
Setibanya di rumah, Kinan di sambut oleh Evan yang kebetulan baru saja datang dari sekolah. Dia berjalan menghampiri Kinan yang wajahnya terlihat lelah.
"Kok sudah pulang Kak?" Tanya Evan yang tidak tahu jika Kinan baru saja pulang dari sebuah perusahaan.
"Hmm yah." Tersenyum." Kenapa rumah sepi? Mama mana?"
"Entahlah, aku juga baru pulang."
Kinan mengetuk pintu rumahnya yang terkunci rapat, namun tidak ada jawaban dari Bu Dina. Tetangga samping rumah Kinan menghampiri Kinan dan Evan yang sedang duduk menunggu kedatangan Bu Dina.
"Bu Dina tadi keluar Kinan." Tuturnya ramah.
"Kemana Bu?"
"Ibu nggak tahu, soalnya di jemput sama mobil bagus banget." Imbuh sang tetangga menjelaskan.
Kinan dan Evan saling melihat satu sama lain sebab mereka merasa binggung dengan orang yang di maksud tetangganya, sebab keluarga mereka jauh berada di luar pulau dan sangat tidak mungkin berkunjung dengan membawa mobil.
"Ini kunci rumah kalian." Memberikan kunci rumah." Ibu permisi ya Kinan." Tutur sang tetangga ramah.
"Ohh ya Bu terima kasih." Jawab Kinan sedikit terbata.
"Apa itu pacar baru Mama Kak?" Tebak Evan.
"Entahlah Van Kakak tidak tahu, sebaiknya kita masuk." Tersenyum." Kakak akan menyiapkan makan siang untukmu." Imbuh Kinan menyembunyikan perasaan anehnya yang di rasakannya sejak semalam.
Perasaan apa ini. Batin Kinan.
Sambil memasak Kinan menerima telfon dari Radit yang saat ini tengah berada di luar kota untuk urusan perkerjaan agar dia bisa mendapatkan kenaikan jabatan. Seharusnya jika tidak ada panggilan perkerjaan, Kinan bisa mengantarkan Radit ke bandara untuk melepaskan kepergiannya tersebut.
Via telfon π²
"Hmm entahlah, mungkin belum waktunya aku mendapat pekerjaan." Jawab Kinan saat Radit bertanya masalah interviewnya.
"Sabarlah, jika aku sudah mendapatkan perkerjaan bagus, kau tidak perlu melakukan itu sayang." Tutur Radit menghibur perasaan Kinan.
Apa aku harus bercerita tentang ucapan pria itu? Ahh tidak! Untuk apa aku menceritakan hal tersebut. Dia pasti asal mengucapkan karena biasanya orang kaya selalu tidak bisa menghargai seseorang. Tapi perasaanku sungguh tidak nyaman.
"Hallo sayang? Kau masih di situ."
"Hmm yah." Kinan mengangkat telur goreng dan meletakkannya pada piring.
"Kau pasti merasa kecewa dengan tadi, jika aku berada di sana aku akan mengajakmu jalan-jalan agar perasaanmu kembali baik. Maaf ya."
"Kamu ngomong apa sih, aku baik-baik saja. Apa kau sudah sampai di apartemen mu?"
"Hmm sudah tapi ada pertemuan jam setengah tiga." Kinan melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul dua.
"Baik persiapkan semuanya, aku mau makan siang dahulu."
"Oke sayang, makan yang banyak Love you."
__ADS_1
"Hmm Love you to."
Tut...Tut...Tut
Kinan menarik nafas panjang dan meletakkan ponselnya di atas meja makan, dia mengambil piring dan mempersiapkan makanan sederhana di meja.
"Van makan dulu." Teriak Kinan.
"Ya Kak."
Mereka berdua pun menyantap hidangan sederhana itu dengan lahap, di tengah acara makan siang mereka, terdengar suara mobil berhenti tepat di pekarangan rumah Kinan.
Dok..dok..dok..
"Kinan cepat buka pintunya." Teriak sang Mama dengan nada lembut dan hal itu cukup membuat Kinan merasa aneh sebab Mamanya selalu berteriak dengan nada bicara yang tinggi.
Kinan buru-buru meletakan sendoknya dan berjalan ke arah pintu.
Cklek...
Pintu terbuka dan alangkah terkejutnya Kinan melihat dua orang lelaki yang tengah mengapit Mamanya saat ini. Bibirnya bergumah dan menyebut nama William, Kinan menelan saliva-nya perlahan karena mengaitkan tawaran yang di lontarkan Liam dengan wajah sang Mama yang berseri-seri, di tambah lagi dengan satu orang supir yang menurunkan beberapa belanjaan.
Tidak!! Ini tidak mungkin. Batin Kinan.
"Kenapa kamu seperti itu sayang, persilahkan Tuan muda ini untuk masuk." Bu Dina merangkul Kinan masuk sedangkan Kinan sendiri masih syok melihat apa yang saat ini terjadi.
Bu Dina duduk di ikuti oleh Kinan dan juga Sam lalu William. Supir meletakkan belanjaan pada atas meja sederhana yang terdapat di ruang tamu dan hal itu semakin menyakinkan Kinan bagaimana cerita ini akan berakhir. Liam tersenyum smirk ke arah Kinan namun Kinan hanya terdiam sebab dia sangat takut kepada Bu Dina Mama sambungnya.
"Em Ma, siapa mereka?" Tanya Kinan pura-pura tidak tahu.
"Bukannya kalian sudah bertemu tadi, kenapa pura-pura tidak tahu. Dia adalah Tuan William Abraham, calon suamimu." Ucapan tersebut langsung membuat Kinan merasa kenyang padahal tadi dia masih makan satu suapan saja.
"Emm tapi Ma?"
"Sudahlah, Mama kamu sudah tanda tangan surat perjanjian ini." Liam memperlihatkan selembar kertas dan Kinan langsung mengambilnya lalu membaca isinya.
Kinan mengelengkan kepalanya sebab surat perjanjian berisi sesuatu yang cukup membuat emosinya memuncak, di situ di jelaskan jika setelah pernikahan di laksanakan, maka Kinan otomatis tidak boleh berhubungan dengan keluarga atau sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan lamanya. Dan jika dia sampai melanggar perjanjian itu, maka Kinan harus membayar ganti rugi sebesar 50 milyar rupiah.
"Kenapa Mama mau?"
"Mama butuh uang sayang, Mama capek hidup susah terus. Tuan William sudah menyediakan sebuah rumah dan jatah setiap bulannya jika kau mau menikah dengannya." Tutur Bu Dina santai.
"Tapi aku jadi tidak bisa bertemu dengan Mama dan Evan."
"Kita bisa Video call bukan, dengan ini." Memperlihatkan ponsel mahal keluaran terbaru.
"Aku tidak perduli dengan itu semua, silahkan kalian bermusyawarah soal ini." Mengambil surat perjanjian.
"Musyawarah apa? Kau bahkan menjeratku seperti ini."
"Aku menolong mu! Aku beri waktu sampai besok, setelah itu orang suruhanku akan menjemput mu untuk mempersiapkan semua pernikahan kita." Liam berdiri dan pergi begitu saja di ikuti oleh Sam dan beberapa pengawal.
__ADS_1
"Ahh setelah ini aku akan hidup mewah." Teriak Bu Dina senang.
"Ma tapi, bagaimana hubunganku dengan Radit?" Tanya Kinan berprotes.
"Lelaki kere itu?? Uhhh!! Tidak perlu berceloteh lagi Kinan! Mama sudah menandatangani perjanjian itu, jika kau melanggar kita harus membayar denda yang sangat mahal!" Jawab Bu Dina mulai terdengar kasar.
"Ada apa ini?" Tanya Evan yang baru selesai makan.
"Ahh yah sayang, ini tadi Mama membelikan mu ini." Memberikan Evan sebuah ponsel yang masih berbungkus kotak.
"Wahh ini darimana Ma." Teriak Evan senang.
Hmm, aku hanya ingin mereka bahagia, apalagi yang bisa kulakukan selain ini? Kau memang benar Mama, dari dulu sampai sekarang aku bahkan tidak mampu untuk mendapatkan perkerjaan yang bagus. Rasanya itu terlalu sulit untuk wanita sepertiku yang tidak mempunyai pengalaman kerja dan hanya berbekal ijazah SMA. Tuhan...Ikhlaskan hatiku...
"Itu dari calon suami Kakakmu." Tutur Bu Dina merasa bangga.
"Kak Radit?"
"Uhh bukan! Tapi Kak Liam." Jawab Bu Dina ketus.
"Kak Liam?" Melihat ke arah Kinan yang saat ini juga menatap Evan." Apa itu pacar baru Kak Kinan?" Tanya Evan antusias.
"Hmm iya Evan, apa kau senang?"
"Yah... Kenapa putus dengan Kak Radit padahal Kak Radit baik loh." Eluh Evan yang sudah kenal baik dengan Radit.
"Baik tapi miskin untuk apa, sudah Mama mau mencoba baju-baju ini." Bu Dina mengambil semua belanjaan dan berjalan masuk kamar.
"Kak.. Benar begitu." Tanya Evan tidak yakin sebab melihat raut wajah Kinan yang tidak bahagia.
"Kak Liam lebih baik dari Radit Evan." Mengusap lembut puncak kepala Evan.
"Tapi Kak."
"Sudahlah, emm Kakak mau mandi dulu. Boleh minta tolong cucikan piring kotor tadi." Tersenyum ke arah Evan.
"Hmm oke."
"Baik terima kasih adikku." Kinan tersenyum sejenak dan masuk ke dalam kamarnya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Kak Kinan terlihat tidak bahagia? Batin Evan serayap menatap ponsel Android miliknya.-
TBC
Silahkan like π
Komentar π¬
Klikβ₯οΈ
Vote juga yaπ
__ADS_1
Terimakasih π