
Elisa bersiap untuk mengikuti kelas selanjutnya. Chef Wawan mengirim pesan, mengingatkan jadwal kelas hari ini plus jam tambahan khusus untuk Elisa. Setelah membalas pesan singkat chef Wawan, Elisa memanggil Amy - sistem pemandunya.
"Amy tampilkan status terbaru!"
[Baik, nona! Menampilkan status terbaru!]
Super Chef System<
[Nama : Elisa Nataprawira]
[Umur : 26 tahun]
[Pesona : 70]
[Kecantikan : 76]
[Soft skill chef : 7]
[Hard skill chef : 6]
[Kemampuan recreated : 7]
[Kemampuan pastry and bakery: 6]
[Kemampuan memasak : 5]
[Total dana : 57, 5 juta]
[Hadiah tambahan : kemampuan deteksi bahan makanan]
[Hadiah kejutan : -]
[Misi 7 : berhasil]
[Hadiah : uang sejumlah 25 juta rupiah diikuti penambahan poin pastry.]
[Sistem pemandu : Amy]
"Uangnya masih sedikit banget, Amy jangan pelit buat kasih misi! Gimana mau serang balik perusahaan kalau uang aja nggak ada!" Elisa berdecak kesal.
[Ini baru permulaan nona, bukankah rekening anda telah dibuka? Kenapa anda risau?]
"Bukan begitu, tapi kamu janji kan sebelumnya bantuin aku? Sampai kapan ini penuh kalau tiap misi cuma sedikit uang yang didapat!"
[Sistem telah menerapkan standar tertentu untuk membantu anda, nona. Yang anda butuhkan saat ini adalah kemampuan memasak dan bakery. Sistem telah memilih dan menimbang yang terbaik untuk anda nona!]
"Hhm, baiklah! Apa boleh buat, kamu bosnya Amy!"
__ADS_1
Elisa keluar kamar dan segera bergabung dengan Raka serta Bu Anita di ruang makan.
"Nanti pulang jam berapa El?" tanya Bu Anita sambil meletakkan selembar roti beroleskan selai kacang di piring Elisa.
"Entah Tante, mungkin sore jam empat atau lima?"
Secuil roti masuk ke dalam mulut Elisa diikuti dengan tegukan teh madu lemon hangat. Raka memperhatikan layar ponselnya, matanya membulat lalu memberikan ponselnya pada Elisa.
"Lihat ini! Alex meresmikan cabang baru di Sukabumi. Ini sedikit aneh, bukannya perusahaan kamu cuma buka cabang di kota besar aja, El?"
Elisa menggeser layar ponsel, membaca dengan seksama sebelum berkomentar. "Ehm, mungkin dia mau coba sesuatu yang beda. Ada potensi bagus kali di Sukabumi."
Elisa menjawab sambil membaca berita yang berhubungan, tiba - tiba ia teringat sesuatu. "Tunggu, kalau nggak salah Sukabumi itu …,"
Elisa membuka ponselnya, "Ponsel Nico terlacak terakhir di Sukabumi. Entah ini ada hubungannya atau tidak aku rasa, Nico pasti tahu sesuatu sampai dia malam itu rela ninggalin aku!"
"Bisa jadi El, Nico tahu sesuatu, dia menyelidiki, ketahuan terus dibunuh deh."
Elisa mengangguk setuju dengan asumsi Raka. Ibu Anita hanya geleng-geleng kepala melihat keduanya.
"Waktunya sarapan jangan bahas kerjaan, nggak jadi energi malah jadi gas doang!"
Sontak keduanya menoleh, "kok gas Bun?"
"Iyalah, jadi kentut doang! Dari lambung langsung dibakar deh jadi angin kan jadi laper lagi." Bu Anita dengan santai menyahut sambil memakan rotinya.
*
*
*
Tepat pukul sepuluh Elisa sudah bersiap di ruangan besar dimana para peserta kursus memasak berkumpul. Sebelum acara dimulai, chef Wawan dan asistennya Indra mengevaluasi hasil memasak peserta sebelumnya.
Elisa tidak tertarik sedikitpun, berkali kali ia menguap bosan. Semalam tidurnya kurang nyenyak, perkataan B tentang lelang saham membuatnya gelisah. Meski B mengatakan semua sudah diatur dengan baik tetap saja Elisa tak bisa berdiam diri.
Semalam suntuk ia mempelajari sejumlah informasi yang diberikan Rafi. Statistik penjualan, laporan laba rugi, proyeksi saham dan besaran keuntungan tapi yang lebih penting adalah siapa saja yang akan menghadiri lelang. Sebagian dari daftar peserta adalah kenalan Elisa, rekanan lama yang Elisa sangat paham watak dan karakter nya. Ini yang membuat Elisa gugup, ia takut penyamarannya terbongkar.
Satu nama cukup membuatnya terheran heran. Ada nama Anita disana dengan alamat yang sama dengan ibunda Raka. Elisa tak sempat bertanya saat sarapan karena tamu ibu Anita datang tanpa basa basi di pagi hari.
"Diana, silahkan maju ke depan!" Suara lantang chef Wawan mengagetkan Elisa.
Semua mata tertuju padanya yang sengaja mengambil duduk paling belakang. Tatapan tak suka terlihat dari sekelompok ahli masak yang konon memiliki usaha katering nomor wahid. Mereka tak terima jika Elisa dinyatakan sebagai peserta dengan nilai tertinggi.
"Masa sih, emang rasa sup nya seistimewa itu?" Bisikan bernada nyinyir terdengar saat Elisa melangkah.
"Hhm, aku lihat dia kemarin pulang terakhiran dan chef kita itu kelihatannya suka. Itu sebabnya dia menang! Aku nggak yakin kalau dia jago masak. Lihat sendiri kan berantakannya dia kemarin!" Ibu bertubuh subur dengan sasakan rambut tinggi dan dandanan super menor berbisik pada yang lain.
__ADS_1
Elisa menahan geram, tapi ia tetap menegakkan bahu berjalan melewati kasak kusuk tak jelas yang sangat menyudutkan dirinya.
"Hhm, pantes menang! Cantik sih, seksi, masih muda lagi siapa yang nggak kepincut sama dia!"
Lagi-lagi suara sumbang terdengar telinga Elisa dan membuat merah telinganya. Tak hanya Elisa, chef dan asisten nya pun ikut mendengar. keduanya hanya saling lempar senyum tanpa merespon protes tak suka para peserta.
"Selamat ya, kamu jadi peserta terbaik untuk sup asparagus kemarin dan kamu berhak mendapat goodie bag ini!" Chef Wawan memberikan yang cukup berat juga saat diangkat.
Elisa mengernyit, ia menaruh curiga pada chef Wawan. "Ini …,"
"Alat memasak untuk jam tambahan, seseorang memesan khusus untukmu. Aku hanya ingin memberi pelajaran pada mereka yang selalu menganggap remeh orang dibawah mereka." Chef Wawan berbisik tanpa meninggalkan senyuman di wajah tampannya.
"Baiklah, sebagai pemenang kamu berhak menentukan menu apa yang bakal kita pelajari. Apa ide kamu hari ini?" Chef Wawan bertanya dengan suara keras.
Terang saja Elisa terkejut, seumur umur ia tidak tahu nama masakan ala resto yang diminati pengunjung selain selat solo dan nasi goreng kesukaannya.
"Diana, mereka menunggu! Apa yang mau kita pelajari hari ini?" Chef Wawan mulai mendesak dan memberinya penekanan.
"Saya, ehm … salad ala Jawa!" Elisa menjawab cepat, menyeringai santai.
"Ok … salad Jawa? Maksud kamu, aneka salad sayuran atau pecel ada Jawa, begitu?" tanya chef Wawan mengernyit heran.
"Iya, aneka pecel alias salad Jawa! Saya mau tau seberapa kreasinya para senior ini mengkombinasikan makanan luar dengan kearifan lokal!"
Suara dengung gumaman terdengar menggema, ada yang sinis, ada yang tersenyum geli, dan ada juga yang datar tak terlalu merespon usulan Elisa.
"Baiklah tema kita agak diluar perkiraan, silahkan bapak ibu sekalian mengambil bahan dan buat kreasi baru kalau bisa lain dari biasanya. Ini bisa dijadikan alternatif untuk menu resto baru kalian!"
Chef Wawan memberi aba-aba dan memulai kegiatan memasak hari ini. Elisa tersenyum puas, melihat para peserta kursus mau tidak mau menuruti perintahnya.
"Idemu unik!" bisik chef Wawan ketika ruangan sepi.
"Sebenarnya aku juga nggak tahu harus ngeluarin ide apa." Elisa mengusap tengkuknya, tak enak hati karena jujur saja dia memang tak tahu jenis masakan selain yang sering dimakan sehari hari.
Chef Wawan terkekeh geli, "kamu lihat ekspresi mereka? Ekspektasi mereka menu Barat tapi kenyataannya menu sederhana yang sehari hari ditemui."
"Maaf, tapi aku beneran …,"
"Nggak apa sesekali menu tradisional. Karena menu selanjutnya sedikit menantang!" Chef Wawan mengedipkan sebelah mata.
Apa maksudnya kedipan itu? Dia menggodaku, atau kode kalau itu bakal amat sangat rumit!
"Temani aku setelah ini selesai dan kita akan mencobanya bersama." Chef Wawan berbisik di telinga Elisa, begitu dekat hingga nyaris menyentuh pipi halusnya.
"Aku suka wangi parfumnya, membuatku memiliki ide manis tentang hal yang manis."
Chef Wawan dan Elisa saling menatap, jika Elisa menatap curiga berbeda dengan chef Wawan yang menatap penuh kekaguman.
__ADS_1
Oh tidak, Amy apa dia mengajakku berkencan malam ini?!