Suamiku Pria Tua

Suamiku Pria Tua
Permintaan Papa


__ADS_3

*~Happy reading dears*~


Anggi terus saja memikirkan keadaan papanya, dia tidak bisa menikmati tidurnya dengan baik. Tapi disisi lain dia harus berjuang demi ujian kelulusannya.


"Anggi nggak mau mengecewakan papa".


Suara lirih Anggi yang terdengar dengan samar dipertengahan ruang yang gelap.


***


"Bi Anggi berangkat sekolah dulu ya, Anggi ada ujian jam tujuh.! "


Sepatu yang masih di tenteng ditangan kanan dan tangan kirinya menenteng tas punggungnya.


"Non sarapan dulu biar Non nggak sakit. "


"kalau gitu minum susu dulu Non. "


Bi um dengan langkah gemulai nya mengejar anggi dan menggenggam segelar susu putih.


anggi memanyunkan bibir yang sudah diolesi liptin itu, dan membawakan pesona anggi menjadi lebih menawan.


Anggi meraih gelas yang disodorkan bibi um dan segera menghabiskan susu dengan cepat.


Ukhukk ukhukkk ukhukkk...


"Non pelan-pelan aja minumnya Non, jangan buru-buru."


Anggi segera masang sepatu dikaki mungilnya dan mengulurkan tangan kepada bibi um. sesuai kebiasaan yang sudah di ajarkan oleh mama ina untuk selalu pamitan dengan mencium tangan orang tua dan itu di ajarkan sejak anggi balita.


***


Satu Minggu kemudian


Dering telfon menggema dirumah yang didominasi oleh cat warna biru. warna kesukaan Anggi.


"Bi, tolong ajak anggi ke rumah sakit sekarang ya!. "


Suara wanita separuh baya di seberang telepon dengan suara yang serak dan sesenggukan suara tangis.


Di sisi lain anggi yang sedang merasa gembira dan deg-deg an menatap layar HP menunggu hasil kelulusan yang akan di umumkan melalui situs resmi sekolah.


Dengan gesit anggi menggeser layar ponsel dan mencari deretan nama yang diurutkan sesuai abjad, untung Anggi namanya diawali abjad A jadi tidak pusing dia mencari namanya dari ratusan siswa.


senyum itu sedikit terlukis, dan semakin tajam dia menatap layar ponsel dengan teliti.

__ADS_1


"Yeyyyy aku luluss."


" Papa, mama anggi lulus, anggi juga paralel nomer satu dari ratusan mahasiswa. "


Teriak anggi dengan lantang dan berlari mencari bibi um untuk memberi kabar bahagia ini.


"Bi.. Bibi um.. bibi dimana, anggi punya kabar baik bi."


Bibi berjalan berlawanan dengan anggi dan dengan pandangan menunduk, tangannya saling menggenggam.


"Bi aku luluss, nilaiku juga baguss.. pasti papa mama nggak kecewa sama anggi. "


Begitu gembiranya anggi dan memeluk bibi dengan erat.


"Iya Non, papa sama mama Non anggi pasti bangga banget sama Non. bibi ucapkan selamat ya Non atas kelulusannya. bibi nggak nyangka Non anggi sekarang udah dewasa. "


Anggi tersenyum di pelukan bibi um, mendengar apa yang diucapkan bibi um. tapi Anggi merasa ada yang aneh dengan bibi um. tidak seperti biasanya bibi bersikap seolah-olah bahagia seperti ini.


"Bibi baik-baik aja kan?. "


Tanpa ada jawaban. bibi masih diam membisu.


Anggi menyadarkan bibi yang sedang kehilangan pandangan. apa yang bibi pikirkan sehingga melamun seperti ini.


"Non kita kerumah sakit ya, tadi mama Non bilang Non Anggi suruh segera ke rumah sakit"


apa yang terjadi pada papa, apa papa baik-baik saja. pikiran Anggi jadi tidak baik, dia khawatir dengan papanya yang sedang terbaring diranjang rumah sakit.


***


Mobil taxi belum berhenti dan parkir dengan baik, Anggi menerobos dan berlari begitu saja meninggalkan bibi um.


Kakinya terus bergerak tidak diam menunggu lift terbuka, terus memencet tombol lift dengan khawatir.


Permisiii...


Anggi menerobos dengan cepat ketika lift mulai terbuka. Perasaannya sangat khawatir dengan keadaan papanya.


dipikirannya sekarang hanya papa dan papa, bahkan lupa dengan kebahagian yang muncul beberapa jam yang lalu.


"Mama, apa yang terjadi dengan papa?. "


Anggi terhuyung ke arah mama yang berdiri di samping ranjang papa. Mama ina menoleh dan memberi ruang kepada Anggi untuk melihat keadaan papanya.


"Papa... papa udah sadar. "

__ADS_1


Tangannya secara ekspos memeluk papa dengan cepat tanpa aba. Ia menangis.


"Anggi khawatir sama papa."


"Udah sayang, papa enggakpapa kok. udah ya anak cantik papa jangan nangis."


papa Lutfi mengelus kepala anggi dengan pelan, karena masih lemas yang baru terbangun dari koma.


"Pa anggi punya kabar baik buat papa, anggi udah lulus dan nilai anggi terbaik paralel pa. Anggi udah janji sama papa kalau anggi nggak akan mengecewakan papa dan mama."


"Papa tau kamu anak yang pintar sayang."


Anggi tersenyum dan dengan mata berlinang. Anggi tidak tega melihat papanya terbaring di rumah sakit, karena itu adalah hal yang paling menyakitkan bagi Anggi.


mama Ina tersenyum haru melihat dua orang tersayangnya berbalas kasih sayang. melihat anak gadisnya yang sudah hampir menginjak usia dewasa.


Papa Lutfi memanggil Anggi dengan samar.


dengan refleks anggi terbangun dari pelukan papa dan badannya sekarang setengah berdiri menghadap papa Lutfi.


"Iya pa, apa papa butuh sesuatu biar anggi ambilkan."


papa Lutfi tersenyum dan menggeleng yang membuat anggi paham bahwa papanya tidak membutuhkan sesuatu.


"Sayang, anggi sekarang kan udah dewasa dan waktunya anggi mencari jati diri anggi dan menentukan masa depan buat anggi."


"Apa Anggi mau menuruti satu permintaan papa sayang?."


Anggi terduduk dan menggenggam tangan kanan pak Lutfi yang masih dipasang selang infus.


"Apa yang harus Anggi lakukan buat papa? Anggi pasti akan nuruti permintaan papa, karena Anggi tau pasti itu yang terbaik buat anggi nanti."


Tangan papa Lutfi kini menempel di pipi anggi dan senyum papa Lutfi kian terlukis di wajah pucatnya sekarang.


Ia tau anggi tidak pernah menolak permintaan papanya, tapi kali ini ia sedikit ragu apa anggi akan tetap menuruti permintaannya.


Papa Lutfi masih terdiam, menatap sekeliling ruang inap, menatap satu persatu orang di ruangan. Bibi um yang masih tertunduk dan mama Ina menganggukan kepala dan mengerjapkan matanya kepada papa Lutfi. Benar sebelumnya memang sudah ada perbincangan antara papa Lutfi, mama Ina dan dion.


Dion,,, nama itu, dan sekarang papa Lutfi menatap dion dengan Intens. Dion tertunduk dengan kemeja warna navy dan sarung hitamnya.


Dion adalah anak dari sahabat papa lutfi yang sekarang berada di luar negeri. karena mereka bersahabat dengan baik dan dulu pernah membangun bisnis bersama.


"Nak, papa kan sudah tua. papa ingin melihat Anggi sudah memiliki seseorang yang bisa menjaga Anggi. jadi kalau papa pergi, papa bisa meninggalkan anggi dan mama dengan tenang. papa ingin menjadi wali nikah Anggi saat Anggi menikah, itu adalah keinginan terdalam dan terakhir papa buat anggi."


Anggi terdiam dan kaget mendengar permintaan papanya yang sangat tidak masuk akal bagi Anggi dan kenapa seperti mengucapkan kata-kata terakhir seperti itu.

__ADS_1


Salam Bahagia🍂


__ADS_2