
Cklek...
pintu ruangan William terbuka dan menampilkan sosok tampan William yang tengah duduk di meja kokohnya. Manik William langsung terenyuh menatap gadis yang hanya mengenakan kemeja putih tengah berdiri di samping Sam saat ini.
"Siang Pak." Tutur Kinan membuyarkan lamunan William.
"Hmm ya siang juga, silahkan duduk." William memberi isyarat Sam untuk pergi dari ruangan namun Sam malah berjalan ke arah William.
"Apa kau bisa mengatasi ini." Tutur Sam berbisik.
"Menurutmu aku apa? Tidak bisa mengatasi semua ini." Jawab William yang juga berbisik.
Aktivitas keduanya membuat Kinan menarik nafas panjang sebab Kinan berfikir jika perusahaan sebesar ini hanya berisi orang-orang yang aneh.
"Maaf kapan interview nya akan di mulai." Ucapan yang terlontar dari bibir Kinan sontak membuat Sam dan Liam menatap ke arah Kinan yang tengah menatap keduanya tajam." Saya sudah sejak tadi pagi di permainkan seperti ini, jika memang tidak ada perkerjaan yang cocok untuk saya, lebih baik saya permisi." Imbuh Kinan yang cukup membuat perasaan William merasa aneh sebab Kinan tidak tertarik dengan dia sama sekali.
"Kau benar-benar akan pergi dari sini?" Tanya Liam mengulang pertanyaan dari Kinan lagi.
"Yah!" Kinan berdiri dan hendak meninggalkan tempat namun Sam menghalanginya.
"Kau tidak ingin tahu maksud dan tujuan kami untuk apa hingga sampai memasukkanmu ke ruangan pribadi milik Tuan Liam?" Tanya Sam menatap kearah Kinan yang terlihat pucat." Apa kau sakit Nona?" Imbuh Sam merasa khawatir.
"Aku lelah! Sejak dari tadi pagi belum sarapan! terus aku tergesah-gesah untuk datang ke sini karena ingin interview tapi kau dan Bos mu itu malah berbisik-bisik seperti tadi! Menurutmu bagaimana perasaanku ini hah!! Sial! Aku menyesal sudah datang ke sini!!" Umpat Kinan membuat Liam melebarkan matanya.
Wanita ini tidak tertarik denganku sama sekali? Astaga! Aku semakin ingin menjeratmu cantik!
Sam terkekeh mendengar ucapan yang di lontarkan Kinan." Astaga.. Jadi kau lapar? Hmm aku akan memesankan makanan untukmu." Tutur Sam tersenyum tipis." Sudah duduklah, sebentar lagi makanan akan datang." Imbuh Sam melihat ekspresi wajah Kinan yang mulai meredah kekesalannya.
Sambil menunggu makanan Sam mempersilahkan Kinan duduk di sofa ruangan Liam." Setelah ini aku pulang saja, aku sudah tidak berminat berkerja di sini lagi." Runtuk Kinan duduk serayap memangku tasnya.
__ADS_1
"Aku memanggilmu ke sini bukan untuk perkerjaan." Sahut Liam beranjak dari tempat duduknya dan akan menghampiri Kinan, Sam langsung menarik lengan Liam.
"Jangan bicarakan dulu, emosinya sedang tidak stabil karena lapar jadi tunggulah sampai dia selesai makan." Bisik Sam yang semakin membuat Kinan merasa curiga.
Apa yang sedang mereka rencanakan? Kenapa bicaranya harus bisik-bisik seperti itu. Batin Kinan.
Lima belas menit kemudian, pesanan pun datang, Kinan memakan nasi kotak yang di pesankan oleh Sam sedikit kemudian menutupnya lagi sebab dia merasa tidak berselera dengan suasana di ruangan itu.
"Kenapa kamu tutup? Apa kau sudah kenyang?" Tanya William yang sejak tadi tengah memperhatikan Kinan makan.
Bagaimana aku bisa makan dengan nyaman jika di tatap seperti itu.
"Makan ku hanya sedikit." Jawab Kinan membereskan kotak makanan dan menaruhnya dalam kantung plastik." Terimakasih aku akan pulang." Imbuh Kinan langsung di cegah oleh Liam.
"Tunggu.." Melepaskan lengan Kinan perlahan sebab tatapan Kinan cukup membuat Liam merasa tidak enak." Maksudku, kamu belum tahu tujuanku memanggilmu ke sini untuk apa?" Imbuhnya.
"Aku memang tidak ingin menawari mu perkerjaan, emm apa kamu mau menikah denganku Kinan?"
Kinan langsung melebarkan matanya ke arah Liam sebab merasa tidak percaya dengan ucapan yang di lontarkan Liam. Belum juga satu jam bertemu, kenapa dia harus mendengarkan ucapan yang seharusnya di lontarkan oleh orang tersayang atau paling tidak seorang teman dekat.
"Astaga...!! Ku pikir perusahaan ini penuh dengan orang terhormat ternyata hanya penuh dengan orang-orang aneh seperti kalian." Sam cekikikan saat Kinan menatap ke arahnya dan Liam dengan ucapan yang di lontarkan sekarang.
"Tuan Liam serius Nona, kau mendapatkan undian untuk menikah dengannya." Sahut Sam tersenyum.
"Undian macam apa itu? Kenapa seperti itu?"
Kata pedas Kinan cukup membuat emosi Liam tersulut, sebab dia merasa jika Kinan adalah orang yang sangat beruntung jika bisa menikah dengannya.
"Bukankah jika kau menikah denganku kau akan menjadi wanita terhormat Nona, tidak seperti sekarang. Aku akan mengangkat mu dari kemiskinan dan hidup serba kekuranganmu itu!!" Tutur Liam dengan nada tinggi.
__ADS_1
Dia selalu saja tidak bisa mengendalikan emosi nya. Batin Sam.
"Hah! Apa kau bilang? Wanita terhormat? Sampai saat ini pun aku masih jadi wanita terhormat Tuan, meski aku bukan orang yang sekaya anda! Tidak perlu susah-susah anda berbuat itu! Cari wanita lain! Aku sudah mempunyai kehidupan yang lebih indah dari kehidupan yang anda janjikan. Permisi." Kinan beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah pintu ruangan.
"Mau atau tidak! Kamu harus mau menuruti semua keinginanku itu!" Teriak Liam yang sama sekali tidak di perdulikan oleh Kinan.
Braaaakkkkk
Pintu terbanting saat Kinan sudah berjalan keluar ruangan, Liam menarik nafas dan membuangnya kasar sebab merasa terhina dengan perlakuan Kinan tadi.
"Emosi mu sungguh buruk Liam, bagaimana mungkin seorang wanita mau jika nada bicaramu seperti tadi. Sudah pasti mereka akan marah dan kesal." Sam berdiri dan duduk tepat di samping Liam."Cari target lain saja, masih banyak yang lebih cantik dari dia." Imbuh Sam menyarankan.
"Jemput Mama nya untuk datang menghadap Padaku!" Pinta Liam dengan tangan mengepal kuat.
"Maksudmu?"
"Suruh orang untuk menjemput Mama Kinan dan segera bawa ke sini!!" Pinta Liam memperjelas keinginannya.
"Untuk apa kau melakukan itu Liam, heii sadar. Wanita yang ingin berada di posisinya sekarang sangat banyak, jadi untuk apa kau melakukan hal itu?" Jawab Sam mencoba memberikan saran.
"Aku hanya mau dia, ku tunggu satu jam lagi!!" Tutur Liam yang langsung berdiri di jendela ruangannya serayap menyikap tirai yang menutupinya.
Ahh ya tentu saja dia tidak akan mau mendengarkan saranku. Eluh Sam dalam hati dan langsung berjalan menuju keluar untuk menelfon Nico.
Sementara Kinan sepanjang jalan mengumpat karena merasa sudah di permainkan, wajahnya sangat kesal karena Kinan merasa sudah membuang waktunya untuk perkerjaan yang sia-sia hari ini.
"Siapa dia? Seenaknya berbuat seperti itu! Aku bahkan baru mengenalnya tapi kenapa seperti itu? Uhhh dasar orang kaya selalu berbuat semaunya!!" Umpat Kinan naik bus yang berhenti tepat di hadapannya, sementara Liam sendiri masih memperhatikan sosok Kinan yang sudah menghilang dari pengelihatannya.-
Tbc☺️
__ADS_1