Suamiku Tuan Sempurna

Suamiku Tuan Sempurna
Bab 6


__ADS_3

William kembali ke ruang pribadinya dengan senyuman penuh kemenangan, dia menganggap semua akan terasa mudah jika ada uang. Sam sendiri hanya bisa mengelengkan kepalanya melihat ke arah William, dia tidak membenarkan itu semua namun apa bisa di mencegahnya? Tentu tidak, dari awal Sam selalu menuruti semua perintah Liam meski terkadang perintah tersebut cenderung memaksakan kehendak.


"Kau tidak merasa kasihan dengan gadis itu Liam?" Tanya Sam duduk di sofa.


"Kasihan! Dia itu sudah beruntung karena mendapatkan kesempatan itu." Jawab Liam bangga.


Dasar ! Dia selalu saja tidak memikirkan perasaan orang lain, semua selalu di samakan dengan pola pikirnya sendiri.


"Hmm yah. Aku tidak akan berkomentar lagi, lantas, apa langkah selanjutnya?" Tanya Sam.


"Persiapkan semuanya, besok kita akan membawanya ke butik langganan keluarga juga salon termahal di kota ini." Pinta Liam menuturkan.


"Oke. Aku akan mempersiapkan semua." Jawab Sam tersenyum tipis.


Setelah ini aku akan membuktikan pada Ayah, jika aku bisa mencari pendamping hidup sendiri hahahaha.


.


.


.


.


🏠Kediaman Kinanti🏠


Di dapur, Kinan mempersiapkan makan malam untuk nanti. Beberapa kali desahan lembut terdengar sebab sejak tadi dia ingin menghubungi Radit berniat untuk memberitahu soal kabar ini, namun nomer Radit tiba-tiba saja tidak aktif. Kinan ingin mengabarkan hal ini pada Bu Erna yang merupakan Mama dari Radit, namun nyalinya menciut jadi Kinan berniat bercerita dahulu pada Radit agar Radit bisa membicarakan hal ini pada Mamanya.


"Bagaimana ini." Eluh Kinan melihat ke arah ponselnya lagi." Jika aku tidak bercerita, aku takut di salahkan atas semuanya." Imbuh Kinan bergumah.


Baru saja Kinan meletakkan ponselnya di meja, tiba-tiba ponselnya bergetar. Dia langsung mengambil ponsel tersebut dan sontak wajahnya berubah menjadi aneh sebab itu adalah nomer dari Bu Erna.


Ahh jangan dulu menebak Kinan, mungkin saja Bu Erna ingin menanyakan soal interview nya hari ini.


Dengan jantung berpacu hebat, perlahan jari mungil milik Kinan di gerakkan untuk menerima panggilan tersebut.


Via telfon 📲

__ADS_1


"Emm halo Ma." Tutur Kinan lirih.


"Kamu bisa datang ke rumah!" Terdengar nada tidak enak dari bibir Bu Erna namun Kinan masih berfikir positif.


"Hmm ya Ma, setelah memasak aku akan kesana."


"Oke. Mama tunggu."


Tut...Tut...Tut...


Kinan kembali menarik nafas lembut, sebab tidak biasanya Bu Erna berkata demikian. Dia segera menyelesaikan aktivitas memasaknya agar bisa segera datang ke rumah Bu Erna untuk memperjelas semuanya.


.


.


Setelah berpamitan dengan Sang Mama, Kinan langsung berjalan menuju rumah Bu Erna yang letakkannya tidak jauh dari rumahnya. Dengan wajah tertunduk Kinan mengetuk pintu rumah Radit sebanyak tiga ketukan.


***Tok..Tok..Tok..


Cklek***...


"Masuk." Pinta Bu Erna.


Kinan yang perasaannya sudah tidak enak langsung mengangguk pelan dan mengikuti langkah Bu Erna menuju ke ruang tamu.


"Selamat ya." Tutur Bu Erna tiba-tiba.


"Maksud Mama?"


"Seluruh kampung sudah tahu jika kau akan menjadi menantu dari orang kaya." Jawaban tersebut membuat Kinan merasa sangat tidak enak.


"Itu bukan kehendak ku Ma."


"Bukan? Bagaimana bisa? Buktinya berita itu sudah tersebar di kampung ini padahal baru tadi malam aku berkata untuk memintamu sabar menunggu Radit! Apa kau mau mempermainkan perasaan Radit Hah!! Keluarga kami kurang apa padamu Kinan! Apapun masalahmu bukannya Radit berusaha membantumu! Kenapa kau setega ini hingga membuat berita yang pasti membuat perasaan Radit sakit." Jawab Bu Erna dengan nada tingginya.


"Aku tidak ada maksud mempermainkan Ma, aku benar-benar.."

__ADS_1


"Sudah!! Cukup!! Mulai sekarang, kau tidak perlu menghubungi Radit lagi!! Mana ponselmu!!." Dengan terpaksa Kinan memberikan ponselnya pada Bu Erna. Dengan sigap Bu Erna meraih ponsel tersebut dan memblokir nomer Radit dan menghapusnya." Pulanglah!! Jangan menampakkan diri di hadapanku lagi." Imbuh Bu Erna memberikan ponselnya kembali.


"Hmm baik Bu permisi." Jawab Kinan yang sudah tidak ingin memperpanjang masalah ini.


Bu Erna mendecak kesal saat melihat Kinan yang langsung saja meninggalkan kediamannya tanpa berusaha untuk berjuang untuk Radit. Sifat Kinan yang memang selalu memikirkan semuanya terlalu santai terkadang membuat orang merasa kesal pada dirinya.


"Dasar!!! Padahal hubungan mereka sudah lama!! Kenapa dia jadi langsung meninggalkan tempat ini begitu saja! Ahh!! Biar saja, mungkin ini cara Tuhan untuk memisahkan Radit dengan dia, Tuhan tidak ingin Radit menjadi susah karena mengurus keluarganya yang miskin itu." Runtuk Bu Erna langsung menutup pintu keras membuat Kinan yang masih berada di pagar rumah langsung menoleh.


Kinan mendesah lembut lalu keluar dari pagar rumah Radit. Pasti Mama. Kinan mempercepat langkahnya karena terdengar bisik-bisik para tetangga yang membuatnya cukup malas untuk meledeni nya. Setibanya di rumah dia bergegas masuk dan menutup pintu, tidak sengaja Kinan berpapasan dengan sang Mama yang akan berjalan keluar.


"Apa Mama yang sudah menyebarkan gosip itu?" Tanya Kinan ingin tahu.


"Hmm ya! Kenapa! Mama bilang begitu agar orang kampung tahu jika kau akan jadi menantu orang kaya."


"Bu Erna jadi berbicara tidak enak tadi." Tutur Kinan menjelaskan.


"Biar saja! Malah bagus, biar anaknya yang Kere itu tidak bisa mendekatimu lagi!! Sudah!! Mama mau pergi, tidak perlu menunggu Mama pulang karena Mama membawa kunci serep." Jawab Bu Dina langsung meninggalkan Kinan yang masih terpaku melihatnya.


Evan yang tahu hal itu langsung menghampiri Kinan yang terlihat tidak baik, dari awal Evan sudah curiga jika ini semua karena paksaan dari Bu Dina.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi Kak?" Suara Evan membuyarkan lamunan Kinan.


"Tidak ada." Jawab Kinan tersenyum ke arah Evan.


"Meski kita hanya saudara tiri, tapi aku menganggapmu sebagai Kakak kandung untukku, jadi ceritakan jika ada masalah. Apa Kakak di paksa oleh Mama untuk menikah dengan Kak Liam? Aku lihat Kakak tidak bahagia, dan aku juga tidak pernah melihat Kakak bersama Liam sebelumnya?" Tutur Evan penuh tanya.


Kinan menatap manik milik Evan yang sudah dia anggapnya sebagai adik kandungnya sendiri, perlahan tangan Evan meraih tubuh Kinan yang memang lebih kecil darinya. Evan memeluk erat Kinan yang perasaannya saat ini sedang tidak baik-baik saja karena merasa tertekan.


"Jika ada masalah, cerita lah Kak, jangan seperti ini." Imbuh Evan mengusap lembut punggung Kinan.


Kinan menarik nafas lembut dan menceritakan kejadian hari ini pada Evan, namun di akhir ucapannya Kinan berucap jika dia tidak masalah jika harus menjalani semua ini.


"Astaga...Maaf Kak." Eluh Evan merasa kasihan pada Kinan.


"Bukan salahmu, selama ini Kakak juga tidak bisa mendapatkan perkerjaan yang bagus bukan jadi emmm, Kakak tidak masalah asal kau bisa kuliah dengan baik." Jawab Kinan mencoba tersenyum.


Evan yang juga tidak punya daya apapun untuk melakukan sesuatu, hanya bisa terdiam dan berjanji pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Jika nanti aku sudah mendapatkan perkerjaan bagus, aku akan menjemputmu Kak. Aku akan menebus mu pada lelaki yang telah menjeratmu seperti ini. Batin Evan yang masih betah memeluk Kakak tirinya itu.-


Dukung terus cerita ini dengan cara, like, komentar, klik ♥️, jangan lupa Vote dan share ya😁 Terimakasih 😍


__ADS_2