
"Papa aku keberatan dengan pernikahan itu" suara Nina berhasil membuat kedua orang tuanya memandang tajam dirinya.
"Lantas kamu mau melajang sampai nenek-nenek!" hardik papa yang kini mulai duduk dihadapannya.
"Pa dia itu selebriti, yang suka dia bukan cuma aku" ucap Nina suaranya mulai bergetar.
"Papa kenal keluarga mereka, dan Naren sepertinya lelaki baik"
Mama datang duduk disebelah Nina mengelus punggung kecilnya anaknya.
"Aku takut" —Nina.
"Kita tau yang terbaik buat kamu" kata kepala keluarga yang kini langsung pergi meninggalkan rumah, untuk beraktivitas di kantor.
Nina merasa suntuk dirumah jadi sekarang dirinya berada di butik, walaupun memiliki banyak karyawan Nina tetap ingin mengelola sendiri untuk memastikan tidak ada kekacauan.
Sebenarnya Nina datang ke butik hanya untuk rebahan saja.
Mata Nina sedari tadi fokus pada mobil yang terparkir di depan butiknya namun pemiliknya belum juga keluar.
"Itu mobil siapa si, parkirnya kok ga bener" gerutu Nina sambil bersandar di sofa.
Namun tiba-tiba kaca mobil itu diturunkan menampilkan seorang lelaki memakai kacamata hitam.
Tangannya terus melambai memberi isyarat agar Nina keluar dan menemuinya.
"Naren" pekik Nina pelan.
Nina pun langsung keluar dari butik dan berjalan menuju mobil Naren di parkiran.
"Kamu ngapain ke sini" ujar Nina pelan memastikan tidak ada yang melihat interaksinya.
"Saya, nemuin kamu lah" ujar Naren heran karena mendapat pertanyaan itu.
"Kalau ada yang liat gimana" Nina terus merasa khawatir bagaimana jika ada yang memotret mereka diam-diam.
"Makanya sini masuk" Naren langsung membukakan pintu mobilnya agar Nina masuk dan dapat berbincang lebih leluasa.
Sudah lima menit berlalu mereka hanya saling diam, sesekali saling pandang dan salah satunya memalingkannya.
"krik krik krik krik" ujar Nina merasa bosan.
"Kamu gak terpesona gitu liat calon suamimu ganteng gini" ucap Naren sambil mengusap rambutnya.
"Kamu jauh-jauh kesini cuma mau bilang itu doang" tak habis pikir Nina ternyata aktor idolanya seprik ini.
"Enggak sebenarnya saya mau menyampaikan ini" Naren mengeluarkan beberapa majalah dan memberikannya pada Nina.
"Untuk apa ini"—Nina
"Poto prewedding kita, kamu mau dimana?" ucap Naren kini pandangannya Ia fokuskan pada Nina.
"Kamu udah punya pilihan" ujar Nina merasa bingung harus memilih yang mana.
Naren yang ditanya hanya menggeleng pasalnya Naren pun bingung harus memilih yang mana.
"Pantai aja deh" ucap Nina mantap
__ADS_1
Naren yang mendengar itu langsung mengacungkan jempol dan merebut kembali majalahnya.
"Kita berangkat besok siang, nanti saya jemput"
"Lah dadakan amat udah kaya tahu bulat aje" protes Nina kini wajahnya terlihat kesal memandang Naren.
"Udah sana, saya mau balik kerja"
Nina yang mendengar ucapan itu langsung keluar dari mobil milik Naren, jauh dalam hatinya Ia terus mengucap sumpah serapah untuk Naren, lagian foto prewedding sedadakan itu dan Ia belum persiapan apapun.
"Sampai ketemu besok calon istri" ucap Naren seraya melajukan mobilnya, Nina hanya mematung mendengar ucapan lelaki itu.
Wajahnya mungkin terlihat memerah.
"Oh ya Tuhan, kenapa Naren secepat ini menerima pernikahan" gumamnya.
"Apa jangan-jangan Naren kebelet Kawin gara-gara kebanyakan maen film ada kisse nya" Nina mengacak-acak rambutnya memikirkan ucapannya tadi.
"tapi kalo bener begitu, anjirr ngeri juga" kini dirinya merasa merinding, lagian kenapa Nina hobi sekali ngomong sendiri.
...----------------...
"Mama denger kalian hari ini mau prewedding"
Nina hanya berdehem sambil menyiapkan barang yang Ia perlukan nanti.
"Putri mama udah besar ternyata" kini Nina langsung memandang namanya dalam.
"Aku janji bakal jadi istri yang baik" ucap Nina memegang pundak mamanya, sang ibu mengangguk kemudian mencium kening putrinya.
"Mama aku pamit"—Nina.
"Tante kita pamit izin bawa anaknya" ucap Naren bergurau kini dirinya tersenyum, mama hanya mengiyakan ucapan Naren"
Selama dalam perjalanan mereka hanya saling diam, tidak ada yang membuka suara.
Sampai akhirnya Naren memutuskan berbicara dikala keheningan itu.
"Perjalanannya masih lama, kamu boleh tidur" ucap Naren yang berhasil membuat Nina terperanjat dari lamunannya.
Nina hanya mengangguk untuk mengiyakan ucapan Naren.
Keduanya kembali berdiam, Naren fokus dengan setirnya sedangkan Nina kembali pada lamunannya.
Setelah dua jam perjalanan kini pantai sudah sudah terlihat. Naren memarkirkan mobilnya di samping vila mewah.
Keduanya keluar dari mobil.
Naren berjalan lebih dulu agar Nina mengikutinya dari belakang.
Mereka tiba sekitar jam 15.00 sore Naren memberi usul agar fotonya dilakukan ketika matahari sedang terbenam karena menurutnya hasilnya akan lebih bagus.
Nina mengira Naren akan menyewa atau membawa fotografer namun ternyata tidak, melainkan dia membawa tripod dan kamera miliknya sendiri.
Nina baru sadar sedari tadi semenjak Ia tiba di pantai dia belum bertemu dengan satu orang pun, kemana orang-orang apakah mereka sudah bosan dengan pantai.
"Kenapa tidak orang, sepi sekali" ucap Nina heran kini Ia mensejajarkan langkahnya dengan Naren.
__ADS_1
"Saya sengaja menyewa pantainya " ucap Naren membuat Nina termenung sekaligus menjawab rasa penasarannya.
Tidak ada yang tidak mungkin untuk seorang Naren yang uangnya unlimited, sepertinya untuk membeli pulau pun ia mampu itu pikir Nina, Naren benar-benar ingin merahasiakan tentang pernikahannya.
Mereka kini sudah menemukan lokasi yang tepat untuk melakukan foto prewedding.
Tidak butuh waktu lama karena keduanya yang sudah terbiasa dengan kamara jadi sama sekali tidak kaku.
Sekarang matahari mulai terbenam keduanya duduk bersebelahan dipasir pantai.
"Saya harap kamu bisa terima saya sepenuh hati" ujar Naren, pandangannya masih fokus ke depan melihat matahari terbenam.
"Aku akan berusaha jadi istri yang baik" timpal Nina, guratan senyum di wajah Naren cukup membuat dirinya lega.
Tanpa dikira hujan turun langit yang semula cerah kini mulai menggelap keduanya berlari menuju vila.
Ketika Nina hendak mengambil tasnya di mobil Naren Ia menyadari sesuatu ternyata ban mobilnya terlihat kempes dan itu cukup parah.
"Kenapa lama?" ucap Naren memastikan Nina.
Nina menunjuk ke arah ban mobil Naren, Naren yang menyadari itu hanya menghela nafas panjang.
"Jangan khawatir nanti aku suruh papa kirim mobil" ucapan Naren langsung membuat Nina lega.
Tetapi karena hujan cukup lebat, dan lokasi pantainya yang terpencil membuat sinyal cukup susah untuk didapatkan.
Keduanya terlihat prustasi karena hari mulai gelap, sedangkan disana tidak ada satupun orang untuk dimintai bantuan.
Nina sudah beberapa kali menghela nafasnya, membuat Naren yang berada disampingnya merasa khawatir.
"Maaf tidak ada satupun orang yang berhasil dihubungi" ucap Naren lemas.
"Sepertinya kita harus bermalam di vila ini" lanjut Naren.
"Gak papa yang penting ga kehujanan" ucap Nina santai bermaksud agar Naren tidak terlalu cemas.
"Vila ini kamarnya cuma satu, kamu tidur di kamar, saya di sofa" ujar Naren dan Nina setuju.
"Awas lo, kalau gw tidur jangan macem-macem" peringat Nina memandang tajam Naren.
"Macem-macem kayak gimana saya ga ngerti" datar Naren.
"Pura-pura polos padahal maen film banyak adegan kisse nya" gerutu Nina pelan, namun Naren mendengarnya dengan jelas.
"Itu cuma kerja" kini Naren memandang Nina. Lawan bicaranya kini hanya meledeknya.
"Saya bisa lakukan adegan aslinya" Kini Naren mendekat sangat dekat dengan Nina hingga deru nafasnya bisa Nina rasakan, Nina terdiam bisu rasanya bibirnya kelu untuk berucap.
"Kamu mau?" ujar Naren.
Deg....
Kurang lebih seperti ini hasil foto prewedding Nina dan Naren.
__ADS_1