
Menjadi sekretaris bukanlah hal yang mudah,bukan hanya sekedar mengikuti perintah atasanmu,banyak tugas yang harus dilakukan,bukan hanya duduk manis di luar ruangan CEO dan menerima telepon lalu meneruskannya pada CEO,tugas sekretaris lebih dari itu Mengatur,mencatat,meninjau,melaporkan,menyambut tamu bahkan menjaga mood atasannya agar tetap selalu baik,terlebih bila CEOmu penggila kerja kau akan dua kali kerepotan.Itulah yang saat ini di jalani Mae.
Roshan Danendra nama CEO yang Mae layani, generasi ketiga dari keluarga Danendra,seorang putra tunggal yang akan mewarisi perusahaan Danendragroup salah satu perusahaan terbesar di negara,sebuah perusahaan yang bergerak di berbagai bidang,Roshan tak hanya kaya tapi juga mempunyai fisik yang menggagumkan,tingginya mungkin sekitar 188cm dengan wajahnya yang lebih ke barat-baratan,kulitnya putih seputih susu, berambut coklat,beralis tebal namun rapi,hidung mancung,rahang yang tegas,bibir atas yang sedikit tipis dan bibir bawahnya yang agak terbelah di tengah,terlihat selalu basah dan berwarna pink menyegarkan,juga punya lesung pipi di kedua pipinya dan yang paling menarik dari wajahnya adalah matanya,mata Roshan berwarna abu terang yang bila kau menatapnya sulit untuk melepaskan pandangan pada matanya.Tak hanya itu Roshan juga seorang yang cerdas dia lulusan universitas bergengsi di luar negri,bisa berbicara dalam 8 bahasa,dan juga punya jiwa kepemimpinan yang sangat baik,dan banyak lagi prestasi yang dia dapatkan dalam bidang akademik maupun nonakademik itu sebab di umurnya yang terbilang muda,awal 30an dia bisa sukses memimpin sebuah perusahaan besar, di senangi coleganya dan disegani saingannya.
Tapi apa gunanya itu semua jika dia tidak bisa menikmati masa mudanya dengan normal,sebagai putra tunggal seorang konglomerat Roshan di didik dengan keras agar bisa menjadi pewaris yang sempurna,Hasilnya dia benar-benar menjadi seorang yang gila kerja dan sangat disiplin,hal ini juga yang menbuat Mae mau tidak mau harus mengikuti ritme kerja Roshan,Mae juga hampir menyerah di awal kariernya,karna tak mampu mengikuti Roshan,tapi mengingat balas budi yang harus iya lakukan pada keluarga Roshan, dengan susah payah dan penuh penderitaan akhirnya dia mampu mengikuti cara kerja Roshan.
...****************...
*Waktu yang sama chapter sebelumnya
Mae yang sedang mengetik namun sambil curi-curi melihat keruang kerja Roshan,pintu ruang kerja Roshan terbuat dari kaca tembus pandang yang di bingkai kayu,sehingga Mae bisa melihat apa yang sedang Roshan lakukan,begitupun dengan Roshan dia bisa memantau apa yang dilakukan sekretarisnya itu dari dalam ruangan.
Saat ini yang Mae lihat dari luar pintu,Roshan sedang menelpon sambil bersandar di kursinya,ada sedikit pemandangan ganjil yang Mae lihat saat melihat Roshan bertelepon,terkadang Roshan tertawa kecil, lalu setelah itu terlihat wajahnya berubah merah dan terlihat malu,lalu dia berbicara dan tersenyum lagi ,setelah selesai bertelepon, Roshan melihat lama Hpnya sambil menggigit jarinya lalu tertawa,sungguh pemandangan yang benar-benar sangat aneh dan menimbulkan perasaan geli saat melihat CEOnya melakukan sikap yang tak seperti biasanya.
Kemudian Roshan menggambil jasnya yang tergantung di gantungan dekat meja kerjanya dan berjalan menuju pintu keluar,Mae yang dari tadi memperhatikan Roshan dan melihat Roshan berjalan keluar, langsung buru-buru sok sibuk dengan komputer di depannya.
"Mae,kau sudah mengatur ulang rapat hari ini" tanya Roshan dengan wajah datarnya,sangat berbeda dengan wajah yang barusan Roshan buat saat bertelpon tadi.
__ADS_1
"Ya, sudah pak,rapatnya akan di lakukan besok pagi"jawab Mae sambil berdiri menyambut CEOnya
"Kerja bagus Mae,kau sudah berkerja keras"sambil menepuk pundak Mae dan sedikit tersenyum.
Mae terkejut dengan kelakuan CEOnya itu,Roshan sangat jarang memujinya,Roshan memuji Mae hanya pada saat berhasil dalam proyek besar.
"Hah!.. Iya terima kasih Pak"Mae menjawab sambil sedikit kebingungan.
Roshan lalu berjalan pergi namun baru berjalan beberapa langkah dia berbalik kembali.
"Ahh..iya aku melupakan sesuatu,kau belum makan siang kan Mae"Roshan berbicara sambil mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu kredit pribadinya."Ini belilah suatu yang enak"
"Roshan ada apa denganmu?" tanpa sadar Mae menggunakan bahasa non formal pada Roshan karna sangkin kagetnya.
"Mae,ingat kita sedang di kantor gunakan bahasa formal" Jawab Roshan sambil mengankat jari telunjuknya.
"Aaahh.. Maaf pak" Mae langsung tersadar karna perkataan Roshan.
__ADS_1
"Ohh... dan belilah juga Jamu"kata Roshan dengan yakin.
"Hahhhh!!!.. JAMU??"Perasaan kaget Mae mangkin menjadi-jadi
"Iya.....rasanya memang agak pahit tapi itu baik untuk kesehatan,apalagi di umur seperti kita"Jawab Roshan dengan polos dan datar.
Mae masih kaget dengan apa yang di katakan Roshan,dia sudah tidak peduli ekspresi seperti apa yang ditunjukan wajahnya,mendengar Roshan pernah minum Jamu.
"Kalau begitu aku pergi sekarang Mae" Kata Roshan sambil berlalu pergi.
Mae memperhatikan Roshan yang pergi keluar ruangan,Mae masih terbengong sambil memegang kartu kredit yang di berikan Roshan,Mae masih belom bisa percaya apa yang barusan dia dengar,di kepalanya mulai timbul banyak pertanyaan.
"Bagaimana dia tau jamu?,Dimana dia meminumnya?,Dengan siapa?Kenapa kelakuan Roshan berbeda dari biasanya?Aduhh sudahlah,lebih baik membeli makanan enak dengan kartu ini"Mae melihat kartu berwarna hitam yang di pegangnya
"Terima kasih kartunya CEO, akan saya gunakan dengan baik."Sambil membungkuk kearah tempat keluar Roshan tadi.
...****************...
__ADS_1
Bersambung...