
**~Happy Reading dears~**
" Kami mohon maaf tidak bisa mentelamatkan pak Lutfi."
Semua orang yang Ada di depan ruang inap papa lutfi kaget mendengar penuturan dokter. Anggi tetap saja tidak percaya dengan ucapan dokter, ia segera berlari kedalam ruang papanya untuk memastikan bahwa apa yang dikatakan dokter tidak benar. ia benar- benar tidak bisa kehilangan papa tersayangnya. begitupun mama ina menyusul setelah anggi benar- benar menghampiri papanya dan dion juga menghampiri mertuanya, kekhawatiran yang sangat membuatnya tidak percaya bahwa papa lutfi akan pergi dengan secepat ini.
Tangisan anggi yang memenuhi ruangan dan ia tak henti menggoyahkan tubuh papanya untuk membangunkannya. mama ina mencoba tetap menenangkan anggi, ia juga tidak percaya kalau suaminya akan pergi dengan secepat ini.
Tubuhnya begitu pucat dan dingin, tak sanggup mama ina menyaksikan suaminya terkapar seperti ini dan ia memutuskan untuk meninggalkan ruangan.
" Dion tolong jaga anggi ya, tante Mau keluar dulu."
" Baik tante."
Anggi terus saja meneriaki papanya yang sudah pucat dan dingin. Dion tak henti menenangkan anggi.
"Anggi ayo kita keluar biar pemakaman segera dipersiapkan."
"Apa maksud kamu, kamu mendoakan papa tiada. kejam sekali kamu." suara anggi serak dan membuat dion naik emosi. tak hentinya anggi terus menangis.
"Anggi kamu harus siap kehilangan papa kamu, tak Ada manusia yang kekal anggi. kamu harus ikhlas."
"Aku nggak Mau kehilangan papa, papa nggak boleh pergi."
"Aku tau papa lagi tidur, papa capek jadi biarkan papa istirahat."
nada anggi semakin tinggi.
Dion berusaha menenangkan anggi, ia menggenggam tangan dan memeluk anggi. menarik anggi ke dalam pelukannya. perlahan anggi semakin tenang, tidak memberontak bahwa dia dalam dekapan dion. tetapi air matanya masih menetes dan memanggil papa lirih.
***
"Ma, Anggi tinggal sama mama disini ya."
Dalam sadar anggi mengetahui status nya sekarang adalah seorang wanita yang sudah mempunyai suami. Tetapi ia kekeh ingin tetap tinggal dengan mamanya, dia takut mamanya merasa kesepian dan masih berduka atas kepergian papa.
"Enggak usah sayang, kan kamu udah menikah. jadi kamu harus nurut dan ikut kemanapun suami kamu tinggal. lagian mama kan Ada adek kamu, jadi mama nggak merasa kesepian kan"
Anggi mulai memeluk mamanya dengan erat dan menggerang penolakan.
"Tidak apa-apa tante...." mama Ina memotong ucapan Dion.
"Kok tante sihh.. kan kamu sekarang jadi suami anggi, jadi kamu juga anak mama. kamu mulai sekarang panggil Saya mama ya."
" Baik ma, biar anggi tinggal disini dulu tidak apa-apa. nanti kalau dia kangen pasti dia nyariin dion, ya kan sayang. " Dion melebarkan senyumnya ke Arah anggi dan anggi menggerutu tidak terima.
" Ma liatt, baru nikah aja udah godain anggi."
mama ina tersenyum melihat tingkah pasutri ini, tapi mama ina tau bahwa anggi masih bertingkah layaknya anak kecil. jadi ya wajar kalau dia emang masih suka manja.
****
__ADS_1
"Anggi jangan nakal ya, jangan ngrepoti nak Dion."
"Ma anggi masih mau nemenin mama. " Rengek anggi dan memeluk tangan kanan mamanya.
"sayang kamu kan udah nikah, jadi kamu harus ikut suami dan nurut sama suami kamu ya nak."
"Mama kan Ada adek kamu yang nemenin mama, jadi kamu jangan khawatir ya."
Anggi memanyunkan bibir mungilnya yang membuat Dion semakin gemas dengan istri mungilnya yang ada diseberang tempatnya menapakkan kaki.
"Yaudah mama jaga kesehatan ya, kalo Ada apa-apa kabari anggi segera."
"Iya sayang itu pasti."
"kalo anggi nakal jewer aja nak dion, kalau perlu laporin mama aja biar mama yang jewer."
Mama ina menggoda anggi di depan Dion, dan terlihat wajah anggi yang manyun tidak terima dengan ledekan maamanya.
"Siap ma, pokok nya Dion nggak akan biarin anggi nakal. kalau berani nakal siap2 aja. "
Dion menaikan alis kanannya dan mengedipkan sebelah matanya Kepada anggi.
Anggi mengerutu sebal, dan segera memalingkan wajah dan badannya memunggungi Dion.
"Kan mulai nakal, awas lo di jewer mama."
Dengan sigap anggi membalikkan badannya dan seolah bersikap manja di depan mama dan Dion.
Dua jarinya teracung yang menunjukan bahwa ia tidak berbohong.
mama ina menggeleng dan melebarkan tangannya Kepada anggi, anggi secara gesit sedikit berlari kedalam pelukan mamanya.
"Mama akan selalu merindukan anggi."
"anggi juga akan rindu mama."
Beberapa menit setelah kicauan perpisahan, anggi dan Dion segera pergi ke rumah dion. karena anggi sudah sah menjadi istri Dion, jadi anggi harus ikut dan tinggal bersama Dion. walaupun anggi belum mencintai Dion, tapi anggi sadar ini adalah ketetapan yang sudah Allah takdirkan kepadanya.
****
"Mas kamar anggi dimana?"
Dion diam, membawa koper anggi dan terus menaiki tangga, tanpa sepatah kata pun. Anggi menggerutu sebal dan mengikuti dion di belakang nya.
Tangannya sedikit mengangkat gamis menjulangnya dan hijabnya terayun karena langkah kaki menaiki tangganya.
Dion terhenti dan membuka sebuah kamar, menurunkan koper yang sedari tadi digenggamnya.
"Masuklah."
Ia mempersilahkan anggi memasuki kamar dan anggi sedikit melirik setiap sudut kamar.
__ADS_1
Perlahan langkah kakinya mulai menyusuri kamar dan sedikit mengangguk pelan.
"Ada apa?"
Dion sedikit mengagetkan langkah anggi, anggi berhenti dan sedikit menoleh.
"emm tidak apa-apa, kamarnya bagus dan sepertinya cukup nyaman."
"Oh tentu."
Anggi mengambil koper dan menata pakaian dilemari dan menyimpan seluruh barang bawaanya.
Sedangkan Dion hanya mengamati setiap gerak- gerik anggi, mulai dari langkah kaki, pandangan yang mencari celah untuk menyimpan barang, dan hijab yang menutupi tubuh anggi.
"Mas ngapain masih disini?."
"Emangnya gak boleh? kan kamu istriku."
Dion membela diri dan mulai menggoda anggi, mengedipkan sebelah matanya. sedangkan anggi selalu menggerutu sebal dengan godaan dion.
Anggi menarik Dion yang sedari tadi merebahkan tubuh nya diatas ranjang. tenaga Dion sungguh kuat dan anggi kewalahan. Tanpa aba, anggi menarik nya begitu keras hingga Dion jatuh dan menindih tubuh anggi.
Mereka terdiam, tanpa sadar dan saling menatap. merasakan detakan jantung yang mulai menggema didalam tubuh. Dion menyunggingkan senyum mesumya.
"Aduh kenapa jantung ku berdetak keras, jangan- jangan Dion mendengarnya." batin anggi dalam hati
Anggi segera mendorong Dion untuk menjauh, dan Dion terpental.
"Kok udah, kan belum mulai."
Anggi menoleh dengan pipi memerahnya, ia mulai merasa salah tingkah.
"Apaan sih, cepat keluar."
" Kan belum masuk, kok udah suruh keluar." Balas dion dengan centilnya.
Dion semakin tersenyum mesum dan menggoda anggi tidak bergenti.
" Hih apaan sih, dasar mesum."
Anggi kembali mendorong Dion keluar dari kamarnya, dan segera mengunci pintunya.
jantung nya sungguh berdegup kencang kali ini, belum pernah dia berhadapan dengan cowok sedekat itu. Apalagi kata-kata mesumnya yang membuat anggi linglung dan salah tingkah.
Sedangkan Dion dibalik pintu kamar anggi masih tersenyum membayangkan dirinya berhadapan dengan anggi, sedekat yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya.
Dion pun memutuskan kembali kekamarnya untuk istirahat, setelah pandanganya kembali menatap pintu kamar anggi dan kakinya mulai melangkah pergi.
#
jangan lupa like dan vote nya ya kak🤗
__ADS_1