SUAMI SATU RAHIM

SUAMI SATU RAHIM
BAB 5


__ADS_3



Dengan kegetiran akan rasa sesak yang terus bersarang di hati Nafisa semakin membumbung tinggi. Nafisa sadar kisah yang ia jalani teranat perih hingga ke relung hati wanita ayu itu. Luka-luka yang tak kasat mata berlahan menggerogoti hatinya.


Nafisa terduduk lesu menatap langit yang tampak mendung.


Nugra mendekat duduk di sebelah Nafisa, saat ini mereka tengah duduk di taman belakang.


"Dengarkan aku dulu Naf, aku minta maaf!"


Nungra berusaha menjelaskan, tapi lagi-lagi Nafisa menyela, ia sudah bosan dengan kata maaf yang pria itu ucapkan.


"Apa yang harus aku dengar Nug, pernikahan ini terjadi bukan kehendakku dan bukan pula kehendakmu, semua karna permintaan terakhir suamiku sebelum meninggal. Bukan aku yang pinta. Jadi jangan kamu buat seolah-olah disini aku yang menginginkan semua ini. Aku benar-benar muak dengan pernikahan ini dan sikapmu yang semakin tak menentu."


Selesai mengucapkan semua kegundahan hatinya, Nafisa berlalu, namun tangannya segera dicekal Nugra. Dengan dada kembang-kempis Nafisa berkata


"Lepasin! aku ini mbak iparmu. apa pantas kamu perlakuin aku kayak gini ha?"


Bantak Nafisa geram. Dengan amarah yang meluap tanpa sadar Nugra mencengkram rahang Nafisa sembari berucap.


"Kamu itu istriku, tak pantas seorang istri bersuara tinggi ke suami dan jangan sekali-kali kamu muak dengan pernikahan ini paham kamu?"


Bentak Nugra lantang, sembari mendorong tubuh Nafisa kasar. Hingga wanita itu terjerembah ke atas lanyai yang dingin. Nafisa tersenyum getir menatap jengah suaminya.


"Aku istrimu. Sejak kapan? bahkan hingga hari ini kamu masih anggap aku ini kakak iparmu. Jangan membual kamu, kamu sadar gak, pernikahan yang kita jalani ini gak sehat Mas? Kamu lupa. Jika kamu tidak suka barang bekas sepertiku. Jangan beri aku harapan jika kamu gak bisa wujudkannya, aku bisa terima posisiku seperti apa"


Ucap Nafisa lantang, wanita itu benar-benat hilang kontrol saat hargadirinya diremehkan. Selesai mengeluarkan isi hatinya, Nafisa berlalu meninggalkan Nugra yang termangu.


Nugra hanya memandangi setiap langkah Nafisa.


Setelah Nafisa hilang dari pandangan,Nugra melangkahkan kaki keluar rumah, menuju mobilnya dang membawanya dengan kencang, sembari meremas tangan yang dia gunakan untuk mencengram mulut Istrinya. Dengan penuh penyesalan Nugra terus memukul-mukulkan tangannya ke stir mobil.


Setelah lima belas menit perjalanan Nugra sampai dirumah ibunya.


"Assalamualaikum bu..!"


"Waalaikumsalam. Nugra..! Loh mana Nafisa?? "


Ucap sang ibu kaget, atas kedatangan mendakak putranya itu.


"Dia di rumah bu"


Jawab Nugra singkat. Sang ibu terus memperhatikan air muka Nugra yang kusut, dengan hati-hati sang ibu berucap

__ADS_1


"Apa kamu belum bisa nerima mbakmu. sebagai istri sahmu Nug?"


Tanya bundanya.


"Bukan gitu bu, semua butuh proses"


Jawab Nugra lembut


"Iya le, tapi kasian Naf kalau sikapmu terus kayak gini, gimanapun dia sudah berkorban untuk kebahagian masmu!"


Ucap sang bunda sedih.


"Berkorban. Maksud ibuk apa?"


Nugra tampak bingung dengan ucapan sang bunda.


"Iy le, Masmu itu, sangat mencintai Nafisa, tapi sayang saat pram mengutarakan perasaanya, Nafisa berkata jujur jika ia sudah memiliki tambatan hati sejak kuliah, walaupun Nafisa tau orang yang dia cinta sudah punya wanita lain namun Nafisa tetap mencintainnya, tanpa berharap balasan dari lelaki yang dia cinta. Tapi masmu itu gak mau nyerah. Dia terus berusaha mendapatkan Nafisa.


Kebetulan saat itu penyakit jantung masmu kumat, pram sempat dirawat, kondisinya terus drop, tapi saat pak Bambang dan Nafisa jenguk, kondisi pram membaik. Jadi ibu ambil inisiatip, keesokan harinya ibu menemui Nafisa. Namun sebelu menemui ibu bertanya pada masmu, prihal perasaannya pada Nafisa.


Saat itu setelah kepulangan pak Bambang dan Nafisa. Ibu bertanya pada Pram, ternyata dugaan ibu benar. Pram menceritakan semuanya. Bahwa dia sangat mencintai Nafisa sejak pertama kali melihat Nafisa. Pertemuan itu bermula saat Pram antar kamu kuliah.


Nugra kembali teringat sat-sat masa kuliah, ya Nugra memang selalu diantar oleh Pram dan sang ibu kembali bercerita


"Dari itu lah Nug, ibu menemui Nafisa, menceritakan semua keadaan Pram dan meminta kesediaan Nafisa untuk menerima lamaran Pram,


Setelah dua minggu lamaran, Pram dan Nafisa melagsungkan pernikahan. Nafisa berusaha menjadi istri yang baik, ibu bahagia melihat mereka. Rumah tangganya tampak bahagia. Selama delapan bulan pernikahannya. Pram selalu sehat, karna Nafisa merawatnya dengan baik.


Namun sayang pada waktu itu sahabat Nafisa main kerumahnya. Mereka sedang asik bercerita, pada waktu itu lidya sahabat Nafisa, menceritakan lelaki yang Nafisa cinta, tanpa mereka tau Pram mendengarkan percakapan mereka.


Sakit jantung pram kembali kambuh, masmu tak bisa menerima kenyataan prihal pria yang istrinya cintai. Masmu sempat bercerita pada ibu. Tapi saat ibu bertanya siapa lelaki yang Nafisa cinta, dia tidak mau menyebutkan nama laki-laki yang istrinya cintai. Sebelum pram meninggal dia hanya meminta pada Nafisa untuk Menikah denganmu Nug.


Pram bilang, bahwa denganmulah Nafisa akan bahagia! Jadi ibu mohon denganmu, jaga Nafisa dan bahagiakan dia untuk Pram.


Setelah menceritakan semuanya sang ibu menangis, dengan lembut Nugra merangkul ibunya sembari berkat.


"Nugra pasti akan buat mas Pram bahagia, ibu jangan hawatir"


sambil berucap Nugra mengepal dan berkata dalam hati


"Kamu bukan saja menyakiri hati dan cintaku, tapi kamu juga yang membuat mas Pram meninggal Naf."


Rahang Nugra mengetat, dengan sedikit menahan emosi Nugra pamit pulang.


"Nugra pulang dulu ya bu dah malam"

__ADS_1


Pamitnya cepat.


"Ya Nug, hati-hati. Ingat pesan ibu, jaga Nafisa jangan sakiti dia"


Nugra hanya tersenyum sengit dan berlalu meninggalkan kediaman orangtuanya. Rasa sakit di hati pria itu semakin membumbumg tinggi. Ia tak menyangka jika wanita yang ia cintai adalah penyebab kematian kakak ter cintanya.


Nugra benar-benar kecewa pada Nafisa. Istrinya itu benar benar pencipta luka yang handal. Tak hanya dirinya yang menderita oleh wanita itu, ternyata mas Pram lebih menderita, hingga kakaknya itu meninhgal.


Sampai di rumah ia lihat wanita itu tak ada di kamarnya. Nugra terus mencari wanita itu. Ternyata orang yang iya cari tenhah meringkuk di kegelapan di atas kursi taman belakang. Terdengar isakan pilu dari bibir wanita itu. Nugra terpaku, sekrtika emosinya sirna detelam bumi, saat mendengar isakan kepiluan dari bibir wanita yang sangat ia cintai.


Nugra mendekat perlahan ia pegang pundak Nafisa yang betguncang.


"Masuklah sudah malam"


Ucap Nugra lembut.


"Pergilah, jangan perdulikan aku"


Jawab Nafisa datar.


"Kamu dengar aku Naf?"


Tanya Nugra masih lembut.


"Jika aku mendengarmupun, aku tak akan mengindahkan perintahmu. Aku lelah mas, aku mau kita berpisah"


Ucap Naf lirih, batinnya benar-benar tak kuat menjalani hidup dengan suami kasar seperti Nugra."


Nugra terkejut mendengar permintaan istrinya.


"Jangan bicara yang tidak-tidak kamu, masuklah sebelum kesabaranku habis"


Ucap Nugra sembari mencekal lengan Nafisa.


Namun ternyata Nafisa tak tinggal diam. Ia tepis tangan Nugra hingga cekalannya terlepas.


Nugra geram melihat penolakan istrinya, tanpa bermaksud melukai, Nugra kembali menarik pergelangan tangan Nafisa, namu wanita itu menolak sehingga Nafisa terpleset, tebuhnya jatuh ke lantai dan kepala wanita itu terbentur pot bunga.


Demgan darah mengalir di keningnya Nafisa nangkit meninggalkan Nugra, wanita itu berlari ke kamarnya lalu dengan cepat ia mengunci dirinya.


Nugra terus mengetuk daun pintu coklat itu namun masih tak terbuka.


"Naf, buka pintunya lukamu harus di obati"


Ucap Nugra hawatir. Nafisa meringis menertawakan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, luka ini tak sebandimg dengan luka hatiku yang kamu torehkan mas!"


Ucap Naf datar. Nugra terdiam pria itu serasa ditampar, oleh perkataan sang istri.


__ADS_2