
Anggi menatap bingkai foto yang sudah ditatanya di atas meja samping tempat tidurnya. Tubuhnya sedikit terangkat, tangannya mulai maraih bingkai itu. jemarinya sedikit mengusap kaca yang didalamnya terdapat foto keluarga, seorang ayah, ibu dan anak perempuannya ketika berumur 5 tahun.
"Anggi kangen papa." Tangisannya mulai pecah, ia masih tidak percaya bahwa papa pergi meninggalkannya untuk selamanya.
" Paa, anggi mau naik kuda." Rengek si anggi kecil ditengah malam.
"ini kan udah malam sayang, kudanya lagi tidur. sama kayak anggi harus tidur ya, kan besok sekolah."
Anggi kecil sedih dan terlihat wajah kecewanya.
"anak papa mau naik kuda ya?"
Anggi mulai menganggukkan kepalanya dengan senyum yang mengembang di pipinya.
Papa Lutfi turun dari kursi dan menjongkokkan tubuhnya.
"Sini naik kuda."
"Mana kudanya papa?." Anggi kecil masih bingung dan mencari kuda disekelilingnya.
Papa lutfi menepuk punggungnya, supaya anggi naik diatasnya.
"Sini naik sayang."
__ADS_1
" Yeyy naikk kudaa."
Anggi tertawa lepas dan bahagia.
"Anggi seneng naik kuda?."
"Seneng pa, besok anggi mau naik kuda lagi ya."
Papa mencium pipi anggi dan menggendongnya ke kamar.
"Iya, tapi sekarang kudanya bobok dulu ya. Anggi juga bobok, biar besok bisa naik kuda lagi."
Anggi tersenyum dan mengangguk senang. papa lutfi mengelus kepala anggi dan memeluknya hingga anggi tertidur.
Tangisannya semakin pecah dan memenuhi seisi kamar. Tubuhnya tersungkur diatas lantai dan masih memeluk sebingkai foto.
Dion dengan samar mendengar teriakan wanita, yang awalnya suara itu diabaikan. akan tetapi semakin lama suara itu semakin kencang dan suara itu terasa tidak asing ditelinga dion.
"Anggi!!!."
Dion langsung berlari sekencang kuda, ia tersadar bahwa dia tidak tinggal sendiri disini. Dia sudah mempunyai istri, hemm ya walaupun mereka masih dibabak permulaan dan masih butuh waktu untuk saling menerima dan melengkapi.
Dion mengetuk pintu kamar anggi dengan keras dan dengan rasa khawatir yang memuncak dipucuk kepalanya.
__ADS_1
Tidak ada sautan, tapi hanya sesenggukan seseorang yang sedang menangis.
Tangannya langsung memutar kening pintu, dan terlihat sosok anggi yang terlulai lemas diatas lantai. Dion berjalan cepat dan menghampiri anggi.
"Anggi apa yang terjadi?... Ada apa anggi?."
Dion mengambil sebingkai yang ada dipelukan anggi. Ia merengkuh tubuh anggi kedalam pelukannya.
"Anggi kangen papa?."
Ia tetap menangis dengan balutan gamis dan kerudung yang setiap hari dikenakannya.
"Sudah jangan menangis ya, papa pasti sedih kalau tau anggi bersedih."
"Kita doakan papa ya supaya papa tenang dan bahagia disana. Anggi mau papa bahagia kan?."
Anggi tetap terisak dan mengangguk pelan.
"Udah ya, jangan nangis lagi biar papa juga nggak sedih."
Tangannya mengelus kepala anggi yang masih tenggelam dipelukan dion.
Perasaan anggi memang belum teruntuk dion, tapi anggi akan berusaha dan akan belajar mencintai suaminya. Dia orang yang dewasa dan anggi membutuhkan sosok seperti itu, yang bisa membimbingnya menjadi orang tangguh dan dewasa. Orang yang akan selalu menjadi sandarannya setelah papa tiada dan Walaupun umurnya terpaut cukup jauh, tapi itu tidak menjadi penghalang untuk menghadirkan sebuah cinta antara anggi dan dion. karena kita tidak boleh menilai orang dari materi, tetapi keimanan yang akan menuntunnya supaya dekat dengan-Nya. Materi manusia tidak akan bisa menyelamatkan di akhirat, tetapi keimanannya kepada Allah yang akan menjadi tombak untuk menyelamatkannya di akhirat kelak.
__ADS_1