
**~Happy Reading dears~**
Anggi masih terdiam dan mencerna kata-kata papa Lutfi.
" Pa, anggi kan masih kecil. anggi juga baru lulus,kenapa anggi harus menikah."
Papa lutfi sudah mengira bahwa anggi pasti sangat tidak setuju, dia baru saja menginjak usia dewasa.
"Sayang dengerin papa, apa anggi gak mau mewujudkan keinginan papa untuk terakhir kalinya?. "
Anggi segera bangkit dari duduknya dan memeluk papa lutfi.
"papa kenapa bicara seperti itu, papa nggak boleh ninggalin anggi. "
Tangan papa lutfi mengelus kepala anggi dengan pelan dan lembut.
Anggi terisak dipelukan papa.
Mama Ina mendekat dan keluarga yang sangat bahagia, saling bartukar kebahagiaan.
Dibalik kejadian yang seharmonis itu bibi um menyaksikan dan teringat oleh keluarga di kampung. tak disadari Dion pun menitikkan air mata, yang kemudian ia sembunyikan dengan menundukan kepala dan sedikit mengusap dengan samar.
"Anggi mau ya sayang menuruti permintaan papa. "
Mama Ina mengulangi permintaan papa lutfi yang beberapa menit lalu diucapkan kepada Anggi.
"Anggi kan gak punya pacar, jadi Anggi gak harus menikah kan."
Papa Lutfi sekejap tersenyum mendengar Anggi mengatakan itu, putri lugunya memang tidak pernah pacaran.
"Nak Dion, kemari."
Dion mengangkat Kepalanya yang sedari tadi menunduk karena melihat keluarga yang harnonis ini.
langkah demi langkah kecil dion juga semakin mendekat kearah papa lutfi.
Dion berdiam diri di samping ranjang papa lutfi, tangannya di raih papa lutfi dengan lemas dan di sisi lain papa lutfi juga meraih tangan kecil Anggi. Anggi menatap papanya bingung dan tatapannya bertemu dengan dion. mereka merasa sangat canggung dan bingung.
Suara lirih Anggi memanggil papanya, tapi dengan cepat papa lutfi menyelaraskannya.
" Anggi,,, nak dion yang akan menjadi imam anggi, yang akan papa beri tanggungjawab untuk menjaga putri kesayangan papa."
Tidak hanya anggi yang merasa mempunyai surprise disini, tapi dion juga tidak mengetahui akan hal perjodohan atau pernikahan yang sudah direncanakan tanpa sepengetahuannya. hanya awal nya papa dan mama anggi pernah bercerita bahwa akan menikahkan anggi setelah lulus SMA. tapi hal ini sangat mengejutkan dion, bahwa dirinya lah yang dimaksud.
" Pa, tapi paa."
kritik anggi yang merasa keberatan kepada papanya yang masih terbaring diranjang rumah sakit.
__ADS_1
Anggi Mendengus kesal, ia lari meninggalkan ruang inap dan tentunya meninggalkan papanya yang membutuhkan anggi dan membutuhkan keinginan terakhir anggi untuk menjadi wali nikahnya.
Mama Ina meneriaki anggi untuk tidak pergi tetapi anggi tetap mengabaikannya, ia tidak Terima jika pernikahan dilangsungkan sebegitu mendadak dan seperti sudah direncanakan jauh hari.
Tidak lama setelah anggi pergi meninggalkan papa lutfi, keadaan papa lutfi kembali tidak normal dan bahkan keadaannya semakin memburuk. Mama Ina menyuruh bibi um memanggilkan dokter. Seketika mama Ina menangis dengan hati yang sangat hancur, melihat suami tercintanya dengan keadaan yang begitu menyedihkan.
"Nak dion tolong kamu kejar anggi ya."
"Baik tante, tante tenang aja, anggi pasti baik-baik aja."
Dokter dan dua suster berjalan dengan cepat menuju ruang inap papa dion dan membawa alat yang akan dipakai untuk mengatasi kondisi papa dion.
Mama Ina sangat cemas melihat keadaan suaminya yang sangat memburuk, bibi menenangkan mama Ina dan menyuruh mama Ina untuk duduk dan istirahat. karena sejak suaminya sakit mama Ina memang jarang memberikan istirahat dan nutrisi pada tubuhnya.
***
Anggi menangis di taman samping rumah sakit dan hatinya juga hancur karena dengan usianya yang masih perlu mencicipi masa remaja akan hilang dengan begitu cepat.
langkah kaki mendekat yang membuat anggi tersadar jika ada seseorang yang datang.
Anggi hanya sedikit melirik dan memincingkan matanya, ia tahu bahwa yang mendekat adalah orang yang akan membuat masa remajanya hilang.
"Pergi kamu, jangan urusi urusan saya."
Anggi dari dulu memang mempunyai perawakan yang lembut dan sopan, ketika marah pun tidak terlihat seperti orang marah pada umumnya.
"Saya hanya ingin kamu mengerti."
Anggi tetap saja acuh, tidak memperdulikan apa yang diucapkan dion kepadanya. karena dari awal dia memang sudah tidak menyetujui adanya pernikahan muda seperti yang akan dia alami sekarang ini.
"Tidak, aku tidak akan pergi. aku akan tetap disini sampai papa menyetujui untuk tidak menikahkan ku, apa lagi dengan pria tua seperti anda."
Dion tidak Terima atas julukan yang di berikan anggi padanya, dia pun tidak mau kalah dengan anggi yang sudah keterlaluan mengatai dia pria tua.
"Heh jangan asal bicara kamu ya, emang aku mau menikah dengan gadis jelek dan manja seperti mu. nggak ada untungnya buatku."
"Yaudah sana pergi dan bilang ke papa untuk tidak melakukan pernikahan apapun."
Dion semakin gemas dengan tingkah bandel anggi, ia sudah tidak bisa menahannya. ia harus mengatakan apa yang terjadi pada papa lutfi setelah dia menolak permintaanya.
"Papa kamu kritis anggi, apa kamu tega melihat papa mu tak berdaya tidur di ranjang sepanjang hari?. "
Anggi terdiam sejenak dan mencerna apa yang sudah dikatakan dion. dia segera bangkit dan mengguncang tubuh kekar dion yang terbalut oleh kemeja merah dan sarung.
"Apa yang terjadi pada papa, apa aku melakukan sesuatu kepada papa sehingga papa sakit lagi. "
"Cepat katakan. "
__ADS_1
Dion tetap diam, tidak menggubris pertanyaan atas goncangan yang diberikan Anggi kepadanya.
aaahhh
Anggi mendengus sebal dan pergi meninggalkan dion untuk melihat keadaan papa lutfi.
air matanya terus menetes setiap langkah kakinya, ia tidak mau kehilangan papa untuk kedua kalinya.
***
"Maa apa yang terjadi pada papa maa, papa kenapa?. "
Mama ina segera memeluk tubuh Anggi.
Pintu ruang inap papa dion terbuka dan mama ina segera menuju kearah tiga orang yang menangani papa dion.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?. "
Dokter menghela nafas dan itu membuat mama ina sangat tidak percaya diri dengan keadaan suaminya.
"Silahkan Keluarganya boleh menjenguk tapi mohon jangan ada kegaduhan, karena pasien masih pemulihan."
"Baik dok, terimakasih dokter."
Anggi dengan begitu cepat langsung membuka pintu ruang inap papa lutfi dan mama ina menyusul di belakang.
Anggi langsung berhambur memeluk papa lutfi yang masih dalam keadaan mata tertutup.
"Sayang biarkan papa istirahat dulu ya, Anggi gak usah khawatir ya. kita serahkan semuanya pada Allah dan juga dokter, semoga papa diberi keajaiban."
Anggi dengan perlahan melepaskan pelukannya pada sang papa, Tiba-tiba sebuah tangan mengelus kepala Anggi dengan penuh kasih sayang.
Anggi sedikit mendongak kaget.
"Papa udah bangun?."
" Pa maafin Anggi ya, Anggi udah buat papa seperti ini."
Tangannya semakin intens memeluk papa lutfi dan membuat papa lutfi kesulitan untuk bergerak.
"Sayang ini bukan salah kamu, ini semua atas kehendak Allah."
"Pa Anggi mau menikah."
Kata-kata yang keluar dari bibir mungil Anggi yang membuat semua orang terkejut, termasuk mamanya. Mama ina tahu kalau pernikahan adalah bukan keinginan anggi, tapi ia juga tidak bisa membiarkan anggi tidak menuruti permintaan papanya. .Mana ina meninggalkan ruang inap, sedangkan dion dan bibi um terduduk dikursi besi didepan dan memberitahukan niat anggi. Saat itu juga dengan seketika dion mengangkat kepalanya yang menunduk dan tidak percaya dengan gadis satu ini. Orang yang mengatainya pria tua dan sekarang mau menikah dengannya.
Salam Bahagiaa🍂
__ADS_1