Suamiku Disukai Banyak Wanita

Suamiku Disukai Banyak Wanita
Bertemu kembali


__ADS_3

Kini Nina sedang berada di butik miliknya, setelah lulus kuliah Nina memilih untuk membuka butik karena itu berkaitan dengan hobinya yang suka berbelanja.


Disampingnya ada Rena, mereka sedang menikmati kopi americano, kopi itu adalah favorit mereka berdua.


Berbeda dengan Nina yang masih melajang, Rena sudah terlebih dulu menikah dan sudah memiliki seorang anak yang berumur lima tahun. Anaknya sudah masuk taman kanak-kanak.


Suaminya seorang dokter, setelah mengantar anaknya ke taman kanak-kanak Rena selalu mampir ke butik sahabatnya.


"Jadi lo serius ketemu aktor Naren"


"OMG OMG gila diluar prediksi BMKG" ucap Rena heboh seperti ibu-ibu pada umumnya.


Walaupun sudah ibu-ibu tapi Rena tetap berpenampilan modis tidak pernah mengecewakan soal penampilanya.


Tidak salah ketika mereka berdua masih kuliah mendapatkan julukan sebagai two cool girls, karena penampilan mereka terlihat seperti cewek dingin padahal aslinya jauh dari kata itu, mereka sangat amat pecicilan.


Ditengah-tengah perbincangan mereka tiba-tiba ponsel Nina berdering menampilkan nama papanya dilayar ponsel itu.


"Iya pah ada apa"— Nina.


"Nanti sore temuin papa di restoran, papa udah kirim alamatnya lewat chat" ujarnya di sebrang sana.


"Mau ngapain?" tanya Nina penasaran.


"Calon suami kamu mau ketemu"


"A-apa calon suami, papa ga salah ucap kan"


"Udah ah papa ada meeting, kamu datang aja"


sambungan telepon itu pun diputus oleh papanya.


Rena yang mendengar percakapan itu tak hentinya melongo.


"Harus ke salon dulu gak si" ujar Rena sambil memegang rambut sahabatnya.


"Beli baju juga, baju lo kayak mau ke pemakaman semua".


"Gak ah, gw gak suka di jodoh-jodohin biarin mau dandanan gw kayak mafia, buronan biarin. Biar cowoknya takut" omel Nina langsung tidak ada gairah hidup Ia kini terkulai di sofa.


"Ya lo kalau gini mulu kapan dapat cowoknya njirr"


"Seumur hidup itu terlalu lama Ren, gw takut"


"Ini kan baru pertemuan doang, kita belum tau dia kayak gimana" ujar Rena membujuk Nina.


"Pokonya jangan dandan kaya bandar narkoba" Rena memperingatkan Nina.

__ADS_1


"Iye iye, lama-lama lo kayak Mak gw" gerutu Nina.


"Gw mau jemput anak dulu bye" ucap Rena seraya keluar dari butik.


Kini Nina sudah pulang untuk bersiap-siap pergi ke restoran yang papanya minta.


Ia juga memakai pakaian yang disarankan oleh Rena.


Kini Nina sedang dalam perjalanan menuju restoran, setelah sampai ternyata papanya memilih ruangan VIP wahh apakah orang yang akan ditemuinya pejabat.


Nina membuka pintu itu di sana sudah ada papa dan mamanya dan dua orang lainnya yang tidak Ia kenal sepertinya itu kedua orang tua lelaki yang akan papanya kenalkan.


"Sini Na, ngapain bengong" ucap mamanya.


Nina berjalan ke arah mereka.


"Wah anggun sekali, cantik" ucap wanita paruh baya itu.


"Sini Na, duduk dekat tante"


Nina mengangguk dan mendudukkan tubuhnya di samping wanita itu.


"Kamu pasti sudah tau maksud kami mengadakan pertemuan ini" ucap lelaki paruh baya.


Nina hanya mengangguk dan tak lama pintu terbuka menampilkan seorang lelaki yang seumuran dengannya.


Lelaki dengan setelah jas berwarna hitam itu Nina mengenalnya.


"Nah itu anak kita, pasti kamu tau siapa dia sini duduk" ucap mamanya Naren.


Mama Naren bernama Ny. Andini sedangkan Papanya bernama Tn. Rama, Ternyata Tn.Rama adalah salah satu kolega papa Nina.


"Papa kaget setelah tau anak pak Rama ternyata Naren" ucap papanya.


"Mama juga ternyata ini takdir"


"Kita berharap kalian berdua bisa secepatnya mengenal satu sama lain" ucap Rama.


"Saya selalu khawatir tentang pendamping hidup Naren, saya takut wanita yang akan menikah dengan Naren hanya memanfaatkan ketenarannya saja" ucap Andini lembut.


"Tapi setelah tau bahwa putri Bu Ranti saya sangat lega, Karena Nina terlihat dia wanita yang mandiri, berasal dari keluarga yang terpandang pula."


"Tante dengar kamu sukses mengelola butik, masih muda hebat " lanjut Andini terlihat bangga.


"Makasih tante" jawab Nina tersenyum.


"Oh ya Naren katanya ada yang mau kamu sampaikan pada calon istrimu" kini papanya Naren terlihat serius memandang anaknya.

__ADS_1


"Sebelumnya saya ingin minta maaf terlebih dahulu" terlihat saat Naren mengucapkannya Ia cukup gugup.


"Saya ingin ketika sudah menikah nanti, status pernikahan itu harus dirahasiakan dari publik, dan acara pernikahannya pun hanya keluarga saja yang di undang"


Nina yang mendengar itu langsung merasa lemas sekujur tubuhnya.


"Saya tidak keberatan, yang terpenting status pernikahan anak saya sah secara agama dan hukum" ujar papanya santai


"Gimana Na?" tanya mamanya


Nina bingung harus menjawab apa, dia tidak bisa memutuskan secepat itu, jika Ia menolak sekarang keluarganya pasti malu, jika setuju apakah dirinya sudah siap dengan pernikahan rahasia.


"Aku butuh waktu untuk mengenal Naren, begitu pula Naren" saat berucap Nina memandang Naren berharap Ia pun setuju.


"Aku tidak keberatan, tapi pernikahan itu lebih cepat lebih baik" ucap Naren sungguh terlihat santai seperti tidak ada beban.


Nina yang mendengar itu cukup dibuat salting, tapi status pernikahan rasahasia itu sangat menggangu pikirannya.


"Senang sekali tidak ada yang keberatan, kalau begitu sepertinya sudah cukup" ucap papa Naren


"Akhirnya kita besanan" kini istrinya memeluk mama Nina.


Ny. Andini dan Ranti—mama Nina adalah teman arisan tapi tentang Naren yang merupakan anak Andini tidak ada yang mengetahuinya. Karena Naren selaku pekerja di dunia entertainment apalagi seorang aktor terkenal Ia harus menutup rapat data dirinya, karena khawatir ada sasaeng yang melakukan hal macam-macam.


Saat kedua keluarga berjalan keluar untuk pulang Nina menahan lengan Naren agar dirinya tetap berada di ruangan ini.


"Kamu pasti kaget, sama saya juga" ucap Naren seolah dirinya bisa membaca pikiran Nina.


"Kenapa harus merahasiakan pernikahan" kini Nina yang membuka suara.


"Kamu masih tidak mengerti?" kini Naren tersenyum senyum itu tampak masam.


"Kamu takut penggemar mu berkurang?"


"Saya takut sasaeng mencari tau tentang kamu lalu terjadi hal buruk. Kamu mau?"


"Ya enggak lah" ucap Nina sedikit bergerutu.


"Jangan berfikir yang aneh-aneh saya bukan lelaki bajingan" ujarnya meyakinkan Nina.


"Saya harap kamu bisa terima pernikahan ini baik-baik" —Naren.


Setelah berkata demikian Naren langsung meninggalkan Nina yang masih termenung di ruangan itu.


Jika ditanya bagaimana perasaan Nina sekarang, dirinya masih saja bingung.


Siapa juga yang akan menolak jika dijodohkan dengan lelaki mapan, sukses, seorang selebriti pula.

__ADS_1


Tapi apakah Nina akan kuat dan bertahan dengan konsekuensi nya, status pernikahan mereka harus dirahasiakan, interaksi di luar pun harus seperlunya, apalagi melihat banyak gadis yang berusaha mendekati suaminya nanti apakah ia bisa menahan rasa cemburunya.


Kepala Nina pusing rasanya.


__ADS_2