Suamiku Pria Tua

Suamiku Pria Tua
Rumah Sakit


__ADS_3

**~Happy Reading dears~**


"Apa yang terjadi kepada papa ma? kenapa papa tidur terus?"


Anggi menangis terisak melihat ayah tersayangnya terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit, dengan balutan selang ditubuhnya.


Namanya Anggia anastasya, gadis cantik lugu yang selalu terlihat seperti anak kecil dimata kedua orang tuanya. Dia adalah anak tunggal dan wajar jika Anggi selalu dimanja oleh orang tuanya. Anggi tidak pernah merasa bahwa dia tidak memiliki apapun karena apapun yang Anggi minta selalu di turuti oleh papa tersayangnya. Tapi Kini dia harus mengalami kehancuran yang begitu dalam, ketika papa tersayang tidak lagi tersenyum dan memanjakannya.


"Tenang sayang, papa pasti sembuh. Anggi doakan papa supaya bisa berkumpul sama kita lagi ya sayang."


Air mata Anggi terus mengalir hingga membasahi kerudung besar yang menutupi setengah badan mama Ina.


"Iya ma, Anggi pasti do'ain papa supaya papa bisa main lagi sama Anggi. Anggi sayang papa ma."


Mama ina semakin dalam memeluk Anggi dan mengusap kepala Anggi yang terbalut kerudung pasmina berwarna pink, yang pas dengan warna kulit Anggi sehingga menambah pesona Anggi hingga terlihat begitu menawan di mata Dion. Laki-laki yang berdiri di samping pintu yang melihat kejadian keluarga anggi, melihat Anggi yang begitu takut kehilangan papa tersayangnya.


Dion adalah laki-laki yang selalu di andalkan oleh pak Lutfi, papanya Anggi. Sekaligus anak dari sahabat papanya Anggi yang bernama pratama. Dia adalah sahabat yang saling berjuang sejak mereka membangun bisnis. sebelum bisnisnya menjadi bisnis yang sukses seperti sekarang ini.


"Anggi pulang dulu sama bibi um ya, besok Anggi kan ujian kelulusan jadi Anggi harus belajar. Anggi nggak mau mengecewakan papa kan?."


Walaupun Anggi masih bersikap seperti anak kecil, tapi Anggi adalah gadis yang berada di jenjang SMA dan hampir menyelesaikan sekolah menengah atas nya.


Awalnya Anggi kecewa dan semakin menundukan wajah sedihnya setelah mamanya menyuruh Anggi pulang meninggalkan papanya.


Dengan perasaan yang tidak rela, Anggi menganggukan kepala pelan. menandakan bahwa ia setuju untuk pulang, mengikuti perintah dari mamanya untuk belajar.


"Nggak ma, Anggi nggak mau mengecewakan papa. anggi mau papa bahagia dengan keberhasilan Anggi."


Mama Ina tersenyum bangga, karena anak semata wayangnya tidak memberontak marah ataupun sedih. bahkan kali ini dia bersikap lembut dan optimis.


Anggi berlari kecil menghampiri sang papa dan memeluk papanya yang terbaring dengan mata yang masih tertutup di atas ranjang rumah sakit.

__ADS_1


"Papa cepet sembuh ya, Anggi janji Anggi akan lulus dengan nilai terbaik. Anggi sayang papa."


pelukan Anggi sangat halus, ia takut membuat papanya merasa kesakitan. Bibirnya mendarat di kening papa lutfi secara pelan.


Mama Ina tersenyum haru, air matanya masih menetes hingga membasahi kerudung besarnya.


Anggi berbalik badan dan mendekati mama Ina.


"Mama jangan sedih lagi ya, jelek deh kalau mama lagi nangis." ledek Anggi dengan bibir yang sedikit tersungging.


"Bisa aja kamu sayang. "


mama Anggi tersenyum dan mengelus kepala anggi, hingga Anggi merasa kembali seperti bocah tiga tahunan.


"Cepat pulang keburu gelap, kasian kamu pasti kecapekan. sampe rumah mandi langsung istirahat ya sayang."


"Siap bos." jawab Anggi degan sigap dan mengangkat tangannya seperti ada bendera merah putih yang terkibar di depan matanya.


"iya dengan senang hati tante. aku disini nemenin om, tante dan Anggi juga nggak keberatan kok tante. justru aku seneng bisa membantu kalian."


Dion tersenyum dan tak sesekali menatap anggi untuk sekedar mencari perhatiannya, tapi tidak lain dengan Anggi yang menatap dion dengan tatapan yang hambar.


dion tidak menyerah, dia tetap tersenyum manis walaupun Anggi bersikap tidak simpati kepadanya.


***


Anggi, bibi dan dion pergi meninggalkan ruang inap papa Lutfi. papanya Anggi.


Mereka berjalan menuruni lift, sesekali dion tertuju pada Anggi. tapi tidak dengan Anggi, dengan tatapan yang lesu dan masih memikirkan keadaan papanya.


"Bi, papa akan sembuh kan bi?."

__ADS_1


Keheningan dipecahkan oleh Anggi yang kembali merengek dengan keadaan papanya. dia meraih lengan bibi um dan merangkul bagaikan anak kecil yang merengek minta dibelikan es krim oleh ibunya.


di seberang dion hanya tersenyum dan bisa menyaksikan tingkah menggemaskan Anggi, walaupun dia dalam keadaan sedih tapi tingkah gemasnya tidak menghilang dari dirinya. ia tetap menjadi Anggi yang lucu.


" Non Anggi tenang ya, papa Non pasti sembuh. kita doakan papa Non supaya cepet sembuh ya."


Anggi mengangguk sambil menepis tubuh bibi um lebih dekat lagi.


Perjalanan yang begitu singkat dengan keluh- kesah Anggi menyadarkan mereka kalau sudah sampai parkiran. Anggi menengok kanan dan kiri.


Dion menunjuk tangannya kearah kanan menuju mobil silver yang menandakan bahwa dion paham apa yang sudah dicari oleh Anggi sejak tadi.


Tidak menunggu terlalu lama anggi menarik tangan bibi um kearah mobil yang sudah di arahkan oleh dion.


Anggi dengan cepatnya memasuki mobil bagian belakang Tanpa memikirkan bahwa mereka tidak sedang menaiki taksi.


Di arah lain Dion mengerutkan keningnya "Di Kira aku supir" gerutunya dalam hati Dan segera menaiki mobil yang sudah terisi oleh dua orang wanita.


Dion merasa seperti orang asing Dan lebih tepatnya dia merasa seperti supir taksi. Beberapa kali dia membenarkan posisi duduknya dan mengeluarkan suara dehem untuk Menghilang kan sedikit rasa canggung yg dideritanya bersama dua wanita dibelakang.


Di sisi lain bibi um menyadari tingkah Dan tatapan aneh Dion, tak sesekali juga mata mereka saling bertemu dikaca mobil. Sedang kan Anggi diam dan menatap sekeliling jalan yang mereka lewati.


"Non Anggi mau pindah duduk di depan bersama den Dion?."


Sekerjap tatapan Anggi lepas dari pandangan kosongnya.


"Emm enggak bi, anggi disini saja sama bibi um."


tangannya semakin merapat menggenggam lengan bibi um Dan menyandarkan kepalanya di pundak bibi um.


"Jika anggi tidak berkenan tidak usah dipaksa saja bi."

__ADS_1


Dion menyadari kalau bibi um memang menyadari tingkah anehnya dari tadi.


__ADS_2