SUAMI SATU RAHIM

SUAMI SATU RAHIM
BAB 6


__ADS_3


Langit gelap hanya bintang-bintang yang tampak berkerlap-kerlup indah. Namun tak seindah rasa hatinya, yang dipenuhi rasa amarah dan dendam, karna cintanya yang sedari dulu ia rasakan tak pernah berbalas, Nafisa selalu menghindarinya. Kembali Nugra teringat kisah cinta terpendamnya dengan Nafisa tiga tahun silam. Terputar kembali saat-saat usahanya untuk menghilangkang rasa kecewanya, Nugra dulu sempat pergi jauh meninggalkan Indonesia yaitu ke Jerman. Dengan segudan kesibukannya Nugra dapat melupakan Nafisa sejenak.


Namun cinta itu kembali hadir saat keduanya bertemu di rumah sakit.


Dada nugra berdegup kencang kala melihat sosok bidadari pujaanya, hadir di depan matanya. Tapi debaran itu dipaksa berhenti saat ibunya mengenalkan bidadari hatinya sebagai kakak iparnya.


Dunia Nugra serasa runtuh, jantung yang berdebar mendadak berhenti, Nugra hanya mampu menatap Nafisa sendu, beda dengan Nafisa yang saat itu teramat kaget, karna ternyata pria yang mampu membekukan hatinya selama tiga tahun ini adalah adik dari suaminya sendiri, yang menghilang tanpa jejak.


Semenjak kenyataan pahit itulah, Nugra bersikap semakin dingin pada Nafisa, di hatinya hanya terpatri rasa dendam dan sakit hati pada wanita yang berhasil memporak-porandakan hati Nugra. Pria itu semakin membenci Nafisa karna rasa cintanya, Bahkan pria itu lebih dominan jemburu buta.


Karna ketodak hadirannya saat pernikahan Pram dan Nafisalah, Nugra semakin terlihat nelangsa karna tak tau apa-apa.


Setelah perkenalannya dengan sang kakak ipar, Nugra berlalu bermaksut meninggalkan ruangan rawat inap Pram, namun baru satu langkah kaki Nugra berhenti.


Suara orang yang sangat ia rindukan kembali bergema.


"Dek..! mas mau ngomong dengan kamu" ucap Pram lirih setelah sadar dari pingsannya. Akibat serangan jantungnya itu.


Nugra berbalik badan dan langsung menghampiri masnya.


"Mas udah sadar..?, mas jangan banyak ngomong dulu. Takutnya dada mas sesak lagi"


Ucap Nugra bahagia, disana tampak Nafisa menggenggam tangan pram dengan sayang, dan sekali-kali ia kecup jemari pram sembari menyeka air matanya, sembari berbisik ke suaminya.


Pram tersenyum menatap wajah teduh Nafisa. Ia elus kepala Nafisa penuh rasa cinta.


"Jangan menangis, mas gak papa sayang!"


Ucap Pram sembari mencium kening istrinya. Nugra yang melihat itu dadanya sesak tak karuan.


"Mas, Naf akan selalu ada untuk mas. Mas jangan hawatir, mas harus kuat"


Ucap Nafisa lembut, dan dijawab dengan senyuman oleh Pram.


"Sini sayang, mas kangen kamu. Mas ingin puas-puasin peluk kamu untuk yang terakhir"

__ADS_1


Ucap Pram sontak membuat  Nafisa marah dan menangis.


"Ngomong apa sih mas jangan bikin takut Naf! Naf gak mau, mas tinggalin Naf, cuma mas yang tulus mencintai Naf! Naf sayang banget sama mas Pram, Naf gak suka mas Ngomong kayak gitu"


dengan rasa sedih Nafisa melepas pelukan Pram,


Namun pram semakin meledek istri manjanya itu,dengan mencubit gemes pipi mulus Nafisa .


"Dek sini...mas kenalin sama bidadarinya mas, ini mbkakmu dek, cantikkan bidadarinya mas. Masak kamu kalah sama mas. Mas mau kamu punya istri kayak mas gini"


Canda pram ke adiknya.


Nugra hanya tersenyum pias menatap manusia di hadapanya.


"Doain aja ya mas, aku dapat bidadari seperti mbak Nafisa"


Ucapnya sedikit dipaksa. Namun pram hanya tersenyum misterius.


Selama dua minggu Nugra dan Nafisa menunggu Pram dirumah sakit, Nugra benar -benar menjadikan Nafisa sebagai kakak ipar, jika bertemu Nugra selalu bersalaman dan mencium hormat tangan Nafisa dengan takzim, sebagaimana Nugra menyalami Pram.


Nanun sayang setelah dua minggu perawatan Pram kembali drop, saat itulah Pram menuturkan permintaan terakhirnya. Yaitu Pram minta Nugra menikahi Istrinya kelak jika Pram telah pergi menghadap sang ilahi robbi.


"Ya Allah hamba tau engkau maha penentu segalanya, hamba iklas jika harus sesakit ini takdir yang aku jalani atas ujianmu untuk mendapatkan kebahagianku ya Rob"


Selesai Nafisa mengadu pada sang khaliq, Ia berangsur ke arah pintu dan terkejut menemui Nugra termangu didepan pintu kamarnya. Rasa luluhnya seketika ambyar saat wanita ayu itu menyapanya hanya nama saja, kekesalannya kembali memuncah kala ingat ucapan sang bunda penyabab kematian kakaknya tercinta.


"Nug, ada apa..?"


Tanya Nafisa lembut, namun seketika ucapannya terhenti saat Nugra memencet rahang Nafisa dengan keras.


"Panggil aku mas! Aku suamimu, jangan memancing kebencianku Naf!"


Ucapnya tajam. Kemudian dengan geram Nugra melepaskan cengraman di rahang Nafisa, sembari mendorongnya hingga Nafisa terjerembah ke lantai.


Dengan terkejut Nafisa menangis terduduk, dengan badan yang rasa remuk, dengan lirih Nafisa berucap


"Apa salahku? jika hanya permasalahan panggilan saja kamu menyiksaku, itu sungguh mengada-ada mas. Bukankah kamu yang selalu mengingatkan posisiku itu apa dalam hidummu. Lantas dimana letak kesalahku?"

__ADS_1


Ucap Nafisa tak terima, wanita itu tak sudi harga dirinya terus diinjak-injak oleh pria seperti Nugra yang tak berhati.


Nugra tak menjawab ucapan Nafisa, ia berlalu dan membanting pintu kamarnya. Dengan rasa kesal Nugra berbaring diranjang namun matanya tak kunjung terpejam.


Nugra bangkit dari ranjang dan menuju ruang kerjanya. Yang dulu menjadi ruang kerja Pram. Dengan teliti Nugra membuka file-file yang akan dibawa besok rapat. Namun masih ada satu file yang terselit, dengan telaten Nugra mencari di atas meja kerja namun tak ia temukan, ia tarik laci meja kerja itu.


Namun bukan file yang iya dapat melainkan buku agenda berwarna hitam. Nugra tatap dengan seksama buku hitam itu dan dia mulai buka lembar demi lembar.


Disaat lemebar berikutnya Nugra tercenung dengan tangan bergetar sembari mengusap wajahnya kasar. Wajahnya sangat frustasi dengan kenyataan yang barusan dia dapat.


Disana terukir jelas tulis tangan mas Pramnya. Ia baca dengan seksama, tulisan tangan bertinta hitam itu.


"Jika cinta itu bukan untukku, istriku! maka akan aku kembalikan pada pemiliknya! Mungkin nanti Aku melihat kebahagiaanmu dari surga. Bangunlah kebahagiannmu  dengan orang yang kamu cintai Naf. Maafkan aku telah merenggut kebahagiaanmu, dari adikku Anugrah Alfazar. Keiklasanmu  mengajarkanku banyak hal Nafisa. I LOVE YOU FOREVER bidadariku."


Dengan hati yang gundah Nugra hanya mampu tergugu dikursi kerjanya. Memorinya kembali berputar laju, bagaimana perlakuannya terhadap Nafisa. Karna rasa cemburu dan kecewanya dia menyingkirkan akal sehatnya. Sehingga berkali-kali Nugra berlaku dan berkata kasar pada wanita yang ia cintai.


Dengan tergesa Nugra berlari dan membuka pintu kamar Nafisa, disana terlihat jelas bekas memar di pipi dekat rahang, karna ulahnya tadi. Dan yang membuat hati Nugra serasa dicubit-cubit ketika melihat bekas air mata yang mengering di pipi putihnya.


Dengan penuh penyesalan Nugra menubruk tubuh Nafisa dan memeluknya erat, terang saja Nafisa terkejut dan langsung terbangun sepontan mendorong tubuh kekar Nugra. Nugra yang kurang sigappun akhirnya terpelanting.


Dengan suara ber getar Nafisa berucap


"Ma..maa..afin Naf..mas!"


Dengan wajah tertunduk dan sendu Naf terus memelintir baju tidurnya. Nugra bangkit dan mendekati istrinya, dan langsung merengkuh tubuh mungil Nafisa


"Maafin mas sayang, mas terlalu egois. Sehingga tidak bisa melihat cinta dimatamu!" Dengan lembut Nugra mengusap bulir air bening yang mengalir disudut matanya.


"Aku gak papa mas, jangan hawatir, aku sudah terbiasa dengan hatiku yang seperti ini !tidurlah sudah malam, kembalilah ke kamarmu mas!"


Gantian sekarang Nugra yang menatap sendu Nafisa, hatinya sakit melihat sikap dingin Nafisa terhadapnya.


"Naf mas sayang, mas cinta sama kamu! tatap mata mas, Naf.!"


Pinta nugra berharap. Nafisa tersenyum hambar mendengar ucapan pria di hadapannya.


"Gak mas. itu bukan cinta. Mas hanya kasihan dengan Naf,! Naf tau sejak dari awal, mas tidak pernah suka apa lagi cinta denganku! Naf tidak pernah berharap soal cinta. Cinta Naf sudah mati sejak tiga tahun lalu. Biarkan Naf bahagia dengan cara Naf sendiri. Jangan beri Naf dengan harapan indah yang pada akhirnya menyakitkan"

__ADS_1


Ucapan Nafisa lembut namun mampu mengiris hati Nugra. Tanpa menjawab Nugra melepas tubuh Nafisa dalam pelukannya, Nugra berdiri dan berlalu meninggalkan Nafisa.


       


__ADS_2