
Drrrtttt...Drrrttttt... Drrrrrttttt...
Puluhan panggilan masuk di dalam ponsel Kinan pagi ini, tadi pagi Evan bahkan berusaha membangunkan Kinan namun tidak ada jawaban dari Kakaknya sehingga dia langsung berangkat sekolah karena takut terlambat. Bu Dina sendiri yang merupakan Mama dari Kinan, memang hobi bangun siang dan tidak pernah mengurusi kedua anaknya selayaknya seorang Mama.
Dddrrrttt....drrrtttt...drrrttttt...
Dok...dok...dok...
Suara ponsel Kinan teralihkan saat terdengar gedoran di pintu kamar Kinan dan hal itu langsung membuat Kinan terjungkal hingga terjatuh dari tempat tidurnya.
"Aduhhh.." Eluhnya serayap berusaha bangun.
Dor..Dor..Dor....
Gebrakan pintu semakin menjadi membuat Kinan terhuyung-huyung dan langsung membuka pintu kamarnya meski nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.
Cklek...
Raut wajah Bu Dina kini menjadi sarapan pagi bagi Kinan, bola matanya hampir saja keluar melihat pemandangan di depannya yang memperlihatkan keadaan Kinan yang baru saja bangun tidur. Kinan begidik ngeri sehingga membuatnya langsung menunduk sebab dia tidak ingin menyulut kemarahan Mama sambungnya itu.
"Enak benar ya! Sudah mirip seorang putri saja jam segini belum bangun!!" Bentak Bu Dina langsung membuat telinga Kinan terasa panas.
"Maaf Ma semalam Kinan nggak bisa tidur jadi kesiangan bangun." Jawab Kinan menjelaskan.
"Kalau kamu seperti ini terus? Bagaimana kamu bisa kasih Mama uang banyak hah!!"
"Maaf Ma." Jawab Kinan lirih." Emm hari ini Kinan ada interview kerja Ma, doakan biar Kinan di terima ya." Imbuh Kinan yang selalu berkata lembut pada orang tua.
"Ya terserah, pokoknya uang nya banyak." Jawab Bu Dina ketus.
Astaga... Batin Kinan serayap melirik ke arah Jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 07:45.
"Hah!! Tidak!! Aku telat." Pekik Kinan akan berjalan masuk namun tangan Bu Dina menarik lengan Kinan kasar.
"Mama lapar! Buat sarapan dulu sebelum kamu berangkat interview." Pinta Bu Dina.
"Tapi Ma aku sudah telat." Jawab Kinan menjelaskan.
"Siapa suruh bangun siang!! Mama nggak mau kelaparan karena nunggu interview kamu itu!! Cepat!! Mama mandi dulu." Bu Dina melepaskan cengkeramannya dan berjalan ke arah kamarnya.
"Bagaimana ini? Emmm... Sebaiknya aku belikan Mama nasi di warung agar aku bisa cepat berangkat tapi... Astaga..! Aku bahkan tidak ada uang, aku hanya memiliki uang 50 ribu itupun untuk ongkos Bus nanti." Eluh Kinan yang bergegas berjalan menuju ke arah dapur, namun alangkah senangnya dia saat melihat beberapa lauk sudah tersaji di meja makan dengan nasi hangatnya." Evan...Adikku, dia memang sangat baik meski kita hanya saudara tiri." Tersenyum." Sebaiknya aku langsung mandi agar tidak terlalu terlambat." Kinan berlari menuju ke arah kamarnya untuk melakukan ritual mandi.
.
.
.
.
๐Ruangan William ๐
Raut wajah Liam merah padam saat melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan lebih, dia menatap penuh amarah ke arah Sam sebab Liam berfikir jika Sam tidak melakukan hal yang kemarin sudah di perintahkannya.
"Kau sudah berani melanggar perintahku Sam!!" Teriak Liam menunjuk ke arah wajah Sam kasar.
"Kau lihat sendiri, sejak tadi aku menghubunginya tapi tidak ada jawaban." Sam menunjukkan ponsel miliknya." Mungkin dia berfikir jika panggilan kemarin hanyalah lelucon, padahal aku sudah menyakitkannya untuk itu." Imbuh Sam menebak.
"Lelucon bagaimana maksudmu??"
__ADS_1
"Karena kemarin aku terlalu malam untuk mengabari sebuah panggilan kerja, jadi dia sempat menyebutku seorang penipu!" Tutur Sam menjelaskan.
"Hubungi dia lagi!! Cepat!! Hari ini aku harus bertemu dengan dia agar aku bisa secepatnya mengenalkan dia pada kedua orang tuaku."
"Huuufffttt.." Eluh Sam mencoba menghubungi nomer Kinan namun tetap tidak di angkat, sebab Kinan lupa tidak membawa ponsel tersebut dan sekarang dia sudah berada di depan Kantor perusahaan $$$.
Saat Kinan akan melangkah masuk, seorang satpam langsung menghalangi langkahnya." Ada perlu apa ke sini Nona?" Tuturnya sedikit membentak.
"Saya mendapatkan panggilan kerja dan harus menemui Tuan Sam." Jawab Kinan menjelaskan, namun jawaban sang satpam sungguh di luar dugaan.
"Di sini tidak ada bagian yang kosong Nona, mungkin kau salah alamat, seharusnya jika kau interview kerja kau berada di gedung sebelah sana." menunjuk ke arah kiri gedung.
"Tapi saya di suruh ke kantor $$$, dan menemui Tuan Sam atau William Abraham."
"Saya sudah tahu modus penipu seperti anda! Sudah banyak wanita yang berkata demikian hanya karena ingin berjumpa dengan Pak Liam, jadi sebaiknya anda pulang saja!" Kata satpam tersebut membuat Kinan jadi sedikit kesal.
"Jika tidak ada yang menyuruhku, aku tidak akan datang ke sini Pak!" Jawab Kinan ketus.
"Memangnya anda siapanya Pak Liam? Saudara? Pacar atau yang lain?" Kata satpam tersebut seolah tengah menghina Kinan.
"Aku hanya ingin memenuhi panggilan kerja saja! Astaga! Apa salahnya anda mengizinkan saya masuk!"
"Jika hanya panggilan kerja, sebaiknya anda ke gedung itu! Di sana sudah ada seseorang yang akan menerima anda!!" Ucap satpam kembali membentak.
Kinan teringat akan nomer Sam yang belum di hapus nya, dia merogoh tasnya dan menarik nafas lembut saat tidak menemukan ponselnya di sana. Salah satu sifat buruk Kinan, dia sangat pelupa dengan barang yang sudah di taruh nya.
Ahh yah tentu saja! Aku selalu lupa membawa benda kecil itu. Eluh Kinan dalam hati sambil mengusap keringat yang bercucuran di dahinya.
"Sebaiknya anda ke sana saja Nona." Imbuh satpam tersebut membuat Kinan langsung menatapnya tajam.
"Yah!! Tidak perlu kau suruh pun aku akan ke sana!! Sialan!!" Runtuk Kinan berjalan ke arah gedung yang terletak di samping kantor itu.
Di dalam gedung Kinan langsung menuju ke arah seorang yang tengah memeriksa beberapa lamaran.
"Saya ada panggilan kerja hari ini." Jawab Kinan ramah.
"Nama Nona siapa?"
"Kinanti." Jawabnya tersenyum.
Wanita itu langsung memeriksa semua lamaran kerja namun tidak menemukan lamaran milik Kinanti di sana.
"Apa anda sudah menaruh lamaran sebelumnya?"
Kinan menarik nafas lembut agar tidak terbawa emosi." Iya, jika tidak menaruh lamaran dulu bagaimana Tuan Sam bisa menelfonku." Kata Kinan menjelaskan.
Apa dia sedang bermimpi di telfon oleh Tuan Sam yang tampan itu.
"Tapi saya tidak menemukan lamaran Nona di sini." Jawabnya sopan." Jika memang Tuan Sam pernah menelfon anda, sebaiknya anda hubungi Tuan Sam agar dia bisa menjemput anda di sini." Imbuh wanita tersebut tersenyum kecut.
"Sayangnya ponselku lupa untuk ku bawa." Kinan sampai memperlihatkan isi tasnya sebab dia merasa sangat kesal karena merasa sedang di permainkan.
"Hmm begitu." Jawabnya menatap Kinan dengan aneh." Emm karena saya tidak menemukan berkas lamaran anda, sebaiknya anda kembali lagi besok dan membawa berkas lamaran tersebut." Imbuhnya semakin membuat Kinan geram.
Aku bahkan mempertaruhkan uang lima puluh ribu ku untuk datang ke sini, Astaga... Apa aku benar-benar sedang di permainkan oleh orang yang bernama Sam itu!! Runtuk Kinan semakin geram.
.
.
__ADS_1
.
.
William menyuruh Sam turun dan menanyakan pada satpam apa ada tamu untuknya Hari ini, dengan berat hati Sam pun kembali turun dan berjalan ke arah satpam yang tengah berdiri tegak di luar pintu.
"Pagi Pak." Tuturnya tegas.
"Apa ada tamu untuk saya atau Pak William?" Tanya Sam dan hal itu membuat satpam tersebut melebarkan matanya mengingat gadis yang sudah di usirnya tadi." Dia seorang wanita, berumur sekitar 19 tahunan Pak." Imbuh Sam menjelaskan.
Mati aku!! Berarti wanita tadi benar-benar ada janji dengan Pak Sam. Batin satpam hanya terdiam.
"Heiii apa pertanyaan tadi kurang jelas!!" Kata Sam kesal sebab dia juga sudah terkena dampak dari hal ini.
"Itu Pak anu.." Satpam langsung tersenyum saat melihat Kinan baru saja keluar dari gedung samping." Heiiii Nona..." Imbuhnya berteriak serayap melambai ke arah Kinan.
Kinan yang sudah terlanjur kesal hanya membuang muka dan terus saja berjalan menuju keluar area perusahaan.
"Maa maaf Pak itu gadis yang mencari Bapak tadi." Ucap satpam menujuk ke arah Kinan dengan Ibu jarinya.
"Apa kau mengusirnya tadi!!"
"Maaf saya tidak tahu."
"Sial!!! Pantas saja dia tidak juga datang, kau akan berurusan dengan Tuan Liam nanti." Sam menunjuk ke arah satpam dan berjalan pergi untuk menghampiri Kinan." Haiiii Nona." Teriak Sam yang membuat Kinan menghentikan langkahnya dan langsung berbalik badan ke arah Sam.
Astaga... Gadis ini.. Ternyata lebih cantik dari fotonya...
Sam terhanyut melihat ke arah Kinan yang berparas cantik, di tambah lagi dengan pantulan dari sinar matahari yang menyorotnya membuat kulit putih milik Kinan jadi bercahaya meski saat ini dia sangat berkeringat.
Ternyata karyawan penghuni perusahaan ini sangat tidak waras!! Apa tujuannya memanggilku hanya untuk tersenyum tidak jelas seperti sekarang!! Ahhh ini benar-benar membuang waktuku, lebih baik jika pagi tadi aku membantu Bu Erna.
Kinan kembali berjalan saat melihat respon dari Sam tersenyum seperti itu, hal tersebut membuat Sam tersadar dan berjalan mengikuti Kinan lagi.
"Nona tunggu." Teriak Sam.
"Apa hah!!!" Jawab Kinan serayap memutar badannya menghadap ke arah Sam." Jika kau hanya ingin mempermainkan ku juga, aku permisi." Imbuh Kinan akan melangkah pergi.
"Aku Sam." Ucapan tersebut membuat Kinan kembali menghadap ke arah Lelaki tampan yang berdiri di hadapannya.
"Apa ini sebuah lelucon untukmu hah!!" Runtuk Kinan yang sama sekali tidak terpesona dengan ketampanan Sam.
"Maaf tadi satpam itu yang salah, Tuan William sudah menunggumu di ruangannya." Tutur Sam menjelaskan.
"Kata satpam tadi di perusahaan ini tidak ada lowongan, jika kau ingin mempermainkan ku saja! Lebih baik aku pergi! Aku tidak ada waktu untuk mengurusi hal yang tidak penting seperti ini!!"
"Tidak Nona, Tuan William memang sedang menunggumu, mari ikut saya." Jawab Sam berusaha sopan, namun Kinan mendesah lembut sambil menatap ke arah Sam dengan malas." Percayalah padaku Nona." Imbuh Sam memastikan.
"Hmm baik.."
Sam Tersenyum dan Kinan pun mengikuti langkah Sam masuk ke dalam perusahaan.
Ada yang aneh di sini? Ahh sudahlah mungkin perasaanku saja. Batin Kinan yang belum menyadari jika sesuatu akan terjadi dalam hidupnya.-
Silahkan like ๐
Komentar ๐ฌ
Klikโฅ๏ธ
__ADS_1
Vote juga please ๐
Terimakasih ๐