
Sesampainya di rumah Nina langsung memarkirkan mobilnya, di sana sudah ada mobil Papanya terparkir tandanya Papanya sudah pulang.
Kini Nina membuka bagasi mobilnya untuk mengambil semua barang belanjaannya.
Namun sepertinya ada yang aneh.
"AAAAAAAAAAAA MAMA PAPAA" teriak Nina histeris.
Papa dan Mama yang mendengar suara Nina berteriak langsung cepat keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa si Na, sore-sore begini teriak-teriak" omel Mamanya.
"ITU, ADA COWOK DI BAGASI MOBIL KU" teriak Nina lagi.
"AAAAAAAAAAAA!" Papa dan mamanya yang melihat tak kalah histeris.
"Kamu beli cowok dimana" ucap papanya keheranan.
"Mama tau Na kita nyuruh kamu untuk cepat menikah, tapi gak gini caranya"
Nina bingung dengan kedua orang tuanya Ia tak habis pikir disaat seperti ini masih bisa memarahinya, padahal kan yang salah cowok ini.
"Aku gak tau ma, saat aku buka bagasi dia udah di dalam"
Nina melihat kembali ke dalam bagasi mobilnya, tampaknya lelaki itu tertidur, Papa dan Mamanya pun ikut nongol disampingnya karena mereka semua penasaran.
Nina memukul punggung lelaki itu membuatnya langsung terbangun dan-
"AAAAAAAAAAA"
"AAAAAAAAAAAAAA"
"AAAAAAAAA"
"AAAAAAAAAAAAAAA"
Lelaki itu berteriak, Nina juga ikut berteriak, Mama dan papanya pun ikut berteriak.
Nina langsung memukuli lelaki itu menggunakan tas Hermes nya.
"Kamu pasti cowok mesum ya
ngaku kamu" omel Nina.
"Ampun mbak, ampun aduh muka ganteng saya"
"Mbak ampun, jangan pegang saya mbak" teriak lelaki itu kesakitan.
"Dihh emang gw cewek apaan" Nina berdecih.
Dan berniat untuk memukulnya lagi.
Namun kedua orang tuanya menahannya.
"Udah Na, kasian"
__ADS_1
"Ih papa biarin gimana kalau dia cowok jahat" dengus Nina kesal lalu melirik tajam lelaki itu.
"Kita dengerin dulu penjelasannya, ayo kita masuk kedalam pegel saya nih" ucap papa dengan santainya padahal kan papa tidak tau siapa lelaki itu kenapa bisa langsung terlihat akrab.
Mereka semua masuk dan duduk di ruang tamu, mama kini sedang membuat teh di dapur.
Nina menatap tajam lelaki itu melihatnya dari bawah sampai atas, rasanya Nina pernah melihat postur tubuh ini tidak asing sekali, pasalnya lelaki itu menggunakan masker.
Nina mengambil ponselnya di dalam tasnya lalu dia menekan fitur searching di google.
Dia menulis Foto Naren mengenakan masker.
Demi tuhan apakah benar yang dihadapannya sekarang adalah idolanya.
"Tolong lepas masker nya, atau saya laporkan ke polisi karena sudah jadi penguntit" ucap Nina Ia ingin memastikan apakah lelaki itu Naren.
Lelaki itu nampak gugup, namun sepertinya Ia harus melakukannya agar dirinya selamat.
Masker hitam itu kemudian dibuka
"AAAAAAAAAAAAAAA" Nina kembali berteriak histeris Ia langsung terkulai lemas di sofa.
Sedangkan kedua orang tuanya mematung dan melongo.
"Ganteng, kalau gini mama mau punya penguntit" gumam mama, yang berhasil mendapat cubitan dari papa.
"Gantengan juga papa" ucapnya percaya diri.
"Kalau di lihat-lihat cocok juga jadi mantu" papa kembali berucap.
"Teh nya diminum" ucap mama.
Jadi sedari perjalanan pulang Naren ada di mobil Nina, dan suara bersin itu milik Naren, berarti dia mendengar dirinya berteriak-teriak tidak jelas, mengeluh ingin cepat menikah didalam mobil oh ya Tuhan kini Nina benar-benar tidak punya muka untuk melihat idola itu.
"Coba kamu jelasin kenapa bisa sampai ada dalam dimobil anak saya" ucap sang kepala keluarga.
"Kalian tau gak si ini siapa" ucap Nina sedikit menaikan nada bicaranya.
"Diam dulu kamu, papa mau dengar penjelasan dia"
Nina yang mendengarnya langsung menciut dan kembali duduk.
Naren menjelaskan secara detail tentang kejadian bagaimana dirinya bisa berada dan ketiduran di bagasi mobil Nina.
Karena pada saat Ia sedang memesan kopi di mall ternyata dirinya di ikuti beberapa awak media dia pun merasa panik dan berlari ke arah parkiran, namun mobil miliknya terlalu jauh jadi Ia masuk ketika Nina sedang memasukan belanjaannya ke dalam mobil.
"Saya minta maaf telah mengagetkan satu keluarga" ucap Naren merasa bersalah.
"K-kamu ga salah, ini salah aku karena kurang teliti" bantah Nina.
Papa dan Mamanya saling pandang karena baru kali ini mereka melihat putrinya lemah lembut pada lelaki.
"Ya udah kalo begitu saya izin pamit" ucap Naren.
"Sebentar tapi muka sama lengan kamu luka".
__ADS_1
"Mah lengan papa juga luka" ledek papanya iseng membuat Nina malu.
Kedua orang tuanya beranjak meninggalkan kedua remaja yang sudah tidak berhak mendapat sebutan remaja lagi.
Nina membawa kotak obat dan mengoleskan salep pada lebam yang berada dimuka dan lengan Naren sesekali lelaki itu meringis.
"Tentang yang di mobil lupain aja ya" ucap Nina.
"Kenapa harus dilupain kan otak saya gak bisa riset otomatis mbak" jawab Naren polos.
"Gimana ya ngomongnya, masa Lo ga ngerti" gereget Nina
Naren menggeleng.
"Gw tau lo ngerti, giliran maen film hot lo ngerti" kesal Nina.
"Itu kan saya cuma cari duit mbak"
"Berhenti panggil gw mbak, lupain yang tadi dimobil soal gw ngomong yang gak jelas, atau gw panggil media buat mejeng di rumah gw nemuin lo"
"Iya saya lupain, tapi kenapa harus dilupain padahal itu kan lucu"gumam Naren.
Nina yang mendengar itu pipinya langsung memerah.
Seusai kejadian hari ini selesai, keluarga Nina berkumpul di ruang tengah. Papa sibuk dengan laptopnya, mama sibuk dengan siaran televisinya dan Nina sibuk dengan ponselnya.
"Jadi yang kejebak di mobil kamu tadi cowok itu" tunjuk mama pada iklan sabun cuci di televisi yang menampilkan Naren.
Nina hanya mengangguk.
"Cocok jadi mantu kita ya pah" ucap mama melihat ke arah papa.
"Iya cocok banget" ucap Nina meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya.
Nina merebahkan tubuhnya di atas kasur, mengingat kembali kejadian hari ini yang sangat diluar nalar nya.
"Anjir kok gw malu banget ya" ucap gadis itu kini dirinya bak cacing kepanasan sambil menutup wajahnya mengenakan selimut.
"Gw harus cerita ke Rena"
"Jangan deh, entar dia gila"
"Tapi gw ga bisa nahan ini sendirian"
"Rasanya pengen teriak pake toa mushola" pekiknya.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAA" Nina berteriak di dalam kamarnya.
Bodo amat jika kini dirinya dianggap gila oleh keluarganya Nina benar-benar sudah kehilangan kewarasannya.
Mama dan papanya yang mendengar hanya saling pandang pusing dengan tingkah anaknya yang ke kanak-kanakan padahal usianya sudah dua puluh tujuh tahun.
Nina berusaha untuk tertidur, walaupun matanya ingin terus terbuka.
"Ayo Nina tidur, besok kita cari jodoh lagi"
__ADS_1
"Cowok yang tadi terlalu mustahil untuk jadi suami kamu, bisa-bisa kamu dihujat gadis satu negara".