulut memang kurang ajar bangat gak bisa dikondisikan, pasti Nafisa terluka karna ucapanku"


Nugra kembali gelisah di kamarnya! namun entah dorongan dari mana dengan sejuta keberanian ia kerahkan untuk mengetuk pintu kamar Nafisa.


"Ya. Ada apa Nug?"


Tanya Nafisa sembari mengeliat, meregangkan tubuhnya


"Boleh aku masuk?"


Tanyanya ragu


"Masuk aja pintunya gak dikunci kok!"


Setelah membuka pintu Nugra duduk ditepian ranjang Nafisa,


"Ada yang mau aku omongin"


Ucapnya sedikit ragu


"Mau ngomong apa? kayaknya penting ya?"


Nugra tidak menjawab pertanyaan Nafisa, dia langsung kepermasalahan.


"Aku mau kamu panggil aku, mas kayak biasanya, aku gak suka kamu panggil aku nama aja!"


sontak setiap kalimat yang keluar dari mulut Nugra membuat Nafisa tertawa getir.


"Kamu itu ngomong apa sih Nug, bukannya dari awal kamu anggap aku ini cuma mbak iparmu, lantas kenapa aku hars panggil kamu, mas?" lain halnya waktu kemarin-kemarin, aku memang sempat berharap kamu bisa anggap aku lebih dari sekedar kakak ipar, tapi setelah ucapanmu tadi dan tenpo hari, membuat aku sadar dengan posisiku dihati kamu itu sebagai apa."


Ucap Nafisa getir


"Tau apa kamu dengan hati aku Naf?"


Bentak Nugra tajam. Suara bentakan Nugra cukup mampu membuat hati Nafisa oleng, penuh luka.dengan nanar Nafisa menatap Nugra.Tanpa Nafisa sadari, tangan Nugra terulur mengusap pipi lembut Nafisa, namun dengan perlahan Nafisa melepas tangan Nugra sembari berkata


"Mbak gak papa. Jangan paksakan diri dan hatimu untuk memperhatikan mbak"


Setelah berucap Nafisa melangkah meninggalkan Nugra yang tercengag di pinggir ranjang.

__ADS_1


__ADS_2