
Merdunya kicau burung dipagi hari mampu merileksasikan pikiran yang penat yang terus menjejali pikiran Nafisa. Nugrah Prawira suami baru, setatus lama dihati Nafisa. Pria tampan berwatak kaku itu cukup menguras emosi wanita ayu sekelas Nafisa.
Dengan suara halus Nafisa menawari suami barunya untuk sarapan.
"sarapan dulu mas!"
Pintanya sopan
"Maaf mbk! Nug gak bisa sarapan bareng mbak, Nug ada rapat pagi ini!"
Nug menjawab sembari berlalu meninggalkan meja makan.
"Ooo, ya gak papa mas, kalo gitu Naf bawakan bekal ya?"
Tawarnya semangat
"Gak usah mbak aku buru-buru"
Dengan tergesa Nugra melangkah. Namun Nafisa memanggilnya kembali, pria itu dengan jengkel menghela nafasnya kasar.
"Mas tunggu"
"Ada apa lagi?"
Nafisa mendekat kearah Nugra dan mengangsurkan tanganya hendak menyalami suaminya
"Salam dulu mas ucapnya rikuh"
"O ya, lupa"
Ucap Nugra baru sadar.
Dengan sigap Nugra menyambut tangan Nafisa, tangan itu iya apit dan mengangsurkan kekenig Nugra.
"Assalamualaikum mbak, Nug pergi dulu"
Nafisa hanya diam mematung, sembari menelan ludahnya yang terasa serat. Sungguh wanita itu terkejut, atas perlakuan Nugra yang mencium hormat tangannya. Seperti kebiasaannya dulu sewaktu Nafisa masih menjadi kakak iparnya.
Tanpa menjawab wanita itu membalik badanya sembari menutup pintu, ia tekan dadanya kuat-kuat untuk menghilangkan rasa sakit yang mulai merasuk di uluh hatinya. Bagaimana tidak, Nugra benar-benar tak menganggapnya istri.
Rasa sesak itu kembali hadir, mengingat perihnya tak diannggap oleh pria yang sangat ia cintai. Dulu Naf pernah merasakan hal yang sama. Ingatannya kembali berputar ke pristiwa tiga tahun silam, dimana seorang gadis yang mengaguminya diam-diam, tengah memandangi pujaan hatinya dari kursi taman tak jauh dari Nafisa duduk
Dengan usil Lidya mengagetinya
"Hayo! lagi merhatiin si dia, ya?"
Ucap Lidya sok tau. Namun dengan malu-malu akhirnya Nafisa menjawab dengan jujur, ia tak tahan memendam perasaan sendiri, yang terus mengganggu benaknya. Nafisa butuh tempat bercerita.
"Kok kamu tau?"
"Tau dong, tiap hari aku perhatiin ya kalian suka lirik-lirikan."
Sekrtika, wajah Nafisa bersemi malu.
"Aku kagum sama dia, Lid. Bahkan kekaguman itu berubah jadi rasa cinta"
Ucap Nafisa jujur.
"Oo ho! Oke, tenang aja. Serahin sama Lidya, semua beres"
Ucap Lidya sok oke
Setelah seminggu kejadian intip-mengintip, tatap menatap, Lidya menemui pria yang Nafisa cintai, di kantin kampus
"Mas bisa minta waktunya sebentar!"
__ADS_1
pinta lidya pada pria tampan itu. Sontak pria itu merasa heran. Ia mengrenyitkan keningnya, menatap gadis yang ngajaknya bicara.
"Kamu ngomong sama saya?"
tanyanya balik, sembari menunjuk badanya sendiri.
"Ya, mas"
jawab Lidya sembari menunjuk,kearah pria berhidung mancung itu.
"Boleh. Silakan duduk!"
Ucap pria tampan itu sopan. Tak perlu basa-basi Lidya langsung bicara, ketopik utama.
"Gini mas, ada teman saya yang suka sama mas, orangnya cantik baik dan pintar!
mas mau gak saya kenali ke sahabat saya?"
Ucap lidya panjang lebar sepanjang tali beruk. Pria itu terbengong, dengan muka datarnya ia menjawab dengan tegas.
"Maaf saya gak berminat dengan teman kamu, saya sudah punya wanita pilihan"
Ucapan pria itu membuat hati Nafisa sedih. Tanpa mereka sadari, Nafisa mendengar semua jawaban pria yang ia sangat cintai, rasanya malu pria itu dengan tegas menolak mentah-mentah tawaran Lidya. Dengan cepat Nafisa membalik badan dan berlari menjauhi kantin.
Sejak saat itulah Nafisa terus menghindar jikala Nafisa bertemu pria pujaannya, ia tak ingin bertatap muka dengan pria itu, apa lagi beradu pandang, Naf sangat menghindari. Biarlah cinta dan rasannya ia pendam sendiri pikirnya.
Ditengah lamunannya
Nafisa terjengit kaget kala henponnya berdering nyaring, sekilas dia lihat panggilan di layar pipih itu.
"Assalamualaikum bu! ibuapa kabar? "
Ucap Nafisa sopan
"Waalaikumsalam Naf, gimana kabar mu sehat to ndhuk?"
Tanya sang bunda pada putrinya.
Ucapnya manja
"Alhamdulillah! ibu juga sehat, Gimana Nugra, perlakuannya baik kan sama kamu?"
Tanya ibunya menyelidik
"Mas Nugra baik kok bu sama Naf!"
Jawabnya bohong
"Alhamdulillah. Ingat lo nduk, hormati suamimu, jangan mentang-mentang dia bekas adek iparmu, kamu semaunya sendiri"
Ucap sang ibu mengingatkan.
"Iya bu, Naf ngerti"
Jawab Naf lembut
"Ya udah Kalo gitu, ibu cuma mastiin kalo anak ibu baik-baik aja"
Ucap sang ibu, kemudian sambungan telponpun terputus.
Nafisa kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda akibat lamunan masalalunya yang panjang. Tak terasa mentari turun dari singasananya, gelap mulai memjemput malam. Dengan santai Nafisa duduk diruang tengah menunggu suaminya pulang.
Tak lama terdengar derap langkah kaki kokoh suaminya, dengan sigap Nafisa menyambut tangan Nugra, membantu membawa tas kerja suaminya.
"Biar Naf bantu bawa tasnya, ya mas."
Tanpa menjawab, Nugra memberikan tasnya, dengan segera Nafisa menerima tas kerja Nugra. Setela menerima tas suaminya Nafisa segera mengapit tangan Nugra, dengan lembut Nafisa mencium tangan suaminya, sembari mengucap salam.
__ADS_1
"Assalamualaikum mas"
Dengan wajah terkejut Nugra menatap Nafisa tajam. Kemudian menjawab salamnya dengan suara datar sembari berlalu meninggalkan Nafisa begitu saja. Dengan perasaan nano-nano Nafisa membuntuti langkah suaminya. Sampai di kamar Nafisa menyiapkan baju santai untuk suaminya. Seperti kebiasaannya saat bersama almarhum Pram.
"Mas mandi dulu, biar Naf siapkan makan malam untuk kita, pakaian ganti mas, Naf taruh diatas tempat tidur ya"
Ucap Naf memberi tahu.
Setelah mengucapkan itu, Nafisa keluar menuju dapur menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Sementara dikamar masih dengan handuk terlilit di pinggangnya Nugra duduk di sisi tempat tidur. Dengan hati berkecamuk. Rasa kecewa itu masih membekas dihati Nugra.
Perasaan terluka kala teringat wanita pujaannya disunting oleh orang yang paling dia sayang. Ia tarik nafasnya dalam, Nugra mencoba menetralkan hatinya berlahan. Sementara di meja makan Nafisa gelisah menunggu Nugra yang tak kunjung keluar dari kamar. Nafisa melangkah berniat memanggil sang suami. Dengan perlahan Nafisa membuka daun pintu berwarna coklat itu. Kepalanya mulai melongok masuk kedalam, mulutnya bergerak memanggil sang suami.
"Mas kok lama baaa...nget"
Ucap Nafisa tergagap. Nugra yang tengah melamun menatap Nafisa heran, alisnya terangkat
"Ada apa mbak.? malu lihat aku kayak gini, biasa ajalah, kayak gak pernah lihat orang pake handuk aja. Emang mas Pram gak pernah kayak gini?"
Ucap Nugra sambil mencibir Nafisa. Pria itu dingin namut mulutnya pedas seperti bon cabe.
Ucapan Nugra tak ditanggapi oleh Nafisa, dengan hati tak karuan Nafisa meninggalkan kamar menuju ruang makan. Wanita itu kembali teringat sang suami, jika selesai mandi pasti almarhum selalu duduk santai di pinggir ranjang, tak langsung mengenakan pakaianya.
Tak lama Nugra turun ikut gabung di meja makan, Nugra menatap Nafisa sekilas, terlihat dari sudut matanya wanita itu tengah menangis.
"Kenapa mbak nangis? Menyesal menikah denganku?"
Ucap Nugra pedas. Nafisa menatap suaminya, kemudian menggeleng lemah.
"Gak ada yang harus aku sesali mas"
"Lalu kenapa kamu menangis, mbak?"
Tanya Nugra kesal.
"Naf, kangen ibu aja mas"
Ucap Nafisa bohong. Wanita itu dengan telaten menyendokkan nasi ke atas piring suaminya. Sementara pria itu mendengis mendengar jawaban Nafisa.
"Cukup"
Ucap Nugra datar.
Naf berhenti menuruti intruksi suaminya.
Mereka mulai makan dalam diam, entah mengapa air mata Nafisa terus mengalir, tiba-tiba ia rindu momen seperti ini dengan almarhum suaminya. Nugra yang melihat itu geram. Nugra tau istrinya itu tengah mengingat kenangan manis bersa almarhum masnya.
Tanpa Naf duga, Nugra membanting sendoknya ke atas piring. Hingga suara itu menggema. Naf terjengit kaget.
"Sudahlah mbak, jangan terus menangisi mas Pram, Jika ingin menangis silahkan pergi, gak disini tempatnya. Meja makan tempatnya orang makan, bukan tempat mengenang masalalu"
Ucap Nugra kesal. Pria itu bangkit meninggalkan nasi yang masih tersisa dalam piringnya.
Naf menatap pungging kekar itu yang mulai menghilang. Naf tau dirinya salah, tapi Naf sudah berusaha sekuat mungkin menaha air matanya yang dengan lancangnya luruh dari netra bening itu. Nafisa bangkit dari duduknya ia susul suaminya menuju kamar.
"Maafkan Naf, mas. Naf, Gak ada maksud membuat mas tersinggung."
Nugra menatap Nafisa datar.
"Aku tau mbak, kamu sangat mencintai mas Pram. Apa bisa kamu tidak memperlihatkannya padaku"
Pinta Nugra tegas.
"Maaf, jika sikapku menyakitimu mas!"
Nugra tak menjawab, pria itu menutup wajahnya dengan bantal kemudian memiringkan tubuhnya memunggungi Nafisa.
__ADS_1
Nafisa tarik nafasnya berlahan, hingga rongga dadanya terasa ringan. Naf ikut berbaring di atas ranjang yang terasa dingin tanpa kehangatan, hampir lima bulan pernikahannya berlalu, namun masih belum ada perkembangan yang terlihat. Nungra masih belum bisa nenerima statusnya sebagai suami. Bahkan pria itu masih menganggap Nafisa sebagai kakak iparnya. Tak ada hal yang lebih menyakitkan saat status kita tak dianggap.