
Nafisa terbangun,nyawanya belum kumpul sepenuhnya, dengan mata yang mengerjap cantik, Nafisa baru sadar jika dia tertidur di gazebo
Dengan berlahan Nafisa bangkit dari posisi baringnya, buru-buru masuk rumah, tibanya di dekat ruang makan, Nafisa dikejutkan oleh Nugra yang menatapnya menyelidik
"Mas udah pulang? maaf Naf ketiduran. Ucapnya lembut dengan menundukkan wajahnya.
"Em, iya mbak!"
jawabnya singkat
"Mas mau langsung makan?"
"Ya. Boleh"
jawab Nugra singkat, dengan sigap Naf menyendokkan nasi untuk suaminya.
"Mau cumi gorengnya mas,?"
tawar Nafisa ke Nugra. Pria itu sontak menatap Nafisa tak suka
"Aku bukan mas Pram mbak, aku gak suka cumi" Ucap Nugra dingin. Nafisa terdiam. Ia nenar-benar tak tau makanan kesukaan suami barunya itu. Lagi-lagi Nafisah salah bertindak.
"Maaf, gak bermaksud seperti itu mas.Lain kali mas akan masakkan makanan kesukaan, mas!"
Ucap Nafisa tulus.
"Gak perlu repot-repot mbak, aku bisa membelinya di luar"
Tolak Nugra datar. Nagisa dengan memberanikan diri meraih jemari suaminya, ia genggam tangan besar itu, sembari berucap.
"Aku istrimu, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk mas, jika aku bisa membuatkanya kenapa mas harus cari di luar, mas cukup kasih tau naf apa yang mas tidak suka dan apa yang mas mau. Satu lagi, aku mohon mas. Jangan panggil Naf, mbak!"
Pita Naf lembut pada sang suami. Rasanya sesak jikala Nugra masih memanggilnya mbak
__ADS_1
Nugra menatap sekilas istrinya.
"Aku harus panggil apa, mbak?"
Nafisa akhirnya geram pria di depannya ini sungguh tak menghargainya sebagai isyri.
"Mas aku bukan kakak iparmu lagi, aku istrimu mas, sampai kapan kamu mau kayak gini ke aku? berhenti panggil, Naf, mbak!"
Ucap Nafisa lembut, sembari menahan sesak.
nugra berucap sembari berjalan mendekati Nafisa lalu berhenti dibelakang wanita itu, dengan lembut Nugra memutar punggung Nafisa kemudian berbisik ditelinganya.
"Apa aku harus panggil mbak dengan panggilan sayang"
Ucap nugra mengejek.
"Tidak perlu, mas cukup panggil Naf tanpa harus ada kata mbak!"
Ucap Nafisa terdengar lembut ditelinga Nugra. Malah hal itu Yang membuat Nugra jengah. Rasa kesal terus bertahta di hati Nugra. entah sampai kapan Nugra akan terus bersikap seperti itu.
"Maaf, aku juga gak berminat panggil kamu, dengan sebutan itu, karna mbak gak pantas aku panggil dengan sebutan kayak sayang. Kenapa? karna aku gak mungkin bisa nyayangi barang bekas masku sendiri"
Nafisa tak menanggapi ucapan mantan adik iparnya itu. Nafisa hanya tersenyum, namun senyum itu tergambar jelas senyuman hambar penuh dengan kegetiran.
"Tega kamu mas!"
Ucap Nafisa lirih.
"Dimana letak tegaku? mbak harus ingat, kita ini terikat mbak dan adik ipar, lagi pula aku gak berminat, kalau harus bercinta dengan mbak iparku sendiri, itu mustahil karna aku gak doyan barang bekas, itu terlampau menyakiti harga diriku."
ucapnya mencemooh.
Dengan sabar, menahan rasa sakit Nafisa hanya bisa beristigfar dalam hati, karna ucapan itu begitu terdengar kasar hinga menghujam jantung Nafisa, rasanya ia ingin terjun saja ke laut untuk menenggelamkan diri dan hati yang patah. Jika tak mengingat amanah dan kebahagiaan almarhum suaminya, ingin rasanya Nafisa mengakhiri semua ini. Namun apa daya iya tak mampu. Dengan merendahkan harga dirinya Nafisa berucap dengan segenap ketulusa.
"Beri Aku kesempatan untuk menjalankan permintaan terakhir mas pram mas, biarkan aku menjalankan tugasku sebagai istrimu, dengan melayanimu layaknya seorang istri sungguhan, bukan sebagai kakak iparmu!"
Ucapan itu terdengar lirih, memohon sesuatu yang mungkin tak akan pernah ia dapatkan dari suami barunya itu. Nugra tercenung oleh ucapan Nafisa, sehingga Nugra tak mampu menjawab permintaan Nafisa.
__ADS_1
"Aku sudah kenyang"
Dengan kasar Nugra melapas sendok ditangannya, hingga terdengar benturan sedok dan piring yang cukup keras. Dengan wajah penuh amarah nugra meninggalkan meja makan. Ia kecewa dengan permintaan Nafisa, ia tak habis pikir jika Nafisa akan berkata seperti itu.
Sementara Nafisa terjengit kaget, lagi dan lagi suaminya bertindak kasar. Ia tak menyangka jika Nugra begitu tak menginginkannya. Kepalanya tertunduk lesu sementara air matanya mulai berjatuhan berpacu dengan degup jantung yang kesakitan.
Sampai di kamar Nugra terduduk diatas sofa, ia kembali merutuki mulutnya yang teramat pedas seperti cabai. Itulah sifat Nugra yang selalu asal saat bicara, tanpa memikirkan akibatnya setelah itu baru menyesal. Ia hela nafas sembari menyugar rambutnya yang hitam. Nugra kesal, Lagi dan lagi yang wanita itu mebahas masnya.
"Jadi pernikahan ini hanya sebatas permintaan terakhir mas pram baginya..! Perempuan macam apa dia!"
Dengan frustasi Nugra berkata dalam hati, yang diliputi penuh amarah.
Disini dikamar tamu, Nafisa berbaring dengan posisi meringkuk seperti anak kucing. Bahunya berguncang karna tangisan pilunya.
"Aku salah, selalu berharap lebih dari iparku. Akibat kesalahanku, aku selalu dipandang rendah olehnya."
Nafisa membatin dengan sejuta kegundahan. Perkataan Nugra amat sangat membuat dirinya hina. Naf terus merutuki dirinya sendiri.
"Harusnya aku sadar, cinta itu tidak pernah ada untukku, percuma meskipun aku memanfaatkan amah mas pram, untuk bisa dekat dengannya, itu hanya mimpi yang sia sisa, Harusnya aku sadar sedari dulu mas Nugra telah memilih wanita lain yang menjadi bidadari hatinya."
Naf menghela nafasnya panjang, Semua kenanganya masa-masa kuliah terputar jelas melintas berkliaran hebat di benaknya. Hinga bayangan Almarhum suaminya ikut menyapa pikirannya yang kacau. Ia bangkit dari ranjang, ia raih bingkai foto yang di dalamnya ada gambar dirinya dan almarhum suaminya.
Ia kecup lembut foto dalam figura itu lalu ia bawa dalam dekapanya, hingga gadis itu terlelap bersama kepedihan hatinya dan kerinduan pada almarhum Pram.
Nugra yang merasa bersalah, akhirnya menyusul istrinya ke kamar tamu. Ia buka perlahan kenop pintu hingga daunnya terbuka lebar. Nugra mendekat, ia duduk di tepian ranjang, matanya menelisik wajah ayu Nafisa, kemudian tak sengaja ia tangkap benda berukuran sepuluh r tengah berada cantik dalam dekapan istrinya.
Perlahan Nugra meraih benda itu, matanya terpejam setelah melihat isi dalam figura hitam itu.
Dengan rasa kesal Nugra melempar figura itu dengan asal, hingga benda itu mendarat cantik di tembok bercat abu-abu.
Sontak Nafisa terjengit kaget, netranya menatap bingung sang suami. Wanita itu terduduk dengan kepala yang cukup pusing akibat kaget.
"Ada apa mas?"
Nugra tak menjawab, pria itu keluar begitu saja dari kamar tamu sembari membanting pintu coklat itu dengan menyisakan dentuman yang menakutkan. Nafisa meraup wajahnya, kemudian ia bangkit dari atas ranjang, meraih figura yang hancur berderai.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kenapa pria itu sekasar ini"
Nafisa terisak sembari memunguti serpihan kaca yang tercecer di lantai. Rasanya ia tak sanggup bertahan hidup dengan pria sekasar Nugra.