Suamiku Tuan Sempurna

Suamiku Tuan Sempurna
Bab 1


__ADS_3

Namanya Kinanti, dia anak tertua dari keluarga yang dulunya cukup terpandang di desanya. Sejak kepergian sang Ayah, Kinanti menjadi tulang punggung keluarga meskipun saat itu dia masih sekolah. Kehidupan royal yang sulit untuk Mama Kinanti lepaskan, membuat Kinanti harus rela melakukan segala macam perkerjaan. Kinanti sampai rela untuk tidak melanjutkan bangku kuliah agar bisa membiayai Adik laki-lakinya dan semua kebutuhan Mamanya yang tidak pernah ada ujungnya.


Setelah lulus SMA puluhan lamaran kerja Kinanti buat karena keinginannya untuk mendapatkan perkerjaan yang cukup bagus. Tidak adanya pengalaman kerja, membuat Kinanti kesulitan mendapatkan perkerjaan sehingga dia harus berberat hati untuk berkerja di sebuah toko kelontong milik tetangganya.


"Ini gajimu untuk Minggu ini Kinan." Tutur Bu Erna tersenyum ke arah Kinan yang masih sibuk membereskan dagangannya karena toko sudah akan tutup.


"Astaga.. Terima kasih Bu Erna." Jawab Kinanti menerima amplop tersebut dengan senang hati." Sekalian saya mau membeli beras dan telur untuk kebutuhan Minggu ini Bu." Imbuh Kinanti merobek amplop tersebut dan menyerahkan satu lembar uang seratusan pada Bu Erna.


"Kamu ambil saja Kinan, anggap itu sebagai bonus bulan ini." Jawab Bu Erna yang sangat mengetahui posisi Kinan saat ini.


"Jangan seperti itu Bu, saya nggak enak jadinya."


"Sudahlah nggak apa-apa, Ibu sudah siapkan di sana." Menunjuk ke arah luar toko." Sudah sebaiknya kamu pulang, biar sisanya Ibu bereskan sendiri." Imbuh Bu Erna mengusap lembut puncak kepala Kinan.


"Terimakasih ya Bu." Kinan mencium tangan Bu Erna sebab merasa sangat senang.


"Sama-sama Kinan." Tersenyum." Radit, tolong antarkan Nak Kinan pulang." Tutur Bu Erna setengah berteriak.


"Ahh Ibu tidak perlu." Kata Kinan merasa sungkan.


"Sudahlah, Ibu sudah tahu hubungan kalian." Jawab Bu Erna berbisik.


Wajah Kinan langsung semburat merah saat Bu Erna berkata seperti itu, sebab dia memang mempunyai hubungan spesial dengan Radit meski sembunyi-sembunyi.


"Ibu merestui kalian." Mengusap puncak kepala Kinan." Tapi tunggulah Radit mempunyai perkerjaan yang baik agar bisa membantumu membiayai kehidupan keluargamu juga." Imbuh Bu Erna yang membuat perasaan Kinan langsung tersentuh.


"Terimakasih Ibu." Kinan kembali mencium punggung tangan Bu Erna dengan mata yang berkaca-kaca.


Seorang pria cukup tampan keluar dari dalam rumah dan tersenyum melihat ke arah Kinan dan Bu Erna. Dia adalah Radit, Lelaki yang selalu ada untuk Kinan, lembut Tutur katanya dan sangat sopan terhadap orang tua. Umur Radit satu tahun lebih tua dari Kinan, dia merupakan Kakak kelas Kinan dulu yang merangkap menjadi sahabat Kinan plus kekasihnya. Jadi Radit sangat tahu soal seluk-beluk keluarga Kinan seperti apa.


"Apa aku melewatkan sesuatu." Sahut Radit menuju ke arah Kinan dan Bu Erna.


"Antarkan dia pulang, ini sudah terlalu malam." Tutur Bu Erna.


"Siap Ma."


"Baik Bu saya permisi." Tutur Kinan sopan.


"Panggil Ma saja." Jawab Bu Erna." Hati-hati yah." Bu Erna kembali mengusap lembut puncak kepala Kinan.


"Baik Ma." Jawab Kinan serayap melirik ke arah Radit yang terlihat sangat tampan.


"Ya sudah yuk." Radit mencium punggung tangan Bu Erna." Pergi dulu ma."


"Jangan lupa bawa kardus yang ada di depan."


"Hmm oke."


Radit merangkul kedua pundak Kinan lalu mengiringnya keluar dari toko. Bu Erna tersenyum ke arah keduanya sebab Bu Erna juga menyukai sosok Kinan yang selain mempunyai paras cantik, dia juga ulet dalam berkerja.


Aku berharap Kinan segera menjadi menantuku, ya Tuhan, berikanlah perkerjaan yang layak untuk Radit agar bisa cepat melaksanakan niat baiknya tersebut. Amin.


Sementara di luar toko, Kinan tersenyum melihat Radit yang sibuk menata kardus bawaannya. Dia cukup menyukai Radit mengingat hubungan mereka terjalin sudah 3 tahun, namun suka bukan cinta sebab Kinan bukanlah wanita yang mudah jatuh cinta meski mantan kekasihnya cukup banyak.


"Biar aku bawa jika itu menyulitkan mu Kak." Ucap Kinan memberikan ide.


"Diamlah sayang, aku tidak ingin kau merasa berat membawa ini semua. Doakan aku bisa membeli sebuah mobil agar tidak sulit seperti ini." Jawab Radit tersenyum ke arah Kinan sejenak.


"Amin. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu."


"Sudah beres." Radit memutar badannya dan berdiri di hadapan Kinan. Dia merogoh celananya dan memberikan sebuah amplop pada Kinan." Terimalah." Imbuhnya tersenyum.


"Apa ini?" Tanya Kinan tidak langsung menerimanya.


"Untuk pegangan saja, aku tahu uang gajian mu akan habis nanti." Tutur Radit menjelaskan.


"Tidak perlu Kak, aku sudah menerima banyak darimu." Jawab Kinan merasa sungkan sebab keluarga Radit sudah banyak membantunya.

__ADS_1


"Apa kau mencintaiku Kinan?"


"Apa hubungannya dengan itu?" Jawab Kinan gugup.


"Jika kau mencintaiku, ambil ini, anggap ini sebagai latihan jika nanti kau menjadi istriku nanti." Ucapan itu semakin membuat Kinan tersipu malu.


Perlahan-lahan tangan Kinan menerima amplop tersebut sebab dia tidak ingin mengecewakan Radit." Terimakasih untuk semuanya." Ucap Kinan lirih.


"Sama-sama sayang. Mari pulang." Radit menaiki sepeda motor di ikuti oleh Kinan.


.


.


.


.


Setibanya di rumah, Radit langsung berlalu pergi setelah mengantarkan sembako di depan rumah. Kinan mengangkat kardus tersebut serayap membuka pintu rumahnya yang memang tidak pernah terkunci. Dia terpekik kaget saat melihat sang Mama sudah berdiri di samping sofa ruang tamu dengan tatapan tajam.


"Aku pulang Ma." Tutur Kinan tersenyum, dia meletakkan kardus dan akan meraih tangan Mamanya namun Mamanya malah menyodorkan tangannya ke arah Kinan tanpa membalas uluran tangan Kinan.


"Hari ini Kau gajian kan?" Katanya kasar.


"Hmm iya Ma." Kinan merogoh saku bajunya dan memberikan amplop putih kepada sang Ibu.


Bu Dina langsung merobek amplop itu dan mengerutkan keningnya melihat isi uang yang ada di dalam amplop itu." Astaga!! Dari dulu sampai sekarang uangnya nggak nambah-nambah! Kau tahu kebutuhan Mama itu semakin banyak." Bentak Bu Dina membuat Evan yang tengah belajar di kamar menjadi kaget dan keluar.


Evan adalah Adik laki-laki Kinanti, dia sudah kelas 12 SMA. Dia mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan kuliah dan Kinan berusaha memenuhi keinginan itu hingga dia tidak pernah memikirkan keinginannya sendiri. Evan yang merasa kasihan langsung membela Kinan di hadapan sang Mama.


"Apa-apaan sih Ma, Kak Kinan baru juga datang sudah di bentak seperti itu." Sahut Evan langsung merangkul kedua pundak Kinan sebab Evan memang lebih tinggi dari Kinan meskipun dia adalah Adiknya.


"Tidak baik berkata seperti itu Van." Kata Kinan merasa jika ucapan Evan terlalu kasar.


"Aku membelamu Kak."


Semakin hari, sikap Mama semakin menjadi-jadi saja. Eluh Kinan dalam hati.


"Sabar Kak." Kata Evan menguatkan.


"Tidak masalah Evan." Jawab Kinan mencoba tersenyum.


"Em Kak maaf..." Kata Evan terhenti.


"Iya ada apa? Katakan saja." Jawab Kinan mengusap lembut kepala adik kebanggaannya.


"Tadi itu Kak, Bu Guru minta uang SPP bulan ini, kalau belum di lunasi nanti aku nggak bisa ikut ujian Minggu ini." Tutur Evan lirih sebab dia merasa kasihan pada Kakaknya.


"Bukannya sudah Kakak titipin sama Mama Van." Jawab Kinan terkejut mendengar ucapan dari Evan adiknya.


Evan menggeleng serayap menatap ke arah Kakaknya sendu, mata lelah Kinan sangat terlihat membuat Evan merasa iba.


Kasihan Kak Kinan.


Syukurlah aku masih punya uang dari Radit tadi. Kinan langsung membuka amplop dari Radit dan berisi uang 300 ribu." Untung Kakak ada uang, memberikan semua uang pada Evan."


"200 ribu saja Kak." Evan mengembalikan uangnya satu lembar namun Kinan menolaknya.


"Buat jajan." Tersenyum.


"Kakak nggak pegang uang donk?"


"Nggak apa-apa Van, biasanya By Erna kasih uang lebih jadi bisa buat pegangan Kakak." Mengusap lembut puncak kepala Evan." Sekolah yang pinter, biar dapat kerjaan bagus. Masalah kuliah, doain Kakak segera dapat panggilan kerja jadi bisa ngumpulin uang buat pendaftaran kuliah kamu." Imbuh Kinan tersenyum sebab tidak ingin terlihat bersedih di depan adiknya.


"Siap Kak, aku akan kuliah yang bener biar Kakak nggak perlu kerja lagi." Jawab Evan bersemangat.


"Ya sudah Kakak istirahat dulu, minta tolong bawa kardus ini di belakang ya."

__ADS_1


"Iya kak."


Kinanti berjalan perlahan ke arah kamarnya serayap beberapa kali menghembuskan nafas berat. Dia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur yang berukuran kecil itu serayap menatap langit-langit kamar.


Tuhan, beri aku sebuah perkerjaan agar aku bisa memenuhi kebutuhan keluargaku.


.


.


.


.


Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah yang terletak di perumahan elit, sebuah keluarga berkumpul dan tengah membicarakan sesuatu. William anak satu-satunya dari keluarga tersebut tertunduk lemah saat kedua orang tuanya menanyakan perihal hubungan asmaranya. Jujur jika di bidang bisnis, William adalah seorang lelaki yang sangat pintar membius para relasinya agar bisa berkerjasama dengan perusahaannya. Namun jika dalam hal asmarah William termasuk lelaki yang payah, satu kalipun dia tidak pernah mengandeng seorang wanita. Sedangkan keluarganya menutut seorang keturunan dari William sebab umur sang Ayah yang sudah masuk kepala enam.


"Jadi kapan kau kenalkan calon istrimu pada kami?" Tanya Pak Abraham di tengah acara makan malam mereka.


"Secepatnya Yah." Jawab Wiliam singkat.


"Ini sudah hampir 2 bulan tapi kau bilang secepatnya terus!" Kata Pak Abraham mulai geram." Ayah bangga padamu atas semua prestasi itu, tapi untuk apa itu semua jika kau tidak memiliki sebuah keluarga! Jika kau tidak mengenalkan seorang wanita Minggu ini! Semua harta warisan akan ayah sedekahkan saja! Ayah sudah muak dengan semua alasanmu itu Liam!" Ucap Pak Abraham dengan nada tinggi.


"Sudah Yah, mungkin Liam butuh waktu lebih banyak dari ini." Sahut Mama Lina serayap mengusap lembut lengan suaminya.


"Hmm iya Ayah, aku tidak bisa sembarangan mencari seorang wanita, aku juga mempunyai tipe ideal." Tutur William lirih.


"Tipe ideal seperti apa? Ayah tidak mempermasalahkan bibit dan bobotnya! Asal dia gadis yang baik, Ayah terima dia. Apa kau mau menerima perjodohan dengan Siska?"


Ucapan sang Ayah sontak membuat William meletakkan sendok makannya." Siska bukan seleraku Ayah, dia terlalu buruk untuk di bawa kemana-mana." Tutur William yang ingin menjaga citra baiknya di mata publik.


"Yang terpenting dia baik Liam." Kata Mama Lina lirih.


"Aku tidak mau! Aku akan mencari sendiri calonku." Tutur William bersih keras.


"Sampai kapan?" Jawab Pak Abraham semakin geram.


"Sesuai perjanjian!" William berdiri dan meninggalkan meja makan begitu saja, di ikuti oleh Sam sekertaris pribadinya.


Ayah dan Mama William saling melihat satu sama lain, serayap mengelengkan kepalanya."Bagaimana aku bisa mempunyai anak yang sekaku itu." Eluh Pak Abraham yang melihat sendiri sikap kaku dari William saat bertatap muka dengan lawan jenisnya.


"Mama rasa dia hanya butuh waktu untuk ini Yah, tunggulah sebentar lagi, jangan terlalu mengekangnya sebab perkerjaan William sangatlah banyak." Jawab Mama Lina meredam amarah sang Suami.


"Hmm yah, bagaimana lagi." Pak Abraham menghentikan aktivitas makannya dan berjalan menuju ke kamar utama.


Ya Tuhan, berikan jodoh untuk anakku yang bisa melengkapi kekurangannya itu.-


Haiii Para reader terhormat 😘


Author pengen mencoba cerita soal perjodohan, sebab Author juga pernah merasakan hal seperti itu meski tidak berlanjut 😄😄


Semoga suka sama ceritaku yah😁


Lanjut tidaknya cerita tergantung dari para pembaca😁


Terimakasih


Silahkan like 👍


Komentar 💬


Klik ♥️


Vote juga please 😘


bye-bye


Updatenya mungkin masih lama karena nunggu Novel Arabella Maheswari selesai, tapi di usahakan satu Minggu sekali update 😁🙋

__ADS_1


__ADS_2