
**~Happy Reading dears~**
"Kamu yakin sayang?. "
"Iya pa, Anggi yakin mau menikah. Anggi nggak mau membuat papa sakit lagi, Anggi mau papa sembuh. "
Papa lutfi kembali memeluk Anggi dan mengelus kepala Anggi.
Tiba-tiba tubuh papa lutfi mengejang dan membuat Anggi yang masih terdiam di pelukan papanya terkaget. ia segera bangkit.
"Pa, papa kenapa."
Mama ina segera mendekat kearah suaminya.
"Ma apa yang terjadi pada papa ma. "
Mama ina segera memencet tombol darurat yang ada di sebelah kanan ranjang suaminya dan menyuruh bibi um untuk segera memanggil kan dokter.
"Bi um, tolong panggilkan dokter bi. "
Bibi segera pergi tapi dion mencegah langkah bibi dan akan pergi untuk memanggil kan dokter untuk papa lutfi.
"Biar saya aja bi, bibi disini saja temani Anggi dan tante ina."
Bibi um menurut dan dion segera pergi untuk memanggil dokter. sebelum dion melangkahkan kaki untuk membuka pintu, dokter datang dan dengan cepat menangani papa lutfi. papa lutfi di pasangkan alat pernafasan, papa lutfi kembali koma. Anggi menangis di pelukan mama ina dan tangannya mengelus kepala Anggi dengan pelan. untuk menenangkan anggi.
"Ma, nikahkan Anggi sekarang. Dihadapan papa dan jadikan papa wali nikah Anggi ma. Anggi nggak mau mengecewakan papa untuk terakhir kalinya, Anggi nggak mau papa menderita karena keputusan bodoh anggi. Anggi nggak mau jadi anak yang tidak berbakti ma"
Anggi terisak dan mama ina melepas pelukan Anggi. mama ina kaget dengan ucapan yang barusan dikatakan Anggi.
Di sisi lain, Dion jantungnya berdetak lebih keras mendengar apa yang barusan di ucapkan Anggi.
"Cepat nikahi aku sekarang. "
Anggi menggoyang- goyangkan tangan dion, tubuhnya pun ikut seirama dengan gerakan Anggi. Dion masih diam, berusaha mencerna apa yang dia alami sekarang.
"Nak dion, apa nak dion bersedia menikahi putri tante sekarang?."
Tante ina menyadarkan lamunan dion. Dion mengangguk cepat yang menandakan dia menerima hidup bersama Anggi. Gadis yang menyebalkan, tapi dibalik itu anggi adalah anak yang baik.
" Baik tante, dion setuju menikahi Anggi sekarang."
Seketika tante ina mengelus dada dan mengucapkan syukur kepada Allah.
"Maaf buk, tapi kita belum menyuruh penghulu. karena pernikahan ini sangat begitu mendadak."
bibi um menuturkan bahwa mereka belum menyuruh penghulu untuk datang, karena memang sejak awal tidak ada rencana pernikahan itu.
__ADS_1
"Gimana ma, apa menikah harus ada penghulu. Kenapa Dokter nggak bisa jadi penghulu pernikahan Anggi?. "
"Sayang menikah itu harus ada penghulu, kalau nggak ada penghulu pernikahan nggak akan resmi nak. Kalau dokter tugasnya kan nyembuhin papa bukan menikahkan Anggi. "
Mama sedikit tersenyum menggoda Anggi.
"Ih mama Anggi kan serius nggak becanda. "
Anggi mendengus sebal karena ulah mamanya Ini. masih aja mencairkan suasana di saat papa sakit kayak gini.
Di balik kejadian ini, dion tersenyum menyaksikan tingkah konyol dan menggemaskan anggi. gadis yang akan di nikahinya secara tiba-tiba.
" Kamu udah nggak sabar menikah dengan cowok ganteng ini ya. "
Dion diam-diam menggoda Anggi yang sedang tegang.
Anggi secara refleks langsung menyikut perut dion, yang membuat dion sedikit meringis kesakitan.
"Bi cepat carikan penghulu sekarang untuk Anggi. "
Mama ina dengan cepat menyuruh bibi um untuk menyarikan penghulu, kalau perlu bibi harus datang ke KUA sekalian.
***
" Nyonya, ini penghulu untuk non anggi."
Diikuti oleh penghulu yang membawa tas hitam Dan peci, yang ikut tergesa mengikuti langkah bibi um. Selain itu juga diikuti satu laki-laki yang akan menjadi wali nikah dion.
"Pak lutfi."
Dokter mengagetkan seisi ruangan dengan panggilannya, bahwa papa anggi telah sadar. Masih terbalut dengan selang dan alat bantu pernapasan.
Anggi dan mama ina segera mendekat keranjang papa lutfi.
papa lutfi masih mengerjabkan matanya, yang masih berusaha mencari pandangan jernihnya.
"Papa."
Rengek anggi sambil memeluk papa lutfi dengan penuh hati-hati.
"Pa anggi Mau menikah, papa jadi wali nikah anggi ya!."
Papa lutfi tersenyum dibalik alat pernafasannya mendengar bahwa putri tersayangnya mau menikah.
Terlihat anggukan papa lutfi Dan kerjapan matanya yang menunjukan bahwa papa lutfi menyetujuinya. Anggi dan semua orang disana terlihat bahagia melihat papa lutfi yang Sudah bisa memancarkan senyumnya walaupun masih belum jelas.
Di samping itu, Dion sedang dilatih oleh pak penghulu untuk mengucapkan ijab.
__ADS_1
"Mohon maaf apa pernikahannya bisa dimulai sekarang? Saya buru-buru ada jadwal ditempat lain."
Pak penghulu memecahkan suasana sendu di ruang inap papa lutfi.
" Apa nak Dion Sudah siap nak?. "
Mama ina memperjelas kesiapan Dion, untuk menikahi Anggi anak semata wayangnya.
Dion mengangguk.
" Baiklah mari kita mulai."
pak penghulu meyakinkan untuk memulai akad Dion dan anggi.
pernikahan terjadi tiba-tiba dan acara akad telah usai. anggi dan dion kini sah menjadi sepasang suami istri. Anggi menyalami tangan dion, itu adalah adat dimana setelah pernikahan seorang istri harus menyalami tangan suami. sebagai penghormatan karena sudah sah sebagai pasangan dan siap untuk menjalani hidup bersama.
Mama ina memeluk anggi, air matanya menetes, dan diranjang papa lutfi tersenyum samar karena terhalang alat pernafasannya. Tanggungjawab anggi sudah sepenuhnya diserahkan Kepada dion dan papa lutfi merasa sangat tenang dan meneteskan air mata, karena putri semata wayangnya sudah diserahkan Kepada laki-laki yang diyakininya bisa menjaga putrinya.
"papaaaa"
Tiba-tiba anggi meneriaki papanya, semua orang teralih pada papa lutfi.
Papa lutfi mengejang, dan garis pendeteksi nadi semakin tidak berfungsi.
Dokter yang sedari tadi ikut menjadi saksi pernikahan anggi dan dion dengan cepat menghampiri dan menangani papa lutfi. kondisinya kembali kritis.
Mama ina memeluk anggi dan menenangkan anggi.
suster meminta untuk semua nya segera meninggalkan ruangan, supaya dokter bisa menangani papa lutfi dengan baik. anggi menolak dan memberontak keras.
"Anggi Mau disini nemenin papa ma, anggi nggak Mau ninggalin papa sendiri."
"Sayang papa harus ditangani dokter, kita doain papa supaya papa cepet sembuh ya."
kali ini Anggi mendengarkan apa yang dikatakan mama ina.
hanya dokter Dan suster yang Ada di ruang rawat papa lutfi, sedangkan keluarga hanya bisa merasakan kesedihan dan menyerahkan semuanya pada dokter Dan Allah sang maha pemberi kehidupan.
Pak penghulu meminta izin untuk pergi karena ada jadwal di tempat lain dan juga mengucapkan doa untuk papa lutfi kepada mama ina.
***
pintu ruang inap papa lutfi mulai terbuka perlahan. setelah setengah jam berlalu, akhirnya ruang itu terbuka. Dokter yang masih membawa alat kesehatan dan masker medis. Anggi Dan mama ina dengan cepat menghampiri dokter untuk meyakinkan bahwa papa lutfi baik-baik saja.
dokter mulai membuka masker medisnya dan tetapi Mimik wajah dokter tidak terlihat baik.
"Bagaimana keadaan papa dok, papa baik-baik saja kan dok?. " gercak anggi kepada dokter karena begitu khawatirnya kepada papa lutfi.
__ADS_1
dokter menggelengkan kepala dan menunduk.