Super Chef System

Super Chef System
Balada Handuk


__ADS_3

[Menampilkan status terbaru!]


Super Chef System<


[Nama : Elisa Nataprawira]


[Umur : 26 tahun]


[Pesona : 60]


[Kecantikan : 72]


[Soft skill chef : 5]


[Hard skill chef : 4]


[Kemampuan recreated : 5]


[Kemampuan pastry and bakery: 3]


[Kemampuan memasak : 2]


[Total dana : 22, 5 juta]


[Hadiah tambahan : kemampuan deteksi bahan makanan]


[Hadiah kejutan : -]


[Misi 6 : berhasil]


[Hadiah : uang sejumlah 7 juta rupiah diikuti penambahan poin.]


[Sistem pemandu : Amy]


Amy menampilkan status baru Elisa saat gadis cantik itu meminta. Elisa membacanya sambil berendam di dalam bathtub yang diberi essential oil beraroma strawberry. Seharian berjibaku dengan makanan bersama ibu Anita membuatnya lelah.


"Amy, Carikan aku kursus masak! Aku perlu meningkatkan hard skill-ku, aku tak ingin membuang waktu untuk masuk ke dalam perusahaan."


Elisa menarik nafas panjang, memutar tubuhnya untuk meraih ponsel. "Ayo kita lihat sedang apa bajingan busuk itu di kantor papa!"


Elisa masuk ke dalam aplikasi yang dipasang Rafi untuknya. Awalnya tak ada siapa pun disana tapi kemudian Alex masuk bersama sekretaris pribadinya. Ia tersenyum sinis saat melihat siapa yang ada disana.


"Luna, kenapa aku tidak terkejut?"


Elisa memperhatikan setiap kegiatan yang terjadi dalam ruangan. Sesuatu menarik perhatiannya saat Alex menyalakan komputer.


"Apa itu?"


Elisa memperbesar tampilan, sedikit kesulitan tapi ia bisa membacanya sedikit.


"Surat kuasa pengalihan? Apa jangan-jangan, Om Alex mau mempercepat pengalihan harta kekayaan kakek? Ahli waris yang masih ada tinggal dia dan Tante Winna, mungkinkah …,"


Elisa segera menghubungi Rafi untuk memeriksa temuannya, dia juga mengirimkan pesan pada Banyu untuk mengawasi Luna. Elisa curiga, Luna membantu Alex diam-diam ketika dirinya masih menjabat Direktur Utama di perusahaan.


Elisa kembali melanjutkan pengintaian, memeriksa satu persatu kondisi ruangan vital. Elisa terkejut mendapati mantan kekasihnya terlihat mengendap-ngendap mencari sesuatu. Vino celingukan memantau situasi.


"Dasar keledai! Lihat siapa yang sedang mencuri! Kena kau, aku curiga dia juga yang memasukkan lembaran kosong untuk aku tandatangani tanpa sadar!"

__ADS_1


Elisa menghubungi Banyu lagi dengan ponsel yang lain, "B, awasi Vino! Ia terpantau mencuri sesuatu dari ruang arsip accounting!"


"Sudah kuduga dia melakukannya El! Aku sudah bisa menebaknya di hari kalian resmi berpacaran. Motifnya memacari mu hanya ingin menguasai harta dan juga kedudukan."


Elisa menghela nafas berat, ia memang salah dan terlena dengan rayuan Vino. Peringatan Nico kala itu juga tak diindahkannya. Nasi sudah menjadi bubur toh sekarang Vino sudah menjadi bagian dari masa lalunya yang bodoh.


"Awasi dia untukku dan jika waktunya tiba aku akan menghajarnya sendiri dengan tanganku!"


Elisa mengakhiri telepon saat ketukan pintu kamar mandi terdengar. Ia mengerutkan kening, apartemen ini hanya diketahui timnya lalu siapa yang masuk ke dalam tanpa permisi? Elisa keluar dari bathtub tak peduli dengan busa yang masih menempel. Ia menutupi tubuhnya dengan lilitan handuk, meraih apa pun yang bisa digunakan sebagai alat membela diri.


Jantung Elisa berdegup kencang, ia tak ingin mati konyol untuk kedua kalinya.


"Amy bisakah kau mencari tahu siapa yang datang?"


[Negatif nona, saya adalah sistem ala chef. Sistem baru bisa memindai saat melihat langsung subjek. Kami tidak bisa mengakses cctv yang terpasang di ruangan, tugas kami hanya membantumu menjadi super chef.]


"Siial!"


Elisa mengumpat dan mengambil botol spray rambutnya. Ia berharap bisa membela diri dengan menyemprot langsung ke mata penyerang. Setidaknya itu bisa memberi Elisa jeda waktu untuk lari.


Suara ketukan kembali terdengar, Elisa bersiap untuk menyerang. Tangannya memutar handle pintu, sedikit gemetar sambil berhitung.


Satu … dua … tiga!


"Mau apa kau penyusup!" Elisa langsung menyemprotkan hair tonic rambutnya pada seseorang dibalik pintu.


"Aaaw, aaaw! Elisa hentikan! Ini aku Raka!"


Elisa yang kalut tak mendengarkan teriakan Raka, ia terus menyerang hingga akhirnya tangan Raka berhasil mendekap Elisa dengan mata tertutup. Tapi Elisa belum menyadari dengan siapa ia berhadapan karena emosinya meluap. Ia terus memberontak. Elisa mendorong keras tubuh Raka, sialnya tangan Raka meraih handuk yang melilit di tubuh Elisa.


Raka terjatuh dengan membawa serta lembaran kain handuk, Elisa berteriak mengumpat pada pemuda manis itu.


Raka masih belum menyadari hal itu, mengerjapkan matanya yang perih karena semprotan hair tonic. Setelah beberapa saat Raka akhirnya bisa membuka mata. Ia terkejut mendapati handuk besar di tangan kirinya.


"Eeh, handuk? Elisa, kamu …,"


"Jangan balik badan! Nggak dengar apa kataku?!" Elisa bersungut-sungut kesal.


Sayangnya peringatan Elisa terlambat, Raka terlanjur melihat tubuh halus mulus Elisa tanpa sengaja. Raka menelan ludah kasar, ia yang terkejut kembali memutar kepala dan mengulurkan handuk pada Elisa. Apes untuk Elisa, ia melupakan cermin yang ada dihadapan Raka. Pantulan bayangan tubuh Elisa terlihat jelas di mata Raka.


Kalau gini kan jadi serba salah, bilang apes atau rejeki!


Elisa segera mengumpat dan menggerutu, ia kesal tapi tak bisa juga menutupi rasa terkejutnya.


"Kamu ngapain sih pake datang kesini!"


"Bunda yang nyuruh kesini buat anterin makanan! Lagian tumben bener pintu kenapa nggak dikunci? Sengaja atau gimana?"


Elisa mengernyit, "Masa sih, aku udah kunci tadi pintu lagipula itu kan otomatis kalo lupa ngunci dalam berapa detik pintu langsung lock sendiri!"


"Nyatanya aku bisa masuk!" Raka membela diri, "Udah boleh balik badan belum nih!"


"Udah!"


Raka berbalik, mata lelakinya tetap saja dibuat takjub melihat tubuh Elisa yang berbalut handuk. Bagaimana tidak bayangan tubuh Elisa dalam cermin terekam jelas di memorinya, jadi meski sudah tertutup pikiran lelakinya masih bisa membayangkan apa yang ada dibalik handuk.


"Apa lihat-lihat?!"

__ADS_1


"Nggak sengaja! Trus gimana masa aku harus merem liat pemandangan indah? Gue juga laki-laki normal kali, Elisa!"


Mata Elisa melotot mendengarnya, tapi Raka tak sepenuhnya salah. Elisa mengambil tas berisi makanan dari ibunda Raka. "Banyak bener, mana habis dimakan aku sendirian!"


"Rafi dateng nanti, katanya mau bahas hal penting."


Raka terkesiap memperhatikan bekas luka di dada Elisa. "Eh itu …,"


Elisa menurunkan pandangan, "Luka tembak, satu menembus jantung."


Raka menatap tak percaya, "Jadi benar kamu bangkit dari kematian seperti yang B bilang? Tapi itu mustahil!"


"Apa yang mustahil nyatanya sedang berdiri di depanmu, Raka! Apa kau takut?" Tatapan tajam Elisa mengintimidasi Raka.


"Entahlah, aku … tapi, ehm begini aku mendengar kamu bicara sendiri semalam? Aku pikir kamu mungkin gila or … ah, lupakan!"


Elisa masih menatap tajam menusuk ke arah Raka, ia tak peduli lagi dengan tubuh berbalut handuk yang terekspos liar.


"Aku percaya padamu, tapi apa bisa kamu juga percaya aku? Karena tim membutuhkan kepercayaan satu sama lain."


Raka menjawab cepat dan yakin, "Aku percaya padamu!"


Elisa terdiam sesaat mencari kebenaran dari manik mata Raka, "Aku dibangkitkan oleh sesuatu yang sulit diterima akal sehat. Sebuah sistem menghidupkan kembali diriku dan memberi kesempatan kedua."


"A-apa? Serius, kamu nggak lagi korslet otak kan?"


"Aku tahu kau pasti sulit percaya tapi itulah yang terjadi. Seperti dalam film-film, aku terkoneksi dengan sistem luar biasa dan semuanya ... ada disini!" Elisa menunjuk kepalanya.


"Kau pasti menganggap ku gila, tapi inilah yang terjadi." sambung Elisa lagi.


Raka mengusap wajahnya, ingin percaya tapi rasanya sulit. Elisa berdiri di depannya dan Raka lebih suka menganggap jika itu keajaiban.


Sistem? Komputer? Aah itu hanya ada di dunia film yang mungkin baru akan terwujud di masa depan. Whatever!


Dalam pemikiran Raka, kesempatan membalas dendam pada Alex Nataprawira ada didepan mata dan ia tak ingin menyia nyiakan kesempatan.


"Dengar apa pun yang telah terjadi padamu, aku tidak peduli! Yang terpenting saat ini, kita satu tim dan melawan si bangsat itu!"


Bunyi panel pintu terbuka mengalihkan keduanya. Wajah Rafi menyembul dari balik pintu memperhatikan panel kunci otomatis dengan seksama, "Pintunya kok nggak kekunci mbak?"


"Nah bener kan apa aku bilang tadi? Pintunya nggak dikunci! Bahkan tadi sedikit kebuka!"


Elisa mengerutkan dahi, "Jangan-jangan ada orang yang tahu tentang aku dan masuk diam-diam?!"


Ketiganya saling lempar pandangan dan menebak nebak. Mungkinkah ada penyusup?


"Ehm, mbak maaf tapi … ehm, itu!" Rafi menunjuk ke arah Elisa.


"Itu apa?"


"Nganu mbak, handuk … melorot dikit!"


Rafi memberi tahu Elisa dengan sedikit canggung antara bersyukur bisa melihat penampakan tapi juga ngilu menahan sesuatu yang mulai mengeras di pusat tubuhnya.


Elisa menjerit terkejut, ia bergegas masuk ke dalam kamar untuk berganti kostum sementara Raka melotot ke arah Rafi dan menggerutu.


"Kenapa pake diingetin! Kan lumayan rejeki nomplok!"

__ADS_1


"Weeh, lha iya ya mas! Lali aku! Tapi kalo nggak dikasih tahu aku bisa tegang luar dalem mas!" Rafi menepuk jidatnya sendiri.


Kampret lu, gue juga sama!


__ADS_2