Suamiku Disukai Banyak Wanita

Suamiku Disukai Banyak Wanita
Married


__ADS_3

Pagi ini Nina sedang melakukan fitting baju pengantin Ia ditemani oleh Rena.


Naren dan Nina memutuskan untuk melakukan fitting baju terpisah, jika dilakukan bersama Nina takut akan ada yang memotret mereka diam-diam dan membuat artikel terkait pernikahan mereka.


Nina memilih gaun yang simpel namun terlihat elegan ketika Ia mengenakannya.


"Lo suka gak?" tanya Nina pada Rena sambil mengibas-ngibaskan gaunnya.


"Suami lo tuh tajir melintir pilih yang agak heboh kek"


"Ternyata selera lo udah kayak mak gw ya" ujar Nina jengkel.


Tidak perlu waktu lama karena Nina sudah punya gaun impiannya sejak masih kuliah, jodohnya aja yang lama datangnya.


Setelah selesai melakukan fitting baju Nina dan Rena mampir ke cafe shop, Rena takut ketika sahabatnya sudah menikah nanti mereka jadi tidak bisa sering bertemu.


"Gw belum nikahnya anjir ngapa lo udah mewek" omel Nina heran dengan mood sahabatnya ini.


"Gw gak nyangka hubungan lo gak ngotak jadi gw terharu" ujar Rena terisak.


Nina hanya mendengarkan ocehan sahabatnya dalam hatinya yang paling dalam pun Ia masih tidak percaya akan menikahi seorang Naren. Jujur saja Nina merasa minder padahal Ia berasal dari keluarga yang terpandang dan ekonominya pun tergolong kelas atas. Namun tetap tidak bisa dipungkiri Nina benar-benar insecure mengingat Naren selalu di jodoh-jodohkan oleh para penggemarnya dengan aktris-aktris cantik nan multitalent, jika suatu saat pernikahannya terbongkar apakah para penggemar Naren akan kecewa pada pilihan Naren yang memilih untuk menikahinya.


Ditengah lamunan Nina tiba-tiba Rena menepuk pipinya.


"Woy ponsel lo bunyi mulu calon suami lo tuh" ujar Rena.


Nina langsung menjawabnya.


"Iya-" suara Nina langsung terputus mendengar Naren mengomelinya di sebrang sana.


"Kamu dimana, mengapa belum pulang ini sudah sore, mama kamu khawatir"


"Kenapa ponselnya baru aktif, besok pernikahan kita jangan sampai kamu terluka"


"Kamu tidak mencoba untuk kabur kan"


"E-enggak, enggak enak aja, sorry ini masi di jalan mau pulang"


tuttt.....


Naren langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak membuat Nina merasa jengkel.


Akhir-akhir ini kenapa Naren sering ngomel-ngomel dan cerewet sekali melebihi mamanya.


"Gw disuruh pulang" ucap Nina seraya membereskan tas dan belanjaannya.


Rena hanya mengangguk untuk mengiyakan ucapan sahabatnya.


Kini jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari sedangkan Nina belum tidur sama sekali.

__ADS_1


Dirinya benar-benar merasa gugup setengah mati mengingat acara pernikahannya pagi ini.


Walaupun acara pernikahannya hanya dihadiri keluarga terdekatnya saja, namun tetap saja Nina amat gugup.


Pernikahan mereka diadakan di hotel tentunya di ruangan VIP.


"Kira-kira si Naren gugup gak ya"


"Kok dia kayak santai-santai aje"


"Oh iya dia kan udah sering nikah-nikahan kalau maen film jadi santai aja"


Gerutu Nina tubuhnya tidak bisa diam sama sekali, rasanya panas dingin saking gugupnya.


"Eh anjir kalau udah nikah kan suka malam pertama" kini Nina mulai merinding.


"Ah bodo amat gw mau dandan kaya mafia aja biar ntar dia takut"


Nina kembali berusaha menutup matanya kembali, pokonya dirinya harus tidur barang satu jam pun tidak apa-apa.


Namun matanya kembali terbuka dan kini pipinya pun mulai memerah Nina mengingat kejadian waktu dirinya dan Naren terjebak di vila, kala itu Naren-


"Aasshh Nina lo gila, otak lo kotor banget" ucapnya kesal kini Ia memilih untuk tengkurap-an di atas kasur.


...----------------...


Kini kedua keluarga dari pengantin berada di altar pernikahan.


Begitu pula Naren yang ketampanannya sangat amat paripurna.


Nina dan Naren mereka pasangan yang diberkati Tuhan.


Sekarang saatnya menyaksikan pengucapan janji suci untuk menyatukan dua insan dalam satu hubungan suci yang harus sedia bersama sampai mati tanpa ada pengganti.


Kedua mempelai kini saling berhadapan tangan mereka saling menggenggam.


Netra mereka saling bertemu pandangan keduanya terlihat begitu dalam seperti saling bertukar pesan lewat tatapan.


"Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan, dan inilah janji setiaku yang tulus." ucap Naren penuh arti memandang lekat Nina.


Kini giliran mempelai wanita yang mengucapkan janji suci.


"Saya mengambil engkau menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, dan inilah janji setiaku yang tulus." ucap Nina.


Kala mengucapkannya suara Nina benar-benar bergetar dirinya menyadari setelah mengucapkan kalimat ini, dirinya bukan lagi milik kedua orang tuanya melainkan kini Ia milik suaminya—Naren.


Kini kedua mempelai saling bertukar cincin.


Naren meraih tangan kurus Nina dan memasangkan cincin yang Ia desain khusus untuk wanitanya, mungkin harga satu pasang cincin itu senilai dengan satu rumah mewah beserta satu unit mobil.

__ADS_1


Begitu pula sebaliknya Nina meraih lengan kekar nan berurat Naren memasangkan cincin itu dijari manisnya.


Walaupun mungkin nanti Naren akan melepaskannya kembali, karena pernikahan itu rahasia.


"Cium Cium Cium Cium!" teriak Rena membuat para keluarga ikut berteriak.


Nina hanya menganga melihat tingkah sahabatnya yang tidak tahu malu.


"Cium Cium Cium Cium" kini Papa yang berteriak.


Naren langsung memegang pundak istrinya membuat Nina yang sedang melihat ke arah tamu, langsung melihat ke arah Naren padangan mereka bertemu.


"Mau melakukannya?" ucap Naren, ucapan itu terdengar seperti ajakan main kelereng terlihat santai sekali.


Bibir Nina kembali kelu, dia benar-benar bagai seperti patung membeku di depan lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya.


Naren juga kenapa harus bertanya hal seperti itu.


Naren mulai melangkah menundukkan badannya agar tingginya sama dengan Nina.


Kini mereka benar-benar sangat dekat. Nina masih belum merespon apapun pergerakan Naren.


Naren mulai mengecup bibir Nina—istrinya.


Nina masi mematung, sampai akhirnya Naren mulai ******* bibir Nina pelan Nina kini mulai membalas ciuman Naren, dan


melingkarkan lengannya di pundak suaminya


Kini keluarga yang menyaksikan nya semuanya bersorak dan Rena wanita itu terlihat seperti orang kesurupan.


Nina dan Naren mereka resmi menjadi pasangan suami istri.



Seperti ini gambaran pernikahan Nina dan Naren.


...----------------...


kembali ke pukul 1 dini hari kala Nina sedang tidak bisa tidur.


dettttt....


Ponselnya milik Nina terus ber suara membuat pemiliknya yang hendak tertidur kembali membuka matanya.


Dilayar itu menampilkan nomor yang tidak dikenal Nina membiarkannya.


Namun kemudian nomor itu mengirimkan pesan chat.


"Aku jamin pernikahanmu tidak akan bertahan lama"

__ADS_1


Isi pesan itu seketika membuat tangan Nina bergetar dan menjatuhkan ponselnya.


__ADS_2